Kemenag RI 2019:Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku (berada) di atas keterangan yang nyata (kebenarannya, yaitu Al-Qur’an) dari Tuhanku, sedangkan kamu mendustakannya. Bukanlah kewenanganku (untuk menurunkan azab) yang kamu tuntut untuk disegerakan kedatangannya. Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan kebenaran dan Dia pemberi keputusan yang terbaik.” Prof. Quraish Shihab:atakanlah (Nabi Muhammad saw.), “Sesungguhnya aku berada di atas sesuatu keterangan yang sangat nyata (kebenarannya, yaitu al-Qur’an) dari Tuhan Pemeliharaku, sedangkan kamu mendustakannya. Tidak terdapat di sisiku (wewenang untuk menurunkan) apa (siksa) yang kamu tuntut untuk disegerakan kedatangannya. Menetapkan hukum hanyalah hak (milik) Allah. Dia menjelaskan yang sebenarnya dan Dia-lah sebaik-baik Pemberi penjelasan.” Prof. HAMKA:Katakanlah, “Sesungguhnya aku adalah di atas keterangan yang nyata dari Tuhanku, tetapi kamu mendustakannya. Tidaklah ada kepadaku apa yang kamu harapkan cepat itu. Karena tidaklah ada hukum melainkan bagi Allah. Dialah yang akan menerangkan kebenaran dan Dialah yang sebaik-baik Pemutus.”
Ayat ke-57 dari surat Al-An’am ini menegaskan posisi Nabi SAW yang berdiri di atas hujjah dan bukti nyata dari Allah, meskipun kaum musyrikin tetap mendustakan.
Selain itu juga ada pernyataan bahwa Nabi SAW menolak permintaan mereka untuk mempercepat azab, karena perkara itu murni di tangan Allah.
Hal itu sepenuhnya milik Allah, Dialah yang memutuskan dengan adil, menyampaikan kebenaran, dan menjadi sebaik-baik pemutus perkara.
Kata qul (قُلْ) artinya : katakanlah. Lagi-lagi Allah SWT perintahkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk berkata dan menjawab argumentasi kaum kafir. Fungsinya bukan hanya sekadar menyuruh beliau menjawab, tetapi juga menunjukkan bahwa jawaban itu bukan dari pikiran Nabi sendiri, melainkan wahyu dari Allah. Jadi setiap kali ada kata qul, seakan Allah berkata: “Ini bukan pendapatmu, wahai Muhammad, tapi jawaban resmi dari-Ku untuk mereka.”
Kata inni (إِنِّي) artinya : sesungguhnya aku. Kata ‘alabayyinatin (عَلَىٰ بَيِّنَةٍ) artinya : berada di atas keterangan yang nyata. Sebenarnya bayyinah berarti sesuatu yang sangat jelas, terang, tak terbantahkan. Bisa berupa dalil, hujjah, atau bukti nyata. Frasa ‘ala bayyinah menunjukkan posisi kokoh di atas bukti, bukan sekadar mengikuti tradisi atau prasangka. Bahwa Nabi SAW tidak bicara tanpa dasar, tetapi seluruh risalahnya berdiri di atas bukti nyata dari Allah. Kata minrabbi (مِنْ رَبِّي) artinya : dari Tuhanku.
Huruf wa (وَ) artinya : dan. Kata kadzabtum (كَذَّبْتُمْ) artinya : kamu mendustakan. Kata bihi (بِهِ) artinya : terhadapnya. Maksudnya orang-orang kafir itu tidak percaya dan mendustakan semua bayyinah.
Namun ada sedikit masalah, jika dhamir pada kata bihi (بِهِ) dikaitkan dengan bayyinah.Sebab dhamir hi itu menunjukkan kepada sesuatu yang mudzakkar, sedangkan lafazh bayyinah itu muannats. Beberapa kalangan kemudian mencoba menafsirkan bahwa dhamir itu tidak kembali kepada bayyinah, tetapi kembali kepada Allah sebagai yang menurunkan bayyinah, atau juga kembali kepada Al-Quran.
