Kemenag RI 2019:Kami akan memasukkan rasa takut ke dalam hati orang-orang yang kufur karena mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan keterangan tentangnya. Tempat kembali mereka adalah neraka. (Itulah) seburuk-buruk tempat tinggal (bagi) orang-orang zalim. Prof. Quraish Shihab:
Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, sebab mereka menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Dia tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan (itulah) seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang zalim.
Prof. HAMKA:
Akan Kami letakkan rasa takut ke dalam hati orang-orang yang kafir itu, karena mereka telah mempersekutukan Allah dengan barang yang tidak diturunkan keterangan untuknya. Tempat kembali mereka ialah neraka dan seburuk-buruknyalah tempat kembali orang-orang yang zalim itu
Di ayat sebelumnya Allah SWT bicara tentang menolong kaum muslimin dalam peperangan, maka di ayat ini dicontohkan atau dijanjikan salah satu bentuk pertolongan Allah yang paling unik, yaitu dengan dilemparkannya rasa takut ke dalam lubuk hati orang-orang kafir ketika mendengar kedatangan pasukan muslimin.
Dan sekuat apapun pasukan lawan dengan jumlah yang besar, peralatan yang lengkap bahkan dengan bekal yang banyak, namun kalau mentalnya sudah jatuh karena diselubung rasa takut, jadilah pasukan yang lemah, loyo, letoy dan loading.
سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا
Lafazh sa-nulqi (سَنُلْقِي) terdiri dari huruf sin (سَ) yang disebut dengan huruf istiqbal, karena bermakna mengabarkan tentang kejadian yang akan terjadi kemudian. Lalu kata kerja nulqi (نُلْقِي) adalah fi’il mudhari’ artinya melempar atau membanting. Asalnya dari (اَلْقَى – يُلْقِي -إلقَاء) yang secara bahasa berarti (رَمْيُ شَيْءٍ عَلى الأرْضِ) yaitu melempar sesuatu ke atas tanah, alias membanting.
Itulah yang dilakukan oleh Nabi Musa alaihisalam ketika membanting batu bertuliskan Taurat, gara-gara ketika turun dari gunung, Beliau mendapati sebagian kaumnya ada yang menyembah patung anak sapi.
Dan Musapun melemparkan luh-luh (Taurat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya (QS. Al-Araf : 150)
Orang yang mati bunuh diri atau setidaknya mencelakakan diri sendiri juga disebut dengan yulqi bi-nafsihi alias melempar dirinya dalam kebinasaan.
وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ
Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan. (QS. Al-Baqarah : 195)
Maka perhatikan redaksi yang Allah SWT gunakan yaitu melemparkan rasa takut ke dalam hati musuh. Bukan sekedar memasukkan tetapi melemparkan.
Lafazh fi qulub (فِي قُلُوبِ) artinya ke dalam hati. Lafazh alladzina kafaru (الَّذِينَ كَفَرُوا) artinya : orang-orang kafir, yaitu hati atau jiwa atau mental lawan-lawan kaum muslimin dalam peperangan.
Kata qulub (قُلُوبِ) sendiri adalah bentuk jama' dari qalb (قلب), yang dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan menjadi 'hati'. Padahal secara makna harfiyah qalb itu bukan hati tetapi jantung. Sedangkan secara biologis, organ hati kita di dalam tubuh itu dinamakan dengan kabid dalam bahasa Arab atau liver dalam bahasa Inggris.
Lalu bagaimana sampai bisa terjadi pergeseran makna dari jantung menjadi hati?
Ada banyak analisa, tapi salah satunya yang patut dicurigai adalah gara-gara kasus penyingkatan kata. Boleh jadi pada awalnya kata qalb itu diartikan masih seusai aslinya yaitu 'jantung'. Namun bisa jadi disesuaikan dengan rasa bahasa menjadi jantung hati. Ungkapan 'jantung hati' ini lazim kita temukan dalam bahasa sastra di Indonesia. Engkau adalah pujaanku dan engkau adalah 'jantung hatiku'.
Padahal seharusnya cukup disebut dengan 'jantung' saja. Sehingga menjadi ungkapan 'Engkau adalah jantungku', begitu semestinya. Namun boleh jadi karena terbiasa dan terasa lebih enak, orang-orang lalu menyebutnya menjadi 'jantung hati'.
Kemudian mungkin karena agak ribet harus mengucapkan dua kata, mulai terjadilah penyingkatan. Tapi alih-alih menyebut 'jantung', justru yang disebut malah 'hati' saja. Dan pada akhirnya berubah makna, al-qalbu menjadi 'hati'. Itu sekedar analisa seadanya, belum tentu benar juga.
