Kemenag RI 2019:Para penyihir itu tersungkur dalam keadaan sujud. ) Prof. Quraish Shihab:Dan para penyihir itu disungkurkan (oleh rasa takut kepada Allah swt. dan oleh rasa kagum pada mukjizat Nabi Musa as.) dalam keadaan bersujud (kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai tanda syukur dan juga tanda berlepas diri dari kekufuran dan kepatuhan kepada Firaun). Prof. HAMKA:Dan, tunduklah ahli-ahli sihir itu bersujud.
Ayat ke-120 dari surat Al-A'raf ini menggambarkan puncak dari seluruh rangkaian peristiwa yang terjadi di hadapan Fir'aun. Setelah para penyihir menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana mukjizat Nabi Musa menelan seluruh sihir mereka, maka tersingkaplah bagi mereka hakikat yang sebenarnya.
Di titik ini, para penyihir yang sebelumnya datang dengan motivasi imbalan dan kedudukan justru mengalami perubahan yang sangat drastis. Mereka yang paling memahami seluk-beluk sihir menjadi orang pertama yang menyadari bahwa apa yang ditampilkan Musa bukanlah sihir. Karena itulah, tanpa ragu dan tanpa menunda, mereka langsung tersungkur bersujud.
وَأُلْقِيَ السَّحَرَةُ
Huruf wa (وَ) berarti dan. Kata ulqiya (أُلْقِيَ) berarti dilemparkan atau dijatuhkan. Bentuk pasif ini memberi kesan bahwa peristiwa itu terjadi seakan-akan di luar kendali mereka sendiri, seperti dorongan kuat yang membuat mereka tidak bisa menahan diri. Kata as-saharatu (السَّحَرَةُ) berarti para penyihir.
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ketika mereka melihat tongkat Musa benar-benar menelan seluruh sihir mereka, mereka langsung menyadari, dengan keahlian mereka sendiri sebagai ahli sihir, bahwa ini bukan sihir. Tidak mungkin sihir mengalahkan sihir seperti itu. Maka kesadaran itu menghantam mereka secara langsung, tanpa proses panjang.
Bentuk pasif ulqiya juga dipahami oleh para mufassir sebagai isyarat bahwa adanya dorongan ilahi alias taufiq dari Allah yang membuat hati mereka tersungkur.
Fakhruddin ar-Razi menekankan bahwa iman yang datang pada mereka bukan hasil diskusi atau perenungan lama, tetapi buah dari menyaksikan kebenaran secara langsung, yang begitu kuat hingga mereka tidak mampu menahannya.
سَاجِدِينَ
Kata saajidiin (سَاجِدِينَ) berasal dari akar kata (س ج د) yang berarti sujud. Dalam bentuk ini menunjukkan keadaan mereka, yaitu dalam kondisi bersujud.
Sujud adalah bentuk ketundukan paling tinggi, yang menunjukkan pengakuan, kepasrahan, dan penghormatan sepenuhnya. Dalam konteks ini, sujud tersebut bukan kepada Fir'aun, tetapi kepada Allah sebagai pengakuan atas kebenaran yang baru saja mereka saksikan.
Ungkapan ini menggambarkan bahwa perubahan yang terjadi bukan sekadar kalah, tetapi berbalik menjadi tunduk kepada kebenaran. Mereka yang sebelumnya menjadi alat kekuasaan kini berubah menjadi orang yang berserah diri kepada Allah.
Dalam terjemahan Kemenag RI digunakan ungkapan “tersungkur dalam keadaan sujud”, Quraish Shihab menambahkan penjelasan bahwa hal itu terjadi karena rasa takut dan kagum, sedangkan HAMKA menyebut “tunduklah ahli-ahli sihir itu bersujud”.