Ayat ke-119 dari surat Al-A'raf ini menggambarkan konsekuensi langsung dari runtuhnya seluruh sihir di hadapan mukjizat Nabi Musa. Setelah kebenaran tampak begitu jelas dan kebatilan lenyap tanpa sisa, maka posisi Fir'aun dan seluruh kekuatan yang ia bangun pun jatuh dalam keadaan yang sangat memalukan.
Di hadapan publik yang sebelumnya dikumpulkan untuk menyaksikan kemenangan para penyihir, justru yang terjadi adalah kekalahan total di pihak mereka. Fir‘aun, yang sejak awal ingin mempertahankan wibawa dan kekuasaannya, kini harus menyaksikan sendiri bagaimana rencananya berbalik menjadi kehancuran citra. Para penyihir yang diharapkan menjadi alat legitimasi justru gagal total, bahkan membuka jalan bagi pengakuan yang tidak ia kehendaki.
Kekalahan ini bukan sekadar kalah dalam sebuah pertunjukan, tetapi kekalahan moral dan politik. Wibawa Fir‘aun sebagai penguasa mulai retak di hadapan rakyatnya, karena apa yang ia bangun dengan strategi dan kekuatan ternyata tidak mampu menandingi satu mukjizat yang datang dari Allah.
Huruf fa (فَ) berarti maka, kata ghulibuu (غُلِبُوا) berarti dikalahkan. Dalam bentuk ini menunjukkan fi’il majhul (pasif), sehingga maknanya: mereka telah dikalahkan. Tidak disebutkan pelakunya secara langsung, tetapi jelas bahwa kekalahan itu terjadi karena kekuatan yang lebih besar.
Kata hunaalika (هُنَالِكَ) berarti di sana atau di tempat itu. Kata ini menunjukkan lokasi kejadian, yaitu di hadapan publik, di arena tempat peristiwa itu berlangsung. Ungkapan ini menegaskan bahwa kekalahan itu terjadi secara nyata dan terbuka, tidak tersembunyi, tetapi disaksikan oleh banyak orang.
Huruf wa (وَ) berarti dan. Kata inqalabuu (انْقَلَبُوا) berarti berbalik atau berubah. Dalam bentuk ini menunjukkan perubahan keadaan yang drastis, dari satu kondisi ke kondisi lain. Kata saaghiriin (صَاغِرِينَ) berarti kecil, hina, atau rendah.
Ungkapan ini menggambarkan bahwa mereka tidak hanya kalah, tetapi juga mengalami perubahan status secara total: dari posisi yang sebelumnya penuh percaya diri dan didukung kekuasaan, menjadi orang-orang yang hina dan kehilangan wibawa di hadapan publik.
Dalam terjemahan Kemenag RI digunakan ungkapan “jadilah mereka orang-orang yang hina”, Quraish Shihab menambahkan nuansa “berbaliklah mereka menjadi orang-orang yang hina”, sedangkan HAMKA menggunakan kata “menjadi kecil”.
Ibnu Katsir dalam tafsir Al-Quran Al-‘Azhim mengutip Muhammad bin Ishaq bahwa Firaun menyusun lima belas ribu penyihir, masing-masing penyihir membawa tali-tali dan tongkatnya. Dalam kitab-kitab tafsir, jumlah penyihir yang dihadirkan oleh Firaun memang tidak satu versi. Para mufassir menyebutkan beberapa riwayat yang berbeda-beda, dan ini menunjukkan bahwa angka tersebut bukan sesuatu yang pasti (tidak qath‘i), melainkan bersifat riwayat sejarah (atsar) yang beragam.
Di antaranya disebutkan riwayat yang sangat besar jumlahnya, sebagaimana disebut oleh Muhammad bin Ishaq, yaitu sekitar 15.000 penyihir. Namun masih dalam tafsir Ibn Katsir, juga disebutkan beberapa versi lain. Ada yang mengatakan 12.000 penyihir. Ada pula yang mengatakan 17.000 penyihir. Bahkan ada riwayat yang menyebut 19.000 penyihir.
Sebagian riwayat lain yang lebih kecil jumlahnya juga disebut dalam kitab-kitab tafsir, yaitu sekitar 70 penyihir. Ini termasuk riwayat yang cukup masyhur dalam sebagian penjelasan ayat. Namun ada pula yang menyebut 72 orang. Bahkan ada yang mengatakan hanya beberapa puluh orang saja, bukan ribuan
Dalam tafsir Al-Qurtubi dan Al-Tabari, biasanya riwayat-riwayat ini dikumpulkan tanpa memastikan satu angka tertentu sebagai yang paling benar. Kesimpulannya, para ulama tafsir tidak menetapkan satu angka pasti tentang jumlah penyihir Firaun. Yang penting dalam kisah ini bukan jumlahnya, tetapi mereka sangat banyak menunjukkan kekuatan propaganda Firaun.
Yang paling penting mereka adalah ahli sihir terbaik pada zamannya, namun tetap kalah telak di hadapan mukjizat Nabi Musa ‘alaihis salam.