Ayat ke-68 ini juga masih satu kalimat dengan dua ayat sebelumnya, hanya saja dipisahkan dengan penggalan ayat. Ayat ini memberikan bonus tambahan karunia jika orang munafik mau mendengarkan nasehat, yaitu Allah SWT akan mengantar mereka memasuki jalan yang lurus, yakni jalan lebar bebas hambatan menuju kebahagiaan duniawi dan ukhrawi. Jalan itulah yang disebut dengan shirathal mustaqim.
Dan pada dasarnya ayat ini merupakan jawaban dari seluruh doa yang dipanjatkan umat Islam sepanjang zaman dalam tiap rakaat shalat mereka, yaitu : tunjukilah kami jalan yang lurus.
Kata wa-la-hadaina-hum (وَلَهَدَيْنَاهُمْ) ini terdiri dari banyak unsur. Mari kita break-down satu per satu :
- Pertama, huruf waw (وَ) yang merupakan huruf ‘athaf yang bermakna : dan.
- Kedua, huruf lam (لَ) yang berfungsi untuk ta’kid atau menekankan.
- Ketiga, kata hadaina (هدينا) adalah kata kerja dalam bentuk fi’il madhi, artinya : memberi petunjuk.
- Keempat, kata hum (هم) yang menjadi objek atau maf’ul-bihi. Dalam hal ini maksudnya adalah orang-orang munafik di Madinah.
Allah SWT punya banyak jenis hidayah. Doktor Muhammad Abduh dalam Tafsir Al-Manar sebagaimana dikutip oleh muridnya Rasyid Ridha[1] menyebutkan bahwa Allah SWT punya empat macam hidayah kepada manusia, yaitu hidayah fitrah, hidayah hawas, hidayah akal dan hidayah diniyah.
- Hidayah Fitrah : disebutkan dengan istilah Hidayatu wujdan at-thabi'i wa al-Ilham al-Fithri (هداية الطبيعي و الإلهام الطعيبي). Maksudnya manusia memiliki naluri dasar dan juga ilham yang sifatnya mendasar. Dalam bahasa sederhana maksudnya adalah manusia memiliki insting dasar, sebagaimana yang Allah SWT berikan juga kepada hewan. Walaupun dalam beberapa hal, insting hewan kadang lebih tajam dari manusia.
- Hidayah Panca Indra : Atau disebut juga hidayatu al-hawas wa al-masya'ir (هداية الحواس والمشاعر). Al-Hawas itu dipahami sebagai indera, dimana kita mengenal istilah lima indera yaitu panca indera. Ada indra penciuman pada hidung, indra pendengaran pada telinga, indera penglihatan pada mata, indra rasa di kulit dan indra pengecap pada lidah. Hewan pun masih diberikan hidayah yang satu ini, bahkan dalam beberapa kasus, indra hewan tertentu bisa lebih dominan dan lebih unggul dari indra manusia.
- Hidayah Akal : Ini adalah hidayah yang hanya diberikan kepada mansuia dan sama sekali tidak dimiliki bahkan oleh hewan. Dengan hidayah akal, manusia bisa membangun sains dan peradaban besar.
- Hidayah Agama : Maka yang dimaksud hidayah dalam ayat ini adalah hidayah agama.
[1] Rasyid Ridha (w. 1354 H), Tafsir Al-Manar, (Cairo, Al-Haiah Al-Mashriyah lil Kitab, Det. 1, 1990), jilid 1 hal. 53