Kemenag RI 2019:Demikianlah Kami menjelaskan berulang-ulang ayat-ayat Kami (agar orang-orang beriman mengambil pelajaran darinya) dan agar mereka (orang-orang musyrik) mengatakan, “Engkau telah mempelajari (ayat-ayat itu dari Ahlulkitab),” dan agar Kami menjelaskannya (Al-Qur’an) kepada kaum yang mengetahui. Prof. Quraish Shihab:Demikianlah Kami berulang kali menjelaskan ayat-ayat Kami, agar mereka (orang-orang musyrik) berkata: “Engkau (Muhammad) telah mempelajari (ayat-ayat itu dari ahli kitab),” dan agar Kami menjelaskannya (al-Qur’an) kepada kaum yang mengetahui. Prof. HAMKA:Dan seperti demikianlah, Kami telah memperpaling-palingkan ayat-ayat, tetapi akhirnya mereka berkata, "Engkau telah membaca!" Dan untuk Kami menerangkannya kepada kaum yang hendak tahu.
Ayat ke-105 dari surat Al-An’am ini menyampaikan bahwa melalui berbagai bentuk dan pendekatan, Allah SWT telah berkali-kali menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada manusia. Namun kalangan musyrikin justru menuduh bahwa Nabi Muhammad SAW mempelajarinya dari Ahlulkitab, bukan menerima langsung dari Allah.
Di sisi lain Allah menegaskan bahwa tujuan dari penjelasan berulang ini adalah agar Al-Qur’an benar-benar dapat dipahami oleh kaum yang berilmu, yaitu mereka yang menggunakan akal dan hatinya untuk merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah.
وَكَذَٰلِكَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ
Kata wa kadzalika (وَكَذَٰلِكَ) artinya : dan demikianlah. Kata nusharrifu (نُصَرِّفُ) berasal dari akar kata (صَرَفَ) yang berarti memalingkan, mengubah arah, atau memperbanyak variasi.
Kata al-ayati (الْآيَاتِ) artinya : ayat-ayat. Ayat yang dimaksud adalah ayat-ayat Al-Quran. Walaupun nanti ada juga kalangan yang memaknai ayat-ayat sebagai tanda-tanda.
Maka kata nusharrif yang lebih tepat maknanya adalah menjelaskan dengan berbagai cara dan pendekatan. Karena itulah Kemenag RI 2019 menerjemahkannya menjadi : “menjelaskan berulang-ulang”. Qurash Shihab menerjemahkannya menjadi : “Kami berulang kali menjelaskan”.
Ungkapan seperti ini memang sering muncul dalam Al-Qur’an untuk menegaskan bahwa Allah tidak hanya sekali menjelaskan kebenaran, tetapi mengulanginya dalam berbagai bentuk, tema, dan konteks agar manusia bisa memahami dengan lebih dalam.
Namun Buya HAMKA dalam Tafsir Al-Azhar[1] nampaknya sedikit berbeda dalam redaksi penerjemahannya, yaitu : “Kami telah memperpaling-palingkan”.
Sedangkan kata al-aayaat (الْآيَاتِ) Beliau maknai sebagai keterangan. Dengan berbagai jalan Allah telah menyampaikan keterangan itu. Kadang menyebut belahnya buah dan biji, kadang menyebut belahnya subuh oleh datangnya fajar. Dan kadang menyebut asal-usul manusia dari diri yang satu. Dan bermacam-macam lagi.
Allah memberi penerangan dari segala sudut, dipalingkan kesana dan dipalingkan kemari, tetapi tujuannya hanya satu, yaitu memberi pengertian kepada mereka untuk memberi petunjuk dan ilmu, menggugah akal pikiran mereka.
Al-Mawardi dalam tafsir An-Nukat wa Al-‘Uyun[2] menuliskan ada tiga pandangan yang berbeda tentang makna penggalan ini.
§ Pertama: Sebagian ayat mengikuti sebagian yang lain, sehingga wahyu terus turun tanpa terputus.
§ Kedua: Ayat-ayat itu memiliki makna yang beragam, sebagai bentuk penegasan atas kemukjizatan Al-Qur’an dan perbedaan hakikatnya dari ucapan manusia.
§ Ketiga: Ayat-ayat tersebut mengandung perbedaan isi antara janji dan ancaman, perintah dan larangan, agar lebih kuat dalam memberi peringatan, lebih mendorong manusia untuk taat, dan lebih menyeluruh dalam mewujudkan kemaslahatan.
وَلِيَقُولُوا دَرَسْتَ
Kata wa liyaqulu (وَلِيَقُولُوا) artinya : dan agar mereka berkata. Namun begitu para ulama mengatakan bahwa dalam kalimat ini terdapat penghilangan alias hadzf dimana seolah-olah susunan lengkapnya adalah :
وَلِئَلَّا يَقُولُوا دَرَسْتَ
agar mereka tidak berkata: engkau telah mempelajarinya.
Namun bagian li-an-la (وَلِئَلَّا) dihapus untuk tujuan keindahan ringkas. Walaupun jadi luamayan beresiko, setidaknya bagi mereka yang tidak terbiasa dengan gaya penyampaian dalam bahasa Arab. Sebab kalimatnya tidak mengandung kata ‘tidak’, namun dipahami secara sepakat bahwa dalam kalimat itu ada kata ‘tidak’-nya.
