Kemenag RI 2019:(Mereka adalah) orang-orang (Yahudi) yang mengatakan, “Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada kami agar kami tidak beriman kepada seorang rasul sebelum dia mendatangkan kepada kami kurban yang dimakan api (yang datang dari langit).” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sungguh, beberapa rasul sebelumku telah datang kepadamu dengan (membawa) bukti-bukti yang nyata dan membawa apa yang kamu sebutkan. Akan tetapi, mengapa kamu membunuh mereka jika kamu orang-orang yang benar?” Prof. Quraish Shihab:
(Yaitu) orang-orang (Yahudi) yang mengatakan: “Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada kami, supaya kami jangan beriman kepada seorang rasul, sebelum dia mendatangkan kepada kami kurban (yang dipersembahkan kepada Allah swt.) yang (habis terbakar) dimakan api.” Katakanlah (Nabi Muhammad saw.): “Sungguh, telah datang kepada kamu beberapa orang rasul sebelumku, membawa keterangan-keterangan yang nyata dan membawa apa yang kamu sebutkan, maka mengapa kamu membunuh mereka jika kamu orangorang yang benar?”
Prof. HAMKA:
Orang-orang berkata, “Sesungguhnya Allah telah memesankan kepada kami, supaya kami tidak beriman kepada seorang Rasul, kecuali kalau dia bawakan kepada kami suatu kurban yang dimakan oleh api. Katakanlah, “Sungguh telah datang kepada kamu beberapa Rasul sebelum aku dengan keterangan-keterangan dan dengan yang kamu katakan itu; tetapi mengapa kamu bunuhi mereka, jika memang kamu orang-orang yang benar?
Ayat ke-183 ini menceritakan kedatangan sejumlah orang dari kaum Yahudi, di antaranya Ka'b bin al-Asyraf, Malik bin ash-Shaif, Wahb bin Yehuda, Zaid bin Tabuh, Finhas bin 'Azura', dan Huyay bin Akhtab datang kepada Nabi SAW. Mereka bilang kepada Beliau SAW bahwa di masa lalu, untuk dapat membuktikan keaslian seorang nabi adalah dengan cara nabi itu memberikan persembahan hewan qurban yang diterima Allah SWT dengan cara disambar api dari langit.
Mereka berkata bahwa Allah memerintahkan dan mewasiatkan kepada merka dalam Taurat bahwa mereka tidak boleh membenarkan atau mengakui seorang rasul sampai rasul itu datang dengan membawa hewan qurban yang sudah disambar api dari langit.
Namun sebenarnya maksud dari perkataan batil ini tidak lain hanyalah mencari-cari alasan untuk tidak mau mentaati kesepakatan yang terlanjur mereka setujui sebelumnya, yaitu Piagam Madinah. Tetapi tekniknya sangat tidak terpuji, yaitu mementahkan apa yang sudah disepakati, dengan mempersoalkan status kenabian Muhammad SAW.
Jawaban atas tuntutan mereka memang tidak Allah SWT berikan, justru Allah SWT perintahkan Nabi SAW untuk menjawab kepada mereka dengan jawaban yang mematikan, yaitu permintaan yang sama pernah diajukan oleh nenek moyang mereka di masa lalu, namun tetap saja nenek moyang mereka tidak beriman, malah nabinya yang dibunuh.
Lafazh alladzina (الَّذِينَ) artinya : ‘orang-orang yang’ atau lebih tepatnya : ‘(mereka adalah) orang-orang yang’. Kata qaalu (قَالُوا) adalah kata kerja dalam bentuk fi’il madhi dan artinya : ‘mereka berkata’.
Para mufassir mengatakan bahwa mereka yang dimaksud disini adalah orang-orang Yahudi, karena ayat ini masih merupakan sambungan dari dua ayat sebelumnya, yang menceritakan tentang perilaku orang-orang Yahudi yang menuduh buruk bahwa Allah SWT itu faqir dan mereka lah yang kaya raya.
Kata innallah (إِنَّ اللَّهَ) artinya : Sesungguhnya Allah. Kata ‘ahida ilaina (عَهِدَ إِلَيْنَا) merupakan kata kerja dalam bentuk fi’il madhi yang maknanya : memerintahkan kami. Kata an-la (أَلَّا) artinya : agar jangan atau tidak. Kata nu’mina (نُؤْمِنَ) adalah kata kerja dalam bentuk fi’il mudhari yang artinya : mengimani atau beriman kepada. Kata li-rasulillah (لِرَسُولٍ) artinya: kepada rasul, maksudnya Nabi Muhammad SAW.
