Ayat ke-125 ini mengungkapkan sikap pasrah dari para ahli sihir yang diancam dengan hukuman mati oleh Fir’aun. Mana mungkin bagi mereka melawan, juga tidak ada celah untuk melarikan diri. Yang ada mereka hanya bisa pasrah saja dengan mengucapkan bahwa pada akhirnya juga aka kembali kepada Allah Sang Pencipta.
Ayat ini menyisakan kesan kuat bahwa iman mereka sampai ke titik mantab dalam keyakinan dan tidak goyah dengan tawaran harta dan pangkat, juga tidak mempan ketika diancam dengan kematian.
Kata qaaluu (قَالُوا) artinya adalah: mereka berkata. Kata innaa (إِنَّا) artinya adalah: sesungguhnya kami. Kata ilaa rabbinaa (إِلَىٰ رَبِّنَا) artinya adalah: kepada Tuhan kami. Kata munqalibuun (مُنْقَلِبُونَ) artinya adalah: orang-orang yang akan kembali.
Ucapan ini keluar dari para penyihir yang sebelumnya berada di pihak Fir’aun, lalu berubah total setelah melihat kebenaran. Ancaman yang sangat kejam dari Fir’aun tidak membuat mereka mundur, justru melahirkan jawaban yang tenang dan penuh keyakinan.
Kalimat “sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami” bukan sekadar pernyataan biasa, tapi bentuk keteguhan hati. Mereka seakan berkata: apa pun yang akan kamu lakukan kepada kami, pada akhirnya kami semua akan kembali kepada Allah. Jadi ancamanmu hanya menyentuh dunia, sementara tujuan kami sudah berpindah ke akhirat.
Di sini terlihat perubahan yang sangat dalam. Orang-orang yang sebelumnya bermain dengan sihir dan tipu daya, tiba-tiba berbicara dengan bahasa iman yang sangat jernih. Tidak ada lagi rasa takut kepada kekuasaan manusia, karena mereka sudah melihat sesuatu yang lebih besar dari itu.
Kalimat ini juga mengandung sikap pasrah, tapi bukan pasrah yang lemah. Ini adalah pasrah yang lahir dari keyakinan. Mereka tidak melawan dengan kekerasan, tidak membantah panjang lebar, tapi cukup dengan satu kalimat yang menunjukkan bahwa hidup dan mati mereka sudah mereka serahkan kepada Allah.
Dengan jawaban singkat ini, ancaman Fir’aun seakan kehilangan maknanya. Karena bagi orang yang sudah siap kembali kepada Tuhannya, ancaman dunia tidak lagi punya kekuatan.