Kemenag RI 2019:(Ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata, “Wahai Maryam, sesungguhnya Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu tentang (kelahiran anak yang diciptakan) dengan kalimat dari-Nya, namanya Isa Almasih putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat serta termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah). Prof. Quraish Shihab:
(Ingatlah) ketika para malaikat berkata: "Wahai Maryam, sesungguhnyaA!lah menggembirakan engkau dengan kalimat (yang datang) dari-Nya, namanya al-Maszb_ 1sa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah).
Prof. HAMKA:
(lngatlah) tatkala berkata Malaikat, "Wahai, Maryam! Sesungguhnya, Allah memberitakan kepada engkau bahwa engkau akan dapat satu kalimah dari-Nya, namanya al-Masih Isa anak Maryam, yang termulia di dunia dan di akhirat, dan seorang dari mereka yang dihampirkan."
Di ayat sebelumnya yaitu ayat ke-44 disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak ada ketika para rahib di Baitul Maqdis saling mengundi sesama mereka untuk bisa menjadi kafil bagi Maryam. Maka di ayat ke-45 ini juga sama, bahwa Nabi Muhammad tidak berada di tempat dimana malaikat memberi kabar gembira kepada Maryam akan diberi seorang anak dalam rahimnya.
إِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ
Lafazh idz (إِذْ) yang terdapat sebelum kata qaalat (قَالَتِ) dipahami oleh para ulama secara berbeda. Pendapat pertama mengatakan itu adalah shilah zaidah (صلة زائدة), yaitu penyambung yang sifatnya hanya tambahan saja dan sama sekali tidak mempengaruhi makna.
Maknanya tetap sama ada atau tidak ada lafazh itu menjadi :"Dan ketika malaikat berkata". Pendapat ini salah satunya didukung oleh Abu Ubaidah.
Namun ada juga yang mengatakan lafadz idz (إِذا) merupakan kalimah maqshurah (كلمة مقصورة) atau kata yang dikurangi. Dalam hal ini mereka katakan maknanya adalah : “ingatlah ketika”.
Lafazh al-malaikatu (الْمَلَائِكَةُ) bermakna para malaikat. Ini adalah bentuk jamak, sedangkan bentuk tunggalnya adalah malak (ملك). Dan sebagaimana sudah disebutkan sebelumnya, ada dua pendapat dalam hal ini. Pendapat pertama mengatakan bahwa meski disebutkan banyak malaikat, namun maksudnya hanya satu saja, yaitu Malaikat Jibril alaihissalam.
Salah satu yang berpendapat seperti ini adalah As-Suddi, karena biasanya memang Malaikat Jibril itulah yang berhubungan dengan para nabi dan rasul.
Namun dari para mufassir ada juga yang mengatakan bahwa malaikat yang dimaksud bukan Jibril tetapi malaikat yang lain, bahkan bisa saja jumlahnya bukan hanya satu. Karena lafazh malaikat bentuk jamak yang menunjukkan jumlah lebih dari dua alias banyak. Kalau hanya satu, disebut dengan malak.
يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكِ
Lafazh ya maryamu (يَا مَرْيَمُ) artinya : “Wahai Maryam”. Yang menyapa adalah malaikat dan yang disapa adalah Maryam. Ini menunjukkan bahwa antara keduanya bertemu langsung dan bukan lewat perantaraan.
Lafazh annallah (أَنَّ اللَّهَ) artinya : bahwa Allah, sedangkan makna yubasysyiruki (يُبَشِّرُكِ) asalnya dari (بشَّرَ - يُبَشِّرُ) dan artinya : memberi busyra alias kabar gembira. Sebagaimana ungkapan mereka yang menemukan Nabi Yusuf di dalam sumur :
قَالَ يَا بُشْرَىٰ هَٰذَا غُلَامٌ
Dia berkata: "Oh, kabar gembira, ini seorang anak muda. (QS. Yusuf : 19)
بِكَلِمَةٍ مِنْهُ
Lafazh bi kalimatin minhu (بِكَلِمَةٍ مِنْهُ) secara bahasa maknanya : dengan kalimat dari-Nya. Namun para mufassir umumnya menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kalimat adalah Nabi Isa alaihissalam.
