Kemenag RI 2019:Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga di perbatasan (negerimu), dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung. Prof. Quraish Shihab:
Hai orang-orang yang beriman! Bersabarlah dan kuatkanlah kesabaran kamu dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.
Prof. HAMKA:
Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaran kamu, bersiap-siagalah dan bertakwalah kita kepada Allah, supaya kamu mendapat kemenangan.
Ayat ke-200 ini adalah ayat final alias ayat terakhir dari surat Ali Imran. Di penghujung akhir ayat ini, Allah SWT seperti sengaja menyapa ulang orang-orang beriman dan seakan memberikan kata-kata terakhir sebagai pesan penting dari secara keseluruhan surat Ali Imran.
Inti dari pesannya adalah tiga atau empat point. Pertama, perintah untuk bersabar. Kedua, perintah untuk meningkatkan kualitas kesabaran. Ketika, perintah untuk berjaga dan bersiap sedia.
Point yang keempat dan merupakan inti dari segala yang ini adalah perintah untuk bertaqwa kepada Allah, yang kemudian dimintakan kepada kaum muslimin untuk mengharapkan kemenangan dengan semua modal yang sudah disebutkan.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
Lafazh ya ayyuha (يَا أَيُّهَا) merupakan sapaan atau nida’. Fungsinya untuk menegaskan siapa yang menjadi lawan bicara, maka sebelum disampaikan apa yang menjadi isi pembicaraan, lawan bicaranya itu disapa terlebih dahulu. Untuk mudahnya penerjemahan dalam Bahasa Indonesia sering dituliskan menjadi : “wahai”.
Sedangkan lafazh alladzina(الَّذِينَ) dimaknai menjadi ‘yang’ atau lengkapnya : “orang-orang yang”. Dan lafazh aamanu (آمَنُوا) merupakan kara kerja yang bentuknya lampau alias fi’il madhi yaitu dari asal (آمَنَ - يُؤْمِنً). Makna kata kerja itu adalah : “melakukan perbuatan iman”. Namun sudah jadi kebiasaan dalam penerjemahan disederhanakan menjadi : “orang-orang yang beriman”. Padahal kalau “orang yang beriman”, secara baku dalam bahasa Arab itu disebut mu’min (مُؤْمِن) dan bukan alladzina amanu.
Kita menemukan tidak kurang dari 89 kali Allah SWT menyapa dengan sapaan (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا). Lantas kenapa di ayat ini Allah SWT mengawalinya dengan sapaan kepada orang-orang yang beriman?
Ada banyak analisa yang menaraik telah dituliskan para ulama, namun menurut hemat Penulis, wallahu a’lam, ini adalah sapaan Allah SWT kepada lawan bicara yaitu Nabi SAW dan para shahabat, yang mengisyaratkan bahwa surat ini akan segera berakhir. Sebagaimana layaknya seorang pembicara sebelum menutup dan mengakhiri ceramahnya, menyapa audience dengan sapaan,”Baiklah para hadirin sekalian”.
اصْبِرُوا
Kata ishbiru (اصْبِرُوا) artinya : bersabarlah. Kata ini merupakan kata kerja yaitu fi’il amr. Prof Quraish Shihab dalam tafsir Al-Misbah[1] Asalnya dari tiga huruf yaitu huruf shad (ص), huruf ba’ (ب) dan huruf ra’ (ر) Maknanya berkisar pada tiga hal, yaitu menahan, ketinggian sesuatu dan sejenis batu. Beliau menuliskan bahwa dari makna pertama yaitu menahan lahir makna konsisten atau bertahan, karena yang bertahan menahan pandangannya pada satu sikap. Seseorang yang menahan gejolak hatinya, dinamai bersabar, yang ditahan di penjara sampai mati dinamai mashburah (مصبورة). Sedangkan dari makna kedua lahir kata shubr (صُبْر) yang berarti puncak sesuatu. Dan dari makna ketiga muncul kata ash-shubrah (الصذُبْرَة), yakni batu yang kukuh lagi kasar atau potongan besi.
Perintah untuk bersabar cukup banyak kita temukan di dalam Al-Quran, baik dalam bentuk fi’il amr sebagaimana ayat ini, aaupun dalam berbagai macam shighat lainnya. Prof Quraish mengutipkan juga bahwa Al-Imam Al-Ghazali mensinyalir bahwa di dalam Al-Quran terdapat lebih lebih dari tujuh puluh kali Allah SWT menguraikan masalah sabar.
Dan kalau kita lakukan pencarian dengan keyword (اصبر) yang maknanya : bersabarlah, maka akan kita temukan 25 kali kata itu termuat dalam Al-Quran dalam berbagai ayat.