Gaya seperti ini sering dijumpai dalam Al-Qur’an, yang mengutamakan keindahan dan kepadatan makna, namun bisa jadi terasa agak sulit dipahami bagi yang belum terbiasa dengan uslub (gaya bahasa) Arab. Contoh lainnya bisa kita temukan dalam ayat lain:
يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ أَنْ تَضِلُّوا
Allah menjelaskan kepada kamu agar kamu sesat. (QS. an-Nisa’: 176)
Padahal maksudnya tentu tidak demikian, maksudnya justru : agar kamu tidak tersesat.
Kata darasta (دَرَسْتَ) adalah kata kerja dalam bentuk fi’il madhi, asalnya dari (درس – يدرس) yang artinya belajar atau lebih tepatnya mempelajari. Namun bisa juga bermakna : membaca. Dalam bahasa Arab klasik, kata ini juga bisa bermakna mengulang pelajaran, mempelajari kitab, atau bahkan hilangnya bekas tulisan karena sering dibaca.
Kemenag RI 2019 menerjemahkan penggalan ini menjadi : “Engkau telah mempelajari (ayat-ayat itu dari Ahlulkitab)”. Quraish Shihab menerjemahkannya menjadi : ”Engkau (Muhammad) telah mempelajari (ayat-ayat itu dari ahli kitab).” Sedangkan Buya HAMKA menerjemahkannya menjadi : "Engkau telah membaca!"
Kaitannya bahwa kata darasta (دَرَسْتَ) di sini adalah tuduhan kaum musyrikin terhadap Nabi SAW bahwa Al-Quran itu bukan wahyu yang turun dari langit, tetapi Nabi SAW dituduh telah banyak belajar dari kitab-kitab suci terdahulu, baik Taurat maupun Injil. Beberapa ayat mencatat secara eksplisit tuduhan tersebut, misalnya:
Dan sungguh Kami mengetahui bahwa mereka berkata: ‘Sesungguhnya yang mengajarkan Al-Qur’an kepadanya adalah seorang manusia.’ Padahal orang yang mereka tuduhkan itu berbahasa non-Arab, sedangkan Al-Qur’an ini berbahasa Arab yang jelas.” (QS. An-Nahl: 103)
Ayat ini menyinggung bahwa orang-orang Quraisy menuduh Nabi SAW belajar dari seorang non-Arab, kemungkinan budak Romawi atau Nasrani yang tinggal di Makkah. Namun Allah membantah tuduhan itu dengan logika sederhana, yaitu bahasa sumber tuduhan mereka saja tidak sama. Sementara Al-Qur’an turun dalam bahasa Arab yang paling fasih dan menakjubkan.
Beberapa faktor sosial yang membuat tuduhan itu muncul antara lain karena fakta bahwa di sekitar Makkah dan Madinah memang ada komunitas Yahudi dan Nasrani. Para pembesar Quraisy tahu tentang keberadaan “kitab langit” dari kaum itu, walau mereka sendiri buta huruf terhadap isinya.
Kebetulan memang sebagian ayat Al-Qur’an memiliki kesamaan kisah dengan Taurat dan Injil, seperti kisah Nabi Musa, Nabi Ibrahim, dan Nabi Isa dan nabi-nabi yang lain. Lantas mereka yang tidak mengerti hakikat wahyu mengira “ini berarti Muhammad menyalin dari sana.” Padahal kesamaan tematik justru membuktikan bahwa sumber wahyunya satu yaitu Allah SWT. Dalam ayat lain Allah berfirman:
Engkau tidak pernah membaca suatu kitab sebelumnya dan tidak pula menulis dengan tangan kananmu. Kalau engkau bisa, tentu orang yang batil akan ragu (menganggapmu mengarang). (QS. Al-‘Ankabut: 48)
وَلِنُبَيِّنَهُ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
Kata wa li nubayyinahu (وَلِنُبَيِّنَهُ) artinya : dan agar Kami menjelaskannya. Maksudnnya tujuan diturunnya ayat-ayat adalah agar makna-makna itu dijelaskan kepada mereka yang layak menerima, bukan sekadar untuk mengejek atau membingungkan.
Kata li qaumin (لِقَوْمٍ) artinya : kepada kaum. Kata ya’lamun (يَعْلَمُونَ) artinya : yang mengetahui.
Menurut Ibnu Abbas yang dimaksud qaumin ya’lamun dalam ayat itu adalah para wali-Nya, yaitu orang-orang yang telah Allah tunjukkan kepada jalan petunjuk.
Ayat ini datang setelah penjelasan tentang pergiliran ayat-ayat Allah, yaitu bagaimana Allah menurunkan ayat dengan beragam bentuk, baik dalam bentuk janji dan ancaman, kisah dan hukum, tamsil atau pun peringatan.
Selain tujuan diturunkannya ayat-ayat bukan untuk memperbanyak kebingungan atau tuduhan, melainkan agar orang-orang pilihan Allah, para wali dan hamba berilmu, memahami petunjuk-Nya dengan jelas.
[1] HAMKA (w. 1410 H-1981M), Tafsir Al-Azhar, (Jakarta, Gema Insani, Cet. 5, 1441 H - 2020 M)