Lantas apa hubungannya antara ‘kalimat dari Allah’ dengan sosok Nabi Isa alaihissalam? Kenapa Nabi Isa disebut dengan istilah kalimat dari Allah?
Umumnya para ulama menjawab karena Nabi Isa alaihissalam itu tidak diciptakan dari sel telur seorang wanita yaitu ibunya, juga bukan dari sel sperma seorang ayah. Beliau diciptakan Allah lewat kalimat dari Allah yaitu kun (كُنْ) yang artinya : “Jadilah”.
Maka tiba-tiba Maryam merasakan kehamilan Isa di dalam rahimnya. Padahal Maryam itu wanita yang tidak pernah memproduksi sel telur, sehingga tidak pernah mendapatkan darah haidh. Kalau pun misalnya Maryam menikah lalu disebutuhi oleh suaminya, pastinya tidak akan punya anak juga.
Apalagi Maryam sama sekali tidak pernah disentuh oleh laki-laki manapun. Maka kalau sampai punya anak, tentu sangat jauh dari kemungkinan. Maksudnya sangat-sangat tidak mungkin.
Tetapi kalau ternyata Maryam bisa sampai hamil, maka itu semua adalah kuasa Allah yang hanya berkata : Jadilah, maka jadilah Maryam punya anak Nabi Isa alaihissalam.
اسْمُهُ الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ
Makna ismuhu (اسْمُهُ) adalah namanya. Ini menarik untuk diberi catatan, bahwa ada beberapa orang yang sejak belum lahir sudah Allah SWT berikan nama. Ketika memberi kabar tentang akan diberi anak kepada Nabi Zakaria, Allah SWT juga memberinya nama juga, yaitu Yahya.
Begitu juga dengan Nabi Muhammad SAW, Nabi Isa alaihisalam ternyata juga memberi kabar bahwa akan ada lagi nabi terakhir yang bernama Ahmad.
Dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad. (QS. Ash-Shaf : 6)
Lafazh al-masih (الْمَسِيحُ) sebenarnya bukan nama asli, melainkan gelar yang tersemat pada seorang Nabi Isa alahissalam. Abu Ubaidah dan Al-Laits mengatakan bahwa aslinya dalam bahasa Ibrani adalah masyih (مَشِيحًا), namun di-arab-kan menjadi al-masih. Sedangkan maknanya para ulama saling berbeda, antara lain :
Ibrahim an-Nakha’i mengatakan bahwa makna al-masih (الْمَسِيحُ) adalah ash-shiddiq (الصِّدِّيقُ) yang berarti yang membenarkan.
Ahmad bin Yahya mengatakan bahwa makna al-masih (الْمَسِيحُ) itu dari kata masaha al-ardha (مَسَحَ الْأَرْضَ) yaitu orang yang berjalan atau berkelana di muka bumi.
Ibnu Abbas mengatakan bahwa al-masih itu dari kata (مَسَحَ - يَمْسَحُ) artinya orang yang mengusap orang sakit parah dan langsung sembuh seperti sedia kala.
Ada juga riwayat lain yang mengatakan bahwa makna al-masih (الْمَسِيحُ) karena Dia mengusap dengan minyak barakah yang menjadi ciri para nabi.
Ada juga riwayat lain yang mengatakan bahwa makna al-masih adalah orang yang diusap oleh Malaikat Jibril dengan sayapnya ketika lahir ke dunia. Hal itu dilakukan agar Nabi Isa terlindung dari setan.
Lafazh isa (عِيْسَى) bukan berasal dari bahasa Arab, melainkan asalnya dari bahasa Ibrani yaitu yasyu’ (يَشُوعُ). Sebagaimana Musa yang juga asal dari bahasa Ibrani yaitu musya (مُوشى) atau misya (مِيشا).