مَا عِنْدِي مَا تَسْتَعْجِلُونَ بِهِ
Kata maa‘indi (مَا عِنْدِي) artinya : aku tidak memiliki, atau tidak ada padaku. Huruf (مَا) ini agak unik sedikit, karena bisa berperan sebagai harfu nafyi yang berarti tidak, namun kadang bisa juga berperan menjadi isim maushul bermakna : yang. Semua tergantung konteksnya saja. Namun di sini bermakna tidak. Kata ‘indi (عِنْدِي) artinya : ada padaku, atau milikku.
Kalau dikaitkan dengan lafaz setelahnya, ungkapan maa indi (مَا عِنْدِي) disini lebih tepat dimaknai menjadi : “Aku tidak memiliki kuasa”. Atau sebagaimana terjemah dari Kemenag RI : “Bukanlah kewenanganku untuk menurunkan azab”. Begitu juga terjemah Prof. Quraish Shihab : “Tidak terdapat di sisiku wewenang untuk menurunkan siksa”.
Huruf maa (مَا) artinya : apa yang. Kata tasta‘jiluuna (تَسْتَعْجِلُونَ) artinya : kamu meminta disegerakan. Maksudnya adalah adzab Allah yang turun dari langit disebabkan mereka tidak mau beriman.
Ungkapan ini perlu dijelaskan lebih jauh. Kaum musyrik Mekah menantang dengan ucapan “Kalau benar azab Tuhanmu itu ada, turunkanlah segera kepada kami!” Contoh ayat lain yang senada:
“Mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya.”(QS. Al-Ḥajj: 47)
Ternyata meski mereka kafir dan selalu melawan, adzab Allah SWT dari langit tidak turun-turun juga. Tidak seperti yang sering diceritakan dalam Al-Quran terkait penentangan umat terdahulu. Begitu mereka membangkang, langsung turun adzab yang memusnakan mereka.
Kaum Nabi Nuh ditenggelamkan tanpa ada tersisa satu orang pun. Nabi Nuh memohon agar orang-orang kafir dari kaumnya dibinasakan seluruhnya:
Dan Nuh berkata: “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun dari orang-orang kafir itu tinggal di muka bumi.” (QS. Nuh : 26)
Nama Kaum
Tahun
Bentuk Azab
Ayat Al-Quran
Kaum Nuh
± 4000 SM
Banjir besar menenggelamkan semua orang kafir
Nuh 71:26–27
Kaum ‘Ad (Nabi Hud)
± 2500 SM
Angin kencang dingin selama beberapa hari
Fussilat 41:16
Kaum Tsamud (Nabi Shalih)
± 2000 SM
Gempa & petir menyambar
Fussilat 41:44
Kaum Luth
± 1900 SM
Kota dibalikkan, dihujani batu sijjil
Al-Hijr 15:74
Kaum Madyan (Nabi Syu‘aib)
± 1500 SM
Gempa besar, jadi mayat bergelimpangan
Al-A‘raf 7:91
Penduduk Aikah
± 1500 SM
Dibinasakan, negeri mereka lenyap
Al-Hijr 15:78–79
Firaun & bala tentaranya
± 1300 SM
Ditenggelamkan di laut
Al-A‘raf 7:136, An-Nazi‘at 79:25
Ashabul-Sabt
± 1000 SM
Dikutuk jadi kera hina
Al-Baqarah 2:65, Al-A‘raf 7:166
Ashabul-Qaryah (penduduk negeri dalam Surah Yasin)
kemungkinan pra-Masehi
Disambar suara keras, mati serentak
Yasin 36:28–29
Ashabul-Ukhdud
± 500 M
Dilaknat, neraka menanti mereka
Al-Buruj 85:4–8
Ashabul-Fil (pasukan Abrahah)
571 M (tahun kelahiran Nabi SAW)
Burung Ababil melempari batu sijjil, hancur binasa
Al-Fil 105:3–5
Dan faktanya memang demikian, umat Nabi Muhammad SAW tidak pernah dimusnahkan oleh Allah SWT sebagaimana umat-umat sebelumnya. Di masa kenabian, meski mayoritas bangsa Arab memeluk Islam di hadapan Beliau, tetapi bangsa-bangsa lain di masa itu masih dalam kekafiran. Romawi, Persia, Yaman, Mesir, Habasyah masih belum jadi negeri muslim.
