Kemenag RI 2019:Orang-orang yang mendustakan tanda-tanda (kekuasaan) Kami dan adanya pertemuan akhirat, sia-sialah amal mereka. Bukankah mereka (tidak) akan dibalas, kecuali (sesuai dengan) apa yang telah mereka kerjakan. Prof. Quraish Shihab:Dan orang-orang yang mendus
takan ayat-ayat Kami dan pertemuan
(yang dijanjikan Allah swt. di) akhirat,
sia-sialah amal-amal mereka. Apakah
mereka tidak dibalas melainkan
dengan (balasan yang setimpal dengan)
apa yang telah mereka kerjakan? Prof. HAMKA:Dan, orang-orang yang mendustakan ayat Kami dan pertemuan akhirat, gugurlah segala amalan mereka. Apakah akan dibalas mereka kecuali dengan apa yang mereka amalkan?
Ayat ke-147 dari surat Al-A'raf ini berbicara tentang konsekuensi final bagi mereka yang keras kepala menolak kebenaran. Setelah di ayat sebelumnya Allah menceritakan bagaimana Nabi Musa diberi petunjuk lengkap namun tetap ada orang-orang sombong yang sengaja memilih jalan sesat, maka ayat ini menegaskan bahwa pilihan itulah yang membuat amal mereka hangus.
Kaitannya sangat erat: jika petunjuk sudah jelas di depan mata tapi tetap didustakan karena sombong, maka segala kebaikan lahiriah mereka otomatis kehilangan nilai ukhrawinya. Tuhan tidak sedang berlaku tidak adil; Dia hanya memberikan balasan yang sesuai dengan jalur yang mereka pilih sendiri. Karena mereka tidak mengakui Tuhan dan hari akhir, maka amal mereka pun berhenti hanya sebagai urusan duniawi tanpa menyisakan saldo sedikit pun untuk masa depan di akhirat.
وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا
Kata wa alladziina (وَالَّذِينَ) artinya: dan orang-orang yang. Kata kazzabuu (كَذَّبُوا) diterjemahkan menjadi : mendustakan. Kata bi-aayaatinaa (بِآيَاتِنَا) oleh Kemenag RI langsung diterjemahkan menjadi : tanda-tanda (kekuasaan) Kami. Sedangkan Quraish Shihab mempertahankan penggunaan : ayat-ayat, sebagaimana juga HAMKA yang menggunakan kata : ayat.
Kata kadzdzaba (كَذَّبَ) itu amat dekat maknanya dengan kadzaba (كَذَبَ). Dalam bahasa Arab, keduanya memang lahir dari akar kata yang sama, bedanya hanya pada tasydid pada huruf dzal saja.
Yang sedikit jadi masalah menurut Penulis bahwa kata ini diterjemahkan jadi ‘mendustakan’, bahkan terlanjur dianggap standar dalam tradisi terjemahan kita sejak dahulu kala. Buktinya, tiga sumber terjemah kita sepakat menuliskan maknanya : mendustakan.
Lantas dimana masalahnya?
Jika kita sedikit kritis untuk membedah secara logika bahasa, ada ambiguitas sekaligus tumpang tindih makna. Jika kadzaba dimaknai sebagi ’berdusta’, lalu kadzdzaba diartikan jadi : ’mendustakan’, maka yang muncul dalam benak kita bahwa keduanya itu sangat identik, yaitu sama-sama terkait dengan dusta, bohong, tidak jujur, yang pada intinya memproduksi pernyataan palsu.
Padahal jika kita pahami esensinya yang hakiki, kata kazdzdaba itu esensinya adalah menampik, menolak, menafikan, mengingkari, tidak mengakui eksistensi, menyangkal realitasnya atau pun menganggapnya tidak pernah ada dan tidak layak diakui. Bandingkan dengan ‘mendustakan’, maka jelas sekali terasa biasnya. Kata ’mendustakan’ biar bagaimana pun juga sulit dipisahkan maknanya dari unsur berdusta dan berbohong.
