Kemenag RI 2019:Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda (kekuasaan-Ku). Jika mereka melihat semua tanda-tanda itu, mereka tetap tidak mau beriman padanya. Jika mereka melihat jalan kebenaran, mereka tetap tidak mau menempuhnya. (Sebaliknya,) jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka menempuhnya. Demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lengah terhadapnya. Prof. Quraish Shihab:Aku akan memalingkan dari ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran dan keagungan)-Ku orang-orang yang sangat angkuh di bumi tanpa haq (alasan yang benar). Jika mereka melihat setiap ayat-(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan (yang membawa kepada) petunjuk (menuju kebenaran dan kebajikan), mereka tidak menjadikannya jalan (yang seharusnya mereka tempuh), tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka menjadikannya jalan. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka terhadapnya selalu lalai. Prof. HAMKA:Akan Aku palingkan dari ayat-ayat-Ku orang-orang yang takabur di bumi dengan tidak benar dan jika mereka melihat tiap-tiap ayat, mereka tidak mau beriman kepadanya. Dan, meskipun mereka melihat jalan petunjuk, mereka tidak juga (mau) mengambilnya jadi jalan. Namun, jika melihat jalan sesat, mereka ambillah dia jadi jalan. Demikian itu karena mereka telah mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka daripadanya adalah lalai.
Ayat ke-146 ini merupakan peringatan keras sekaligus penjelasan mengenai sunnatullah dalam urusan hidayah. Setelah di ayat sebelumnya Allah SWT memberikan Taurat sebagai pedoman dan perintah untuk memegangnya dengan teguh, di ayat ini Allah menegaskan bahwa seindah dan selengkap apa pun aturan yang diberikan, ada tipe manusia yang secara sistematis akan terkunci dari kebenaran.
Pesan utamanya adalah tentang penyakit mental bernama kesombongan. Orang yang merasa dirinya besar tanpa alasan yang benar akan mengalami kebutaan fungsional. Matanya melihat bukti kekuasaan Allah, tapi otaknya menolak untuk memprosesnya menjadi iman.
Ini adalah hukuman bagi kesombongan yang dimulai sejak di dunia, di mana Allah memutus frekuensi hidayah mereka, sehingga mereka dibiarkan tersesat dalam rasa bangga yang semu.
سَأَصْرِفُ عَنْ آيَاتِيَ
Kata sa-ashrifu (سَأَصْرِفُ) diawali dengan huruf sa yang menunjukkan masa depan yang pasti terjadi. Kata ashrifu berasal dari akar kata (ص ر ف) yang artinya : Aku memalingkan atau Aku mengalihkan.
Ini adalah firman Allah SWT langsung. Yang berkata bukan orang lain melainkan Allah SWT sendiri yang membahasakan diri-Nya dengan : Aku. Kita sebagai hamba dan makhluk ciptaan-Nya tidak bisa berbuat apa-apa ketika diberitahu bahwa Tuhan Yang Maha Menciptakan itu sudah punya kehendak sendiri, tidak ada yang bisa melawan apalagi menghalangi kehendak-Nya.
Kata ‘an aayaatiya (عَنْ آيَاتِيَ) diterjemahkan secara berbeda-beda. Kemenag RI menerjemahannya menjadi : ”tanda-tanda (kekuasaan-Ku)”. Quraish Shihab menerjemahkannya menjadi : ”ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran dan keagungan)-Ku”. Berbeda dengan HAMKA yang menerjemahkannya secara apa adanya menjadi : ”ayat-ayat-Ku”.
Al-Mawardi menuliskan tiga pendapat yang berbeda dalam tafsir An-Nukat wa Al-‘Uyun [1] :
§ Pertama, menurut Sufyan bin Uyainah maknanya bahwa Allah akan menghalangi mereka dari memahami Al-Qur’an.
§ Kedua, bahwa Allah SWT akan menjadikan balasan atas kekafiran mereka berupa kesesatan mereka dari mendapatkan petunjuk terhadap kebenaran yang dibawa olehnya.
§ Ketiga bahwa Allah SWT akan memalingkan mereka dari kemampuan menolak azab pembalasan yang akan menimpa mereka.