Lafazh hatta (حَتَّىٰ) artinya : sehingga atau sampai dengan. Kata ya’tiya-na bi (يَأْتِيَنَا بِـ) adalah kata kerja dalam bentuk fi’il mudhari’, aslinya : datang, lalu yang menjadi objek atau maf’ulbihi adalah dhamir na (نأَ) yang artinya kami. Dalam hal ini maksudnya adalah orang-orang Yahudi, karena ini adalah perkataan mereka.
Namun kata ya’ti (تَأْتِي) bila disambungkan dengan huruf ba (بِـ) maknanya berubah menjadi : ‘datang dengan membawa’, atau mudahnya kita terjemahkan menjadi : membawakan atau mendatangkan.
Kata qurban (قُرْبَانٍ) secara asal muasal bahasa dari kata (قَرُبَ – يَقْرُبُ - قُرْبَان) artinya adalah : mendekat atau pendekatan, namun secara teknis artinya adalah kebaikan dalam bentuk persembahan yang diserahkan seorang hamba kepada tuhannya. Sebagaimana disebutkan juga dalam ayat terkait persembahan dua anak Adam kepada Allah ketika mereka saling berlomba mendapatkan calon istri.
Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban. Maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua dan tidak diterima dari yang lain. (QS. Al-Maidah : 27)
Dan secara lebih teknis lagi berqurban itu mempersembahkan kambing, sapi atau unta kepada Allah SWT dengan cara disembelih dan dimakan dagingnya.
Lafazh ta’kuluhu (تَأْكُلُهُ) artinya : memakannya, maksudnya memakan hewan qurban itu. Yang memakannya adalah an-nar (النَّارُ) yaitu api.
Ibnu Jarir Ath-Thabari meriwayatkan dalam tafsir Jami’ Al-Bayan[1] perkataan dari Ibnu Abbas radhiyallahuanhhu, Al-Hasan Al-Bashri, Mujahid, Adh-Dhahhak, dan yang lainnya, disebutkan bahwa di masa umat terdahulu, apakah persembahan hewan qurban itu diterima oleh Allah SWT atau tidak, caranya bukan dengan disembelih, melainkan diikatkan di lapangan lalu diserukan kepada Allah untuk menerima persembahan itu. Nanti akan ada api atau petir menyambar hewan itu dari atas langit, lalu hewan itu menjadi hangus atau gosong. Dan itu berarti Allah SWT menerima pengurbanannya.
Dan konon begitulah yang dulu terjadi pada persembahan kedua anak Nabi Adam. Salah satunya diterima persembahannya dengan cara terkena sambaran api atau petir dari langit. Sedangkan yang satunya tidak diterima oleh Allah. Persembahannya tidak terkena sambaran petir atau api.
Ats-Tsa’labi dalam tafsir Al-Kasyfu wa Al-Bayan ‘an Tafsir Al-Quran[2] meriwayatkan lewat jalur Atha' bahwa dahulu Bani Israil biasa menyembelih untuk Allah, kemudian mereka mengambil lemak-lemak dan daging-daging yang terbaik dan meletakkannya di tengah rumah yang atapnya terbuka. Kemudian nabi mereka akan berdiri di dalam rumah dan memanjatkan doa kepada Allah, sedangkan Bani Israil berada di luar rumah mengelilinginya. Maka turunlah api yang mengambil kurban tersebut, lalu nabi bersujud dan Allah menurunkan wahyu kepadanya sesuai kehendak-Nya.
Dalam tafsir yang sama juga diriwayatkan lewat jalur As-Suddi bahwa Allah perintahkan Bani Israil dalam Taurat, tentang siapapunpun yang datang kepada kalian lalu mengaku bahwa dia adalah seorang rasul, maka jangan kalian percayai sampai dia datang kepada kalian dengan membawa kurban yang akan dimakan oleh api.
Maka apa yang mereka lakukan kepada Nabi Muhammad SAW dalam pandangan mereka sudah benar, sebab semua nabi dan rasul selalu bisa melakukan hal semacam itu, sebagai bukti bahwa dirinya benar-benar seorang nabi yang asli dan bukan nabi palsu.
[1] Ibnu Jarir Ath-Thabari (w 310 H), Jami Al-Bayan fi Ta’wil Ayil-Quran, (Beirut, Muassasatu Ar-Risalah, Cet. 1, 1420 H - 2000M)
[2] At-Tsa’labi (w. 427 H), Al-Kasyfu wa Al-Bayan ‘an Tafsir Al-Quran, (Jeddah, Darut-Tafsir, Cet-1, 1426 H – 2015 M)
قُلْ قَدْ جَاءَكُمْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِي
Lafazh qul (قُلْ) adalah kata kerja dalam bentuk fi’il amr, asalnya dari (قَالَ – يَقُول - قُلْ) artinya : katakanlah. Ini adalah perintah Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW untuk memberikan jawaban kepada orang-orang Yahudi.