Namun ada banyak ulama yang berpendapat bahwa lafazh Isa sudah menjadi bagian dari bahasa Arab.
‘isab-na-maryama (عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ) artinya : Isa putera Maryam.
Bagian ini menarik untuk didiskusikan, yaitu disebutkan bahwa Nabi Isa itu putera Maryam, padahal kita tahu bahwa janin Nabi Isa itu sendiri sebenarnya tidak berasal dari sel telur Maryam. Hal itu karena Maryam disebut sebagai wanita suci yang tidak pernah mendapatkan haidh. Dengan demikian, kita bisa simpulkan bahwa tubuh Maryam tidak memproduksi sel telur.
Namun begitu Nabi Isa tetap disebut sebagai putra Maryam. Dan fakta ini membuat para ulama mengatakan sudah bisa disebut sebagai anak asalkan pernah berada di dalam rahim seorang wanita, meski pun tidak tercipta dari sel telurnya.
Karena itulah para ulama sepakat mengharamkan bayi tabung ketika seorang wanita hanya menjadi donor rahim, sedangkan janin atau sel telurnya milik wanita lain. Hal itu tidak diperkenankan secara syariah dengan pertimbangan bahwa dengan sekedar menjadi donor pun sudah termasuk menjadi ibu bagi anak tersebut. Dan ini akan menimbulkan kerancuan nasab antara wanita pemilik sel telur dengan wanita pemilik rahim.
وَجِيهًا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
Lafazh wajihan (وَجِيهًا) bermakna : orang yang dimuliakan atau orang yang terkemuka. Lafazh fid-dunya (الدُّنْيَا) artinya : di dunia, sedangkan fil-akhirah (وَالْآخِرَةِ) artinya : di akhirat.
Dikatakan bahwa Nabi Isa itu dimuliakan di dunia, padahal kalau kita lihat sejarah hidup, lebih banyak penderitaan yang Beliau alami. Bukankah ‘kematiannya’ dengan cara disalib, kalau menurut versi Nasrani? Atau setidaknya kalau versi Islam, meski Beliau tidak sampai dibunuh atau disalib, tetapi disepakati bahwa Beliau memang dikejar-kejar untuk dibunuh.
Lalu yang menjadi pertanyaan disini, bagaimana Al-Quran menyebut Nabi Isa itu wajihan alias orang dimuliakan, padahal kenyataanya dikejar-kejar?
Para ulama kemudiam mencoba memberikan alternatif jawaban, antara lain karena hal-hal berikut :
Beliau sudah diangkat menjadi seorang nabi sejak baru saja dilahirkan di dunia.
Beliau bisa bercakap-cakap layaknya orang dewasa, padahal masih dalam buaian ibunya.
Beliau diberikan mukjizat yang unik-unik, seperti selalu diterima doanya, bisa mengobati orang yang sakit parah. Bahkan sampai bisa menghidupkan orang mati.
Beliau tidak mati terbunuh, tetapi diangkat ke langit di sisi Allah. Bahkan dikabarkan bahwa nanti akan turun lagi ke muka bumi.
Sedangkan di akhirat dikatakan mulia karena bisa memberi syafaat kepada umatnya.
وَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ
Lafazh minal muqarrabin (وَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ) secara harfiyah artinya : termasuk orang-orang yang didekatkan. Maksudnya didekatkan kepada Allah SWT nanti di akhirat.
Gelar sebagai ‘mereka yang didekatkan’ kepada Allah umumnya adalah gelar yang disematkan kepada para malaikat, sebagaimana firman Allah SWT berikut ini :
يَشْهَدُهُ الْمُقَرَّبُونَ
yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang didekatkan (kepada Allah). (QS. Al-Muthaffifin : 21)
Disisi lain disebutkan bahwa orang-orang yang beriman pertama kali adalah orang-orang yang didekatkan kepada Allah dan mendapatkan surga yang penuh kenikmatan.