Kemenag RI 2019:Berkatalah dua orang laki-laki di antara mereka yang bertakwa, yang keduanya telah diberi nikmat oleh Allah, “Masukilah pintu gerbang negeri itu untuk (menyerang) mereka (penduduk Baitulmaqdis). Jika kamu memasukinya, kamu pasti akan menang. Bertawakallah hanya kepada Allah, jika kamu orang-orang mukmin.” Prof. Quraish Shihab:Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut, yang Allah telah menganugerahkan nikmat atas keduanya: “Serbulah mereka melalui pintu gerbang (kota) itu, maka apabila kamu menyerbunya niscaya kamu akan menang. Dan hendaklah kepada Allah (saja) kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang-orang mukmin.” Prof. HAMKA:Berkata dua orang laki-laki dari golongan orang-orang yang takut, yang telah diberi nikmat oleh Allah, "Masuklah kamu ke sana melalui pintunya. Jika kamu sudah masuk, kamu akan menang. Bertawakal lah kepada Allah, jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman."
Ayat ke-23 ini Allah SWT menyebut dua tokoh yang benar-benar berjuang dan pahlawan bagi Bani Israil, yang nantinya akan berhasil memasuki negeri leluhur melawan bangsa Amaliqah.
Keduanya memang tidak disebutkan namanya, namun digambarkan sebagai dua orang laki-laki yang bertakwa, juga keduanya telah diberi nikmat oleh Allah.
Mereka inilah yang memerintahkan Bani Israil untuk memasuki pintu gerbang negeri itu untuk menyerang musuh mereka. Bahkan dengan sangat meyakinkan mereka mengatakan bahwa jika Bani Israil masuk lewat gerbang itu, sudah bisa dipastikan mereka akan memenangkan peperangan.
Mereka juga yang memberikan perintah untuk menyerahkan segala sesuatu hanya kepada Allah SWT. Karena memang begitulah seharusnya sikap dan perilaku orang-orang mukmin.
قَالَ رَجُلَانِ مِنَ الَّذِينَ يَخَافُونَ
Kata qala (قَالَ) artinya : berkata. Kata rajulani (رَجُلَانِ) artinya : dua orang laki-laki. Kata minalladzina (مِنَ الَّذِينَ) artinya : di antara mereka. Kata yakhafuna (يَخَافُونَ) artinya : yang takut, maksudnya takut kepada Allah atau bertakwa kepada Allah.
Banyak ulama yang mengatakan bahwa dua orang laki-laki yang dimaksud dalam ayat ini tidak lain adalah sosok pahalawan Bani Israil, yaitu Yusya' bin Nun dan Kalib bin Yufna. Mereka termasuk orang-orang yang takut kepada Allah.
1. Yusya' bin Nun
Yusya' bin Nun adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah Bani Israil. Ia merupakan murid dan pengikut setia Nabi Musa, serta dikenal sebagai seorang pemimpin militer yang gagah berani. Ketika Nabi Musa diutus oleh Allah untuk membawa Bani Israil keluar dari Mesir, Yusya' bin Nun termasuk di antara mereka yang menyaksikan berbagai mukjizat Allah, termasuk terbelahnya Laut Merah dan turunnya manna serta salwa di padang pasir.
Ketika Bani Israil sampai di perbatasan negeri Kan'an, Nabi Musa mengutus dua belas mata-mata untuk menyelidiki keadaan negeri tersebut. Yusya' bin Nun adalah salah satu dari mereka. Setelah kembali, sepuluh mata-mata melaporkan bahwa negeri itu dihuni oleh bangsa yang kuat dan sulit ditaklukkan, sehingga membuat Bani Israil ketakutan dan enggan berperang.
Namun, Yusya' bin Nun bersama Kalib bin Yufna memberikan laporan yang berbeda. Mereka meyakinkan Bani Israil bahwa jika mereka tetap beriman dan berjuang dengan keberanian, Allah pasti akan menolong mereka untuk merebut negeri itu.
