Ayat ke-118 dari surat Al-A'raf ini menggambarkan dampak langsung dari peristiwa besar yang baru saja terjadi, ketika mukjizat Nabi Musa menelan seluruh sihir yang ditampilkan para penyihir. Apa yang sebelumnya tampak sebagai kekuatan besar kini runtuh tanpa sisa, dan kebenaran tampil dengan sangat jelas di hadapan semua yang menyaksikan, termasuk Fir'aun dan para pembesarnya.
Kebenaran akhirnya menjadi nyata dan pasti, sementara segala bentuk kebatilan yang sebelumnya dibangun dengan rapi justru hancur dan lenyap. Tidak ada lagi ruang untuk menutup-nutupi atau memelintir fakta, karena perbedaan antara keduanya telah tampak dengan sangat terang.
Huruf fa (فَ) berarti maka. Kata waqa‘a (وَقَعَ) punya banyak makna, bisa berarti jatuh, terjadi, atau menjadi nyata. Dalam konteks ini maknanya bukan sekadar jatuh secara fisik, tetapi terjadi dengan pasti, menjadi kenyataan yang tidak bisa diingkari. Kata al-haqqu (الْحَقُّ) berarti kebenaran.
Ungkapan ini menunjukkan bahwa kebenaran itu bukan lagi sekadar klaim, tetapi telah tampil sebagai kenyataan yang nyata di hadapan semua orang.
Huruf wa (وَ) berarti dan. Kata bathala (بَطَلَ) juga sebagaimana kata waqa’a, punya beberapa makna. Bisa berarti batal, sia-sia, atau tidak berlaku. Dalam bentuk ini menunjukkan bahwa sesuatu itu menjadi tidak bernilai dan hilang kekuatannya. Kata ma kaanuu ya‘maluun (مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ) berarti apa-apa yang telah mereka perbuat.
Dalam terjemahan Kemenag RI digunakan ungkapan “terbuktilah kebenaran dan sia-sialah segala yang mereka kerjakan”, Quraish Shihab menekankan dengan “nyatalah yang haq dan batallah”, sedangkan HAMKA menggunakan “tetaplah yang benar dan batallah”. Perbedaan ini menunjukkan nuansa bahwa kebenaran itu menjadi tampak dan kokoh, sementara kebatilan runtuh dan kehilangan nilainya.
Awalnya mereka ingin menjatuhkan argumentasi kenabian Musa lewat “pertunjukan langsung” yang dirancang sangat matang, melibatkan banyak penyihir, efek visual yang memukau, serta tekanan psikologis kepada massa. Seolah-olah mereka ingin mengatakan: “Inilah kemampuan kami, jika Musa benar, maka hadapi ini.”
Namun justru di titik itulah Allah membalik keadaan secara total. Ketika mukjizat Nabi Musa tampil, seluruh konstruksi sihir yang mereka bangun runtuh seketika. Namun semua yang mereka lakukan, yang sebelumnya tampak hebat, besar, dan menakutkan, tiba-tiba menjadi batal, kosong, dan tidak memiliki nilai apa pun.
Para mufassir menjelaskan bahwa kata bathala di sini bukan sekadar kalah, tetapi lebih dalam dari itu: hilangnya pengaruh, runtuhnya legitimasi, dan lenyapnya daya tipu. Apa yang tadinya memukau berubah menjadi tidak berarti. Apa yang tadinya menakutkan berubah menjadi sesuatu yang tidak punya kekuatan sama sekali.