Kemenag RI 2019:Sesungguhnya di antara Ahlulkitab ada yang beriman kepada Allah dan pada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka. Mereka berendah hati kepada Allah dan tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga murah. Mereka itu memperoleh pahala di sisi Tuhannya. Sesungguhnya Allah Maha Cepat perhitungan-Nya. Prof. Quraish Shihab:
Dan sesungguhnya di antara Ahl al-Kitab benar-benar ada yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan apa yang diturunkan kepada mereka, sedang mereka dalam keadaan khusyuk kepada Allah; mereka tidak membeli ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka itu memperoleh pahala mereka di sisi Tuhan Pemelihara mereka. Sesungguhnya Allah sangat cepat perhitungan-(Nya).
Prof. HAMKA:
Sesungguhnya sebagian dari Ahlul Kitab, ada (juga) yang beriman kepada Allah dan (kepada) yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka. Dalam keadaan khusyu’ kepada Allah, tidak mereka jual ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka itu memperoleh ganjaran di sisi Allah. Sesungguhnya Allah cepat sekali perkiraan-Nya.
Ayat ke-199 ini jelas-jelas menjadi ayat anomali dari semua ayat lain terkait dengan perilaku jahat para ahli kitab. Biasanya ayat-ayat terkait dengan ahli kitab bicara tentang kejahatan dan kedegilan mereka, sehingga yang tercetak dalam benak kita pada umumnya ahli kitab itu orang jahat semua.
Padahal dalam fakta yang sesungguhnya tidak selalu demikian. Di masa kehidupan Nabi SAW memang ada orang-orang yahudi yang baik, bahkan mereka dilindungi secara resmi sebagai warga negara dengan status sebagai dzimmi (ذِمِّي) yang artinya : kelompok yang mendapat perlindungan resmi. Selain itu juga ada orang-orang yahudi yang kemudian masuk Islam dan benar-benar jadi orang beriman, dengan status sebagai shahabiyyun jalil. Kalau nama mereka disebut, kitapun menyambutnya dengan sebutan radhiyallahuanhu.
Lafazh wa inna (وَإِنَّ) artinya : dan sesungguhnya. Kata min ahlil-kitab (مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ) artinya dari sebagian ahli kitab. Maksudnya dalam hal ini adalah orang-orang Yahudi pengikut ajaran Nabi Musa, dan juga orang-orang Nasrani pengikut ajaran Nabi Isa alahimassalam. Mereka disebut sebagai ‘ahli kitab’ karena mereka adalah umat di masa lalu yang beriman kepada kitab-kitab suci yang Allah SWT turunkan.
Lafah la-man (لَمَنْ) artinya : sungguh merupakan orang yang. Sedangkan maka kata yu’minu billah (يُؤْمِنُ بِاللَّهِ) artinya adalah beriman kepada Allah. Kalau dilihat menurut ukuran masa waktu ketika mereka hidup, sebenarnya justru mereka itulah yang disebut sebagai muslim dan mukmin. Karena mereka adalah pengikut para nabi dan rasul yang beriman kepada Allah SWT dengan menjalankan semua syariat yang Allah SWT turunkan.
Yang menarik mereka pun juga beriman kepada Nabi Muhammad SAW, baik sebelum kedatangannya mereka sudah beriman, bahkan hingga benar-benar mereka bertemu dengan Nabi Muhammad SAW langsung, mereka pun tetap beriman dan menjadi pembela setianya.
Memang sebagian dari mereka ada yang sempat beriman kepada Nabi SAW, namun kemudian murtad atau jadi munafik. Tetapi itu tidak semua, masih ada yang tetap beriman. Yang tidak beriman, memang ternyata nasib mereka berkata lain, yaitu seiring dengan perjalanan waktu, perlahan tapi pasti, beringsut-ingsut mereka pun mulai menepi dan keluar dari gelanggan arena keimanan. Sampai akhirnya mereka jadi musuh Nabi SAW dan berposisi sebagai lawan dalam peperangan.
وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ
Lafah wa maa (وَمَا) artinya : dan (beriman kepada) apa yang, sedangkan kata unzila (أُنْزِلَ) adalah kata kerja dalam bentuk fi’il madhi majhul atau pasif dan artinya : diturunkan. Kata ilaikum (إِلَيْكُمْ) artinya : kepadamu. Yang disebut dengan kamu dalam hal ini adalah Nabi Muhammad SAW. Maka yang diturunkan kepada Beliau adalah kitab suci Al-Quran.
Awalnya boleh dikatakan bahwa semua ahli kitab percaya bahwa akan ada kitab suci terakhir yang akan dibawa oleh nabi terakhir yang diturunkan. Justru penduduk Madinah yang termasuk bangsa Arab, sampai bisa menerima kenabian Muhammad SAW karena mereka banyak diajarkan oleh orang-orang Yahudi.
