Kemenag RI 2019:Maka, Allah memberi pahala kepada mereka atas sesuatu yang telah mereka ucapkan, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya. Itulah balasan (bagi) orang-orang yang berbuat kebaikan. Prof. Quraish Shihab:Maka, Allah menganugerahkan
mereka ganjaran sebagai imbalan atas
apa (perkataan) yang mereka ucapkan,
(yaitu) surga-surga yang di bawahnya
mengalir sungai-sungai, sedang mereka
kekal di dalamnya. Dan itulah balasan
bagi orang-orang muhsin (orang-orang
yang selalu berbuat yang lebih baik).
Prof. HAMKA:Maka memberi pahalalah Allah kepada mereka lantaran apa yang telah mereka katakan itu, yaitu surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya. Dan itulah ganjaran bagi orang-orang yang berbuat baik.
Ayat ke-85 ini menceritakan bagaimana Allah SWT memberi pahala kepada kaum Nasrani yang telah menyatakan keimanan mereka. Dan atas pernyataan keimanan itu mereka pun telah ditetapkan untuk dimasukkan kepada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya.
Allah SWT menegaskan bahwa masuk surga itu merupakan balasan bagi mereka, yaitu orang-orang yang berbuat kebaikan.
فَأَثَابَهُمُ اللَّهُ بِمَا قَالُوا
Kata fa-atsaba-hum (فَأَثَابَهُمُ) diterjemahkan secara beragam oleh tiga sumber kita. Terjemahan versi Kemenag RI 2019 adalah : “memberi pahala kepada mereka”. Terjemahan Prof. Quraish Shihab adalah : “menganugerahkan mereka ganjaran”. Terjemah vesi Buya HAMKA adalah : “memberi pahalalah Allah kepada mereka”.
Kata atsaba (أَثَابَ) berasal dari fi'il dasar tsaba - yatsubu (ثَابَ – يَثُوبُ) yang dalam bahasa Arab memiliki arti dasar ‘kembali’ atau ‘berbalik’. Namun dalam bentuk yang digunakan dalam ayat ini, kata tersebut bukan dalam bentuk fi'il mujarrad tapi sudah dalam bentuk fi’il mazid, yaitu (أَثَابَ – يُثِيبُ) yang mengikuti pola (أَفْعَلَ – يُفْعِلُ). Pola ini terbentuk dengan menambahkan huruf hamzah di awal kata dasar, sehingga maknanya berkembang dari sekadar ‘kembali’ jadi ‘mengembalikan sesuatu sebagai balasan’. Dalam konteks ini berarti memberi ganjaran atau pahala.
Pemilihan kata atsaba (أَثَابَ) disini juga menunjukkan keindahan bahasa Al-Qur’an. Dibandingkan dengan kata kerja lain yang juga bisa bermakna memberi, seperti a’tha (أَعْطَى) memberi, atau jazaa (جَازَى) membalas, kataatsaba (أَثَابَ) terasa lebih khusus menunjukkan pemberian yang berupa ganjaran baik, yang diberikan karena seseorang layak menerimanya berdasarkan amal yang ia lakukan. Ini memperlihatkan sisi kasih sayang dan keadilan Allah dalam membalas hamba-Nya. Maka penggunaan kata ini sangat tepat untuk menggambarkan balasan Allah kepada orang-orang yang beriman dan berkata benar.
Bukan hanya menyampaikan makna pembalasan secara umum, tetapi juga menggambarkan balasan yang penuh rahmat, sepadan dengan kebaikan yang dilakukan, dan diberikan dengan keadilan dan kasih sayang oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya.
Sedangkan kata Allah (الله) dalam sturktur ini menjadi pelaku alias fa’ilnya. Maka maknanya menjadi : “Maka Allah membalas”.
Kata bimaa qaaluu (بِمَا قَالُوا) yang artinya : atas apa yang mereka katakan. Yang mereka katakan adalah ungkapan bahwa mereka telah beriman kepada Allah dan juga kepada kenabian Muhammad SAW, termasuk juga beriman kepada Al-Quran.
