Kemenag RI 2019:Engkau (Fir‘aun) tidak menghukum kami, kecuali karena kami beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami.” (Mereka berdoa,) “Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan matikanlah kami dalam keadaan muslim (berserah diri kepada-Mu).” Prof. Quraish Shihab:Dan engkau tidak membenci kami, melainkan (karena) kami telah beriman kepada ayat-ayat Tuhan Pemelihara kami ketika (ayat-ayat itu) datang kepada kami. Tuhan Pemelihara kami, curahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan Muslim (tunduk patuh dan berserah diri kepada Allah swt.).” Prof. HAMKA:Dan, tidaklah engkau mendendam kepada kami melainkan karena kami telah percaya kepada ayat-ayat Tuhan kami setelah dia datang kepada kami. Ya Tuhan kami, lapangkanlah kami dalam keadaan sabar dan wafatkanlah kami di dalam Islam!
Ayat ke-126 dari surat Al-A'raf ini menjelaskan respons para pengikut Nabi Musa terhadap ancaman Firaun. Jika pada ayat-ayat sebelumnya disebutkan tentang Firaun yang mengancam untuk menghukum Nabi Musa dan pengikutnya, maka pada ayat ini, mereka menyatakan bahwa mereka tidak takut karena iman mereka lebih kuat dari semua ancaman itu.
Mereka mengharapkan agar Tuhan memberi mereka kesabaran dan melakukan akhir yang baik dalam keadaan Islam.
وَمَا تَنْقِمُ مِنَّا
Huruf wa (و) artinya adalah: dan. Kata ma (مَا) artinya adalah: tidak. Kata tanqimu (تَنْقِمُ) diterjemahkan oleh Kemenag RI menjadi : menghukum, sementara Quraish Shihab berbeda lagi jadi : membenci. Sedangkan terjemahan HAMKA lain lagi yaitu mendendam. Kata minna (مِنَّا) artinya adalah: dari kami.
Kata tanqimu (تَنْقِمُ) ini asalnya dari akar kata (ن ق م) yang pada dasarnya menunjukkan makna adanya rasa tidak suka yang kuat terhadap sesuatu, yang kemudian melahirkan sikap mencela, menyalahkan, bahkan bisa berkembang menjadi keinginan untuk memberikan balasan.
Dalam bentuk fi’ilnya, kata tanqimu (تَنْقِمُ ) berarti “kamu mencela” atau “kamu mencari-cari kesalahan”. Namun celaan di sini bukan sekadar komentar biasa, melainkan celaan yang lahir dari kebencian yang dalam. Seolah-olah seseorang tidak menemukan kesalahan yang nyata, tetapi tetap ingin menyalahkan dan memusuhi.
Makna ini menjadi sangat jelas ketika kita bandingkan dengan ayat lain yang menggunakan akar kata yang sama, yaitu firman Allah:
“Dan mereka tidak mencela (kaum mukmin itu), kecuali karena mereka beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.”
(QS. Al-Buruj: 8)
Pada ayat ini, kata naqamuنَقَمُوا menunjukkan bahwa orang-orang kafir sebenarnya tidak memiliki kesalahan yang nyata dari kaum beriman. Satu-satunya “kesalahan” hanyalah iman itu sendiri. Ini menegaskan bahwa kata dari akar (ن ق م) sering digunakan ketika celaan itu tidak berdasar, melainkan lahir dari kebencian terhadap kebenaran.
Dari akar yang sama, muncul pula bentuk yang lebih kuat, yaitu الانتقام (pembalasan), seperti dalam firman Allah:
إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ
“Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi mempunyai pembalasan.”
(QS. Ali Imran: 4)
Di sini maknanya telah berkembang dari sekadar rasa tidak suka menjadi tindakan balasan yang nyata. Namun ketika disandarkan kepada Allah, makna “pembalasan” ini bukanlah luapan emosi, melainkan bentuk keadilan yang sempurna terhadap orang-orang yang berbuat dosa.
Dengan demikian, akar kata (ن ق م) menggambarkan satu rangkaian makna yang saling terhubung: bermula dari rasa tidak suka yang mendalam, lalu berubah menjadi celaan dan permusuhan, dan pada tingkat tertentu berujung pada pembalasan. Dalam konteks ayat وَمَا تَنْقِمُ مِنَّا, maknanya bukan sekadar “tidak suka”, tetapi lebih dalam dari itu, yaitu sikap memusuhi dan menyalahkan tanpa alasan yang benar, kecuali karena keimanan kepada Allah.
إِلَّا أَنْ آمَنَّا بِآيَاتِ رَبِّنَا
Kata illa (إِلَّا) artinya adalah: kecuali. Huruf an (أَنْ) artinya adalah: bahwa. Kata amanna (آمَنَّا) artinya adalah: kami beriman.
Penggalan ini tidak bisa dipahami secara utuh kecuali dikaitkan dengan kalimat sebelumnya yaitu (وَمَا تَنْقِمُ مِنَّا) : dan tidaklah kamu mencela kami, sehingga keseluruhan ungkapannya menjadi satu kesatuan makna:
Dan tidaklah kamu mencela kami, kecuali karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami.
Ungkapan ini diucapkan oleh para penyihir Fir’aun yang telah beriman kepada Nabi Musa setelah mereka melihat langsung kebenaran mukjizat yang ditunjukkan. Sebelumnya mereka datang sebagai penentang, namun setelah kebenaran itu tampak jelas, hati mereka justru tunduk dan menerima iman.