Berikut hasil pencariannya :
Surat Ali Imran : 200 (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ)
[1] Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Quran (Tangerang, PT. Lentera Hati, 2017)
وَصَابِرُوا
Kata shabiru (صَابِرُوا) artinya : kuatkanlah kesabaranmu. Sebenarnya asal katanya sama, hanya saja kali ini lebih dikhususkan lagi sehingga maknanya menjadi kuatkanlah kesabaranmu.
Prof. Quraish Shihab menafsirkan kata ini dalam tafsir Al-Misbah[1] menjadi : bersabar menghadapi kesabaran orang lain. Seorang muslim dalam hidup dan perjuangan di jalan Allah menghadapi pihak lain yang juga berjuang sesuai nilai-nilainya dan yang juga memiliki kesabaran. Ketika itu, kesabaran dilawan dengan kesabaran, siapa yang lebih kuat kesabarannya dan lebih lama dapat bertahan dalam kesulitan, dialah yang akan memeroleh kemenangan. Sabar yang dihadapi dengan kesabaran yang lebih besar.
Sedangkan Buya HAMKA dalam tafsir Al-Azhar[2] menuliskan bahwa makna shabiru (صَابِرُوا) artinya sabar yang setingkat lagi, atau memperkuat kesabaran.
Sebab, pihak musuh pun tentu akan memakai alat sabar pula dalam menghadapimu. Karena itu, tangkislah sabar mereka dengan sabarmu, artinya kesabaranmu harus lebih kuat karena barangsiapa yang lebih lama tahan, itulah yang akan menang, laksana menahan napas menyelam dalam air. Barangsiapa yang lebih singkat napasnya, dialah yang lebih dahulu keluar dari dalam air.
[1] Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Quran (Tangerang, PT. Lentera Hati, 2017)
[2] HAMKA (w. 1410 H-1981M), Tafsir Al-Azhar, (Jakarta, Gema Insani, Cet. 5, 1441 H - 2020 M)
وَرَابِطُوا
Lafazh wa rabithu (وَرَابِطُوا) diterjemahkan dengan berbeda-beda. Terjemahan Kemenag RI adalah : “tetaplah bersiap siaga di perbatasan (negerimu)”. Terjemahan Prof. Quraish Shihab adalah : “tetaplah bersiap siaga”. Sedangkan terjemahan Buya HAMKA adalah : “bersiap-siagalah”.
Asal kata rabithu (رَابِطُوا) merupakan fi’il amr yang asalnya dari kata ribath (رِبَاط) yang bermakna ikatan. Namun secara teknis melakukan ribath adalah tugas militar dengan cara melakukan penjagaan di garis batas negeri Islam dan negeri kafir, yang mana tujuannya agar jangan sampai musuh menyerbu dan kita dalam keadaan lengah.
At-Thabari dalam tafsir Jami’ Al-Bayan[1] meriwayatkan penjelasan Daud bin Salamah yang menceritakan bahwa Abu Salamah bertanya kepada dirinya,”Tahukah kamu dalam rangka apa turunnya ayat ini?”. Daud menjawab,”Tidak tahu”. Abu Salamah menjawab,”Wahai keponakanku. Di masa kenabian belum ada perang yang harus dengan penjagaan. Maka yang dimaksud adalah menunggu waktu shalat setelah waktu shalat”.
Selain itu juga hadits berikut yang juga memaknai perintah ribath dalam hadits riwayat Jabi bin Abdullah berikut :
“Maukah kalian aku tunjukkan suatu amalan yang dengannya Allah akan menghapus dosa-dosa dan mengampuni kesalahan-kesalahan?” Mereka berkata, “Tentu wahai Rasulullah!” Beliau bersabda: “Menyempurnakan wudhu pada tempat-tempatnya, memperbanyak langkah menuju masjid, dan menunggu shalat setelah shalat. Sesungguhnya itulah ‘merabat’.(HR. Al-Bukhari)
At-Thabari juga meriwayatkan dari Al-Hasan terkait tiga perintah di ayat ini.
Dia memerintahkan mereka untuk bersabar dalam menjalankan agama mereka, dan tidak meninggalkannya baik dalam kesulitan maupun kemudahan, baik dalam keadaan senang maupun susah, dan memerintahkan mereka untuk bersabar menghadapi orang-orang kafir, dan untuk bersiap siaga menghadapi orang-orang musyrik. [2]
[1] Ibnu Jarir Ath-Thabari (w 310 H), Jami Al-Bayan fi Ta’wil Ayil-Quran, (Beirut, Muassasatu Ar-Risalah, Cet. 1, 1420 H - 2000M)
[2] Ibnu Jarir Ath-Thabari (w 310 H), Jami Al-Bayan fi Ta’wil Ayil-Quran, (Beirut, Muassasatu Ar-Risalah, Cet. 1, 1420 H - 2000M)
Lafazh wattaqu(واتقوا) terbentuk dari huruf wa (و) yang bermakna 'dan' dan ittaqu(اتقوا) yang merupakan fi'il amr atau perintah untuk melakukan sesuatu. Asalnya dari (اتقى - يتقى) yang maknanya bisa bertaqwa namun juga bisa bermakna takut atau memelihara diri dari sesuatu. Dalam konteks ayat ini tentu makna yang paling cocok adalah perintah untuk bertaqwa kepada Allah.
