Ayat ke-122 ini hanya sepenggal saja, bagian dari kalimat panjang yang awalnya terdapat pada ayat sebelumnya. Sehingga ayat ini dan ayat sebelumnya sebenarnya satu kalimat yan dipecah dua dengan koma.
Ketika di ayat sebelumnya para penyihir Fir’aun berbalik arah jadi beriman kepada Tuhan semesta alam, mereka menambahkan penjelasan biar lebih lengkap di ayat ini, yaitu : tuhannya Musa dan Harun
Kata rabbi Musa (رَبِّ مُوسَىٰ) artinya : tuhannya Musa. Sedangkan kata wa harun (وَهَارُونَ) maksudnya : yang juga merupakan tuhan Nabi Harun. Tentu yang dimaksud tidak lain adalah Allah SWT.
Namun menarik juga kita bahas kenapa para penyihir itu menyebut istilah ’tuhannya Musa dan Harun’? Kenapa tidak langsung menyebut Allah SWT saja secara langsung?
Boleh jadi penekanannya untuk mempertentangkan dengan konsep tuhan yang diajarkan oleh Fir’aun. Selama ini rupanya Fir’aun bukan hanya mengurusi urusan kenegaraan, tetapi juga menggiring rakyatnya untuk punya paham tersendiri dalam urusan ketuhanan.
Ats-Tsa’alibi dalam tafsir Al-Kasyfu wa Al-Bayan ‘an Tafsir Al-Quran[1] meriwayatkan bahwa konsep ketuhanan yang diajarkan Fir‘aun adalah menyembah berbagai tuhan alias politeisme. Tuhannya banyak dan macam-macam, berupa sapi, berhala, dan selain itu ada berbagai macam dewa bangsa Mesir.
Namun begitu Fir‘aun menetapkan dirinya adalah tuhan yang paling tinggi. Hal itu diceritakan Al-Quran, yaitu ketika Fir’aun memutuskan :
أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلى
“Aku adalah Tuhan kalian yang paling tinggi” (QS. An-Nazi‘at: 24)
Maka ucapan para penyihir secara ekspilisit menyebut ’Tuhannya Musa dan Harun’ menyiratkan penentangan secara teologis, bahwa mereka tidak mau lagi pakai konsep ketuhanan versi Fir’aun, berpindah menyeberang ke konsep ketuhanan yang diajarkan oleh Musa dan Harun.
Pindahnya keyakinan para penyihir ke konsep ketuhanan yang diajarkan Nabi Musa dan Harun memang sudah disepakati sebelumnya. Al-Baghawi dalam tafsir mengutip riwayat dari Muqatil, bahwa saat itu Nabi Musa berkata kepada pemimpin para penyihir, “Apakah engkau akan beriman kepadaku jika aku mengalahkanmu?”
Dia menjawab, “Sungguh aku akan mendatangkan sihir yang tidak akan dapat dikalahkan oleh sihir apa pun. Dan jika engkau mengalahkanku, pasti aku akan beriman kepadamu,”.
Disebutkan bahwa Fir‘aun pun ikut menyaksikan kesepakatan itu. Namun dengan sepenuh keyakinan Fir’aun tidak khawatir dengan itu. Dalam keyakinannya, Musa dan Harun pastilah akan kalah telak. Hal itu mengingat bahwa Fir’aun sudah mengerahkan seluruh kekuatan sihir negeri Mesir yang terkenal di seluruh dunia.
Secara logika di atas kertas, Musa dan Harun bisa dikalahkan dalam hitungan menit.