Kemenag RI 2019:(Nabi) Muhammad hanyalah seorang rasul. Sebelumnya telah berlalu beberapa rasul. ) Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak akan mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. Prof. Quraish Shihab:
Muhammad, tidak lain hanyalah seorang rasul. Telah berlalu sebelumnya beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad). Barang siapa berbalik ke belakang, maka dia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.
Prof. HAMKA:
Tidak lain Muhammad itu, hanyalah seorang Rasul dan telah lalu beberapa Rasul sebelumnya. Apakah apabila dia mati atau terbunuh, kamu akan berpaling di atas kedua tumit kamu? Barangsiapa yang berpaling atas kedua tumitnya, maka sekali-kali tidaklah dia akan membahayakan bagi Allah sedikit pun. Allah akan memberikan ganjaran bagi siapa-siapa yang bersyukur
Ayat ke-144 ini masih erat kaitannya dengan kekalahan kaum muslimin dalam Perang Uhud, bahkan beredar kabar liar di tengah kecamuk perang, bahwa Nabi SAW jadi korban dalam perang itu.
Maka Allah SWT ingin menguatkan hati kaum muslimin dan membuat ketabahan mereka menjadi berlipat. Memang ayat ini tidak secara langsung menolak kabar liar bahwa Nabi SAW terbunuh, namun malah seolah-olah ingin mengatakan : kalaupun Nabi SAW wafat atau terbunuh, apakah kalian mau berbalik ke belakang dan terus larut dalam kesedihan?
Di sisi lain, ketika pada saatnya nanti ternyata Nabi SAW memang wafat betulan, lalu banyak orang yang juga tidak percaya kabar itu, termasuk salah satunya Umar bin Al-Khattab radhiyallahanhu, maka ayat ini juga yang dibacakan oleh Abu Bakar Ash-shiddiq radhiyallahuahu untuk menyadarkan orang-orang saat itu yang masih terkesima dan tidak percaya bahwa Nabi SAW benar-benar telah wafat.
Bahkan Umar yang tadinya masih tidak percaya wafatnya sampai mengancam orang yang bilang Nabi SAW wafat dengan pedang, tiba-tiba tertunduk lemas begitu dibacakan ayat ini, seraya berkata,”Seolah-olah Aku belum pernah mendengar ayat ini sebelumnya”.
Jadi kurang lebih ayat ini sebenarnya bukan bicara tentang fakta terkaiat benar tidaknya kematian Nabi SAW, namun lebih menekankan tentang sikap mental kaum muslimin yang seharusnya tetap tegar dalam menghadapi kenyataan, entah Nabi SAW masih hidup atau memang sudah waktunya dipanggil Allah SWT.
Kalau pun Nabi SAW itu wafat, biar bagaimana pun dirinya hanyalah sekedar utusan Allah semata. Beliau bukan Tuhan dan tidak akan hidup abadi bersama dengan kaum muslimin. Ada waktunya Beliau SAW akan menyelesaikan tugas dan peranannya bersama kaum muslimin, lalu kemudian Beliau akan menjalani masa purna bakti dan kembali ke pangkuan-Nya.
Namun demikian, ketika ayat ini turun di masa Perang Uhud, ternyata Nabi SAW memang belum wafat, Beliau hanya pingsan tapi dikira wafat oleh yang melihatnya sekilas. Beliau SAW kemudian siuman dan sadar, kemudian berhasil diselamatkan dari serangan bertubi-tubi dari lawan kaum musyrikin Mekkah.
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ
Penggalan ini oleh Kemenang RI diterjemahkan menjadi : “(Nabi) Muhammad hanyalah seorang rasul.” Sedikit berbeda dengan Prof. Quraish Shihab yang menerjemahkannya menjadi : “Muhammad, tidak lain hanyalah seorang rasul”. Sedangkan Buya HAMKA menerjemahkannya menjadi : “Tidak lain Muhammad itu, hanyalah seorang Rasul”.
Huruf waw (وَ) maknanya adalah : Dan. Disebut dengan wawu ‘athf, yang fungsinya sebagai penyambung antara rangkaian kata sebelum dan sesudahnya, namun masih dalam satu kalimat. Kalau dalam bahasa Indonesia, fungsinya seperti tanda baca koma bukan titik. Uniknya dalam konteks ayat Al-Quran, satu kalimat itu bisa saja dipisah-pisahkan dalam beberapa ayat. Sehingga bisa saja tiga empat ayat itu sebenarnya masih dalam satu kalimat.
