Kemenag RI 2019:Sesungguhnya apa yang mereka anut (kemusyrikan) akan dihancurkan dan akan sia-sia apa yang telah mereka kerjakan. Prof. Quraish Shihab:Sesungguhnya mereka (para penyembah berhala) itu akan dihancurkan apa (kepercayaan) yang sedang mereka anut, dan akan batal (tidak bermanfaat sedikitpun) apa yang selalu mereka kerjakan. Prof. HAMKA:Sesungguhnya mereka itu akan dibinasakanlah keadaan mereka dan batallah apa yang mereka kerjakan itu.
Ayat ke-139 dari surat Al-A’raf ini merupakan lanjutan jawaban Musa kepada kaumnya yang minta dibuatkan berhala sesembahan sebagaimana yang mereka lihat dari praktek ritual bangsa lain. Di ayat sebelumnya Musa sudah langsung men-‘skak mat’ Bani Israil dengan mengatakan bahwa yang mereka ingin lakukan dengan menyembah berhala itu sebuah tindakan bodoh.
Di ayat ini Musa menambahkan penjelasannya bahwa kaum yang ingin mereka tiru cara ritual penyembahan tuhannya justru merupakan kaum yang sebentar lagi akan dihancurkan, bahkan amal mereka merupakan kebatilan yang berujung kepada hasil yang sia-sia.
Pesannya utamanya bahwa ritual penyembahan berhala dari kaum semacam itu jangan dijadikan panutan. Tidak perlu meniru-niru tata cara ibadah bangsa lain, toh di depan mata mereka sudah ada sosok yang jadi panutan, yaitu Nabi Musa alaihissalam, yang merupakan rasul pilihan utusan Allah SWT. Bahkan Beliau juga didampingi dengan rasul yang lain, yaitu Nabi Harun alaihissalam.
إِنَّ هَٰؤُلَاءِ مُتَبَّرٌ مَا هُمْ فِيهِ
Huruf inna (إِنَّ) artinya: sesungguhnya. Kata haaulaa’i (هَٰؤُلَاءِ) artinya: mereka ini. Maksudnya adalah kaum yang sedang mereka lihat, yaitu para penyembah berhala itu.
Kata mutabbarun (مُتَبَّرٌ) artinya: dihancurkan atau akan binasa. Kata ini berasal dari akar kata (ت ب ر) yang maknanya hancur lebur. Maksudnya bukan sekadar rusak biasa, tetapi benar-benar akan musnah dan tidak tersisa. Kata maa (مَا) artinya: apa yang. Kata hum (هُمْ) artinya: mereka. Huruf fii (فِيهِ) artinya: di dalamnya.
Penggalan ini adalah bagian dari ucapan Nabi Musa kepada Bani Israil setelah mereka minta dibuatkan sesembahan. Setelah Beliau menegaskan bahwa Bani Israil telah melakukan kebodohan karena ingin menyembah Allah lewat berhala, kemudian ada tambahan informasi rasa kagum mereka kepada kaum itu keliru.
Ath-Thabari dalam Jami' al-Bayan fi Tafsir Ayil-Qur'an[1] menjelaskan bahwa Musa mengatakan kepada kaumnya bahwa orang-orang yang tekun menyembah berhala itu, seluruh aktivitas mereka akan dihancurkan oleh Allah. Bukan hanya berhalanya yang hancur, tapi juga amal yang mereka lakukan di sekitarnya. Bahkan bukan sekadar hancur, tapi juga merugikan mereka sendiri, karena yang mereka dapatkan justru azab yang menghinakan sebagai balasan.
Kalau dibuat lebih sederhana, seperti orang melihat bangunan tua yang sudah retak dan hampir roboh, tapi dihias lampu warna-warni sehingga tampak indah dari luar. Lalu dia berkata, “Saya ingin punya rumah seperti itu.” Orang yang paham akan langsung menjawab, “Itu bukan rumah bagus, itu bangunan yang sudah mau runtuh. Jangan tertipu tampilannya.”
وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Huruf wa (وَ) artinya: dan, yang menghubungkan penjelasan sebelumnya dengan penegasan berikutnya, sehingga maknanya saling melengkapi. Kata baathilun (بَاطِلٌ) artinya: batil atau sia-sia. Maksudnya sesuatu yang tidak memiliki kebenaran dan tidak ada nilainya sama sekali. Kata maa kaanuu (مَا كَانُوا) artinya: apa yang dahulu mereka atau apa yang selama ini mereka. Kata ya‘maluun (يَعْمَلُونَ) artinya: mereka kerjakan.
Dijelaskan oleh Ath-Thabari bahwa semua ibadah mereka itu pada hakikatnya tidak punya nilai sama sekali. Ketika datang keputusan Allah, semua itu tidak bisa memberi manfaat sedikit pun. Tidak bisa menolak azab, tidak bisa melindungi, dan tidak bisa menyelamatkan mereka di hari kiamat.
[1] Ath-Thabari (w. 310 H), Jami' Al-Bayan fi Ta’wil Ayil-Quran, (Beirut, Muassasatu Ar-Risalah, Cet. 1, 1420 H - 2000M)