Rumah Fiqih Indonesia
Al-Anam 6 : 87
Tafsir Al-Mahfuzh Jilid 14 Juz 7 [6] Al-Anam : 87 (وَمِنْ آبَائِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَإِخْوَانِهِمْ ۖ وَاجْتَبَيْنَاهُمْ وَهَدَيْنَاهُمْ)
[6] AL-ANAM : 87

وَمِنْ آبَائِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَإِخْوَانِهِمْ ۖ وَاجْتَبَيْنَاهُمْ وَهَدَيْنَاهُمْ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Kemenag RI 2019

(Kami lebihkan pula) sebagian dari nenek moyang mereka, keturunan mereka, dan saudara-saudara mereka. Kami telah memilih mereka (menjadi nabi dan rasul) dan Kami memberi mereka petunjuk menuju jalan yang lurus.

Prof. Quraish Shihab

Dan (Kami lebihkan pula derajat) sebagian dari bapak-bapak mereka, keturunan mereka, dan saudara-saudara mereka. Kami telah memilih mereka dan menunjukkan mereka ke jalan yang lurus.

Prof. HAMKA

Dan juga sebagian dari bapak-bapak mereka dan anak cucu mereka dan saudara-saudara mereka dan telah Kami pilih mereka dan telah Kami beri petunjuk mereka kepada jalan yang lurus.

TAFSIR AL-MAHFUZH

Lihat Referensi Kitab →
...

وَمِنْ آبَائِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَإِخْوَانِهِمْ

Kata wa min (وَمِنْ) artinya : dan dari, atau lebih tepatnya sebagian dari, maka ini berarti tidak semua tapi hanya sebagiannya saja. Sebab banyak juga keluarga terdekat dari para nabi itu justru tidak mau beriman.

Kata aabaa-ihim (آبَائِهِمْ) artinya : bapak-bapak mereka. Walaupun kata ini bentuk jamak dari ab (أب) yang berarti banyak, namun maksudnya adalah leluhur, yaitu bapak, kakek, bapaknya kakek dan seterusnya. Kata wa dzurriyyatihim (وَذُرِّيَّاتِهِمْ) artinya : dan keturunan mereka. Berarti anak, cucu, anaknya cucu dan seterusnya ke bawah. Kata wa ikhwaanihim (وَإِخْوَانِهِمْ) artinya : dan saudara-saudara mereka. Kalau ini berarti melebar kesamping.

وَاجْتَبَيْنَاهُمْ وَهَدَيْنَاهُمْ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Kata wajtabainaahum (وَاجْتَبَيْنَاهُمْ) artinya : dan Kami pilih mereka. Kata wa hadainaahum (وَهَدَيْنَاهُمْ) artinya : dan Kami beri petunjuk kepada mereka. Kata ilaa shiraathin mustaqiim (إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ) artinya : ke jalan yang lurus.

Pertanyaan Mendasar

Kalau kita perhatikan ayat-ayat Al-Quran ketika menceritakan kisah para nabi dan rasul terdahulu, terkesan mereka seperti dikuasai hanya oleh satu keturunan saja. Dalam hal ini hanya terpusat kepada Nabi Ibrahim saja. Pertanyaannya, kenapa Allah SWT tidak menyebar para nabi itu di berbagai macam bangsa, suku dan ras umat manusia? Bukankah bumi ini dihuni oleh banyak umat manusia dan tidak hanya di seputaran Timur Tengah saja?

Pertanyaan semacam ini memang cukup  mendasar dan bisa mengusik rasa ingin tahu serta rasa penasaran kita. Apalagi tidak terlalu banyak ulama dan ahli tafsir yang mengulasnya. Maka dalam hal ini Penulis coba mengulasnya, meski belum tentu bisa benar-benar menjawab rasa penasaran dan keingin-tahuan.

Pertama : Allah SWT menegaskan bahwa setiap umat sebenarnya telah didatangkan seorang rasul untuk mereka. Itu jelas dan tegas dalam pernyataan Allah sendiri.

