Ayat ke-46 ini menceritakan tentang keistimewaan dan keunikan Nabi Isa alahissalam, khususnya ketika masih bayi, yaitu kemampuannya dapat berbicara kepada manusia dalam keadaan masih bayi yang merah. Juga di masa tuanya serta menjadi bagian dari orang shalih.
Setelah sebelumnya ayat-ayat yang lalu menceritakan keistimewaan Nabi Isa dari segi penciptaannya yang bukan dari benih seorang ayah dan ibu.
وَيُكَلِّمُ النَّاسَ
Lafazh yukallimu (يُكَلِّمُ) diartikan oleh Kemenag RI dan Prof. Quraish menjadi berbicara. Sedangkan Buya HAMKA menerjemahkannya dengan bercakap. Asalnya dari kalam (كَلَام) yang pengertiannya adalah lafazh yang bermanfaat (لفظ مفيد).
Lafazh an-nas (النَّاسَ) artinya : orang-orang atau para manusia. Maksudnya Nabi Isa yang masih bayi berbicara kepada orang-orang yang sudah dewasa dalam bahasa mereka. Disebutkan bahwa bahasa yang digunakan oleh Nabi Isa dan umatnya adalah bahasa Suryaniyah.
Yang disebut dengan kalam (كَلَام) itu setidaknya bukan hanya terdiri satu kata apalagi hanya suku kata, tetapi minimal ada dua kata atau lebih yang membentuk sebuah informasi tertentu, seperti : ‘ayah membaca’ atau ‘ibu memasak’. Kalau hanya sekedar ucapan ‘ayah’ atau ‘ibu’ saja, belum disebut sebagai kalam karena hanya merupakan satu kata.
Anak yang masih bayi itu kalaupun bisa bicara, biasanya hanya sepatah kata saja, itupun tidak sempurna. Ucapan bayi menyebut orang tuanya dengan kata papa atau mama, belum disebut sebagai kalam. Tetapi kalau dengan jelas mengatakan ‘ayah membaca’, atau ‘ibu memasak’, barulah itu disebut dengan kalam.
Yang mampu dilakukan oleh Nabi Isa ketika masih bayi itu bukan hanya menyebut satu kata, melainkan beliau bertutur dalam kalimat yang terdiri dari banyak kata.
فِي الْمَهْدِ
Lafazh al-mahdi (الْمَهْدِ) diterjemahkan menjadi buaian. Ibnu Jarir Ath-Thabari menuliskan bahwa yang dimaksud adalah tempat tidur anak yang masih di susuan (مضجع الصبي في رَضَاعه).
Lantas apa pembicaraan yang disampaikan oleh Nabi Isa alaihissalam ketika masih bayi? Jawabannya tertuang di dalam surat Maryam berikut ini :
Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: "Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan? Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup. dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali. (QS. Maryam : 29-33)
Penjelasan mengenai mengapa bayi belum mampu berbicara layaknya orang dewasa dapat dilihat dari sudut pandang perkembangan manusia secara fisik, kognitif, dan sosial. Berikut beberapa poin yang dapat dijadikan penjelasan:
Perkembangan Fisik: Ketika bayi lahir, organ vokal dan sistem sarafnya masih dalam tahap perkembangan. Suara bayi biasanya terbatas pada tangisan, geraman, dan suara-suara yang kasar. Kekurangan kontrol otot halus yang diperlukan untuk berbicara dengan jelas juga merupakan faktor pembatas.
Perkembangan Kognitif: Kemampuan berbicara erat kaitannya dengan perkembangan kognitif. Bayi dilahirkan dengan kemampuan untuk memahami bahasa dalam bentuk dasar, tetapi mereka perlu waktu untuk mengembangkan keterampilan berbahasa yang lebih kompleks. Proses ini melibatkan pengenalan suara, pengertian kata, sintaksis, dan semantik yang memerlukan waktu bertahun-tahun untuk berkembang.
Keterbatasan Pengalaman: Bayi baru lahir belum memiliki pengalaman yang cukup atau pemahaman yang matang tentang dunia sekitarnya untuk mengungkapkan diri dalam bahasa yang kompleks seperti orang dewasa. Bahasa adalah alat untuk berkomunikasi pemikiran, perasaan, dan pengalaman, yang semuanya berkembang seiring waktu.