Namun begitulah, nampaknya selama ini kita memang sering terjebak pada penggunaan diksi yang salah kaprah dan ambigu. Kasus ini akan semakin mendapat contohnya ketika kita menyebut istilah yaukadzdzibu bid-din (يُكَذِّبُ بِالدِّين) yang diterjemahkan menjadi : ‘mendustakan agama’, pada pembukaan Surah Al-Ma’un. "Tahukah kamu orang yang mendustakan agama?"
Apa yang terlintas di benak kita ketika mendengar kata ini? Jangan-jangan berdusta atau menipu yang melibatkan simbol-simbol agama? Atau barangkali : membohongi Tuhan?
Tentu saja bukan itu maksudnya. Orang yang disebut ‘mendustakan agama’ dalam Surah Al-Ma'un bukanlah orang yang sedang melakukan pidato kebohongan tentang agama, melainkan orang yang perilaku sosialnya, seperti menghardik anak yatim dan tidak memberi makan orang miskin, menunjukkan bahwa dia sebenarnya tidak mengakui alias mengingkari kebenaran hari kiamat.
وَلِقَاءِ الْآخِرَةِ
Kata wa liqaa’i (وَلِقَاءِ) artinya: dan pertemuan. Kata liqaa’ berasal dari akar (ل ق ي) yang maknanya bertemu atau berhadapan secara langsung. Kata al-aakhirah (الْآخِرَةِ) artinya: kehidupan akhirat. Penyebutan akhirat di sini bukan hanya sebagai tempat, tetapi sebagai fase akhir dari perjalanan manusia, tempat segala amal dipertanggungjawabkan.
Penggunaan kata liqa’ ini cukup unik, karena jarang digunakan jika terkait akhirat. Biasanya hanya disebut meyakini adanya hari akhir. Namun di ayat ini, bukan hanya meyakini keberadaan hari akhir, namun adanya proses yang secara teknis menyebutkan manusia benar-benar bertemu, berjumpa bahkan berhadapan dengan Allah dan tentunya hisab.
Secara rukun iman, dua hal ini yaitu ingkar kepada ayat-ayat Allah dan ingkar juga adanya pertemuan akhirat, merupakan penggugur keimanan. Jangankan pada dua hal, satu saja dari rukun iman diingkari, maka sudah dianggap kafir keluar dari agama Islam.
حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ
Kata habithat(حَبِطَتْ) artinya: gugur atau sia-sia. Kata ini berasal dari akar (ح ب ط) yang dalam bahasa Arab digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang rusak dari dalam hingga kehilangan manfaatnya. Al-Alusy menuliskan dalam tafsir Ruh Al-Ma’ani[1] bahwa asal kata al-habath (الحبط) adalah kerusakan yang menimpa hewan ternak karena memakan al-hubat (الحُباط), yaitu sejenis tanaman liar yang berbahaya. Ketika menemukan padang rumput yang baik, lalu makan secara berlebihan sampai perutnya membengkak dan akhirnya mati.
Kata a’maaluhum (أَعْمَالُهُمْ) artinya: amal-amal mereka. Bentuk jamak di sini menunjukkan bahwa yang gugur bukan hanya satu dua perbuatan, tetapi seluruh rangkaian amal yang mereka lakukan.
Lantas yang jadi titik utama diskusinya adalah : apakah yang dimaksud dengan amal yang gugur? Apakah segala macam jenis kebaikan yang dilakukan oleh non muslim itu tidak ada gunanya bagi dirinya dan masyarakatnya? Bagaimana dengan para ilmuwan dan para penemu teknologi misalnya? Bagaimana dengan Ayahanda dan Ibunya Nabi Muhammad SAW? Bagaimana dengan Abu Thalib pamanda Beliau yang banyak sekali berjasa pada perjuangan dakwah? Apakah semua itu tetap dianggap tidak ada gunanya begitu saja?
Jika memang benar demikian, maka alangkah tidak adilnya agama Islam yang selalu mendeskreditkan orang di luar keyakinan. Hanya gara-gara beda keyakinan, lantas semua jasa orang dianggap tidak ada gunanya?
