Kemenag RI 2019:Musa berkata kepada kaumnya, “Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah. Sesungguhnya bumi (ini) milik Allah. Dia akan mewariskannya kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Kesudahan (yang baik) adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” Prof. Quraish Shihab:Musa berkata kepada kaumnya: “Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; sesungguhnya bumi milik Allah, diwariskan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari para hamba-Nya. Dan kesudahan (yang baik) bagi orang-orang yang bertakwa.” Prof. HAMKA:Berkata Musa kepada kaumnya, “Bermohon pertolonganlah kepada Allah dan bersabarlah, sesungguhnya bumi ini adalah kepunyaan Allah. Dia wariskan kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan akibat kebaikan terakhir adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”
Ayat ke-128 dari surat Al-A'raf ini datang sebagai kelanjutan dari suasana tegang yang sebelumnya digambarkan, ketika Fir’aun mengancam akan membunuh anak-anak laki-laki Bani Israil dan menunjukkan kekuasaannya. Jika pada ayat-ayat sebelumnya terlihat dominasi Fir’aun dengan ancaman dan propaganda kekuasaan, maka pada ayat ini justru tampil respon Nabi Musa yang menenangkan dan menguatkan kaumnya.
Dalam situasi tertekan itu, Nabi Musa berbicara langsung kepada Bani Israil yang sedang diliputi ketakutan. Ia mengarahkan mereka kepada dua hal utama: meminta pertolongan kepada Allah dan bersabar menghadapi ujian. Ini menunjukkan bahwa perjuangan mereka bukan sekadar menghadapi kekuatan politik Fir’aun, tetapi juga ujian keimanan dan keteguhan hati.
Kemudian Musa menanamkan keyakinan yang lebih dalam, bahwa bumi ini pada hakikatnya milik Allah, bukan milik Fir’aun atau siapa pun yang berkuasa saat itu. Kekuasaan hanyalah titipan yang bisa diwariskan oleh Allah kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dengan begitu, dominasi Fir’aun yang tampak besar itu sebenarnya tidak mutlak dan tidak abadi.
قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ اسْتَعِينُوا بِاللَّهِ
Kata qala (قَالَ) artinya adalah: dia berkata. Kata musa (مُوسَىٰ) artinya adalah: Musa. Huruf li (لِ) artinya adalah: kepada. Kata qawmihi (قَوْمِهِ) artinya adalah: kaumnya. Kata ista‘inu (اسْتَعِينُوا) artinya adalah: mohonlah pertolongan kalian. Huruf bi (بِ) artinya adalah: dengan / kepada. Kata Allah (اللَّهِ) artinya adalah: Allah.
Kata qala berasal dari akar kata (ق و ل) yang bermakna berkata atau menyampaikan ucapan. Kata ista‘inu berasal dari akar kata (ع و ن) yang bermakna pertolongan, dengan pola istif‘al yang menunjukkan makna “meminta pertolongan”.
وَاصْبِرُوا
Huruf wa (وَ) artinya adalah: dan. Kata isbiru (اصْبِرُوا) artinya adalah: bersabarlah kalian. Tiga sumber terjemah kita sepakat menerjemahkan kata ini dengan : sabar.
Kata isbiru berasal dari akar kata (ص ب ر) yang bermakna menahan diri dan tetap teguh dalam menghadapi ujian.
Memang kata sabar sudah jadi unsur serapan dari Bahasa Arab ke Bahasa Indonesia. Namun banyak yang kurang teliti, ternyata kata sabar -dan banyak kata lain- ketika sudah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia, justru malah diberikan makna tersendiri, setidaknya jadi punya konotasi tersendiri. Jika dikembalikan lagi ke bahasa arab aslinya, banyak yang sudah tidak lagi tepat dan presisi.
Dalam rasa bahasa Indonesia, kata sabar itu lawannya sikap ’tidak sabaran’. Jadi fokusnya ada pada sikap menunggu saja dan tidak tergesa-gesa, tidak buru-buru, tidak reaktif. Ini sifat temperamental, terkait ritme dan emosi.
Sedangkan kata isbiru (اصبروا) dalam bahasa Arab tidak sedang berbicara tentang lawan dari “tergesa-gesa”. Akar kata (ص ب ر) lebih dekat ke makna tetap bertahan dan tidak runtuh di bawah tekanan. Jadi lawannya bukan “tidak sabaran”, tapi lebih dekat ke : tabahkan hatimu , jangan menyerah, jangan jatuh mental.
Maka ketika Nabi Musa mengatakan isbiru, beliau tidak sedang menyuruh kaumnya untuk “jangan buru-buru” atau “tenang saja”, tetapi lebih dalam dari itu: jangan sampai kalian runtuh, tetap kokoh menghadapi tekanan Fir’aun.
إِنَّ الْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا
Huruf inna (إِنَّ) artinya adalah: sesungguhnya. Kata al-ardha (الْأَرْضَ) paling umum diterjemahkan menjadi bumi. Namun di zaman modern ini, istilah bumi itu lebih kuat konotasinya sebagai planet. Bumi atau earth adalah nama dari salah satu dari 8 planet yang mengelilingi matahari.
Maka terjemahan yang lebih mendekati pemahaman konteksnya akan lebih tepat jika diartikan sebagai land dan bukan earth. Kira-kira kalau dalam bahasa Indonesia maksudnya tanah air, negeri, atau kita punya yang lebih tepat dan juga dekat yaitu : ’bumi pertiwi’.
Kata pertiwi berasal dari bahasa Sanskerta, dari kata prithvi (पृथ्वी) yang berarti bumi, tetapi bukan dalam arti planet seperti dalam istilah modern earth. Maknanya lebih ke tanah, daratan, tempat berpijak, bahkan sering dipersonifikasikan sebagai ibu yang memberi kehidupan.