Sayangnya, mayoritas Bani Israil menolak untuk berperang dan justru memberontak terhadap perintah Allah. Akibatnya, Allah menghukum mereka dengan tersesat di Padang Tih selama 40 tahun, hingga generasi yang penakut dan membangkang itu meninggal satu per satu.
Setelah Nabi Musa wafat, kepemimpinan Bani Israil diserahkan kepada Yusya' bin Nun. Di bawah kepemimpinannya, Bani Israil akhirnya berhasil memasuki dan menaklukkan tanah Kan'an.
Salah satu kemenangan besar yang dicatat dalam sejarahnya adalah penaklukan kota Yerikho atau dalam ejaan Arab disebut dengan Ariha (أرحا), dimana Allah memberikan mukjizat dengan menahan matahari agar tidak terbenam sampai Bani Israil memenangkan pertempuran.
2. Kalib bin Yufna
Kalib bin Yufna juga merupakan salah satu tokoh penting dalam perjalanan Bani Israil menuju tanah Kan'an. Ia berasal dari suku Yehuda dan dikenal sebagai seorang pemimpin yang memiliki keimanan dan keberanian luar biasa. Seperti Yusya' bin Nun, ia juga termasuk dalam dua belas mata-mata yang dikirim oleh Nabi Musa untuk menyelidiki negeri Kan'an.
Ketika sepuluh mata-mata lainnya menyebarkan ketakutan di antara Bani Israil dengan laporan mereka tentang bangsa raksasa yang tinggal di Kan'an, Kalib bin Yufna tetap teguh dalam keyakinannya. Ia bersama Yusya' bin Nun berusaha meyakinkan kaumnya bahwa dengan pertolongan Allah, mereka pasti bisa menaklukkan negeri tersebut. Namun, usaha mereka sia-sia karena mayoritas Bani Israil tetap menolak untuk berperang.
Akibat keimanan dan keberaniannya, Kalib bin Yufna mendapatkan keistimewaan dari Allah. Saat Allah menjatuhkan hukuman kepada Bani Israil dengan menyesatkan mereka di Padang Tih selama 40 tahun, hanya Kalib bin Yufna dan Yusya' bin Nun yang dikecualikan dari hukuman itu. Mereka berdua tetap hidup hingga akhirnya memimpin generasi baru Bani Israil dalam menaklukkan tanah Kan'an.
Setelah tanah Kan'an ditaklukkan, Kalib bin Yufna diberikan bagian tanah di Hebron sebagai ganjaran atas kesetiaannya. Ia dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana dan tetap berpegang teguh pada ajaran Allah hingga akhir hayatnya.
laknatullah alihima
Kata an’amallahu (أَنْعَمَ اللَّهُ) artinya : Allah memberi nikmat. Kata ‘alaihima (عَلَيْهِمَا) artinya : kepada keduanya.
Dikatakan bahwa Allah telah memberikan nikmat kepada mereka, menurut para ahli tafsir maksudnya mereka mendapatkan nikmat dalam bentuk petunjuk, keyakinan akan pertolongan Allah SWT serta ketergantungan pada kemenangan dari-Nya.
1. Nikmat Keimanan dan Keyakinan
Dalam situasi ketika mayoritas Bani Israil takut dan ragu untuk berperang, hanya Yusya' dan Kalib yang tetap memiliki iman yang kuat dan keyakinan penuh kepada janji Allah. Keberanian dan kepercayaan mereka kepada Allah adalah nikmat terbesar yang membedakan mereka dari yang lain.
2. Nikmat Keberanian dan Keteguhan Hati
Allah memberikan mereka hati yang teguh, tidak gentar menghadapi musuh, dan berani berpegang pada kebenaran meskipun mereka berhadapan dengan perlawanan dari kaumnya sendiri. Bahkan ketika mayoritas Bani Israil ingin kembali ke Mesir dan menolak perintah Allah, mereka tetap berdiri teguh dalam kebenaran.
3. Nikmat Keselamatan dari Azab
Karena keimanan dan keteguhan mereka, Allah menyelamatkan mereka dari hukuman yang ditimpakan kepada Bani Israil yang membangkang. Ketika Allah menyesatkan Bani Israil di Padang Tih selama 40 tahun, hanya Yusya' bin Nun dan Kalib bin Yufna yang dikecualikan dan masih hidup untuk memimpin generasi baru menaklukkan tanah Kan'an.