Padahal kalau kita perhatikan dalam bahasa Inggris misalnya, 'hati' itu mereka sebut dengan sesuai yaitu heart yang artinya jantung. Lambang perasaan cinta berupa gambar jantung yang tertusuk dan tertancap anak panah itu jelas-jelas menggambarkan bahwa cinta itu urusan jantung dan bukan urusan hati.
Namun lepas dari bagaimana penerjemahan qalb menjadi hati atau jantung, yang jelas makna qalb di dalam ayat ini dan juga umumnya di dalam Al-Quran atau teks hadits bukanlah maknanya secara biologis. Qalb selalu disebut untuk melambangkan jiwa, diri, batin, atau pikiran seseorang. Jadi kalau mau diterjemahkan lebih objektif, bukan 'dalam hati mereka ada penyakit', namun menjadi : 'dalam jiwa mereka ada penyakit'.
Tidak salah kalau kalimat 'berniat di dalam hati' itu kita ungkapkan dengan cara berbeda menjadi 'berniat di dalam batin' atau 'berniat di dalam jiwa', atau 'berniat di dalam pikiran'.
Namun penggunaan lafadz qalb untuk mewakili diri, batin, jiwa ataupun pemikiran adalah hal yang lazim di dalam Al-Quran. Dan kita temukan dalam banyak ayat dengan makna demikian. Justru hampir tidak ada yang maknanya sebagai organ di dalam tubuh yang berfungsi untuk memompa darah ke seluruh tubuh.
الرُّعْبَ
Kata ar-ru’ba (الرُّعْبَ) artinya : rasa takut. Namun takut yang dimaksud bukan takut biasa, tetapi takut dengan level yang amat tinggi. Istilahnya adalah faza’ (الفَزَعُ مِن شِدَّةِ خَوْفٍ). Kita bisa menyebut beberapa istilah yang kurang lebih sejalan, seperti rasa gentar, khawatir, panik, waswas, histeria, paranoia atau fobia.
Kita ambil salah satunya, sebutlah misalnya panik. Pasukan lawan ketika merasa takut dan panik, maka semua yang dikerjakan akan salah semua. Bukannya menyelesaikan masalah, tetapi malah menimbulkan masalah baru. Kesebelasan sepak bola yang panik, seringkali melakukan kesalahan secara berulang-ulang, bahkan boleh jadi malah mencetak gol bunuh diri. Nabi SAW bersabda :
إنَّ أبا سُفْيانَ قَدْ أصابَ مِنكم طَرَفًا، وقَدْ رَجَعَ وقَذَفَ اللَّهُ في قَلْبِهِ الرُّعْبَ
Sesungguhnya Abu Sufyan telah diserang oleh sekelompok kalian, kemudian dia kembali ke Mekkah karena Allah melempari hatinya dengan rasa takut.
Proses Teknis Rasa Takut
Memang teknik memasukkan rasa takut di hati lawan termasuk teknik yang Allah gunakan, bukan hanya dalam perang Uhud tetapi di banyak peperangan yang lain. Hanya saja, konteks ayat ini justru terjadinya pada perang Uhud, yang notabene justru kaum muslimin malah kalah.
Maka yang jadi pertanyaan adalah kapan dan bagaimana prosesnya ketika dikatakan bahwa Allah SWT memasukkan rasa takut di hati pasukan musyrikin dalam Perang Uhud. Dalam hal ini ada dua pendapat yang berkembang.
1. Ketika Perang
Pendapat pertama mengatakan bahwa rasa takut Allah masukkan ke hati lawan ketika mereka berhasil mengalahkan umat Islam. Sebenarnya mereka memiliki kesempatan untuk mengejar dan menghabisi seluruh pasukan muslimin.
Namun entah bagaimana, tiba-tiba datang rasa ketakutan di hati mereka sehingga rasa takut itu sampai mencegah mereka untuk terus menyerbu dan menghabisi nyawa pasukan muslimin.
Disitulah pertolongan Allah SWT sedang bekerja dengan efektif. Seandainya tidak Allah datangkan rasa takut itu, boleh jadi seluruh pasukan muslimin akan dibantai habis tak bersisa.
2. Ketika Mau Balik Lagi
Pendapat kedua mengatakan bahwa ketika pasukan musyrikin Mekkah sudah pulang kembali lagi ke Mekkah, mereka baru sadar bahwa sebenarnya mereka mampu meneruskan perang hingga pasukan muslimin mati semua, termasuk bisa membunuh Nabi Muhammad SAW. Lalu ada keinginan untuk kembali lagi menyerang Madinah, demi untuk meluluh-lantakkan kaum muslimin. Maka mereka berkata :
Betapa buruknya perang yang kita lakukan ini. Padahal kita sudah berhasil memerangi mereka, hingga tidak tersisa kecuali hanya segelintir saja. Kenapa kita tinggalkan? Ayo kita kembali lagi kesana dan kita habisi mereka.