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا

Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul. (QS. An-Nahl  :36)

وَإِن مِّنْ أُمَّةٍ إِلَّا خَلَا فِيهَا نَذِيرٌ

Dan tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan. (QS. Fathir : 24)

Adapun untuk bangsa-bangsa lain, para mufassir seperti Al-Qurthubi dan Ibnu Katsir mengatakan bahwa memang ada rasul-rasul lain yang diutus ke kaumnya, hanya saja Al-Qur’an tidak merinci nama mereka. Allah SWT berfirman :

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِّن قَبْلِكَ مِّنْهُم مَّن قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُم مَّن لَّمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ

Dan sungguh, telah Kami utus rasul-rasul sebelum engkau. Di antara mereka ada yang telah Kami ceritakan kepadamu, dan di antara mereka ada yang tidak Kami ceritakan kepadamu.” (QS. Al-Mukmin : 78)

Ini berarti sebenarnya jumlah nabi sangat banyak dan mereka memang tersebar luas. Tapi Allah memilih hanya menyebutkan beberapa nama saja dalam Al-Qur’an, khususnya yang berhubungan erat dengan umat Islam dan sejarah wahyu terakhir. Nabi SAW pernah bersabda :

النَّبِيُّونَ مِائَةُ أَلْفٍ وَأَرْبَعَةٌ وَعِشْرُونَ أَلْفًا، وَالرُّسُلُ ثَلاثُ مِائَةٍ وَخَمْسَةَ عَشَرَ جَمًّا غَفِيرًا

Para nabi itu berjumlah seratus dua puluh empat ribu orang, sedangkan para rasul berjumlah tiga ratus lima belas orang, jumlah yang besar sekali. (HR. Ahmad).

Maka kesannya seolah-olah kenabian hanya dimonopoli oleh satu keturunan, padahal pada kenyataannya, Allah sudah menyebar para nabi ke berbagai bangsa, hanya kita tidak tahu detail nama dan kisah mereka.

Kedua : secara historis, wilayah para nabi dan rasul sebenarnya bukan wilayah arab untuk ukuran di masa mereka. Negeri tempat dimana para nabi diutus seperti Palestina, Persia dan Mesir, untuk ukuran di masanya justru merupakan pusat peradaban manusia, tempat bertemunya banyak bangsa, sehingga wajar jika Allah menempatkan banyak nabi di sana agar risalah mereka bisa lebih tersebar luas.

Namun kita akui wilayah yang dulu banyak nabi itu di era kenabian Muhammad SAW akhirnya tersiarkan ajaran risalah samawi terakhir, lewat tangan-tangan orang Arab. Sehingga praktis wilayah-wilayah itu bukan hanya terislamkan, tetapi juga ikut ’ter-arab-kan’.  Maka kita di masa sekarang merasa seolah-olah para nabi itu orang arab semua.

Ketiga : Memang benar bahwa ada peradaban besar di luar kawasan Syam, Mesir, Irak, Hijaz, seperti Maya dan Aztek di benua Amerika, peradaban Inca di Andes, peradaban besar di Tiongkok, India, bahkan Nusantara. Kenapa di sejarah Islam kita hampir tidak pernah dengar nama nabi yang lahir di tengah mereka?

Jawabannya bahwa kalau kita menengok jejak sejarah peradaban-peradaban itu, sebenarnya ada indikasi yang menyerupai ajaran kenabian. Misalnya di Tiongkok ada ajaran Konfusius yang mengutamakan akhlak, tata nilai, dan penghormatan kepada langit (Tian) sebagai kekuatan tertinggi. Di India ada tradisi monoteistik kuno yang kemudian bercampur dengan politeisme. Di Amerika Tengah, suku Maya dan Aztek punya mitos tentang satu Tuhan langit yang menciptakan manusia, meski kemudian terdistorsi dengan praktik kurban manusia.

Jadi tidak tertutup kemungkan dan bisa jadi mereka pernah mendapat nabi atau pemberi peringatan, walaupun ajaran itu tidak bertahan murni. Atau boleh jadi mereka memang sudah dibinasakan dan tidak ada lagi sisa-sisa sejarahnya.

Keempat : tidak salah jika terkesan Al-Qur’an lebih banyak menceritakan nabi-nabi yang berada dalam jalur Ibrahim dan keturunannya, karena jalur itulah yang menjadi poros langsung sejarah umat Islam hingga sampai kepada Nabi Muhammad SAW.

Hal itu karena Al-Quran memang diturunkan kepada Nabi SAW dan para shahabat, yang pada saat itu objek dakwah mereka adalah bangsa Arab dan Bani Israil. Kedua objek ini ternyata masih satu keturunan, yaitu di level Nabi Ibrahim alaihissalam.

Jadi kalau terkesan seolah-olah para nabi dan rasul hanya dimonopoli oleh Arab dan Bani Israil saja, tidak terlalu keliru. Sebab biar bagaimana pun juga, faktanya memang Al-Quran turun kepada mereka dan bukan kepada kita. 

🔐 Login Admin