Dalam tradisi India kuno, Prithvi itu memang dipahami sebagai ibu bumi, sumber kehidupan, tempat semua makhluk hidup bergantung. Ketika masuk ke budaya Nusantara, istilah ini diserap menjadi pertiwi, dan kemudian digunakan dalam ungkapan ibu pertiwi.
Jadi kalau kita bilang bumi pertiwi, secara rasa bahasa itu bukan sekadar planet bumi, tapi lebih ke tanah tempat kita hidup, negeri atau wilayah, tanah air yang memberi kehidupan atau bahkan ada nuansa emosional : tempat asal dan tempat kembali.
Kata lillah (لِلَّهِ) artinya : milik Allah, walaupun terkadang dalam konteks yang berbeda bisa juga bermakna : untuk Allah. Namun dalam konteks ayat ini, makna yang lebih tepat adalah : milik Allah. Huruf li (لِ) disini fungsinya menunjukkan kepemilikan.
Kata yuritsuha (يُورِثُهَا) artinya adalah: Dia mewariskannya. Tapi tentu bukan warisan dalam arti biasa seperti harta peninggalan orang tua kepada anak. Maksudnya Allah memindahkan kekuasaan, kepemilikan, atau penguasaan atas suatu negeri dari satu pihak ke pihak lain. Jadi yang diwariskan bukan sekadar tanahnya secara fisik, tetapi hak menguasai dan memimpin di atasnya.
Makna warisan di sini juga mengandung satu isyarat penting bahwa pihak yang sebelumnya berkuasa bisa hilang atau tersingkir, lalu digantikan oleh yang lain. Jadi kekuasaan itu tidak tetap, melainkan berpindah sesuai kehendak Allah.
Dalam konteks Bani Israil dan Fir’aun, ini menjadi penguatan mental dari Nabi Musa, bahwa sekuat apa pun Fir’aun sekarang menguasai bumi yaitu negeri Mesir, itu bukan miliknya secara mutlak. Kekuasaan itu bisa dicabut dan diberikan kepada pihak lain.
مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ
Kata man (مَنْ) artinya adalah: siapa saja. Kata yasha'u (يَشَاءُ) artinya adalah: Dia kehendaki. Huruf min (مِنْ) artinya adalah: dari.
Kata ‘ibadihi (عِبَادِهِ) artinya adalah: hamba-hamba-Nya.
Penggalan ini menegaskan bahwa siapa yang akan mendapatkan warisan bumi sepenuhnya berada dalam kehendak Allah. Bukan karena kekuatan semata, bukan juga karena strategi manusia, tetapi karena Allah memilih dari antara hamba-hamba-Nya siapa yang layak diberi kekuasaan itu.
Pertanyaannya : jadi negeri Mesir itu sendiir akhirnya bagaimana? Siapa yang berkuasa kemudian? Bani Israil kah? atau tetap di tangan bangsa Qibthi?
Kalau kita ikuti alur Al-Qur’an, setelah peristiwa kejar-kejaran di laut dan tenggelamnya Fir’aun dalam kisah Al-A'raf dan juga di Yunus, Bani Israil memang diselamatkan dari penindasan. Tetapi mereka tidak langsung menjadi penguasa Mesir.
Al-Qur’an sendiri memberi isyarat bahwa mereka kemudian keluar dari Mesir, menuju perjalanan panjang di padang pasir Tih. Di fase itu, mereka belum menjadi bangsa penguasa, justru masih dalam proses pembinaan mental dan keimanan.
Memang ada ayat lain seperti di Al-Qashash yang menyebut bahwa Allah ingin menjadikan mereka pemimpin dan pewaris. Tapi para mufassir menjelaskan bahwa warisan itu tidak harus berarti langsung menguasai Mesir secara politik saat itu juga.
Secara garis besar gambarnya begini : Fir’aun dan elit penguasa Qibthi hancur. Struktur kekuasaan lama runtuh. Bani Israil selamat, tetapi tidak menetap untuk memerintah Mesir. Namun mereka justru keluar dan mengalami fase panjang sebelum akhirnya punya negeri sendiri di wilayah lain, bukan Mesir saat itu.
Adapun Mesir sendiri, secara historis tetap dihuni oleh bangsa setempat yaitu Qibthi dan seterusnya, lalu kekuasaan berganti-ganti di antara mereka.
وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
Huruf wa (وَ) artinya adalah: dan. Kata al-‘aqibah (الْعَاقِبَةُ) juga sudah masuk ke dalam bahasa Indonesia, tapi lagi-lagi makna dan penggunaannya sudah amat jauh bergeser. Maka kalau dipaksakan pakai bahasa Indonesia, akan jadi aneh : dan akibat buat orang muttaqin?
Maka jangan terjemakan kata al-‘aqibah (الْعَاقِبَةُ) menjadi : akibat, karena bukan itu artinya. Kemenag RI dan Quraish Shihab menerjemahkannya menjadi : kesudahan (yang baik), sedangkan terjemahan versi HAMKA adalah : akibat kebaikan.
Kira-kira jika kita padankan ke bahasa Indonesia, ungkapan ini lumayan mendekati ungkapan : ”hasil akhir dari semua ini berpihak kepada” orang bertaqwa. Kata lil-muttaqin (الْمُتَّقِينَ) artinya adalah: kepada atau buat orang-orang yang bertakwa.
Dalam konteks ayat ini, Bani Israil sedang lemah, tertindas, dan di bawah ancaman. Secara kasat mata, Fir’aun tampak kuat dan berkuasa. Tapi ayat ini membalik cara pandang itu yang menentukan bukan kondisi saat ini, tapi bagaimana akhir dari semuanya.