Lafazh la’allakum (لَعَلَّكُمْ) cukup banyak kita temukan di dalam Al-Quran dan sering diterjemahkan menjadi ‘agar supaya’. Secara rasa bahasa, ungkapan semacam ini pantas diucapkan oleh manusia sebagai bentuk harapan akan terjadinya sesuatu di masa datang yang saat ini masih belum terjadi.
Namun bagaimana kita terima kalau ungkapan harapan ini justru muncul dari perkataan Allah SWT sendiri? Masak sih Allah SWT berharap akan terjadinya sesuatu di masa mendatang? Bukankah Allah SWT tidak perlu berharap karena Dia Maha Kuasa?
Lagi pula di sisi lain, ada juga harapan Allah SWT sampaikan namun tidak pernah menjadi kenyataan. Misalnya harapan agar Fir’aun bisa mengambil pelajaran seperti dalam ayat ini :
Sungguh, Kami telah menghukum Fir‘aun dan kaumnya dengan (mendatangkan) kemarau panjang dan kekurangan buah-buahan agar mereka mengambil pelajaran. (QS. Al-A’raf : 130)
Namun dalam kenyataannya harapan yang disebut oleh ayat ini ternyata tidak pernah terjadi, sebab Fir’aun dan rezimnya terus menerus melakukan kedurhakaan sehingga pada akhirnya mereka ditenggalamkan di laut Merah.
Oleh karena itulah ada sebagian ahli tafsir yang menanggapi masalah harapan di balik lafazh (لعل) sebenarnya merupakan perintah Allah SWT kepada yang sedang diajak bicara agar membuat harapan. Sehingga yang berharap pada dasarnya bukan Allah SWT, melainkan manusia. Jadi lengkapnya perintah itu sebagai berikut :
Wahai manusia, silahkah kamu mengharap agar dirimu bisa menjadi orang yang bertaqwa lewat cara mengerjakan ibadah.
Pakar tafsir dan bahasa Arab az-Zamakhsyari berpendapat bahwa kata (لعل) merupakan majaz dan bukan dalam arti harapan yang sebenarnya. Bahwa Allah SWT menciptakan hamba-hamba-Nya agar mereka menyembah-Nya sambil memberi mereka kebebasan untuk memilih. Dia menghendaki untuk mereka kebaikan dan agar mereka bertakwa.
Dengan demikian, mereka sebenarnya berada dalam posisi yang diharapkan memperoleh ketakwaan tetapi dalam kerangka kebebasan memilih antara taat atau durhaka. Ini serupa dengan, situasi sesuatu yang belum jelas apakah ia terjadi atau tidak. Ketidakjelasan itu lahir karena adanya pilihan untuk yang bersangkutan apa memilih yang ini atau yang itu.
Betapapun, pada akhirnya kita dapat berkata bahwa tidak ada sesusatu yang merupakan harapan bagi Allah jika maknanya dikaitakan dengan ketidakpastian. Keyakianan setiap penganut agama tentang kemahaluasan pengetahuan Allah menjadi dalil yang sangat kuat untuk menghindarkan makna ketidakpastian itu dari kandungan makna la'alla bila pelakunya adalah Allah swt. Bila Anda telah menghindarkan makna itu, maka silahkan pilih makna yang Anda anggap tepat.
Lafazh tattaqun ini adalah bentuk fi’il mudhari dari taqwa, sehingga sudah tepat kalau diartikan sebagai : ‘bertaqwa’ dan bukan : ‘orang yang bertaqwa’. Ketika disebutkan ‘bertaqwa’, maka yang dimaksud adalah taqwa dalam arti sebuah aktifitas, sedangkan kalau disebut ‘muttaqin’ maka maksudnya adalah taqwa dari arti identitas.
Umumnya para ulama menyebutkan bahwa taqwa itu sebuah derajat yang tinggi yang diawali dengan derajat iman. Hal itu berdasarkan ayat yang memanggil orang beriman untuk melakukan ini dan itu, lalu di akhir disebutkan semoga menjadi orang yang bertaqwa. Atau juga karena taqwa disebutkan setelah iman seperti yang disebutkan dalam ayat berikut :
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. (QS. Al-Araf : 96)
Menarik juga membaca terjemahan versi Buya HAMKA yang mengartikannya sebagai : ‘orang yang terpelihara’. Terjemahan ini tidak salah, karena salah satu makna taqwa adalah memelihara, sebagaimana firman Allah SWT :