Kemenag RI 2019:Mereka berkata, “Kami beriman kepada Tuhan semesta alam, Prof. Quraish Shihab:Mereka (para penyihir) berkata: “Kami telah beriman kepada Tuhan Pemelihara seluruh alam, Prof. HAMKA:Mereka katakan, “Kami telah percaya kepada Tuhan Pemelihara sekalian alam.
Ayat ke-121 dari surat Al-A’raf ini melanjutkan kisah para penyihir Firaun yang telah mendapatkan hidayah. Setelah melihat langsung mukjizat Musa dimana tongkatnya bisa berubah jadi ular besar dan menelan semua bentuk sihir yang mereka lakukan, maka langkah mereka pun berbalik 180 derajat. Dari yang tadinya membela Fir’aun lewat berbagai atraksi sihir, kini berubah menyeberang ke pihak Musa.
Jika di ayat sebelumnya disebutkan mereka bersujud kepada Musa sebagai tanda menyerah, maka di ayat ini diceritakan ucapan keimanan mereka, yaitu : “Kami beriman kepada Tuhan semesta alam”.
قَالُوا آمَنَّا
Kata qaalu (قَالُوا) artinya : mereka berkata, maksudnya para penyihir yang sudah sadar bahwa kekuatan sihir mereka itu sama sekali tidak ada apa-apanya di hadapan Nabi Musa ’alaihissalam yang punya kekuatan mukijzat.
Kata aamanna (آمَنَّا) artinya : Kami beriman. Memang iman itu punya arti secara harfiyahnya percaya, namun maksudnya bukan sekedar percaya dalam arti mengakui keberadaan Tuhan, tetapi tuhan yang mana dulu.
Sebab pengertian iman itu bukan sekedar seseorang mengakui adanya tuhan. Iman itu bukan sekedar bertuhan, justru di dunia ini sepanjang sejarah perjalanan umat manusia, tidak pernah sekalipun ditemukan ada peradaban yang tidak bertuhan.
Semua manusia pada dasarnya punya insting dan naluri untuk bertuhan, maka bisa dikatakan bahwa semua peradaban manusia itu pasti beriman dan mengakui keberadaan Tuhan. Memang sejarah mencatat bahwa sebagian manusia ada yang punya paham atheisme, tapi sifatnya hanya di level pemikiran tokoh tertentu saja. Masyarakatnya sendiri tetap meyakini keberadaan Tuhan.
Sekilas Atheisme
Paham atheisme lahir dengan jejak sejarah panjang pemikiran di kalangan ilmuwan yang sejak awal selalu berberangan dengan kalangan agamawan, khususnya di Eropa. Jejak awalnya dapat dilihat pada pemikiran Democritus, Epicurus dan Lucretius, lalu era pencerahan di Eropa, muncul tokoh-tokoh seperti Denis Diderot, Paul-Henri Thiry d'Holbach. Pada abad ke-19 muncul Ludwig Feuerbach, Karl Marx, Friedrich Nietzsche.
Lalu pada masa berikutnya, ketika kemajuan sains modern dijadikan landasan untuk menjelaskan alam tanpa merujuk kepada Tuhan, kita mengenal tokoh-tokoh seperti Richard Dawkins dan Stephen Hawking.
Atheisme bukanlah ajaran yang muncul tiba-tiba, melainkan hasil akumulasi panjang dari keraguan filosofis, kritik terhadap agama, serta perkembangan ilmu pengetahuan yang secara bertahap membentuk cara pandang manusia yang menafikan keberadaan Tuhan.
Namun yang perlu dicatat bahwa paham anti tuhan ini hanya ada di benak para ilmuwan, yang mana dalam sejarahnya, mereka memang selalu jadi korban penindasan kaum agamawan di Eropa sana. Katakanlah ada 'permusuhan' sengit antara kaum agamawan dengan konsep ketuhananya melawan kaum ilmuwan yang ingin berontak dari kungkungan kaum agamawan, lewat pemahaman ekstrim bahwa tuhan itu tidak ada.