Sebenarnya, kalau dipikir-pikir pakai logika sederhana, urusan amal yang gugur ini mirip seperti urusan administrasi di kantor kelurahan. Bayangkan ada orang yang super baik hati, sering bantu tetangga, tapi pas mau mengurus surat-surat resmi, dia tidak punya KTP. Apakah kebaikannya hilang?
Jawabanya tentu tidak, tetangganya tetap sayang dan dia tetap dapat pahala sosial di lingkungan itu. Tapi kalau bicara soal hak negara atau akses ke fasilitas resmi, wajar jika sistem akan menolak karena syarat dasarnya tidak ada. Nah, iman itu ibarat KTP-nya. Tanpa itu, sistem akhirat tidak bisa membaca data amalnya untuk dikonversi jadi tiket masuk surga. Jadi, bukan karena Tuhan itu sentimen atau pilih kasih, tapi memang ada aturan mainnya.
Soal para ilmuwan hebat atau penemu yang jasanya luar biasa, kita tidak perlu khawatir Tuhan bakal lupa bayar. Tuhan itu kan Maha Adil, bukan bos pelit yang hobinya memotong gaji karyawan. Orang-orang hebat ini biasanya sudah dibayar lunas di dunia. Coba lihat, mereka dapat nama harum, patungnya ada di mana-mana, namanya masuk buku sejarah, dan mungkin royaltinya mengalir ke tujuh turunan.
Itu adalah bentuk gaji tunai dari Tuhan atas kerja keras mereka. Jadi, kalau ada yang bilang Islam itu jahat karena tidak memasukkan Thomas Edison ke surga, ya kita tanya balik: Lha, si Thomas kan memang tidak pernah niat cari surga lewat jalur tauhid, dia cuma mau bikin lampu. Jadi, dia sudah dapat apa yang dia cari.
Kalau soal Abu Thalib atau orang tua Baginda Nabi, ini memang wilayah yang sensitif dan penuh kasih sayang. Kita jangan jadi orang yang lebih galak dari Tuhan dengan langsung memvonis mereka masuk neraka, seolah-olah kita yang pegang kuncinya. Banyak ulama yang menjelaskan ini dengan sangat halus, bahwa ada perlakuan khusus atau dispensasi bagi mereka yang posisinya unik dalam sejarah. Intinya, kita tidak perlu jadi hakim akhirat yang hobi mengetok palu vonis.
Jadi, keyakinan bahwa semua orang baik, apa pun agamanya, pasti masuk surga itu sebenarnya cuma perasaan ’tidak enak’ kita sebagai manusia. Tapi ya itu tadi, kalau semua bisa masuk cuma modal jadi orang baik, nanti kantor nabi dan rasul bisa tutup karena tidak ada lagi bedanya antara yang berjuang menjaga iman dengan yang tidak peduli sama sekali.
Pastinya kita hargai jasa mereka setinggi langit di dunia, tapi untuk urusan pindah domisili ke akhirat, terpaksa harus kita kembalikan ke aturan yang punya rumah. Sederhananya, jangan sampai kita mau jadi lebih baik hati daripada yang Maha Baik, tapi malah menabrak aturan yang sudah Dia buat sendiri.
هَلْ يُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Kata hal(هَلْ) pada asalnya memang digunakan untuk bertanya, tetapi dalam konteks ayat ini tidak boleh dipahami sebagai “apakah”. Karena kalau diterjemahkan begitu, justru membingungkan dan tidak sesuai dengan maksud ayat.
Di sini kata hal(هَلْ) berfungsi sebagai nafyi dalam bentuk istifham inkari, yaitu pertanyaan yang maknanya penegasan penolakan. Sehingga maknanya bukan bertanya, tapi justru menegaskan bahwa “mereka tidak akan dibalas”.
