Kemenag RI 2019:Apakah ketika kamu ditimpa musibah (kekalahan pada Perang Uhud), padahal kamu telah memperoleh (kenikmatan) dua kali lipatnya (pada Perang Badar), kamu berkata, “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah, “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Prof. Quraish Shihab:
Dan apakah ketika (kamu melakukan kesalahan dan meninggalkan tuntunan Rasul saw. sehingga) kamu ditimpa musibah (berupa kekalahan pada perang Uhud), (padahal) kamu sungguh telah menimpakan kekalahan dua kali lipat (atas musuh-musuh kamu pada perang Badar), kamu berkata: “Dari mana (datangnya kegagalan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) diri kamu (sendiri).” Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Prof. HAMKA:
Apakah pada waktu kamu ditimpa suatu malapetaka -padahal kamu telah menang dua kali- kamu berkata,"Dari mana ini?". Katakanlah,"Dia adalah dari diri kamu sendiri". Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.
Ayat 165 Surat Ali Imran ini masih membahas tentang kekalahan kaum Muslimin dalam Perang Uhud setelah sebelumnya meraih kemenangan gemilang di Perang Badar. Kali ini Allah SWT mengingatkan bahwa kalau pun dalam Perang Uhud mereka dikalahkan, maka sesungguhnya mereka telah mendapatkan keunggulan dua kali lipat Memang mereka ditimpa musibah yaitu kekalahan di Uhud, tetapi jangan lupa bahwa sebelumnya mereka sudah memperoleh kemenangan di Badar dua kali lipatnya.
أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ
Lafazh awalamma (أَوَلَمَّا) artinya : “apakah ketika”, atau : “apakah pada waktu”.
Kata ashabat-kum (أَصَابَتْكُمْ) merupakan kata kerja dalam wujud fi’il madhi yang artinya : menimpa. Yang menjadi objeknya adalah dhamir kum (كٌمْ) yang artinya : kamu, maksudnya kaum muslimin para shahabat nabi.
Sedangkan yang menjadi pelakunya atau fa’ilnya adalah kata mushibatun (مُصِيبَةٌ) yang memang bermakna musibah.
Penggalan ini maksudnya adalah bahwa kekalahan telah menimpa kaum muslimin pada Perang Uhud. Saat itu jumlah korbannya cukup banyak, tidak kurang mencapai 70 nyawa para shahabat mulia, termasuk salah satunya paman Nabi SAW yang bernama Sayyidina Hamzah radhiyallahuanhu.
قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا
Lafazh qad (قَدْ) artinya : sungguh telah. Kata ashabtum (أَصَبْتُمْ) merupakan kata kerja dalam bentuk fi’il madhi. Yang menjadi pelakunya atau fa’ilnya adalah dhamir mustatir atau kata ganti yang tersembunyi namun taqdir atau maksudnya adalah kamu. Maka artinya : kamu telah menimpakan.
Sedangkan yang menjadi objek di ayat ini memang tidak tersebut secara eksplisit, namun secara nalar kita memahami yaitu mereka yakni orang kafir. Maksudnya kamu telah berhasil menimpakan musibah kepada mereka, bahkan dengan porsi dua kali lipat musibah yang mereka timpakan kepada kamu.
Maka digunakanlah kata mitslai-ha (مِثْلَيْهَا) adalah bentuk ganda (mutsanna) dari bentuk tunggalnya yaitu mitsla. Maka dhamirha (هاَ) yang menempel pada kata mitslai kembali kepada kata musibah.
Ada sebagian kalangan mufassir yang mengaitkan ayat ini dengan hadits yang menceritakan tentang kekalahan pihak musyrikin, yaitu ada 70 orang yang mati dan ada 70 orang yang jadi tawanan. Maka setahun kemudian pada Perang Uhud, ternyata jumlah korban di pihak muslimin juga ada 70 orang. Dan itu sebanding dengan jumlah tawanan Badar atau dua kali lipat .
Kata qultum (قُلْتُمْ) merupakan kata kerja dalam bentuk fi’il madhi yang artinya : kamu berkata, namun dari konteksnya kita tahu bahwa yang dimaksud bukan sekedar berkata, tetapi lebih tepatnya adalah bertanya. Pertanyaannya adalah anna hadza (أَنَّىٰ هَٰذَا). Maknanya : dari mana datangnya (kekalahan) ini?” atau dari mana (datangnya kegagalan) ini?”
Lafazh qul (قُلْ) adalah kata kerja dalam bentuk fi’il amar, artinya : katakanlah, atau lebih tepatnya jawablah. Kata huwa (هُوَ) merupakan dhamir atau kata ganti dari kekalahan. Kata min (مِنْ) artinya : dari. Kata ‘indi anfusikum (عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ) : sisi dirimu sendiri.
Maksudnya Allah SWT meminta agar Nabi SAW memberikan jawaban kepada para shahabat yang masih saja mengeluh tentang sebab-sebab kekalahan mereka di dalam Perang Uhud.
Dan Allah SWT menegaskan bahwa kalaupun kalah dalam Perang Uhud, sebenarnya mereka sudah mendapatkan kemenangan dua kali lipat sebelumnya yaitu di dalam Perang Badar.
إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Lafazh innallaha (إِنَّ اللَّهَ) artinya : Sesungguhnya Allah. Lafazh ’ala kulli sya’in (عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ) artinya : atas segala sesuatu. Dan makna qadir (قَدِيرٌ) adalah : Maha Kuasa.
Ayat ini ditutup dengan penggalan yang menyatakan bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Penutup model kalimat seperti ini biasa terkait apabila konten suatu ayat punya bobot yang cukup berat dan dirasa sulit atau mustahil dalam ukuran kita sebagai manusia.
Maka pernyataan bahwa Allah SWT Maha Kuasa tentunya menjawab semua rasa ragu dan ketidak-yakinan itu. Kita tidak usah merasa susah apalagi merasa lemah, sebab buat Allah tidak ada yang berat dan sulit. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, termasuk ketika harus memberikan kekuasaan atau kerajaan Persia dan kerajaan Romawi.
Ketika semua ada dalam genggaman kekuasan-Nya, maka tidak ada yang susah bagi Allah. Dan selama kita bersama Allah, maka Allah SWT akan lakukan yang terbaik buat kita.