Kemenag RI 2019:Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. Prof. Quraish Shihab:Sesungguhnya Tuhan Pemeliharamu, Dia-lah Yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. Prof. HAMKA:Sesungguhnya Tuhan engkau, Dialah Yang Lebih Tahu siapa yang sesat daripada jalan-Nya, dan Dialah yang Lebih Tahu siapa yang mendapat petunjuk.
Dengan demikian, ukuran kebenaran bukan terletak pada penilaian atau pandangan manusia, melainkan pada ilmu dan kehendak Allah.
Ayat ini juga menjadi pengingat bahwa hidayah dan kesesatan sepenuhnya berada dalam kekuasaan-Nya; tugas manusia hanyalah berusaha mencari petunjuk melalui kebenaran yang diturunkan-Nya dan tidak menilai orang lain tanpa dasar yang jelas.
إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ
Kata inna (إِنَّ) artinya : sesungguhnya. Huruf ini berfungsi sebagai ta’kid atau penegas. Di ayat ini menguatkan pernyataan bahwa semua urusan hidayah dan kesesatan berada sepenuhnya dalam pengetahuan Allah, bukan dalam penilaian manusia.
Kata rabbaka (رَبَّكَ) artinya : Tuhanmu. Kamu yang dimaksud adalah Nabi Muhammad SAW. Penyandaran kata rabb kepada Beliau SAW menunjukkan hubungan pribadi dan penghormatan, sekaligus juga dalam rangka membesarkan hatinya. Jangan risau, sebab Tuhanmu lebih tahu urusan hidayah dan kesesatan kaummu daripada kamu sendiri.
Kata huwa (هُوَ) artinya : Dia-lah. Kata a‘lamu (أَعْلَمُ) artinya : yang paling mengetahui. Ini adalah ism tafdhil dari akar kata ع ل م). Penekanannya bahwa tidak ada satu pun yang lebih mengetahui selain Dia.
Pengulangan frasa ini dua kali dalam ayat, baik di awal dan di akhir, memberi penekanan bahwa ilmu Allah meliputi seluruh keadaan manusia, baik yang sesat maupun yang mendapat petunjuk.
مَنْ يَضِلُّ عَنْ سَبِيلِهِ
Kata man (مَنْ) artinya : siapa yang, atau lebih tepatnya : orang yang. Kata ini menunjukkan makna umum, siapa saja, tanpa batasan suku, agama, atau status sosial.
Kata yadhillu (يَضِلُّ) artinya : tersesat. Kata ‘ansabilihi (عَنْ سَبِيلِهِ) artinya : dari jalan-Nya, atau bisa juga bermakna terlepas agama Islam, atau pun juga tersingkir dari jalan hidup, cara hidup, atau sistem petunjuk yang mengantarkan kepada ridha Allah.
Jadi dikatakan yadhillahu ‘an sabilihi (يَضِلُّ عَنْ سَبِيلِهِ) berarti: menjauh atau berpaling dari agama Islam dan syariat Allah SWT. Makna ini menegaskan bahwa kesesatan bukan sekadar perbedaan pendapat, tetapi penyimpangan dari jalan ilahi yang benar.
وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Kata wahuwa (وَهُوَ) artinya : dan Dia. Kata a‘lamu (أَعْلَمُ) artinya : yang paling mengetahui. Kata bil-muhtadin (بِالْمُهْتَدِينَ) akar katanya (ه د ي) yang berarti petunjuk atau hidayah. Dari akar ini muncul berbagai bentuk kata turunan, seperti (يَهْدِي) yang berarti memberi petunjuk. Sedangkan jika menjadi (اِهْتَدَى يَهْتَدِي) maknanya bergeser jadi : mendapat petunjuk atau mendapat hidayah. Ism fa’ilnya adalah (مُهْتَدِي), maka kata (مُهْتَدِين) merupakan bentuk jamak yang artinya : orang-orang yang mendapat petunjuk.
Tentunya mereka bukan hanya tahu jalan benar, tetapi juga mengikuti dan menempuhnya.