Rumah Fiqih Indonesia
Jilid : 6 Juz : 3 | Ali Imran : 31
Ali Imran 3 : 31
Mushaf Kemenag RI hal. 54
Kemenag RI 2019: Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Prof. Quraish Shihab:

Katakanlah: 'Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. "Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.



Prof. HAMKA:

Katakanlah, "Jika memang kamu cinta kepada Allah maka turutkanlah aku, niscaya cinta pula Allah kepada kamu dan akan diampuniNya dosa-dosa kamu." Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Penyayang.



TAFSIR AL-MAHFUZH
***

Ayat ke-31 ini dilatar-belakangi oleh pernyataan orang kafir yang menyatakan bahwa mereka itu juga mencintai Tuhan yaitu Allah SWT. Mereka berkata :

واللَّهِ يا مُحَمَّدُ إنّا لِنُحِبُّ رَبَّنا

Demi Allah wahai Muhammad, kami pun mencintai Tuhan kita.

Pernyataan itu juga diceritakan di dalam Al-Quran :

وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَىٰ نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ

Orang Yahudi dan orang Nasrani berkata, “Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya. (QS. Al-Maidah : 18)     

Padahal mereka itu tidak memeluk agama Islam. Kemudian Allah SWT perintahkan kepada Nabi SAW agar menjawab pernyataan mereka bahwa kalau memang benar mereka mencintai Allah, maka seharusnya mereka mengikuti Nabi Muhammad SAW.

Namun ada juga versi lainnya, dimana diriwayatkan bahwa utusan dari Najran ketika datang ke Madinah berkata bahwa perlakuan mereka kepada Nabi Isa disebabkan karena kecintaan mereka kepada Allah SWT.

Versi yang ketiga menyebutkan bahwa ada sebagian shahabat berkata kepada Nabi SAW,”Demi Allah, kami mencintai Allah Tuhan kami”. Maka Allah SWT turunkan ayat ini dengan memerintahkan mereka bahwa cinta kepada Allah SWT itu harus dengan cara mengikuti perintah Nabi SAW.

***
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ

Lafazh qul (قُلْ) adalah perintah dalam bentuk fi’il amr dari asalnya (قَالَ - يَقُول)  dan maknanya berkata, sehingga qul itu adalah perintah untuk berkata,”Katakanlah”. Yang memerintah adalah Allah SWT dan yang diperintah adalah Nabi Muhammad SAW.

Lafazh in-kuntum (إِنْ كُنْتُمْ) artinya : jika kamu, sedangkan lafazh tuhibbunallah (تُحِبُّونَ اللَّهَ) artinya : kamu mencintai Allah.

Asy-Syaukani menuliskan dalam Fathul Qadir bahwa cinta itu didefinisikan sebagai (مَيْلُ النَّفْسِ إلى الشَّيْءِ) yaitu kecenderungan jiwa kepada sesuatu. Sedangkan Al-Azhari mengatakan :

مَحَبَّةُ العَبْدِ لِلَّهِ ورَسُولِهِ طاعَتُهُ لَهُما واتِّباعُهُ أمْرَهُما، ومَحَبَّةُ اللَّهِ لِلْعِبادِ إنْعامُهُ عَلَيْهِمْ بِالغُفْرانِ

Cinta seorang hamba kepada Allah dan rasul-Nya berupa ketaatan kepada keduanya serta mengikuti perintahnya. Sedangkan kecintaan Allah kepada para hamba berupa pemberian kenikmatan serta ampunan.

***
فَاتَّبِعُونِي

Lafazh fattabi’uni (فَاتَّبِعُونِي) artinya : maka ikutilah Aku, yang dalam hal ini tidak lain adalah Nabi Muhammad SAW.

Yang dimaksud dengan ittiba’ atau mengikuti kepada Nabi SAW adalah mengikuti Al-Quran dan As-Sunnah, sebagaimana perkataan Sahal bin Abdullah :

عَلَامَةُ حُبِّ اللَّهِ حُبُّ الْقُرْآنِ، وعلامة حب الْقُرْآنِ حُبُّ النَّبِيِّ ﷺ، وَعَلَامَةُ حُبِّ النَّبِيِّ ﷺ حُبُّ السُّنَّةِ

Tanda kecintaan kepada Allah itu adalah cinta kepada Al-Quran. Tanda cinta kepada Al-Quran itu adalah cinta kepada Nabi SAW. Tanda cinta kepada Nabi SAW adalah cinta kepada sunnah.