Al-Qurthubi juga menukilkan pendapat beberapa ulama dalam tafsir Al-Jami' li Ahkam Al-Quran[2]. Beliau tuliskan pendapat Qatadah dan Sufyan bin Uyainah yang sepakat mengaitkan hal ini dengan tindakan Allah SWT kepada umat Nabi Muhammad SAW yang Allah SWT halangi dari memahami Al-Quran. Setidaknya dari beriman kepada Al-Quran. Atau ada juga yang mengatakan memalingkan sehingga tidak bisa mengambil manfaat dari Al-Quran.
Namun Al-Qurthubi juga mengutip pendapat yang lain, bahwa yang dimaksud dengan ungkapan ’ayat-ayat-Ku’ adalah berbagai mukjizat Nabi Musa yang jumlahnya sekian banyak. Sudah sekian banyak mereka melihat mukjizat, tetapi dasarnya sudah Allah SWT sesatkan, tetap saja mereka tidak beriman.
Al-Qurthubi juga mengutipkan pendapat lain lagi bahwa yang dimaksud ’ayat-ayat-Ku’ adalah penciptaan langit dan bumi. Sehingga makna ayat ini bahwa meski orang kafir sudah melihat betapa dahsyatnya penciptaan langit dan bumi, tetap saja mereka tidak bisa memahami apa yang ada di balik semua itu. Hal itu karena pada dasarnya Allah SWT telah memalingkan mereka dari mengambil pelajaran darinya.
Kata al-ladziina (الَّذِينَ) artinya adalah orang-orang yang. Kata yatakabbaruna (يَتَكَبَّرُونَ) berasal dari akar kata (ك ب ر) yang maknanya besar. Bentuk kata ini menunjukkan adanya usaha dari mereka untuk merasa besar atau menyombongkan diri secara aktif. Ini adalah penyakit internal di mana seseorang memandang rendah orang lain dan menolak kebenaran.
Sikap takabbur inilah yang juga Allah SWT sebut-sebut ketika Iblis tidak mau bersujud kepada Adam, padahal dia sangat beriman kepada Allah SWT. Iblis itu bukan kafir dalam arti tidak percaya pada keberadaan Allah SWT, malahan bisa dikatakan Iblis itu lulus dalam rukun iman yang enam. Iblis percaya kepada Allah SWT, para malaikat, kitab-kitab suci, para nabi dan rasul, bahkan Iblis percaya adanya hari akhir alias kiamat. Juga kepada qadha’ dan qadar.
Dalam hal rukun iman yang enam, Iblis itu sebenarnya sudah masuk kriteria orang beriman seharusnya. Lantas kenapa dia tidak mau tunduk dan sujud kepada Adam, padahal itu perintah Allah SWT langsung? Kenapa Iblis rela diusir, dikutuk dan dirajam?
Jawabannya simpel dan sederhana, karena dia tinggi hati, merasa diri lebih besar, tidak mau disaingi oleh makhluk lain yang menurutnya seharusnya di bawahnya. Allah SWT sendiri yang secara tegas menyebut apa yang terjadi pada sisi kejiwaan si Iblis :
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (QS. Al-Baqarah : 34)
Ketika ada dari sekelompok anak keturunan Adam terjangkit karakter istakbara (اسْتَكْبَرَ), maka tamatlah sudah dia. Tidak bisa menerima sinyal hidayah, bahkan meski dia sudah tahu segala dasar dan bukti tentang iman.
Katafiil-ardhi (فِي الْأَرْضِ) artinya : di muka bumi. Keterangan tempat ini bisa menunjukkan beberapa makna. Pertama, bukan hanya di satu lokasi tetapi bisa dimana saja, di seluruh dunia. Kedua, kejadian ini nampaknya di alami oleh anak-anak Adam, karena mereka memang hidup di bumi.
Yang mengalami ini di langit adalah iblis, sedang yang mengalami ini di bumi tidak lain adalah anak-anak Adam.
Inilah penegasan dari Allah SWT bahwa karakteristik istikbar alias merasa besar diri itu tidak punya dasar legalitas moral maupun logika semesta. Manusia hanyalah makhluk kecil yang menumpang di bumi milik Allah, namun bersikap angkuh seolah-olah mereka adalah pemilik otoritas yang sebenarnya.
Penggunaan istilah al-haqqi di sini mengunci argumen bahwa siapa pun yang sombong di muka bumi, maka ia sedang membangun bangunan di atas kepalsuan, karena kebesaran yang sesungguhnya hanyalah milik Allah semata.