Huruf maa (مَا) dalam bahasa Arab bisa punya banyak makna dan fungsi. Kadang bermakna apa untuk bertanya, tetapi kadang bermakna tidak atau bukan yang bersifat nafyi atau menolak. Dalam konteks ayat ini, huruf ma ini bermakna tidak atau bukan.
Kata Muhammad (مُحَمَّدٌ) maksudnya adalah Nabi Muhammad SAW. Di semua ayat Al-Quran, lafazh Muhammad (مُحَمَّدٌ) terulang sebanyak 4 kali, yaitu :
QS. Ali Imran : 144 (وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ)
Secara bahasa, asal katanya berdasarkan dari (حَمَّدَ - يُحَمِّدُ) yang bermakna memuji. Kalau dibentuk menjadi muhammad (مُحَمَّدٌ) maka artinya : orang yang terpuji. Disebutkan bahwa Abdul Mutthalib sang kakek-lah yang memberinya nama ini, sebagai nama yang belum pernah disematkan kepada siapapun dari bangsa Arab. Harapannya agar mendapatkan pujian dari semua orang, termasuk semua makhluk di langit dan di bumi.
Terkait dengan nama Muhammad ini, ada hadits shahih dari Abu Hurairah dimana Nabi SAW memerintahkan memberi nama anak dengan nama Beliau:
تَسُمُّوا بِاسْمِي وَلَا تُكَنُّوا بِكُنْيَّتِي
Berilah nama anak kalian dengan namaku, dan janganlah kalian menggunakan kuniat-ku. (HR. Al-Bukhari – Muslim)
Namun begitu, dari ratusan ribu para shahabat, tidak terlalu banyak yang bernama Muhammad, kecuali ada satu yaitu Muhammad bin Maslamah. Sedangkan dari kalangan tabi’in, yang bernama Muhammad adalah Muhammad bin Sirin. Sedangkan di kalangan ulama salaf, cukup banyak yang diberi nama oleh orang tuanya Muhammad, di antaranya :
Muhammad ibn Sirin (w. 110 H)
Muhammad ibn Abu Bakr al-Anbari (w. 122 H)
Muhammad bin Abi Bakr al-Zuhri (w. 125 H)
Muhammad bin al-Hasan al-Shaybani (w. 189 H)
Muhammad ibn Idris al-Syafi'i (w. 204 H)
Muhammad bin Ismail al-Bukhari (w. 256 H)
Muhammad bin 'Isa at-Tirmidzi (w. 279 H)
Muhammad ibn Jarir al-Tabari (w. 310 H)
Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi (w. 373 H)
Muhammad ibn Yahya al-Andalusi (w. 467 H)
Muhammad ibn Ali al-Syaukani (w. 1250 H)
Kata illa (إِلَّا) artinya : kecuali. Kata rasul (رَسُولٌ) artinya secara harfiyah adalah utusan. Namun kata rasul ini tentu bukan hanya berarti utusan, melainkan sudah menjadi istilah yang baku sebagai orang yang dipilih oleh Allah SWT untuk membawa risalah samawi. Istilah ini punya kemiripan dengan istilah nabi, namun para ulama berbeda-beda ketika menjelaskan perbedaan antara keduanya. Yang disepakati bahwa tidak semua nabi itu rasul, sedangkan semua rasul sudah pasti nabi.
Namun perbedaan berikutnya ada perbedaan pandangan. Sebagian ulama mengatakan bahwa rasul itu nabi yang diutus dengan membawa risalah baru, bukan sekedar meneruskan risalah dari rasul sebelumnya. Sebagian ulama lain mengatakan bahwa rasul itu diperintah untuk mengajak orang ikut ke dalam syariat yang dibawa, sedangkan nabi tidak diperintah seperti itu, hanya untuk dirinya sendiri.
قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ
Kata qad (قَدْ) artinya sungguh, sedangkan kata khalat (خَلَتْ) merupakan kata kerja yaitu berupa fi’il madhi yang maknanya telah berlalu atau telah lewat waktunya. Kata min qablihi (مِنْ قَبْلِهِ) artinya dari sebelumnya, maksudnya sebelum era kenabian Muhammad SAW, Allah SWT telah banyak mengutus para rasul sebelumnya dan mereka bukan hanya sudah lewat masanya, juga sudah wafat dan dikubur. Intinya sudah tidak hidup lagi dan sudah menghadap Allah SWT.
Kata ar-rusul (الرُّسُلُ) adalah bentuk jamak dari bentuk tunggalnya yaitu rasul. Jumlah mereka sebenarnya banyak sekali.