Ada sebagian orang yang mempertanyakan, bagaimana mereka bisa langsung dimasukkan ke dalam surga, padahal mereka baru sekedar menyatakan diri beriman di lisan saja, belum lagi mengamalkan beban-beban syariat?
Jawabannya bahwa pernyataan keimanan mereka saat itu memang membuat mereka sangat pantas masuk surga, sebab siapapun orang yang menyatakan keimanan alias masuk Islam, maka Allah SWT ampuni semua dosanya. Bukankah Allah SWT sendiri yang telah menyatakan hal itu dalam firman-Nya :
Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Furqan: 70)
Nabi SAW juga menegaskan hal yang senada dengan sabdanya :
الإسلامُ يَجُبُّ ما قبلَهُ
Keislaman (masuk Islam) itu menghapus dosa-dosa yang sebelumnya. (HR. Muslim)
Ketika seseorang memeluk Islam, maka seluruh dosa dan kesalahan yang pernah dilakukan sebelum masuk Islam akan diampuni oleh Allah SWT.
Ayat di atas dan juga sabda Nabi SAW ini menjadi dasar bahwa masuk Islam dengan keimanan yang jujur dan ikhlas merupakan pintu ampunan total dari Allah, sebagaimana yang dialami oleh sebagian Ahlul Kitab yang tersentuh hatinya saat mendengar ayat-ayat Al-Qur’an dan langsung menyatakan keimanan mereka.
جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ
Kata jannatin (جَنَّاتٍ) adalah bentuk jamak dari bentuk tunggalnya jannah yang artinya : surga, yaitu tempat yang Allah SWT sediakan untuk kita orang-orang yang beriman ketika sudah berada di akhirat nanti.
Allah SWT menyebutkan jannaat dalam bentuk jamak taksir, yang dipahami bahwa surga itu tidak hanya satu, melainkan ada beberapa. Yang disebutkan dalam Al-Quiran diantaranya bernama Firdaus (فردوس), Adn (عدن), An-Na'im (النعيم), Al-Ma'wa (المأوى) dan lainnya.
Kata tajri (تَجْرِي) secara makna berarti berlari, namun maksudnya adalah mengalir. Sebenarnya sungai itu tidak mengalir, karena yang mengalir itu air dan bukan sungainya. Sungai adalah tempat air mengalir.
Namun tanpa harus disebutkan air mengalir di sungai, dan langsung dari disebutkan bahwa sungai itu mengalir, semua orang sudah paham bahwa yang mengalir itu airnya dan bukan sungainya. Gaya bahasa ini termasuk salah satu bentuk majaz atau metafora.
Metafora adalah suatu bentuk kiasan yang menggunakan perbandingan tidak langsung antara dua hal yang berbeda, dengan tujuan untuk memberikan makna yang lebih dalam atau memperkuat makna suatu kata, frasa, atau kalimat.
Ketika Allah SWT menyebutkan, "sungai mengalir" merupakan metafora untuk menggambarkan sesuatu yang terus bergerak atau berjalan dengan lancar. Sementara "air mengalir" merupakan kalimat yang tidak menggunakan metafora, tetapi merupakan deskripsi langsung dari sesuatu yang terjadi.
Lafazh min tahtiha (مِنْ تَحْتِهَا) sering diterjemahkan menjadi : mengalir di bawahnya. Kemudian muncul pertanyaan : kenapa surga itu selalu digambarkan dengan mengalir di bawahnya sungai?
Penggambaran ini nampaknya bukan sekadar hiasan sastra, tetapi memiliki pesan mendalam yang menyentuh sisi psikologis, budaya, dan fitrah manusia.
Pertama-tama, perlu dipahami bahwa air dalam banyak kebudayaan dan juga dalam pengalaman manusia merupakan simbol kehidupan, kesegaran, dan kenikmatan yang abadi. Dalam konteks masyarakat Arab pada masa turunnya Al-Qur’an, air adalah sumber daya yang sangat berharga dan langka. Mereka hidup di lingkungan padang pasir yang kering, di mana keberadaan air berarti kehidupan, ketenangan, dan kemakmuran.
Maka ketika Allah menggambarkan surga sebagai taman-taman yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, gambaran itu seketika membangkitkan rasa bahagia, damai, dan kenikmatan tak terbayangkan di benak pendengar.