Ketika Fir’aun murka dan mengancam mereka dengan hukuman berat yaitu dipotong tangan dan kaki secara bersilang serta disalib, mereka menjawab dengan kalimat ini. Di sinilah tampak kekuatan makna dari penggalan (إِلَّا أَنْ آمَنَّا). Mereka seakan mengatakan: tidak ada kesalahan apa pun yang bisa dituduhkan kepada kami. Satu-satunya “alasan” yang ada hanyalah karena kami beriman.
Huruf illa (إِلَّا) di sini berfungsi sebagai pembatas (hashr), yaitu menegaskan bahwa tidak ada sebab lain sama sekali. Seolah-olah semua kemungkinan kesalahan ditolak, lalu yang tersisa hanya satu hal: iman itu sendiri. Ini bukan pengakuan dosa, tetapi justru bentuk pembelaan yang kuat—bahwa keimanan dijadikan alasan untuk memusuhi mereka.
Kata bi (بِ) artinya adalah: dengan. Kata ayatina (آيَاتِ) artinya adalah: ayat-ayat kami. Kata rabbina (رَبِّنَا) artinya adalah: Tuhan kami.
Yang dimaksud di sini bukan sekadar ayat yang dibaca, tetapi tanda-tanda kebenaran yang mereka saksikan langsung melalui mukjizat Nabi Musa. Mereka menyandarkan ayat-ayat itu kepada Tuhan kami, sebagai bentuk pengakuan bahwa mereka telah berpindah loyalitas: dari tunduk kepada Fir’aun menjadi tunduk kepada Allah.
Dengan demikian, penggalan ini menggambarkan satu sikap iman yang sangat kuat: ketika seseorang tidak lagi melihat ancaman sebagai sesuatu yang menggoyahkan, bahkan justru menjadikannya sebagai kesempatan untuk menegaskan bahwa satu-satunya “kesalahan” mereka hanyalah beriman kepada Allah. Ini adalah puncak keteguhan hati, di mana iman tidak hanya diyakini, tetapi juga siap dipertahankan dengan segala risiko.
لَمَّا جَاءَتْنَا
Kata lamma (لَمَّا) artinya adalah: ketika. Kata ja'atna (جَاءَتْنَا) artinya adalah: datang kepada kami.
Yang datang itu maksudnya ayat-ayat dari Tuhan kami (آيَاتِ رَبِّنَا) yaitu mukjizat Nabi Musa ketika melempar tongkatnya yang berubah menjadi ular besar, lalu menelan semua tali dan tongkat para penyihir. Para penyihir yang ahli di bidang itu langsung tahu bahwa ini bukan sihir biasa, melainkan sesuatu yang berasal dari kekuasaan Allah. Mereka seakan berkata kepada Fir’aun,
“Kami ini tidak punya kesalahan apa-apa. Satu-satunya yang membuatmu marah kepada kami hanyalah karena kami beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami, ketika ayat-ayat itu benar-benar datang dan kami saksikan sendiri.”
رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا
Kata rabbana (رَبَّنَا) artinya adalah: ya Tuhan kami. Kata afrigh (أَفْرِغْ) artinya adalah: limpahkanlah. Kata alayna (عَلَيْنَا) artinya adalah: kepada kami. Kata shabran (صَبْرًا) artinya adalah: kesabaran.
Kata afrigh (أَفْرِغْ) berasal dari akar kata (ف ر غ) yang pada asalnya bermakna mengosongkan atau menuangkan sesuatu sampai habis dari satu wadah ke wadah lain.
Bayangkan seseorang menuangkan air dari kendi ke dalam sebuah wadah. Kalau hanya memberi, mungkin cukup setetes atau sedikit. Tapi kalau afrigh, itu seperti air yang dituang sampai mengalir memenuhi, bahkan melimpah.
Perumpamaan lain, seperti hujan lebat yang turun dari langit. Bukan gerimis tipis, tapi hujan deras yang menyirami seluruh permukaan tanah tanpa tersisa. Itulah nuansa ifragh (إفراغ) dalam kata ini.
Maka ketika mereka berdoa: “Rabbana afrigh ‘alaina shabran”, itu bukan sekadar “Ya Allah beri kami kesabaran”, tetapi lebih dalam “Ya Allah, tuangkan kepada kami ketabahan secara penuh, deras, dan menyelimuti kami seluruhnya.”
Seakan-akan hati mereka ini kosong atau tidak cukup kuat, lalu mereka meminta agar Allah mengisi dan membanjiri hati mereka dengan ketabahan, sampai tidak ada ruang lagi untuk rasa takut, goyah, atau lemah.
وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ
Kata wa (وَ) artinya adalah: dan. Kata tawaffana (تَوَفَّنَا) artinya adalah: wafatkanlah kami. Kata muslimin (مُسْلِمِينَ) artinya adalah: dalam keadaan Muslim. Seakan-akan maknanya begini:
“Ya Allah, kuatkan kami menghadapi ujian ini… dan jika ujungnya adalah kematian, maka jadikan kami tetap dalam keadaan tunduk dan setia kepada-Mu.”
Jadi mereka meminta kekuatan dari Allah SWT untuk menjalani proses yang disambungkan dengan meminta akhir yang baik jika proses itu sampai pada kematian. Ini menunjukkan bahwa yang mereka khawatirkan bukan sekadar selamat secara fisik, tapi bagaimana akhir keadaan iman mereka.