Namun tidak ada satupun negeri itu yang Allah SWT musnahkan. Bahkan di masa sekarang ini, dimana populasi umat manusia sudah mencapai angka 8 milyar, ternyata kebanyakan mereka tidak memeluk Islam.
Menurut timesprayer.com, per 2 September 2025, populasi umat Muslim di dunia diperkirakan mencapai 2,051,052,026 jiwa, atau lebih dari 25% dari total populasi manusia dunia sekitar 8,204 miliar. Sumber lain seperti mawakit-salat.org memperkirakan jumlah Muslim sekitar 2,16 milyar atau sekitar 26.2% dari total populasi global 8,24 miliar.
Kalau pakai logika sunnatullah yang selama ini sudah establish diberlakukan kepada umat terdahulu, maka populasi bumi ini seharusnya hanya dua milyar saja. Isinya hanya orang Islam saja.Sisanya sekitar enam milyar itu mati kena adzab gara-gara mereka tidak beriman.
Dari sini menjadi jelas firman Allah SWT di ayat ini, bahwa Nabi SAW sama sekali tidak punya kuasa untuk minta diturunkan adzab, gara-gara keberadaan orang kafir. Dan boleh jadi bukan karena tidak mampu, tetapi sangat besar kemungkinan justru dari diri Beliau SAW sendiri yang tidak mau dan tidak rela jika umatnya yang kafir itu dibinasakan.
إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ
Kata in al-hukum (إِنِ الْحُكْمُ) artinya : tidaklah hukum itu. Yang dimaksud dengan kata hukum disini nampaknya buat serangkaian aturan dan syariat, melainkan maksud adalah keputusan atau vonis menurunkan bencana yang memusnahkan suatu kaum.
Kata illa (إِلَّا) artinya : kecuali. Kata lillah (لِلَّهِ) artinya : bagi Allah, atau berarti sepenuhnya menjadi hak prorogratif Allah SWT.
Penggalan ini memberi kita pengertian bahwa hak mutlak untuk menjatuhkan vonis, baik berupa azab maupun keselamatan, hanya berada di tangan Allah SWT. Tidak ada yang bisa memaksa Allah untuk segera menurunkan azab, dan tidak ada pula yang bisa mencegah-Nya bila Allah sudah menetapkan azab.
Dari sisi Nabi SAW sendiri memang tidak dibinasakannya kaum muslimin itu ternyata juga bersumber dari permintaan Beliau SAW :
Aku memohon agar umatku tidak dibinasakan dengan bencana umum, maka Dia kabulkan. (HR. Muslim)
يَقُصُّ الْحَقَّ
Kata yaqushshu (يَقُصُّ) artinya : Dia menceritakan. Kata al-haqqa (الْحَقَّ) artinya : kebenaran.
Maksudnya di dalam Al-Quran ada begitu banyak kisah-kisah yang menceritakan bagaimana dahulu Allah SWT membinasakan suatu kaum. Semua itu pastinya bukan dusta atau hayal semata. Tetapi semua itu memang nyata alias al-haq.