Sunnah Nabi SAW sendiri bukan berarti melakukan copy paste apapun yang Beliau SAW kerjakan. Sebab kehidupan seorang Nabi SAW itu sendiri terdiri dari sunnah yang terkait syariat dan sunnah yang sifatnya adat atau budaya yang bersifat melekat secara kebudayaan.

Maka orang yang kemana-mana mengenakan baju gamis gaya khas orang Arab itu bukan berarti dia sedang menjalankan sunnah Nabi SAW. Sebab pakaian itu lebih merupakan pakaian orang Arab ketimbang pakaian sunnah.

Begitu juga orang yang kemana-mana naik unta, bukan berarti dia sedang menjalankan sunnah. Sebab jauh sebelum Nabi SAW lahir pun sudah banyak orang yang kemana-mana naik unta.

Begitu juga orang yang berbicara pakai bahasa Arab itu bukan berarti sedang menjalankan sunnah. Sebab jauh sebelum Nabi SAW lahir, sudah ada begitu banyak orang yang bicara pakai bahasa Arab.

***
يُحْبِبْكُمُ اللَّه وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

Lafazh yuhbibkumullah (يُحْبِبْكُمُ اللَّ) artinya : Allah mencintai kamu. Sedangkan lafazh yaghfir lakum (يَغْفِرْ لَكُمْ) artinya : mengampuni kamu, dan makna dzunubakum (ذُنُوبَكُمْ) artinya adalah dosa-dosa kamu.

Di penggalan ayat ini ditegaskan bahwa kecintaan dari Allah SWT didapat manakala seseorang mencintai Allah, yaitu dengan jalan mentaati rasul-Nya. Namun di banyak ayat lainnya juga disebutkan tentang siapa saja yang Allah SWT cintai, di antaranya :

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Baqarah : 195)

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (QS. Al-Baqarah : 222)

فَإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ

Maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa. (QS. Ali Imran : 76)

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS. Ali Imran : 159)

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (QS. Al-Mumtahanah : 8)

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ

Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. (QS. Ash-Shaf : 4)

Selain itu di banyak ayat juga tersebar pernyataan yang sebaliknya, yaitu Allah SWT tidak mencintai beberapa orang dengan sekian macam perilakunya, antara lain :

إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al-Baqarah : 190)

وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ

Dan Allah tidak menyukai kebinasaan. (QS. Al-Baqarah : 205)

وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ

Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. (QS. Al-Baqarah : 276)

فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ

Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir". (QS. Ali Imran : 32)

وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. (QS. Ali Imran : 57)

إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, (QS. An-Nisa : 36)

إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ خَوَّانًا أَثِيمًا

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa, (QS. An-Nisa : 107)

لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ

Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang. (QS. An-Nisa : 148)

وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan. (QS. Al-Maidah : 64)

إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al-Anam : 141)

إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْخَائِنِينَ

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat. (QS. Al-Anfal : 58)

إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong. (QS. An-Nahl : 23)

إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ خَوَّانٍ كَفُورٍ

Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat. (QS. Al-Hajj : 38)

إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ

sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri". (QS. Al-Qashash : 76)

***
وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Lafazh  wallahu (وَاللَّه) artinya : sesungguhnya Allah. Lafazh ghafurun rahim (غَفُورٌ رَحِيمٌ) aritnya : Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ungkapan bahwa Allah SWT Maha Pengampun dan Maha Penyayang ini menjadi isyarat bahwa Nabi Muhammad SAW pun harus bertindak sebagaimana Allah SWT bertindak, yaitu mengampuni dan menyayangi. Ungkapan ini menurut para ulama justru bermakna amr atau perintah, sehingga lengkapnya menjadi : Kalau mereka berhenti dari memerangimu, maka ampunilah mereka dan sayangilah mereka.

 

*) Tafsir Al-Mahfuzh ini merujuk kepada kitab tafsir utama (tersedia 32 tafsir).
🔐