4. Nikmat Kepemimpinan dan Kemenangan
Setelah masa hukuman 40 tahun berakhir, Allah memberikan keduanya kehormatan untuk memimpin Bani Israil dalam menaklukkan tanah Kan'an. Yusya' bin Nun menjadi pemimpin utama setelah Nabi Musa, sedangkan Kalib bin Yufna menjadi pemimpin suku Yehuda dan memperoleh tanah di Hebron sebagai anugerah dari Allah.
ادْخُلُوا عَلَيْهِمُ الْبَابَ
Kata udkhulu (ادْخُلُوا) artinya : masuklah. Kata ‘alaihim (عَلَيْهِمُ) artinya : kepada mereka. Mereka yang dimaksud disini adalah penduduk Baitul maqdis. Yang unik dari perintah masuk ini menggukana kata ‘ala (على) dan bukan fi (في). Padahal biasanya masuk itu kaitannya dengan fi yang bermakna ke dalam dan bukan ala yang berarti ke atas.
Ternyata ada perbedaan makna antara dakhala ‘ala (دخل على) dan dakhala fi (دخل في), karena perbedaan makna fungsi preposisi yang mengikutinya, yaitu ‘ala (على) dan fi (في).
Jika menggunakan dakhala ‘ala (دخل على), maka maknanya adalah masuk untuk menemui seseorang. Contohnya dalam kalimat Nabi SAW masuk menemui Aisyah, maka digunakan ungkapan (دخل النبي ﷺ على عائشة).
Sedangkan dakhala fi (دخل في) digunakan untuk menunjukkan seseorang atau sesuatu yang masuk ke dalam sesuatu secara fisik. Misalnya air masuk ke dalam botol, maka disebut (دخل الماء في الزجاجة).
Dalam terjemahan Kemenag RI, kata ini kemudian diberikan penjelasan yaitu dalam rangka untuk menyerang penduduk Baitul Maqdis. Kata al-baba (الْبَابَ) artinya :pintu, maksudnya lewat pintu gerbang negeri itu.
Penduduk yang menduduki Baitul Maqdis saat itu adalah kaum Amaliqah atau disebut Amalekites dan Kan‘aniyyun atau orang Kanaan. Mereka adalah kaum yang kuat dan memiliki benteng pertahanan yang kokoh. Menurut tafsir, mereka adalah kaum penyembah berhala dan memiliki tradisi yang bertentangan dengan ajaran tauhid yang dibawa oleh Nabi Musa AS.
Namun, karena ketakutan dan ketidakpatuhan Bani Israil, mereka gagal merebut Baitul Maqdis pada masa Nabi Musa AS. Barulah pada masa Nabi Yusya' bin Nun, setelah generasi lama wafat, kaum Bani Israil akhirnya berhasil memasuki Baitul Maqdis dan menguasainya.
فَإِذَا دَخَلْتُمُوهُ فَإِنَّكُمْ غَالِبُونَ
Kata fa idza (فَإِذَا) artinya : maka jika, atau maka apabila. Kata dakhaltumuhu (دَخَلْتُمُوهُ) artinya : kamu memasukinya. Kata fainnakum (فَإِنَّكُمْ) artinya : maka pastilah kamu. Kata ghalibun (غَالِبُونَ) artinya : orang-orang yang menang.
Ada sebagian kalangan yang mengatakan bahwa janji kemenangan itu sekedar mengisi rasa kosong di hati Bani Israil yang sudah kalah mental terlebih dahulu sebelum berperang. Ini semacam penanaman motivasi dan keyakinan, yang menjadi modal dasar orang berani menghadapi medan perang.
Namun ada yang mengatakan bahwa kalimat ini bukan sekedar penanaman motivasi kosong. Setidaknya ada tiga alasan utama mengapa mereka begitu yakin bahwa Bani Israil pasti akan menang jika mau memasuki kota musuh.