وَإِنْ يَرَوْا كُلَّ آيَةٍ لَا يُؤْمِنُوا بِهَا
Katawa-in (وَإِنْ) artinya : dan jika. Katayaraw (إِنْ يَرَوْا) artinya : mereka melihat. Katakulla aayatin (كُلَّ آيَةٍ) artinya setiap ayat. Ungkapan laa yu’minuu bihaa (لَا يُؤْمِنُوا بِهَا) artinya : mereka tidak beriman kepadanya.
Penggalan ini menggambarkan keadaan orang yang sebenarnya bukan kekurangan bukti, tetapi memang sudah tidak mau menerima kebenaran sejak awal. Jadi masalahnya bukan pada kurang jelas, melainkan hatinya sudah menutup pintu duluan sebelum bukti datang.
Ibarat orang yang dari awal sudah benci suatu merek handphone. Mau ditunjukkan review bagus, kamera bagus, baterai awet, harga murah, tetap saja jawabannya: “Ah, paling settingan.” Jadi problemnya bukan kurang data, tetapi memang tidak mau percaya.
Begitu juga ayat ini. Allah menggambarkan ada manusia yang kalau melihat setiap ayat, setiap tanda, setiap bukti, bahkan mukjizat sekalipun, tetap saja tidak beriman. Laut terbelah, tongkat berubah jadi ular, semua adalah mukjizat yang bukan hanya mereka lihat, tapi mereka langsung merasakannya sendiri.
Maka ayat ini sebenarnya cukup menyeramkan, bahwa kecerdasan saja tidak otomatis membuat orang menerima kebenaran. Kadang yang jadi penghalang justru kesombongan. Karena kalau hati sudah keras, bukti sebanyak apa pun hanya lewat di depan mata tanpa masuk ke dalam dada.
Makanya para ulama sering menjelaskan: hidayah itu bukan sekadar melihat, tetapi mau tunduk. Banyak orang melihat matahari, tetapi tidak semua mau membuka jendela.
Allah mengulangi lagi dengan kata-kata wa-in yarau (وَإِنْ يَرَوْا) yang artinya : bahkan jika mereka melihat.
Katasabiilar-rusydi (سَبِيلَ الرُّشْدِ) artinya : jalan petunjuk. Kata sabiilsecara bahasa berarti jalan yang luas dan mudah dilalui, sedangkan ar-rusyd berasal dari akar kata (ر ش د) yang maknanya adalah kematangan berpikir, kecerdasan nalar, dan kelurusan perilaku.
Kemenag menerjemahkan istilah sabillar-rusydi (سَبِيلَ الرُّشْدِ) menjadi jalan kebenaran, sedangkan redaksi Quraish Shihab adalah : "jalan (yang membawa kepada) petunjuk". Versi HAMKA adalah : “jalan petunjuk”.
Al-Mawardi menuliskan dalam tafsir An-Nukat wa Al-‘Uyun [3] bahwa ar-rusyd bermakna iman dan petunjuk, sedangkan al-ghayy bermakna kekafiran dan kesesatan.
Katalaa yattakhidzuuhu (لَا يَتَّخِذُوهُ) artinya adalah mereka tidak menjadikannya atau tidak mengambilnya. Kata sabiilaa (سَبِيلًا) artinya adalah sebagai jalan.
Penggalan ini menegaskan bahwa mengetahui kebenaran belum tentu sama dengan mau mengikuti kebenaran. Banyak orang pintar tahu mana yang baik, tetapi kalah oleh gengsi, hawa nafsu, atau lingkungan. Ibarat dokter yang paham bahaya rokok tetapi tetap merokok sambil batuk-batuk. Ilmunya ada, tetapi kakinya enggan berjalan ke arah yang benar.
Kata wa-in yarau (وَإِنْ يَرَوْا) artinya : dan jika mereka melihat. Ini pengulangan ketiga kalinya dari ungkapan "jika mereka melihat" dalam satu ayat ini. Menunjukkan betapa bebalnya mentalitas kelompok manusia tersebut, mereka berkali-kali diperlihatkan realitas, namun tetap konsisten dalam penyimpangan.