Keterampilan Sosial dan Emosional: Bahasa juga dipengaruhi oleh keterampilan sosial dan emosional seseorang. Bayi perlu waktu untuk belajar bagaimana berinteraksi dengan orang lain dan memahami konteks sosial dari komunikasi. Kemampuan ini juga berkembang seiring waktu melalui interaksi sosial yang berkelanjutan.
Jadi, secara alami, bayi belum mampu berbicara layaknya orang dewasa karena mereka masih dalam tahap perkembangan fisik, kognitif, sosial, dan emosional yang berbeda. Proses pembelajaran dan pertumbuhan ini memerlukan waktu dan pengalaman yang diperlukan untuk mencapai keterampilan berbicara yang lebih maju.
Dan semua kondisi normal itu tidak terjadi pada bayi Nabi Isa alaihissalam, karena itu merupakan kehendak Allah SWT yang menjadi bukti nyata kenabiannya dengan mukjizat yang luar biasa. Begitu dirinya dilahirkan, pembicaraannya sudah layaknya orang dewasa.
فتى
Lafazh kahla (كَهْلًا) ditermahkan menjadi : masa dewasa. Buya HAMKA menerjemahkannya menjadi : masa tua.
Dalam hal ini Asy-Syaukani dalam Fathul Qadir menjelaskan makna kahla (كَهْلًا) sebagai berikut :[1]
والكَهْلُ هو مَن كانَ بَيْنَ سِنِّ الشَّبابِ والشَّيْخُوخَةِ
Al-Kahlu adalah orang yang berada di usia antara pemuda dan usia senja.
Al-Qurtubi menuliskan dalam Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran bahwa yang dimaksud dengan masa dewasa adalah ketika Nabi Isa berusia 33 tahun dan mendapatkan wayhu dari Allah SWT, lalu dia menyampaikan wahyu itu. Dan ternyata teks yang disampaikan di masa dewasanya itu sama dengan yang ketika bayi disampaikan.[2]
Al-Alusi dalam tafsirnya, Ruh Al-Ma’ani, menuliskan bahwa ada sekian banyak istilah yang digunakan bangsa Arab untuk periode pertumbuhan manusia sejak masih dalam rahim hingga wafat.[3]
Janin (جنين) : sebutan untuk bayi yang masih ada di dalam rahim ibunya.
Walid (وليد) : sebutan untuk bayi yang dilahirkan.
Radhi’ (رضيع) : sebutan untuk bayi yang menyusu atau di usia menyusu
Fathim (فطم) : sebutan untuk bayi yang sudah usai dari menyusu. Kita menyebutnya disapih.
Darij (دارج) : sebutan untuk bayi yang mulai belajar merangkak
Matsghur (مثغور) : sebutan untuk bayi yang mulai gugur susu gusinya
Mutsghir (مثغر) : sebutan untuk bayi yang mulai tumbuh gigi.
Nasyi’ (ناشئ) : sebutan untuk anak yang usianya menginjak 10 tahun dan seterusnya.
Murahiq (مراهق) : sebutan untuk anak yang mulai mengalami mimpi keluar mani
Dari periode pertama hingga periode kesembilan itulah dalam isitlah Arab disebut dengan : ghulam (غلام).
Fata (فتى) : sebutan bagi remaja yang mulai kehijauan dagunya dan sekitar bibirnya berwarna kehijauan karena bakalan tumbuh jenggot dan kumis tipis.
Mujtami’ (مجتمع) : sebutan bila tumbuh jenggot yang banyak dan sampai di puncak kepemudaannya.
Syab (شاب) : sebutan untuk usia 30 tahun hingga 40 tahun.
Kahl (كهل): sebutan untuk usia di atas 40 hingga 60 tahun.
Jadi yang disebut kahla dalam versi ini adalah ketika Nabi Isa alaihissalam berusia antara 40 dan 60 tahun. Sebenarnya masih ada beberapa istilah lain lagi untuk seterusnya, seperti syamith (شَمِطَ), syakh ( شاخَ), kabur ( كَبُرَ), haram (هَرِمَ), dalf (دَلَفَ), kharif (خَرِفَ) dan ihtarr (اِهْتَرَّ).
Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam Jamiul Bayan menuliskan sebuah riwayat yang mengatakan di masa kahla atau masa tuanya Nabi Isa, Beliau akan turun lagi ke muka bumi, yaitu menjelang hari kiamat ketika membunuh Dajjal. Dasarnya adalah hadits berikut ini :
أنَّهُ عَلَيْهِ السَّلامُ رُفِعَ إلى السَّماءِ وهو اِبْنُ ثَلاثٍ وثَلاثِينَ سَنَةً وأنَّهُ سَيَنْزِلُ إلى الأرْضِ ويَبْقى حَيًّا فِيها أرْبَعًا وعِشْرِينَ سَنَةً
Bahwa Nabi Isa alaihissalam diangkat ke langit ketika berusia 33 tahun. Dan Beliau akan turun kembali ke muka bumi dan tetap hidup selama 24 tahun (HR. Ath-Thabari).
Hanya Sekali
Menarik kita cermati apa yang dikatakan oleh Ibnu Abbas terkait ayat ini, yaitu bahwa kemampuan berbicara Nabi Isa alaihissalam di waktu bayi itu hanya terjadi sekali saja dan bukan untuk seterusnya.
Itulah mengapa disebutkan dua waktu yang berbeda. Pertama di waktu bayi, dimana kejadiannya hanya sekali saja berbicara dan itulah mukjizatnya. Kedua, setelah Nabi Isa dewasa, meskipun semua orang dewasa bisa berbiacara, namun maksudnya adalah ketika Nabi Isa menerima wahyu dari Allah SWT dan menyampaikannya kepada umatnya.
Al-Alusi dalam tafsir Ruh Al-Ma’ani[4] menuliskan berita bahwa mukjizat Nabi Isa alaihissalam, yaitu dapat bicara ketika masih bayi, justru tidak pernah dikenal oleh pemeluk agama Nasrani sendiri. Dan orang-orang Nasrani justru baru tahu ada mukjizat luar biasa ini justru setelah mendengar Al-Quran menceritakannya.
Lafazh wa minash-shalihin (وَمِنَ الصَّالِحِينَ) artinya : dan termasuk dari orang-orang yang shalih. Secara bahasa, shalih itu lawan dari kerusakan, namun Penulis cenderung mengikuti para mufassir yang mengatakan bahwa ash-shalihin (الصَّالِحِينَ) adalah suatu maqam atau kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT, dimana di dalamnya secara amat terbatas ada orang-orang yang khusus.
Kedudukan menjadi anggota dari orang-orang shalih ini nampaknya menjadi idaman para nabi dan rasul untuk bisa termasuk ke dalam lingkaran itu. Hal itu terbukti dari beberapa ayat Al-Quran yang menceritakan beberapa teks doa para nabi di masa lalu agar dijadikan anggota dari lingkaran ini.
Contohnya adalah doa yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim alaihissalam berikut ini :
Dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh". (QS. An-Naml : 19)
Kalau kita baca lagi beberapa ayat Al-Quran, kita akan menemukan ada beberapa nabi yang disebut-sebut termasuk orang shalih, yaitu Nabi Ibrahim, lalu puteranya yaitu Nabi Ishak, lalu cucunya yaitu Nabi Ya’qub. Dan nabi sebelumnya juga termasuk yaitu Nabi Nuh alaihissalam. Kemudian termasuk juga Nabi Daud dan Nabi Sulaiman, Nabi Ayyub, Nabi Yusuf, Nabi Musa dan Nabi Harun, Nabi Zakaria, Nabi Yahya, Nabi Isa dan Nabi Ilyasa’.
Semua tertuang dalam rangkaian ayat-ayat berikut ini :
Itulah keterangan yang Kami anugerahkan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan orang yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-An’am : 83)
Kami telah menganugerahkan kepadanya Ishaq dan Ya‘qub. Tiap-tiap mereka telah Kami beri petunjuk. Sebelumnya Kami telah menganugerahkan petunjuk kepada Nuh. (Kami juga menganugerahkan petunjuk) kepada sebagian dari keturunannya, yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS. Al-An’am : 84)