1. Janji Allah Sudah Diberikan
Yusya' dan Kalib berbicara dengan keyakinan penuh karena mereka tahu bahwa Allah sudah menjanjikan tanah Kan'an kepada Bani Israil. Sebagaimana disebutkan dalam banyak ayat dan dalam Taurat, negeri itu sudah ditentukan oleh Allah sebagai warisan mereka.
Jika Allah sudah menjanjikan sesuatu, maka tidak ada yang bisa menggagalkannya kecuali mereka sendiri yang menolak dan ragu.
2. Strategi Perang yang Tepat
Dalam ayat tersebut, mereka berkata "Serbulah mereka melalui pintu gerbang". Ini menunjukkan bahwa mereka memiliki pemahaman militer dan strategi yang baik.
Mereka yakin bahwa jika Bani Israil melakukan serangan yang terorganisir melalui pintu masuk utama kota, maka pertahanan musuh bisa ditembus. Ini bukan sekadar motivasi kosong, tetapi juga strategi realistis berdasarkan pengalaman mereka.
Kata wa a’allahi (وَعَلَى اللَّهِ) artinya : dan hanya kepada Allah. Kata fatawakkalu (فَتَوَكَّلُوا) artinya : bertawakallah. Kata inkuntum (إِنْ كُنْتُمْ) artinya : jika kamu. Kata mu’minin (مُؤْمِنِينَ) artinya : orang-orang mukmin.
Mereka menutup perkataan mereka dengan: "Hanya kepada Allah hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benar-benar orang-orang yang beriman."
Dan ini adalah alasan ketiga, bahwa kemenangan bukan hanya bergantung pada kekuatan fisik atau jumlah pasukan, tetapi pada keyakinan kepada pertolongan Allah. Yusya' dan Kalib tahu bahwa kemenangan bisa datang dari cara yang tak terduga jika Allah menolong mereka.
Bukankah sebelumnya Allah telah menenggelamkan Firaun tanpa Bani Israil harus bertarung? Jika mereka bertawakal dan mengikuti perintah Allah, kemenangan sudah dijamin.
Bertawakkal kepada Allah berarti menyerahkan segala urusan kepada-Nya dengan penuh kepercayaan setelah berusaha semaksimal mungkin. Tawakkal bukan berarti pasrah tanpa usaha, tetapi menggabungkan ikhtiar dengan keyakinan bahwa hasil akhirnya berada dalam kehendak Allah.
Sangat terkenal ungkapan "Ikatkan dulu untamu, barulah bertawakkal". Sebenarnya kalimat itu memang berasal dari sebuah hadits Nabi SAW yang menunjukkan bahwa tawakkal harus disertai dengan usaha sebelumnya.
Hadits itu diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Anas bin Malik radhiyallahu‘anhu:
Seorang laki-laki berkata: 'Wahai Rasulullah, apakah aku harus mengikat untaku lalu bertawakkal, atau aku melepasnya lalu bertawakkal?' Beliau menjawab: 'Ikatlah terlebih dahulu, lalu bertawakkallah. (HR. At-Tirmidzi)
Jika seseorang sudah bertawakkal kepada Allah, tetapi hasilnya tidak sesuai harapan atau bahkan mengecewakan, maka apa yang kita anggap baik belum tentu benar-benar baik bagi kita. Allah berfirman:
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. (QS. Al-Baqarah: 216)
Selain itu mungkin juga Allah menguji hamba-Nya dengan hasil yang mungkin berbeda dari harapan untuk melihat seberapa besar keimanan dan kesabarannya. Rasulullah bersabda:
Sesungguhnya besarnya pahala sebanding dengan besarnya ujian. Dan sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka. Barang siapa yang ridha, maka baginya keridhaan), dan barang siapa yang murka, maka baginya kemurkaan. (HR. At-Tirmidzi)
Kadang, Allah menunda atau menggantikan sesuatu yang kita inginkan dengan sesuatu yang lebih baik, baik di dunia maupun di akhirat. Bisa jadi kegagalan hari ini adalah cara Allah menghindarkan kita dari sesuatu yang lebih buruk atau mempersiapkan kita untuk sesuatu yang lebih besar.