Untuk itu memang ada perintah khusus kepada Nabi SAW untuk melakukan safari alias perjalanan di muka bumi, sekedar untuk melihat sisa-sisa bekas peradaban bangsa-bangsa yang dimusnahkan itu. Di dalam Al-Quran setidaknya kita menemukan ada tujuh perintah semacam ini :
Sungguh, telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah (Allah yang berlaku atas umat-umat dahulu), maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan.”(QS. Ali ‘Imran: 137)
Katakanlah: Berjalanlah di muka bumi, lalu perhatikanlah bagaimana Allah memulai penciptaan, kemudian Allah akan menjadikan kejadian yang akhir. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS.Al-‘Ankabut: 20)
Katakanlah: Berjalanlah di muka bumi, lalu perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang sebelum (kamu). Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang musyrik.” (QS. Ar-Rum: 42)
Dan apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka? Orang-orang itu lebih banyak jumlahnya dari mereka, lebih kuat, dan lebih banyak bekas-bekas peradaban di bumi, tetapi semua yang mereka usahakan itu tidak berguna bagi mereka.” (QS. Ghafir: 21)
Namun uniknya Nabi SAW pernah berhenti di sebuah titik dalam perjalanan yaitu di Madain Shalih daerah al-Ḥijr, tempat itu dahulu pernah dihuni oleh kaum Tsamud umat Nabi Shalih yang Allah turunkan adzab kepada mereka.
Lalu nabi minta mereka segera pindah dan meninggalkan tempat itu. Diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim:
Janganlah kalian memasuki tempat tinggal orang-orang yang telah menzalimi diri mereka sendiri, (jangan sampai) menimpa kalian seperti yang telah menimpa mereka, kecuali jika kalian dalam keadaan menangis.’ Kemudian Nabi menundukkan kepala dan mempercepat langkah (ontanya) hingga melewati lembah itu.”(HR. al-Bukhari, Muslim)
Nabi SAW melarang sahabat berlama-lama di sana, apalagi mengambil air dari sumur mereka, kecuali dalam keadaan menangis dan mengambil pelajaran.
Lantas bagaimana kita mempertemukan dua dalil yang saling bertentangan seperti ini? Apakah mendatangi tempat yang Allah SWT pernah binasakan suatu kaum itu hukumnya haram berdasarkan hadits Bukhari Muslim? Ataukah tetap dianjurkan karena ada tujuh ayat yang memerintahkan?
وَهُوَ خَيْرُ الْفَاصِلِينَ
Kata wahuwa (وَهُوَ) artinya : dan Dia. Maksudnya Allah SWT. Kata khairu (خَيْرُ) artinya : sebaik-baik. Kata al-fashiliin (الْفَاصِلِينَ) artinya : para pemutus perkara.
Kata fashilin (الْفَاصِلِينَ) juga bisa bermakna : pembeda. Nasib umat terdahulu dibedakan dengan umat Nabi Muhammad SAW. Umat terdahulu dibinasakan jika membangkan, sementara umat kita dibiarkan saja hidup tanpa ada pembinasaan.
Kalau dikatakan bahwa Allah SWT itu sebaik-baik pembeda (خَيْرُ الْفَاصِلِينَ), lantas dimana sisi kebaikannya?
Sisi kebaikannya ada banyak. Paling tidak berarti umat Nabi Muhammad SAW ini punya banyak kesempatan untuk bisa terjaring masuk dalam hidayah. Tidak hari ini, bisa besok. Tidak besok, bisa lusanya. Tidak lusa, masih ada hari-hari mendatang.
Bukankah memang demikian proses masuk Islamnya para shahabat di masa lalu. Baru di dua tahun terakhir saja terjadi ledakan besar gelombanng masuk Islam. Ada Al-Abbas bin Abdul Muththaib, ada juga Abu Sufyan bin Al-Harb pemimpin Mekkah, juga ada Amr bin Al-Ash dan Khalid bin Walid.
Begitu Fathhu Mekkah terjadi, nyaris seluruh penduduk Mekkah menyatakan diri masuk Islam. Kemudian banyak kabilah-kabilah arab yang dahulu pernah memerangi Nabi SAW, kemudian mereka datang untuk mengucapkan dua kalimat syahadat.Saat-saat seperti itu kemudian direkam dan diabadikan dalam sebuah surat bernama :Surat Kemenangan alias An-Nashr.
Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.(QS. An-Nashr : 1-3)