Mengalirnya sungai di bawah taman juga menunjukkan keindahan dan keteraturan tata letak surga. Sungai yang mengalir "di bawahnya" bukan hanya menunjukkan posisi fisik, tetapi juga menandakan bahwa sumber kenikmatan itu terus-menerus tersedia dan terjaga—tidak seperti di dunia, di mana air bisa kering, sungai bisa surut, dan kenikmatan bisa hilang.
Di surga, aliran air itu kekal dan tidak pernah putus. Hal ini menekankan aspek keabadian dan kesinambungan kenikmatan di akhirat.
Secara simbolis, air yang mengalir di bawah taman juga menggambarkan kedamaian batin. Ia menciptakan suasana sejuk, tenang, dan menyenangkan. Suara gemericik air, rindangnya pepohonan, dan hijaunya taman adalah gambaran yang menyatu untuk menunjukkan kebahagiaan paripurna—yang bukan hanya fisik tetapi juga spiritual. Surga bukan hanya tempat menerima pahala, tapi juga tempat di mana jiwa benar-benar tenang dan tenteram.
Selain itu, sungai dalam Al-Qur’an tidak hanya digambarkan sebagai air biasa. Dalam beberapa ayat disebutkan bahwa sungai di surga terdiri dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, susu yang tidak basi, khamar (minuman) yang lezat bagi peminumnya, dan madu yang murni. Maka ungkapan “sungai-sungai” di bawah surga bukan hanya menunjukkan limpahan air secara harfiah, tetapi juga simbol dari segala jenis kenikmatan yang bersih, halal, dan sempurna.
Dengan demikian, penggambaran surga dengan sungai-sungai yang mengalir di bawahnya adalah bentuk komunikasi yang sangat indah, menyentuh fitrah manusia akan keindahan dan kenyamanan. Ia juga menyampaikan pesan bahwa kenikmatan surga bukan hanya besar dan kekal, tetapi juga menyeluruh—memuaskan jiwa dan raga sekaligus. Gambaran ini, yang terus diulang dalam Al-Qur’an, membentuk citra yang kuat dan mengundang kerinduan bagi setiap orang beriman.
Karena surga memang tempatnya kenikmatan yang bermacam-macam, tentu segala macam bentuk kenikmatan tersedia di surga. Namun yang diceritakan dalam Al-Quran pastinya harus disesuaikan dengan siapa yang lagi diajak bicara oleh Al-Quran. Dan dalam hal ini karena Al-Quran itu diturunkan kepada Nabi SAW, tentu saja bahasa pendekatannya akan disesuaikan dengan Beliau SAW, sebagai orang Arab yang hidup di abad keenam hijriyah.
Tidak mungkin misalnya Al-Quran menggambarkan surga berupa kota metropolitan dengan gedung-gedung pencakar langit yang serba modern. Orang-orang berseliweran naik mobil terbang, bahkan berpindah dari satu tempat ke tempat lain lewat portal. Tentu tidak mungkin kalau Al-Quran menggambarkan surga seperti hayalan kita di abad ke-21 ini.
Sebab Al-Quran tidak diturunkan kepada kita, melainkan kepada Nabi Muhammad SAW dan para shahabat dengan latar belakang kehidupan mereka yang spesifik, serta pemahaman mereka tentang konsep keindahan dan kenikmatan.
خَالِدِينَ فِيهَا
Kata khalidin (خَالِدِينَ) artinya : mereka adalah orang-orang yang kekal atau abadi, tidak mengalami kematian. Kata fiha (فِيهَا) artinya : di dalamnya, yaitu di dalam surga.
Dalam hal ini Allah SWT menegaskan bahwa orang-orang yang hidup di surga itu akan hidup abadi atau disebut dengan immortal, yaitu hidup untuk seterusnya dan tidak mengalami kematian.
Secara logika memang seharusnya kehidupan akhirat itu adalah kehidupan yang kekal dan kehidupan dunia adalah kehidupan yang tidak kekal. Sebab pada akhirnya kehidupan di dunia ini akan berujung semuanya ke akhirat. Maka memang sudah seharusnya akhirat itu kekal.