Sedangkan di kalangan rakyat dan masyarakat awam, tidak pernah sampai terjadi mereka tidak bertuhan sama sekali. Hampir tidak pernah kita dapati satu komunitas yang benar-benar hidup tanpa konsep ketuhanan.
Memang sejarah dunia mencatat bahwa gagasan anti-Tuhan yang sebelumnya banyak beredar di ruang-ruang pemikiran, pernah menemukan bentuk paling nyata ketika masuk ke dalam kekuasaan politik, terutama melalui Revolusi Bolshevik 1917 yang dipimpin oleh Vladimir Lenin. Negara komunis mengambil posisi aktif untuk menyingkirkan agama dari ruang publik.
Di bawah pemerintahan Joseph Stalin, kebijakan ini semakin keras. Masjid, gereja, dan tempat ibadah lainnya ditutup atau dialihfungsikan, para pemuka agama dibatasi bahkan ditindas, dan pendidikan negara diarahkan untuk menanamkan pandangan materialisme yang menolak keberadaan Tuhan. Negara secara sistematis berusaha membentuk masyarakat yang tidak hanya hidup tanpa agama, tetapi juga memandang agama sebagai sesuatu yang harus ditinggalkan.
Gelombang serupa juga terjadi di Republik Rakyat Tiongkok setelah kemenangan Mao Zedong. Dalam masa Revolusi Kebudayaan, segala bentuk kepercayaan tradisional dan agama dianggap sebagai sisa-sisa masa lalu yang harus dihancurkan. Tempat-tempat ibadah dirusak, simbol-simbol keagamaan dihapus, dan masyarakat didorong untuk mengganti keyakinan kepada Tuhan dengan loyalitas penuh kepada ideologi dan negara.
Namun perkembangan zaman menunjukkan perubahan yang cukup mencolok. Negara-negara yang dahulu dikenal sangat keras memerangi agama, kini tidak lagi menempuh pendekatan konfrontatif seperti pada masa awal kekuasaan mereka. Di Uni Soviet misalnya, kebijakan anti-agama yang ketat itu pada akhirnya runtuh seiring berakhirnya negara tersebut pada tahun 1991, dan masyarakatnya kembali mengekspresikan kehidupan beragama secara terbuka.
Adapun di Republik Rakyat Tiongkok, meskipun negara tetap berlandaskan ideologi komunis, pendekatannya terhadap agama tidak lagi bersifat penghancuran total sebagaimana pada masa Mao Zedong. Praktik keagamaan masih diizinkan dalam batas-batas tertentu yang diatur oleh negara, dan tempat-tempat ibadah kembali berfungsi, meski tetap berada dalam pengawasan.
بِرَبِّ الْعَالَمِينَ
Ungkapan rabbil-‘alamin (رَبِّ الْعَالَمِينَ) ternyata diterjemahkan secara berbeda-beda. Team penerjemah Kemenag RI memilih terjemahan : ”Tuhan semesta alam”. Adapun Quraish Shihab dan HAMKA memilih terjemahan : ”Tuhan Pemelihara seluruh alam”. Sedikit beda dengan HAMKA menggunakan sekalian bukan seluruh. Namun semuanya sama-sama menerjemahkan kata al-’alamin (الْعَالَمِينَ) menjadi : alam.
Padahal dalam bahasa Indonesia, kata ’alam’ itu punya konotasinya sendiri, yaitu sesuatu yang identik dengan gunung, hutan, laut, langit, dan seluruh lingkungan fisik yang mengitari kehidupan manusia. Ketika orang mendengar “alam”, yang terbayang biasanya adalah dunia yang tampak, yang bisa dilihat dan disentuh.
Maka ketika rabbul-’alamin diterjemahkan menjadi “Tuhan pemelihara semesta alam”, secara tidak sadar maknanya bisa terasa menyempit, seakan-akan Allah hanya dipahami sebagai Tuhan mengatur pergerakan alam semesta.