Kata sabiilal-ghayyi (سَبِيلَ الْغَيِّ) diposisikan sebagai lawan dari sabillar-rusydi (سَبِيلَ الرُّشْدِ). Kata ini berasal dari akar kata (غ ي ي) yang bermakna tersesat karena rusaknya nalar serta desakan hawa nafsu yang tidak terkendali. Kemenag dan Quraish Shihab menerjemahkannya dengan : jalan kesesatan, sementara HAMKA menyebut : jalan sesat.
Kata yattakhidzuuhu (يَتَّخِذُوهُ) artinya adalah mereka menjadikannya atau mengambilnya. Katasabiilaa (سَبِيلًا) artinya adalah sebagai jalan.
Dalam sastra atau balaghah Arab, gaya seperti ini biasa disebut dengan muqabalah (المقابلة), yaitu memperhadapkan dua hal yang saling berlawanan agar maknanya makin kuat dan kontras.
Di ayat ini ada dua sisi yang dipertentangkan secara sangat jelas:
“Kalau mereka melihat jalan kesesatan, justru mereka menjadikannya sebagai jalan.”
Ini bukan sekadar informasi, tetapi kontras yang sengaja dibuat tajam. Jalan benar ditolak, jalan sesat malah dipilih. Jadi pembaca merasakan keanehan sikap mereka.
Selain muqabalah, di situ juga ada nuansa thibaq (الطباق), yaitu dipertemukan dua kata lawan makna ar-rusyd (الرشد) yang bermakna petunjuk atau kebenaran, berhadapan dengan kata al-gayy (الغيّ) yang berarti kesesatan.
Indahnya Al-Qur’an, terkadang hanya dengan membalik dua kalimat yang susunannya hampir sama, efek maknanya jadi sangat menusuk. Seolah-olah ayat itu berkata: “Aneh sekali manusia ini. Yang baik ditolak, yang buruk malah dipeluk.”
ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا
Kata dzaalika (ذَٰلِكَ) artinya : yang demikian itu. Kata ini berfungsi merujuk kepada seluruh rangkaian perilaku paradoks, tertutupnya hati, serta kecenderungan mereka dalam memilih jalan sesat yang telah dibedah pada bagian-bagian sebelumnya.
Hurufba’ (بِ) artinya : karena. Dalam kaidah bahasa Arab, huruf ini berfungsi sebagai ba' sababiyah yang bertugas menjelaskan alasan logis di balik mengapa mereka sampai mengalami kondisi tragis hingga akhirnya dipalingkan dari hidayah oleh Allah SWT. Ungkapanannahum (أَنَّهُمْ) artinya : bahwasanya mereka.
Kata kadz-dzabuu (كَذَّبُوا) sering diartikan menjadi : mendustakan. Katabi-aayaatinaa (بِآيَاتِنَا) artinya : terhadap ayat-ayat Kami.
وَكَانُوا عَنْهَا غَافِلِينَ
Ungkapan wa kanu anha (وَكَانُوا عَنْهَا) terdiri dari huruf wa (وَ) yang menjadi penghubung yang menambahkan satu lagi penyakit dalam diri mereka setelah sebelumnya mendustakan kebenaran. Sedngkan kaanuu (كَانُوا) menunjukkan bahwa keadaan itu berlangsung terus-menerus dan sudah menjadi karakter yang menetap dalam diri mereka sejak lama. Makna ‘anhaa (عَنْهَا) darinya, yaitu dari ayat-ayat Allah.
Kataghaafiliin (غَافِلِينَ) berasal dari akar kata (غ ف ل) yang maknanya tidak menaruh perhatian atau abai terhadap sesuatu yang seharusnya diperhatikan. Kemenag RI menerjemahkannya dengan kata "selalu lengah", sementara Quraish Shihab dan HAMKA kompak menggunakan istilah "lalai".
Analogi sederhananya seperti seorang pengemudi yang sedang melaju sangat kencang di jalan tol, lalu ia melihat papan peringatan besar bertuliskan "Jalan Putus di Depan". Namun karena ia merasa mobilnya paling mahal, paling canggih, dan paling hebat, ia sengaja memalingkan muka (lalai), mendustakan isi papan itu, dan justru semakin tancap gas di jalur yang salah hingga akhirnya kehebatan materiilnya tidak mampu menyelamatkannya dari jurang kehancuran yang sudah di depan mata.