Jawaban ini perlu dikemukakan, untuk meluruskan kekeliruan mereka ketika mengatakan bahwa bukti kenabian itu harus bisa memberikan persembahan kepada Allah yang telah tersambar api dari langit, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh para nabi di masa lalu.
Dalam hal ini jawaban dari Allah SWT ternyata bukan mengabulkan tuntutan mereka, sehingga Nabi SAW tidak harus repot-repot berqurban lalu hewannya harus disambar api. Sebab tujuan mereka mengajukan tuntutan itu memang bukan mau beriman kepada kenabian Muhammad SAW, tetapi sekedar cari-cari alasan atau akal-akalan untuk tidak mau beriman.
Maka jawabannya justru dibalik, yaitu dengan menggunakan trik mengingatkan perilaku mereka atau nenek moyang mereka di masa lalu, yang mana para nabi dan rasul mereka sudah membuktikan kenabian masing-masing dengan nyata, namun ternyata tetap saja mereka tidak mau beriman dan tetap kafir serta ingkar kepada nabi mereka sendiri. Bahkan tidak sedikit yang justru mereka bunuh.
Jadi kalaupun sekarang mereka meminta kepada Nabi Muhammad SAW hal yang sama, tidak perlu dikabulkan permintaan mereka itu. Justru ayat Al-Quran menjawab dengan cara membongkar saja perilaku para leluhur mereka di masa lalu.
Kata qad (قَدْ) artinya sungguh telah. Kata jaa-a-kum (جَاءَكُمْ) artinya datang kepada kamu, yaitu kepada leluhur orang-orang Yahudi di masa lalu, sejak ribuan tahun yang lalu sepanjang sejarah kenabian Bani Israil. Kata rusulun (رُسُلٌ) artinya adalah rasul-rasul, merupakan bentuk jamak, bentuk tunggalnya adalah rasul (رسول). Kata min qabli (مِنْ قَبْلِي) artinya : sebelumku.
بِالْبَيِّنَاتِ وَبِالَّذِي قُلْتُمْ
Lafazh bi al-bayyinat (بِالْبَيِّنَاتِ) dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Ada banyak bukti nyata kenabian para rasul di masa lalu, yaitu berbagai macam bentuk mukjizat yang sudah mereka ketahui.
Para Nabi Dengan Mukjizatnya
Sebagian dari para nabi di masa lalu yang disebut-sebut dalam Al-Quran denagan masign-masing mukjizatnya antara lain dari mereka adalah :
1. Nabi Yusuf
Diperkirakan hidup sekitar 1500 SM, mukjizatnya mampu menafsirkan mimpi, mengetahui hal yang ghaib.
Dan Raja berkata, 'Ceritakanlah kepadaku mimpi-mimpimu itu. Aku akan menafsirkannya untukmu. (QS. Yusuf :47)
2. Nabi Ayub
Diperkirakan hidup sekitar sekitar 1400 SM, mukjizatnya dikaruniai kembali kekayaan dan keturunan setelah ujian kesabarannya.
3. Nabi Musa
Diperkirakan hidup sekitar 1300 SM, mukjizatnya banyak antara lain tongkat yang bisa berubah menjadi ular, tangannya bersinar. mengeluarkan air dari batu membelah Laut Merah,
Dan Musa melemparkan tongkatnya, maka menjadi ular yang besar. Mereka berpaling dengan cepat, ketakutan. (Musa) berkata: 'Jangan takut, sesungguhnya aku ini utusan Allah'.(QS. Al-A'raf 154-155)
Dan masukkanlah tanganmu ke dalam ketiakmu, maka ia akan keluar putih bersih, tanpa cacat, sebagai tanda (mukjizat) yang lain. (QS. Al-Qashash : 32)
Dan Kami perintahkan Musa: 'Pukullah laut itu dengan tongkatmu!' Maka terbelahlah laut itu menjadi dua jalan, dan setiap jalan itu seperti gunung yang menjulang tinggi.(QS. Al-Baqarah : 50)
"Dan Kami perintahkan Musa: 'Pukullah batu itu dengan tongkatmu!' Maka memancarlah darinya dua belas mata air, sehingga setiap kelompok minum dari mata airnya sendiri. Dan Kami katakan: 'Makanlah dari apa yang Allah berikan kepadamu sebagai rezeki, dan janganlah kamu berlebihan; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan'.(QS. Al-Baqarah : 60)
Dan Musa melemparkan tongkatnya, maka ia menelan apa yang telah ditelan oleh penyihir-penyihir itu. Sesungguhnya Musa itu adalah pemenang yang jelas. (QS. Al-A'raf : 121-122)
4. Nabi Daud
Diperkirakan hidup sekitar 1012 SM, mukjizatnya punya suara merdu yang menenangkan jiwa, memahami bahasa binatang, melunakkan besi dengan tangannya.
Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam. (QS. Al-Baqarah : 251)
5. Nabi Sulaiman
Diperkirakan hidup sekitar 972 SM mukjizatnya mampu memahami bahasa binatang, memerintah jin dan hewan, memiliki kekayaan yang berlimpah.
6. Nabi Ilyas
Diperkirakan hidup sekitar 850 SM, mukjizatnya membawa hujan setelah kemarau panjang, menghidupkan orang mati, membakar para penyembah berhala dengan api.
7. Nabi Ilyasa
Diperkirakan hidup sekitar 800 SM, mukjizatnya membelah sungai dengan jubahnya, menghidupkan orang mati, menurunkan api dari langit.
8. Nabi Yunus
Diperkirakan hidup sekitar 750 SM, mukjizatnya berada di dalam perut ikan selama tiga hari, membuat kaumnya beriman.
9. Nabi Zakaria
Diperkirakan hidup sekitar 520 SM, mukjizatnya mampu mengetahui isi kandungan janin tanpa melihat, mengetahui kapan seseorang datang tanpa melihatnya.
10. Nabi Yahya
Diperkirakan hidup sekitar 480 SM mukjizatnya mampu menyembuhkan orang sakit, menghidupkan orang mati, mengetahui hal yang ghaib.
11. Nabi Isa
Diperkirakan hidup sekitar 30 M. Mukjizatnya menghidupkan orang mati, menyembuhkan orang sakit, berbicara sejak bayi, menciptakan burung dari tanah liat.
Lafazh wabilladzi (وَبِالَّذِي) dan dengan apa yang. Kata qultum (قُلْتُمْ) artinya : kalian katakan, maksudnya dengan qurban yang sudah terbukti disambar api, sebagai tanda bahwa qurban itu diterima oleh Allah SWT, sekaligus bukti bahwa kenabiannya memang asli.
فَلِمَ قَتَلْتُمُوهُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Lafazh falima (فَلِمَ) artinya : maka mengapa. Kata qataltumu-hum (قَتَلْتُمُوهُمْ) adalah kata kerja dalam bentuk fi’il madhi dan maknanya adalah : kalian membunuh mereka. Kalian yang dimaksud di penggalan ayat ini adalah nenek moyang bangsa Yahudi yang hidupnya di masa lalu sebelum kenabian Muhammad SAW. Sedangkan mereka yang dibunuh adalah para nabi dan rasul, antara lain Nabi Zakaria, Nabi Yahya, Nabi Yesaya, Nabi Yeremia, Nabi Amos, Nabi Hosea, dan lainnya.
Sebenarnya mereka juga membunuh Nabi Isa alaihissalam, meski tidak yakin apakah berhasil membunuhnya atau tidak. Hal itu sebagaimana diungkapkan dalam Al-Quran :
وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا
Mereka tidak yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. (QS. An-Nisa : 157)
Namun begitulah perilaku nenek moyang orang-orang Yahudi di masa lalu, Al-Quran membeberkannya secara apa adanya di dalam ayat-ayat yang turun. Tujuannya untuk menjatuhkan reputasi dan nama besar leluhur mereka yang selama ini mereka bangga-banggakan. Ternyata sejarah lelulur mereka tidak seluhur yang mereka ceritakan selama ini.
Allah menyebutkan nenek moyang mereka, karena mereka setuju dengan perbuatan nenek moyang mereka. Makna ayat ini adalah bahwa mereka mendustakanmu wahai Muhammad meskipun mereka tahu kebenaranmu, seperti nenek moyang mereka membunuh para nabi meskipun mereka datang dengan membawa kurban dan mukjizat-mukjizat.
Lafazh in kun-tum (إِنْ كُنْتُمْ) artinya : jika kamu. Kata shadiqin (صَادِقِينَ) artinya : orang-orang yang benar.
Penggalan yang menjadi penutup ini sebenarnya menegaskan bahwa tuntutan mereka kepada Nabi Muhammad SAW itu hanyalah akal-akalan mereka saja, sekedar cari-cari alasan untuk tidak mau mentaati dan setia memberikan loyalitasnya kepada Nabi SAW. Lalu mereka ungkit bahwa para nabi di masa lalu bisa mendatangkan bukti dengan mendatangkan hewan qurban yang disambar api.
Padahal tidak perlu pembuktian apa-apa lagi kalau terkait kenabian Muhammad SAW. Sudah terlalu banyak bukti yang terlanjur meyakinkan mereka atas kenabian Beliau SAW. Kalau tiba-tiba di tengah jalan mereka pura-pura minta bukti kenabian lagi, jelas pasti ada maunya.