Abu Zar bertanya kepada Rasulullah SAW, "Berapakah jumlah para nabi." Beliau SAW menjawab, "Mereka berjumlah 124.000 orang, sebanyak 315 dari mereka adalah Rasul." (HR Ahmad dalam musnadnya dan Al-Bani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Namun kalau namanya tercantum dalam Al-Quran secara eksplisit, jumlah mereka terbatas hanya 25 orang saja. Lalu kalau kita buatkan daftar nama-nama mereka sesuai dengan perkiraan masa kehidupan masing-masing, tabelnya sebagai berikut :
Nama
Masa Hidup (M)
Adam
sekitar 930 H
Idris
Tidak pasti
Nuh
sekitar 950 H
Hud
sekitar 240 H
Saleh
sekitar 586 H
Ibrahim
sekitar 1952 H
Luth
sekitar 1815 H
Ismail
sekitar 1372 H
Ishaq
sekitar 1804 H
Ya'qub
sekitar 1476 H
Yusuf
sekitar 1637 H
Syu'aib
Tidak pasti
Ayyub
sekitar 400 H
Dhulkifl
Tidak pasti
Musa
sekitar 1446 H
Harun
sekitar 1446 H
Daud
sekitar 1010 H
Sulaiman
sekitar 937 H
Ilyas
Tidak pasti
Al-Yasa'
Tidak pasti
Yunus
Tidak pasti
Zakaria
Tidak pasti
Yahya
Tidak pasti
Isa
sekitar 33 M
Muhammad
571 M - 632 M
انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ
Kata inqalabtum (انْقَلَبْتُمْ) merupakan fi’il madhi yang bermakna berbalik atau kembali pulang. Sebagaimana doa kita ketika melakukan perjalanan jauh.
Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami". (QS. Az-Zukhruf : 14)
Sedangkan kata ‘ala (عَلَىٰ) secara harfiyah berarti atas, namun dalam hal ini maknanya disesuaikan dengan kata kerjanya, sehingga maktanya tidak harus selalu atas. Kata a’qabikum (أَعْقَابِكُمْ) merupakan bentuk jamak, bentuk tunggalnya adalah (عَقِب) yang artinya : mata kaki.
Tentu kalau diterjemahkan menjadi : berbalik di atas mata kaki, maknanya menjadi rusak. Sebab ternyata ini merupakan ideom yang sudah jadi dan maknanya : berbalik ke belakang. Sebabnya karena kalah dan takut.
Dalam ungkapan kita sehari-hari adalah : bubar jalan, ambyar dan berlarian tunggang-langgang untuk menyelamatkan diri masing-masing dan melarikan diri sambil terkencing-kencing.. Sebuah sikap dan tindakan yang memalukan untuk diceritakan dan kalau dikenang akan menjatuhkan nama baik.
Namun begitulah faktanya, barisan kaum muslimin kala itu agak berantakan, semua panik, semua kebingungan, semua berlarian kesana kemari tak tentu arah, tidak tahu harus berbuat apa.
وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ
Kata wa (وَ) artinya : dan, sebagai penyambung dengan kalimat sebelumnya. Kata man (مَنْ) sering diterjemahkan menjadi siapa, meskipun belum tentu maknanya merupakan pertanyaan, sehingga terkadang lebih tepat dimaknai dengan : orang.
Kata yanqalib ‘ala ‘aqibaihi (وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ) seperti sudah disebutkan sebelumnya artinya : berbalik ke belakang alias mundur.
فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا
Kata fa-lan (فَلَنْ) artinya : maka tidak, kata yadhurrallah (يَضُرَّ اللَّهَ) artinya : memberi mudharat kepada Allah. Sedangkan makna syai’an (شَيْئًا) artinya : sedikitpun.
Maksudnya, kalau pun moral kaum muslimin memang sudah jatuh dan tidak bisa tertolong lagi, itu urusan mereka saja. Sedangkan bagi Allah, sama tidak jadi masalah. Allah SWT tidak rugi dan tidak dirugikan. Yang yang rugi justru diri mereka sendiri.
وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ
Huruf wa (وَ) artinya : dan. Kata sa-yajzi (سَيَجْزِي) merupakan kata kerja yaitu fi’il mudhari’ yang artinya : membalas atau memberi imbalan. Yang menjadi fa’ilnya adalah Allah, sedangkan maf’ulnya adalah asy-syakirin (الشَّاكِرِينَ) yang artinya orang-orang yang bersyukur.
Diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib memaknai asy-syakirin sebagai orang yang tegar dalam memegang agamanya. Dan orang yang paling tegar dalam memegang agamanya adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahuanhu. Qatadah mengatakan bahwa asy-syakirin maksudnya adalah orang beriman, sedangkan balasan atau imbalan yang Allah SWT berikan adalah surga.