Kalau alam dalam arti nature dalam bahasa Arab memang ada istilahnya tersendiri, yaitu thabi‘ah (طبيعة). Kata ini menunjuk kepada dunia fisik, hukum-hukum alam, fenomena yang berjalan secara tetap, seperti angin yang berhembus, air yang mengalir, tumbuhan yang tumbuh, dan seluruh keteraturan yang bisa diamati oleh manusia.
Jadi kalau yang dimaksud adalah Tuhan semesta alam dalam pengertian lingkungan atau nature, maka seharusnya sebutannya adalah rabb ath-thabiaat (رب الطبيعات).
Di sinilah letak tantangan penerjemahan. Kita yang belajar bahasa Arab sampai ke level dzauq alias taste, bisa merasakan bahwa kata al-‘alamin (الْعَالَمِينَ) bukan alam sekitar, melainkan berbagai peradaban umat manusia. Penjelasannya begini :
Sejak awal sejarahnya, manusia tidak pernah benar-benar hidup dalam kehampaan spiritual. Di sudut mana pun peradaban tumbuh, dari yang paling sederhana hingga yang paling maju, selalu ada kesadaran bahwa di balik kehidupan ini ada sesuatu yang lebih tinggi, lebih agung, lebih berkuasa. Manusia merasakan kehadiran itu, meski sering kali tidak mampu merumuskannya dengan tepat. Maka lahirlah beragam bentuk penyembahan, beragam nama, beragam simbol, dan beragam “tuhan” sesuai dengan imajinasi dan pengalaman masing-masing.
Namun di titik inilah persoalannya bermula. Bukan karena manusia tidak mengenal Tuhan, tetapi karena mereka mengenalnya dengan cara yang berbeda-beda, bahkan saling bertentangan. Setiap kelompok merasa memiliki “Tuhan”-nya sendiri, seakan-akan Tuhan itu terikat oleh batas-batas suku, wilayah, atau peradaban.
Yang satu menyembah dewa langit, yang lain mengagungkan kekuatan alam, yang lain lagi mengultuskan manusia atau makhluk tertentu. Jumlahnya menjadi tak terhitung, bukan karena Tuhan itu banyak, tetapi karena konsep manusia tentang Tuhan yang terpecah-pecah.
Di tengah keragaman yang membingungkan itulah para nabi dan rasul diutus. Mereka tidak datang untuk memperkenalkan Tuhan yang baru, seolah-olah sebelumnya manusia tidak punya Tuhan. Mereka justru datang untuk meluruskan sesuatu yang sudah ada dalam kesadaran manusia, tetapi telah menyimpang arah.
Seruan mereka sederhana namun mengguncang: sembahlah Allah, tidak ada Tuhan selain Dia. Kalimat ini bukan sekadar ajakan, tetapi juga koreksi besar terhadap seluruh cara pandang manusia tentang ketuhanan.
Ketika seorang nabi berbicara, ia memang sering menjadi pintu pertama bagi manusia untuk mengenal Tuhan. Maka tidak aneh jika pada tahap awal, orang menyebut “Tuhan Musa” atau “Tuhan Ibrahim”. Itu adalah bahasa pengalaman, bahasa perkenalan. Namun para nabi tidak berhenti di situ. Mereka membawa manusia melangkah lebih jauh, dari pengenalan yang sempit menuju pemahaman yang luas. Dari Tuhan yang seakan-akan milik seseorang atau suatu kaum, menuju Tuhan yang meliputi segala sesuatu.
Di sinilah konsep rabbul ‘alamin mengambil tempatnya. Bukan sekadar istilah, tetapi sebuah lompatan cara pandang. Tuhan tidak lagi dipahami sebagai milik satu kelompok, tetapi sebagai Tuhan seluruh alam, seluruh makhluk, seluruh realitas yang ada. Dia bukan hanya Tuhan bagi satu bangsa, tetapi Tuhan bagi semua bangsa. Bukan hanya bagi manusia, tetapi bagi segala yang diciptakan. Bahkan melampaui apa yang bisa dijangkau oleh pengetahuan manusia itu sendiri.