Dengan kata lain, kalimat ini bukan membuka kemungkinan, tetapi justru menutupnya. Bukan mencari jawaban, tetapi memastikan bahwa tidak ada pilihan lain selain yang akan disebut setelahnya. Setelah itu barulah kemudian disempurnakan dengan lanjutannya, yaitu ungkapan illa ma kanu ya’malun (إِلَّا مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ) : kecuali apa yang dahulu mereka kerjakan.
Maka penggalan ini pada dasarnya harus dipahami sebagi bentuk penegasan bahwa tidak ada balasan kecuali atas apa yang mereka lakukan sendiri.
Jika diterjemahkan secara harfiyah dengan rasa bahasa yang kurang tepat jadi aneh : “apakah mereka dibalas”. Ini kurang tepat dan kita keliru yang melahirkan salah paham. Kurang lebih makna yang ingin didapat adalah : “mereka tidak akan dibalas kecuali sesuai dengan apa yang mereka kerjakan.” Di sinilah pentingnya tidak terpaku pada terjemahan harfiyah, tapi memahami fungsi kalimat dalam konteksnya.
Ayat ini sebenarnya adalah pengunci keadilan Tuhan yang paling telak, supaya kita tidak menyangka Tuhan itu zalim suka memotong hak orang.
Kalau kita pakai logika "bayaran" tadi, ayat ini menegaskan bahwa setiap orang bakal dapat balasan yang pas sesuai dengan kontrak yang mereka jalani. Si penemu teknologi atau ilmuwan hebat itu kan bekerja berdasarkan hukum alam dan tujuan kemanusiaan. Maka, balasannya pun diberikan dalam bentuk yang sesuai dengan dunia tempat mereka bekerja: ya penghargaan, ya kemudahan hidup, ya nama yang harum sampai berabad-abad.
Tuhan membayar lunas keringat mereka di sini, di dunia. Tidak ada yang dikurangi sedikit pun. Jadi, ayat ini menjamin bahwa tidak ada kerja keras yang sia-sia; semua ada harganya dan semua dibayar tunai.
Tapi ingat, ayat ini juga berlaku buat urusan akhirat. Balasan di sana itu ibarat bonus loyalitas bagi mereka yang sudah menandatangani kontrak keimanan. Kalau dari awal memang tidak pernah mendaftar jadi mukmin, ya jangan protes kalau tidak ada saldo yang masuk ke rekening akhiratnya.
Tuhan itu Maha Adil, Dia memberikan apa yang kita cari. Kalau si ilmuwan kerjanya buat ilmu pengetahuan dan kemanusiaan, ya itu yang dia dapatkan. Kalau dia tidak pernah mengerjakan amalan yang niatnya untuk Allah, maka secara logika ayat ini, ya tidak ada yang perlu dibalas di sisi Allah nanti.
Adil banget, kan? Kita tidak bisa minta bayaran dari bos perusahaan A padahal kita kerjanya di perusahaan B.
Jadi, ayat ini sebenarnya adalah jawaban untuk rasa ’tidak enak hati’ kita tadi. Tuhan seolah-olah bilang: "Tenang saja, Aku tidak akan memakan hak siapapun." Orang yang berbuat baik tapi tidak beriman tetap Aku kasih balasan yang setimpal dengan apa yang mereka kerjakan, yaitu kejayaan dan kehormatan di dunia.
Sedangkan bagi yang beriman dan beramal saleh, mereka dapat paket lengkap: kebahagiaan di dunia dan bonus abadi di akhirat.
Dengan memahami ayat ini, kita jadi sadar bahwa gugurnya amal itu bukan berarti amalnya hangus jadi abu begitu saja tanpa bekas, tapi pindah buku pembayarannya saja. Yang satu dibayar pakai mata uang dunia, yang satu lagi bisa dikonversi sampai ke akhirat.
Jadi, tidak ada alasan lagi buat kita bilang Islam itu nggak adil. Justru dengan ayat ini, urusan upah-mengupah antara hamba dan Tuhannya jadi sangat transparan dan tidak ada yang dirugikan seujung kuku pun. Keadilan Tuhan itu presisi, tidak kurang dan tidak lebih, persis seperti apa yang kita kerjakan.