Kemenag RI 2019:Orang-orang yang beriman dan beramal saleh akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Janji Allah itu benar. Siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah? Prof. Quraish Shihab:Orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal-amal saleh, akan
Kami masukkan mereka ke surga-surga
yang di bawahnya mengalir sungaisungai, mereka kekal di dalamnya
selama-lamanya. Janji Allah itu
benar. Dan siapakah yang lebih benar
perkataannya daripada Allah? Prof. HAMKA:Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, akan Kami masukkan mereka ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya selama-lamanya. Janji Allah yang benar. Dan siapakah lagi selain Allah yang lebih benar perkataannya?
Ayat ke-122 ini masih sangat erat terkait dengan ayat sebelumnya yang menyebutkan bahwa orang kafir itu akan ditempatkan di neraka:
(أُولَٰئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ).
Maka sebagai pembandingnya, ayat ini menegaskan bahwa orang-orang yang beriman dan beramal shalih akan masuk ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.
Allah SWT juga menegaskan bahwa hal ini merupakan janji Allah SWT yang dipastikan kebenarannya, dimana tidak ada lagi yang lebih benar dalam hal janji dan perkataan dari pada Allah SWT.
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
Lafazh walladzina (الَّذِينَ) dimaknai menjadi ‘yang’ atau lengkapnya: “dan orang-orang yang”. Dan lafazhaamanu (آمَنُوا) merupakan kara kerja yang bentuknya lampau alias fi’il madhi yaitu dari asal (آمَنَ - يُؤْمِنً). Makna kata kerja itu adalah: “melakukan perbuatan iman”.
Namun sudah jadi kebiasaan dalam penerjemahan disederhanakan menjadi: “orang-orang yang beriman”. Padahal kalau “orang yang beriman”, secara baku dalam bahasa Arab itu disebut mu’min (مُؤْمِن) dan bukan alladzina amanu.
Lafazh wa amilush-shalihat (وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ) diterjemakan oleh Kemenag RI menjadi: “dan beramal shalih”. Prof. Quraish Shihab menerjemahkannya menjadi: “dan mengerjakan amal-amal saleh”. Sedangkan Buya HAMKA menerjemahkannya menjadi: “dan mengamalkan perbuatan-perbuatan yang saleh”.
Dalam hal ini Allah SWT menegaskan ternyata iman saja tentu tidak cukup, tapi harus juga ada usaha yang disebut dengan ‘amal shalih’. Sekilas memperhatikan ungkapan iman dan amal shalih, ayat ini nampak membedakan antara iman secara konsepsi, dengan amal shalih yang didasari dengan iman. Dan ini bisa diterima karena kadang ada juga pengertian iman yang didalamnya sudah terkandung amal.
Lalu apakah yang dimaksud dengan amal shalih?
Ibnu Abbas sebagaimana dikutipkan oleh Ath-Thabari dalam tafsir Jami Al-Bayan fi Ta’wil Ayil-Quran mengatakan maknanya adalah: mengerjakan faraidh atau kewajiban-kewajiban agama, menjalankan syariat Allah dan melaksanakan sunnah nabinya.
Intinya amal shalih itu segala perbuatan baik yang melahirkan pahala di sisi Allah. Kalau dibagi lagi, maka bisa kita rinci bahwa amal shalih ada yang sifatnya ritual peribadatan seperti shalat, puasa, umrah, haji, dan lainnya.
Namun ada juga yang sifatnya non-ritual ibadah seperti segala yang halal dan diridhai Allah SWT serta membawa kemashlahatan baik kepada diri sendiri atau pun orang lain.
Lafazh jannat (جَنَّاتٍ) adalah bentuk jamak dari bentuk tunggalnya yaitu jannah. Dalam ayat ini dan juga dalam kebanyakan ayat lain dalam Al-Quran umumnya diterjemahkan sebagai surga, yaitu tempat yang Allah SWT sediakan untuk kita orang-orang yang beriman ketika sudah berada di akhirat nanti.
Allah SWT menyebutkan jannaat dalam bentuk jamak taksir, yang dipahami bahwa surga itu tidak hanya satu, melainkan ada beberapa. Yang disebutkan dalam Al-Quran diantaranya bernama Firdaus (فردوس), Adn (عدن), An-Na'im (النعيم), Al-Ma'wa (المأوى) dan lainnya.
Namun kalau kita telusuri lebih dalam, ternyata ada juga kata jannah di dalam Al-Quran yang bukan bermakna surga, tetapi bermakna kebun di dunia ini yang banyak tumbuhan dan pepohonan. Setidaknya ditemukan hingga 30-an ayat berbeda yang menyebut jannah sebagai kebun dan bukan sebagai surga.
Asal Kata Jannah
Namun sebenarnya kata jannah itu sendiri asal muasalnya dari kata janna (جَنَّ) yang artinya satara (سَتَرَ) 'menutupi'. Maka banyak istilah yang berakar kata dari janna punya persamaan yaitu ada unsur menutupi sesuatu. Beberapa contoh antara lain :
Kebun : Kebun itu disebut jannah, karena saking lebatnya pepohonannya sehingga menutupi orang dari penglihatan.
Malam : di dalam Al-Quran ada lafazh (فلما جن عليه الليل) yang maknanya ketika malam telah menutupi.
Jin : lafazh jin sebagai makhluk halus yang tidak terlihat karena mata kita ditutup untuk dapat melihat jin.
Junnah : dalam hadits disebutkan puasa adalah junnah yang artinya tameng, karena tameng itu menutupi kita dari senjata lawan.