Pada saat itulah tiba-tiba muncul rasa takut di hati mereka. Sehingga akhirnya mereka tidak jadi balik lagi ke Madinah.
Namun kedua pendapat itu bisa saja disatukan, yaitu mereka mengalami dua kali rasa takut. Yang pertama ketika di medan perang tiba-tiba mereka tidak meneruskan untuk menghabisi kaum muslimin. Lalu yang kedua ketika sudah pulang di Mekkah, awalnya mereka mau balik lagi menyerang, namun tiba-tiba muncul lagi rasa takut di hati mereka.
بِمَا أَشْرَكُوا بِاللَّهِ
Lafazh bima (بِمَا) artinya : dengan apa, maksudnya dimasukkannya rasa takut di hati orang-orang kafir itu disebabkan karena mereka menyekutukan Allah.
Kata asyraku billah (أَشْرَكُوا بِاللَّهِ) artinya : menyekutukan Allah. Maksudnya selain mereka menyembah Allah, namun bersamaan dengan itu juga mereka menyembah tuhan-tuhan yang lain. Inilah hakikat dari syirik, yaitu menduakan Allah dengan tuhan yang lain.
مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا
Huruf ma (مَا) bisa punya banyak makna dan fungsi, namun di ayat ini menjadi mashdariyah yang artinya : disebabkan oleh (بِسَبَبِ). Lalu kata lam yunazzil (لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ) artinya : bahwa Allah tidak menurunkan, sedangkan kata bihi(بِهِ) artinya : dengan dia, maksudnya dengan tindakan syirik kepada Allah yaitu menyekutukan Allah.
Lafazh sultanan (سُلْطَانًا) secara harfiyah artinya : kekuatan, namun para mufassir memaknainya berbeda-beda. Dalam terjemahan Kemenag RI, Prof. Quraish Shihab dan buya HAMKA, kata sultan ini diterjemahkan menjadi: keterangan.
Dalam kitab-kitab tafsir klasik, kata sultan itu dijelaskan bahwa maknanya adalah hujjah. Maka para sultan itu disebut dengan hujjah Allah, karena mereka diberi kewanangan dalam memutuskan hukum Allah di muka bumi. Namun secara linguistik, asal katanya dari as-salit (السَّلِيطِ) yaitu minyak untuk bahan bakar lampu penerangan.
Namun maksud dari penggalan ini bahwa tindakan syirik yaitu menyembah tuhan lain selain Allah itu adalah perbuatan yang mengada-ada, hasil karangan manusia, dan Allah SWT tidak pernah menurunkan petunjuk teknis tata cara beribadah kepada berhala-berhala itu.
Perlu dijelaskan bahwa ketika kaum musyrikin bangsa Arab umumnya dan penduduk Mekkah khususnya melakukan praktek syirik yaitu melakukan berbagai ritual peribadatan dalam rangka menyembah berhala, mereka secara berdusta mengatakan bahwa semua itu mereka lakukan karena atas dasar perintah dari Allah SWT.
Padahal semua itu hanya halusinasi mereka saja, dalam rangka berdusta. Maka dalam konteks itulah turunnya ayat ini, dimana Allah SWT menegaskan bahwa tidak pernah Allah memerintahkan mereka menyembah berhala, apalagi mengajarkan tata cara ritual ibadah untuk menyembah berhala itu.
Lafazh wa ma’wa-hum (وَمَأْوَاهُمُ) artinya : dan tempat kembali mereka, maksudnya nanti di akhirat mereka akan dikembalikan tetapi ke neraka. Namun ada juga yang mengatakan bahwa ma’wa itu artinya tempat berlindung, sebagaimana disebut dalam ayat berikut :
Anaknya menjawab: "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!" (QS. Hud : 43)
Lafazh an-nar (النَّارُ) secara harfiyah artinya : api, namun maksudnya adalah neraka, tempat disiksanya orang-orang kafir yang ingkar kepada Allah, juga tempat disiksanya orang-orang musyrik yang menyekutukan Allah.
Huruf wawu (وَ) isti’nafiyah yang artinya : dan. Kata bi’sa (بِئْسَ) artinya : seburuk-buruk. Sedangkan kata matswa (مَثْوَى) artinya tempat tinggal. Dan makna azh-zhalimin (الظَّالِمِينَ) artinya : orang-orang zalim.