Lain halnya apabila Allah SWT berhendak memusnahkan semua ciptaannya sehingga tidak adaakhirat, tidak ada surga dan tidak ada neraka. Tentunya itu hal semacam itu merupakankemustahilan bagi Allah.
Kekekalan Adalah Puncak Kebahagiaan
Para ulama mengatakan bahwa kekekalan dan keabadian di surga sebernya adalah puncak kebahagiaan yang jadi tujuan semua manusia. Sebab buat apa masuk surga kalau ada masa berakhirnya?
Dengan pandangan seperti ini maka jadi wajar kenapa dahulu Nabi Adam alaihissalam sampai melanggar larangan untuk tidak makan buah di surga, sehingga dikeluarkan dari surga. Boleh jadi tujuannya demi agar bisa mendapatkan kekekalan dan keabadian hidup.
Tentu saja itu tipu daya setan yang berhasilmembujuknya Nabi Adam untuk melanggar larangan tersebut. Tipu dayanya apabila memakan buah itu maka hidupnya akan abadi, imortal, tidak mati-mati hingga selamanya.Al-Quran menceritakan dengan gamblang :
Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?" (QS. Thaha : 120)
وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْمُحْسِنِينَ
Kata wa dzalika (وَذَٰلِكَ) artinya : dan itu adalah. Maksudnya hidup di surga secara abadi dengan segala macam bentuk kenikmatannya. Kata dzalika (ذَٰلِكَ) menunjukkan bahwa apa yang dijelaskan sebelumnya -baik berupa kenikmatan surga, pengampunan, maupun keberuntungan yang agung- adalah suatu hal yang pasti terjadi. Penggunaan kata tunjuk ‘itu’ memberi kesan penegasan dan jarak, seolah menunjuk pada sesuatu yang agung dan tinggi nilainya. Hal ini menunjukkan bahwa balasan yang dimaksud bukanlah sesuatu yang remeh, melainkan sesuatu yang agung dan mulia.
Kata jaza’ (جَزَاءُ) artinya : balasan, reward, atau penghargaan. Dalam struktur kalimat Arab, diletakkannya kata ini setelah dzalika (ذَٰلِكَ) mengisyaratkan bahwa seluruh kenikmatan yang telah dijelaskan sebelumnya merupakan bentuk imbalan yang setimpal. Ini juga menunjukkan bahwa semua amal tidak akan disia-siakan oleh Allah, dan bahwa amal baik selalu berujung pada pahala yang layak.
Kata al-muhsinin (الْمُحْسِنِينَ) adalah bentuk jama’ dari kata muhsin (مُحْسِن)yang berasal dari kata dasar ahsana-yuhsinu (أَحْسَنَ – يُحْسِنُ). Artinya orang yang berbuat baik atau orang yang melakukan sesuatu dengan sempurna.
Dalam istilah spiritual dan etika Islam, ihsan adalah tingkat tertinggi dalam agama, yaitu ketika seseorang menyembah Allah seakan-akan ia melihat-Nya, dan jika ia tidak melihat-Nya maka ia yakin bahwa Allah melihat dirinya.
Maka, istilah al-muhsinin (الْمُحْسِنِينَ) bukan hanya merujuk kepada orang-orang yang berbuat baik secara umum, tapi kepada mereka yang berbuat baik dengan kesadaran penuh akan kehadiran Allah, dengan niat yang bersih, amal yang ikhlas, dan perbuatan yang sempurna.
Dalam pandangan banyak ulama, gelar muhsindianggap sebagai salah satu gelar tertinggi yang dapat disandang oleh seorang hamba di sisi Allah. Apabila Allah telah menilai seseorang sebagai muhsin, maka itu adalah pertanda bahwa Allah akan membalasnya dengan kelebihan nikmat dan rahmat. Seorang muhsin tidak hanya mendapatkan apa yang layak ia terima, tetapi juga kelebihan dan karunia dari sisi-Nya. Dia tidak sekadar diberi sesuai amal, tetapi dilimpahi pemberian yang jauh melebihi apa yang seharusnya ia peroleh.