Junun : Selain itu ada kata junun yang berarti kegilaan, karena orang gila itu tertutup akalnya.
Janin : lafazh janin yang maknanya jabang bayi dalam perut ibunya memang belum terlihat oleh mata karena tertutup rahim.
Karena surga memang tempatnya kenikmatan yang bermacam-macam, tentu segala macam bentuk kenikmatan tersedia di surga. Namun yang diceritakan dalam Al-Quran pastinya harus disesuaikan dengan siapa yang lagi diajak bicara oleh Al-Quran. Dan dalam hal ini karena Al-Quran itu diturunkan kepada Nabi SAW, tentu saja bahasa pendekatannya akan disesuaikan dengan Beliau SAW, sebagai orang Arab yang hidup di abad keenam hijriyah.
Tidak mungkin misalnya Al-Quran menggambarkan surga berupa kota metropolitan dengan gedung-gedung pencakar langit yang serba modern. Orang-orang berseliweran naik mobil terbang, bahkan berpindah dari satu tempat ke tempat lain lewat portal. Tentu tidak mungkin kalau Al-Quran menggambarkan surga seperti hayalan kita di abad ke-21 ini.
Sebab Al-Quran tidak diturunkan kepada kita, melainkan kepada Nabi Muhammad SAW dan para shahabat dengan latar belakang kehidupan mereka yang spesifik, serta pemahaman mereka tentang konsep keindahan dan kenikmatan.
خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا
Lafazh khalidina fiha (خَالِدِينَ فِيهَا) artinya: mereka kekal di dalamnya. Lafazh abada (أَبَدًا) artinya : abadi. Dalam hal ini Allah SWT menegaskan bahwa orang-orang yang hidup di surga itu akan mengalami kehidupan yang kekal atau abadi. Istilah yang sering digunakan adalah immortal, yaitu orang yang hidup terus menerus dan tidak mengalami kematian.
Dalam beberapa kisah legenda, ada tokoh-tokoh tertentu yang digambarkan hidup abadi dan tidak mati, setidaknya usianya panjang, sehingga mengalami berbagai pergantian dari satu zaman ke zaman yang lain. Secara logika memang seharusnya kehidupan akhirat itu adalah kehidupan yang kekal dan kehidupan dunia adalah kehidupan yang tidak kekal. Sebab pada akhirnya kehidupan di dunia ini akan berujung semuanya ke akhirat. Maka memang sudah seharusnya akhirat itu kekal.
Kekekalan Adalah Puncak Kebahagiaan
Para ulama mengatakan bahwa kekekalan dan keabadian di surga sebenarnya adalah puncak kebahagiaan yang jadi tujuan semua manusia. Sebab buat apa masuk surga kalau ada masa berakhirnya?
Dengan pandangan seperti ini maka jadi wajar kenapa dahulu Nabi Adam alaihissalam sampai melanggar larangan untuk tidak makan buah di surga, sehingga dikeluarkan dari surga. Boleh jadi tujuannya demi agar bisa mendapatkan kekekalan dan keabadian hidup.
Tentu saja itu tipu daya setan yang berhasil membujuk Nabi Adam untuk melanggar larangan tersebut. Tipu dayanya apabila memakan buah itu maka hidupnya akan abadi, immortal, tidak mati-mati hingga selamanya.Al-Quran menceritakan dengan gamblang :
Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?" (QS. Thaha : 120)
Kata wa’dallahi (وَعْدَ اللَّهِ) artinya : janji Allah. Kata haqqan (حَقًّا) artinya : benar. Kata wa-man (وَمَنْ) artinya : dan siapakah. Kata ashdaqu (أَصْدَقُ) artinya : yang lebih benar. Kata minallahi (مِنَ اللَّهِ) artinya dari pada Allah. Kata qiila (قِيلًا) artinya : perkataan.
Penggalan ini mengandung beberapa kandungan tafsir yang penting. Yang paling mendasr adalah bahwa Janji Allah itu adlah sesuatu pasti dan kebenarannya mutlak. Apa yang Allah SWT janjikan kepada Nabi SAW dan kaum muslimin bukan sekedar angan-anagan kosong, sebagaimana yang sering diangankan oleh orang-orang kafir berhayal. Janji Allah adalah sebuah kebenaran mutlak yang tidak diragukan lagi.
Janji-Nya mencakup berbagai hal, seperti kemenangan bagi orang-orang yang beriman, balasan surga bagi yang taat, balasan neraka bagi yang ingkar serta kehidupan setelah kematian dan hari pembalasan.
Selain itu frasa (وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلًا) menunjukkan bahwa tidak ada yang lebih jujur atau benar perkataannya dibandingkan Allah. Ini mengacu pada sifat Allah yang Maha Benar (الصِّدْق) dalam firman dan wahyu-Nya, baik melalui Al-Qur'an maupun para nabi-Nya.
Penggalan ayat ini juga memberikan motivasi kepada orang beriman untuk tetap yakin akan janji-janji Allah, meskipun mungkin terlihat lambat datangnya atau bertentangan dengan logika manusia. Hal ini mengajarkan keimanan yang kuat dan kepasrahan total kepada Allah.
Melalui pertanyaan retoris, Allah menunjukkan bahwa tidak ada satu pun makhluk yang dapat menandingi kejujuran dan kebenaran-Nya. Ini menjadi pengingat bahwa manusia sering tidak mampu menepati janji atau berkata benar, sedangkan Allah tidak pernah demikian.