Dan ketika Nabi SAW pertama kali datang ke Madinah, kalangan Yahudi juga tidak terlalu banyak meributkan isi Al-Quran. Sebab ayat-ayat Makkiyah secara umum masih sejalan dengan keimanan aqidah samawi yang selama ini mereka imani. Ajaran Al-Quran terkait aqidah memang mengajarkan apa yang juga diimani oleh kalangan Yahudi, yaitu beriman kepada Allah, malaikat, para nabi, kitab-kitab suci samawi dan juga iman kepada hari akhir.
Sampai disitu, maka hubungan antara ajaran Yahudi dan ajaran Islam masih seiring sejalan. Nyaris tidak ada hal yang menjadi sumber konflik antara isi Al-Quran dan isi Taurat kala itu.
Namun ketika sudah hijrah ke Madinah, mulailah ayat-ayat Al-Quran bicara terkait dengan hukum-hukum syariah yang sifatnya merevisi, melengkapi dan termasuk juga mengoreksi apa yang ada dalam Taurat. Sebagian ulama mengatakan bahwa ayat-ayat Al-Quran itu menasakh atau menghapus ayat-ayat yang ada di dalam Taurat.
Maka saat itulah sebagian dari ahli kitab mulai tidak terima, mereka tidak mau meninggalkan Taurat dan mengikuti Al-Quran. Yang terjadi memang mereka terpecah menjadi dua kubu. Ada yang tetap beriman kepada Al-Quran dan meninggalkan Taurat, namun ada juga yang tidak mau ikut Al-Quran dan setia kepada Taurat.
وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ خَاشِعِينَ لِلَّهِ
Lafazh wa maa unzila ilihim (وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ) artinya : apa yang diturunkan kepada mereka. Dhamir hum (هُمْ) di penggalan ayat ini kembali kepada ahli kitab. Maka yang dimaksud adalah beriman kepada Taurat bagi orang Yahudi dan beriman kepada Injil bagi orang Nasrani.
Memang tidak semua ayat Al-Quran itu menghapus apa yang ada di Taurat. Sebagian dari apa yang ada di Taurat itu justru ada yang malah dikuatkan oleh Al-Quran. Sehingga posisinya mereka bisa mengimani Al-Quran dan juga mengimani Taurat, ketika keduanya berjalan seiringan.
Namun manakala ayat Al-Quran merevisi apa yang ada di Taurat, maka yang lebih diutamakan tentunya apa yang ada di dalam Al-Quran, karena lebih up to date.
لَا يَشْتَرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا
Lafazh laa yasytaruna (لَا يَشْتَرُونَ) artinya : tidak menjual, lafazh bi-ayaatillah (بِآيَاتِ اللَّهِ) artinya : ayat-ayat Allah, yaitu isi dari kitab Taurat. Kata tsamanan qalila (ثَمَنًا قَلِيلًا) artinya : dengan harga yang sedikit.
Kalau diperhatikan dengan cermat, ternyata bukan hanya sekali ini saja Al-Quran menyebutkan bahwa orang-orang Yahudi, khususnya para pemuka mereka melakukan jual-beli ayat dengan harga yang sedikit. Di dalam surat Al-Baqarah tercatat 3 kali terulang-ulang, begitu juga di surat Ali Imran juga terulang 3 kali. Sedangkan di surat Al-Maidah, At-Taubah dan An-Nahl masing-masing hanya sekali.
Rinciannya sebagai berikut :
Surat Al-Baqarah : 41 (وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا)
Surat Al-Baqarah : 70 (لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا)
Surat Al-Baqarah : 174 (وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا)
Surat Ali Imran : 77 (إِنَّ الَّذِينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَأَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قَلِيلًا)
Surat Ali Imran : 187 (وَاشْتَرَوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا)
Surat Ali Imran : 199 (لَا يَشْتَرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا)
Surat Al-Maidah : 44 (وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا)
Surat At-Taubah : 9 (اشْتَرَوْا بِآيَاتِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا)
Surat An-Nahl : 95 (وَلَا تَشْتَرُوا بِعَهْدِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا)
Lalu apa yang dimaksud dengan ‘menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit’?
Maksudnya bahwa para tokoh ahli kitab di kalangan Yahudi itu menerima bayaran untuk membela pihak-pihak yang tidak suka dengan kedatangan nabi Muhammad SAW, dengan membuat pernyataan bahwa informasi kenabian Muhammad itu tidak ada di dalam Taurat. Dan untuk itu mereka menerima uang kompensasi yang nilainya tidak sepadan dengan dosa yang akan mereka terima nanti di akhirat.
