Ayat ke-67 ini tentunya masih satu kalimat dengan ayat sebelumnya. Kalimat pada ayat sebelumnya belum selesai, belum sampai ke titik, masih koma. Maka ayat ini menegaskan bahwa kalau saja orang-orang munafik mengamalkan nasehat yang diberikan, pastilah Allah berikan pahala yang besar dari sisi-Nya.
Lafazh wa idzan (وَإِذًا) artinya : dan kalau demikian. Maksudnya seandainya orang-orang munafik itu mau mendengarkan nasehat dan mengamalkannya.
Kata la aatainaa-hum (لَآتَيْنَاهُمْ) artinya : pastilah Kami akan memberikan kepada mereka. Kata min ladunna (مِنْ لَدُنَّا) artinya : dari sisi Kami.
Penggunaan kata min ladunna (مِنْ لَدُنَّا) itu punya makna yang dalam sekaligus unik. Meski maknanya relatif sama dengan kata min ‘indina (من عندنا) yaitu sama-sama bermakna : dari sisi Kami, namun sebenarnya ada perbedaan mendasar di antara keduanya. Kata kata min ladunna (مِنْ لَدُنَّا) menunjukkan kedekatan yang lebih erat, terutama dalam konteks tempat atau posisi fisik, dibandingkan dengan kata min ‘indina (من عندنا).
Kata min ‘indina (من عندنا) berkonotasi pada sesuatu yang jaraknya jauh, seperti ketika orang mengatakan saya punya uang meskipun uang itu tidak ada di kantungnya. Atau saya punya unta, meskipun untanya berada di tempat lain. Sedangkan bila menggunakan ungkapan min ladunna (مِنْ لَدُنَّا) menunjukkan sesuatu yang lebih dekat secara fisik dan sesuatu yang lebih spesial.
Contoh yang nyata adalah kunjungan pejabat ke suatu pesantren. Biasanya sudah dianggarkan agar pejabat itu memberi ‘uang sumbangan’ dari keuangan kantor tempat menjabat. Itu disebut dengan ungkapan min indina (من عندنا) artinya itu sumbangan resmi dari kantor kami. Sesuatu yang sudah dianggarkan dan sesuai dengan prosedur keuangan.
Tetapi ketika secara pribadi si pejabat itu merogoh sakunya sendiri, dari uangnya sendiri, untuk diberikan sebagai infaq kepada pesantren, maka itu disebut min ladunna (مِنْ لَدُنَّا). Sedekah ini bukan dari anggaran institusi, tetapi sifatnya pribadi. Sehingga nilainya tidak lagi berdasarkan peraturan atau ketentuan, melainkan terserah yang mau memberi.
Dalam hal ini karena Allah SWT Maha Kaya, kalau memberi itu sudah tidak lagi pakai perhitungan. Tidak terikat dengan rumus dan aturan. Dan umumnya pemberian yang bersifat pribadi dari orang kaya raya bisa tidak terukur lagi nilainya. Bisa sangat besar. Itulah kenapa disebut ajran azhima.
Kata ajran (أَجْرًا) artinya : balasan atau pahala. Kata ‘azhima (عَظِيمًا) artinya : sangat besar.
Maka bisa jadi balasan dari Allah SWT sangat tidak setimpal, maksudnya bukan lebih kecil tetapi jauh lebih besar berkali-kali besarnya dari yang telah diupayakan.
Ibarat pedagang kaya raya, ketika kita beli barang darinya, bukan hanya dia kasih murah harganya, tetapi kita malah diberi hadiah yang jauh lebih besar. Ibarat beli kulkas berhadiah umrah untuk dua orang. Padahal harga kulkas hanya 5 juta, tetapi bonus hadiahnya malah puluhan juga nilainya.
Dan buat Allah SWT, sekedar memberi bonus yang besar-besar pstinya tidak akan rugi. Berbeda dengan hadiah promosi, yang diberi hadiah umrah hanya penenang undian saja. Sedangkan Allah SWT, sama sekali tidak rugi meskipun semua pembeli diberi hadiah yang nilainya puluhan kali dari nilai pembelian.
Di Al-Quran bertabur ayat-ayat yang menunjukkan betapa Allah SWT seringkali melipat-gandakan pahala kepada hamba-Nya.
مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. (QS. Al-Baqarah : 245)
مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah : 261)
إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ ۖ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا
Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar. (QS. An-Nisa : 40)