Sedangkan di dalam tafsir Al-Mishbah[1] Prof. Quraish Shihab menuliskan bahwa yang dimaksud dengan membeli dengan harga murah adalah sogok dan atau hadiah-hadiah yang bukan pada tempatnya yang mereka terima atau ambil sebagai imbalan atas ketetapan hukum, atau penafsiran tuntunan agama yang bertentangan dengan yang semestinya, atau penyembunyian informasi dan tuntunan Allah. Dan menurut Beliau lagi bahwa ayat ini, walaupun turun mengecam Ahl al-Kitab, hukumnya mencakup pula kaum muslimin yang melakukan hal yang sama
[1] Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Quran (Tangerang, PT. Lentera Hati, 2017)
أُولَٰئِكَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ
Lafazh ulaaika (أُولَٰئِكَ) artinya : mereka, yaitu para ahli kitab yang beriman kepada Allah SWT dan juga beriman kepada Al-Quran dan Taurat.
Lafazh lahum (لَهُمْ) artinya : mereka mendapatkan. Lafazh ajruhum (أَجْرُهُمْ) artinya : balasan mereka. Kata inda-rabbi-him (عِنْدَ رَبِّهِمْ) artinya : pada sisi Tuhan mereka.
Pernyataan bahwa mereka mendapatkan ganjaran atas amal mereka menunjukkan bahwa pemberian Allah SWT nanti di alam akhirat dan bukan di dunia ini. Sehingga keuntungannya memang ada dua, yaitu duniawi dan juga ukhrawi.
Selain itu juga bahwa apabila mereka mampu memenuhi syarat yang Allah SWT tetapkan, maka mereka mendapatkan pengakuan dari Allah SWT. Sebab kalau tidak diakui, maka amal-amal mereka pastinya tidak akan dianggap sebagai ibadah dan tidak diterima. Sebagaimana firman Allah SWT :
Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. (QS. An-Nur : 39)
Selain itu juga ada firman Allah SWT lain yang senada :
Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan. (QS. Al-Furqan : 23)
إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
Lafazh innallaha (إِنَّ اللَّهَ) artinya : Sesungguhnya Allah. Lafazh sarii’ (سَرِيعُ) artinya sangat cepat, sedangkan lafazh al-hisab (الْحِسَابِ) artinya adalah perhitungan. Maksudnya bahwa Allah SWT itu akan menghisab seluruh amal manusia, setidaknya sejak terhitung masuk usia baligh hingga detik-detik akhir dari kehidupannya di dunia ini. Dan untuk itu, hisab Allah SWT sangat cepat.
Lalu timbul sebuah pertanyaan yang sedikit menggelitik : apakah yang dimaksud dengan Allah SWT itu amat cepat hisabnya? Apakah berarti Allah SWT terburu-buru dalam perhitungannya?
Ada beberapa penafsiran para ulama yang berbeda-beda. Sebagian mengatakan yang dimaksud sangat cepat hisabnya adalah Allah SWT tidak butuh waktu untuk menerima amalan hamba-Nya. Segala amal baik yang dilakukan hamba itu tidak akan disia-siakan barang sedetik pun. Segera saja apa yang dimintakan itu dikabulkan oleh Allah SWT.
Penafsiran semacam ini tentu menimbulkan tanda tanya, bukankah banyak permintaan hamba yang tidak dikabulkan oleh Allah SWT? Bahkan banyak doa para nabi utusan Allah yang lama sekali tidak dikabulkan.
Jawabannya sederhana saja, bahwa yang cepat itu bukan dikabulkannya, melainkan hisabnya. Dan hisab itu bukan pengabulan doa melainkan proses diterimanya amalan-amalan hamba yang banyak dan bervariasi antara yang besar dan yang kecil.
Fakhruddin Ar-Razi menjelaskan bahwa kecepatan dalam perhitungan hisab hamba-Nya itu menunjukkan bahwa kemampuan yang luar biasa dalam menghitung amalan hamba-hamba Allah SWT namun juga perhitungannya sangat akurat.
Apa yang dijelaskan oleh penyusun kitab tafsir Mafatih Al-Ghaib ini barangkali bisa kita jelaskan dengan perumpamaan di zaman modern, yaitu cara bekerjanya mega komputer yang mampu melakukan kalkulasi dengan cepat dan singkat atas sekian juta data yang berserakan dan tidak pernah berhenti mendapatkan suplai data terbaru.
Pastinya super komputer dengan kapasitas yang amat besar dan biasanya dikategorikan sebagai komputer super cepat dalam melakukan processing atau pengolahan dana. Komputer seperti itu dijuluki komputer super cepat. Sangat tepat dalam menggambarkan bahwa Allah SWT menghitung dengan sangat cepat, ibarat komputer super cepat.