Kemenag RI 2019:Dia (Musa) berdoa, “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku serta masukkanlah kami ke dalam rahmat-Mu. Engkaulah Maha Penyayang dari semua yang penyayang.” Prof. Quraish Shihab:Dia (Nabi Musa as.) berkata: “Tuhan Pemeliharaku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmat-Mu, dan Engkau adalah Maha Pengasih di antara para pengasih.” Prof. HAMKA:Berkata dia, “Ya Tuhanku, ampunilah akan daku dan akan saudaraku dan masukkanlah kiranya kami ke dalam rahmat Engkau karena Engkau adalah Yang Paling Penyayang dari segala yang penyayang.”
Ayat ke-151 dari surat Al-A’raf ini bisa disebut anti klimak dari ayat sebelumnya, dimana diceritakan bahwa akhirnya Nabi Musa berdoa meminta ampunan, serta permohoan agar mereka berdua Allah SWT masukkan ke dalam rahmat-Nya.
Menariknya lafaz doa ini bukan demi kebaikan diri sendiri, melainkan juga untuk saudaranya, Nabi Harun. Walaupun tepat sebelum itu, keduanya sempat bertengkar dan adu argumen. Bahkan Musa sempat manerik rambut Harun.
Namun terdasar dari tidak ada gunanya saling menyalahkan, intinya mereka berdua menyadari bahwa misi mereka sebagai pengawal aqidah bangsa telah mengalami kegagalan. Mereka merasa diri tidak becus dalam mencegah kaumnya sendiri untuk tidak menyembah patung anak sapi.
قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِأَخِي
Makna qaala (قَالَ) adalah : berkata. Yang berkata dalam ayat ini adalah Nabi Musa setelah beliau mendengar penjelasan dari Nabi Harun dan menyadari bahwa saudaranya itu sebenarnya tidak bersalah dalam peristiwa penyembahan anak sapi tersebut.
Makna rabbi (رَبِّ) adalah : wahai Tuhanku. Makna ighfir lii (اغْفِرْ لِي) adalah : ampunilah aku. Permohonan ini menunjukkan ketawadhuan Nabi Musa yang segera memohon ampun kepada Allah SWT atas sikap keras dan emosional yang beliau tunjukkan kepada saudaranya.
Makna wa li akhii (وَلِأَخِي) adalah : dan untuk saudaraku. Yang dimaksud adalah Nabi Harun.
Ibnu Asyur Ibnu Asyur dalam kitab At-Tahrir wa At-Tanwir [1] menjelaskan bahwa Nabi Musa memulai doanya dengan memohon ampunan untuk dirinya sendiri terlebih dahulu. Hal itu beliau lakukan sebagai bentuk adab kepada Allah atas luapan kemarahan yang tampak pada dirinya ketika menghadapi peristiwa penyembahan anak sapi.
Setelah itu Musa memohonkan ampunan untuk saudaranya. Menurut Ibnu Asyur, permohonan ini berkaitan dengan kemungkinan adanya sikap kurang tegas atau sedikit kelonggaran dari Harun dalam mencegah para penyembah anak sapi tersebut.
Nabi Musa tidak hanya memohonkan ampun untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk saudaranya sebagai bentuk kasih sayang, penghormatan, dan pengakuan bahwa Nabi Haruntetap berada di pihak kebenaran.
وَأَدْخِلْنَا فِي رَحْمَتِكَ
Makna wa adkhilnaa (أَدْخِلْنَا) adalah : dan masukkanlah kami. Makna fii rahmatika (فِي رَحْمَتِكَ) adalah : ke dalam rahmat-Mu. Kata rahmah (رَحْمَة) berarti kasih sayang, kelembutan, ampunan, dan perlindungan dari Allah SWT. Sedangkan dhamir ka (كَ) berarti : Engkau, yaitu Allah SWT.
Ungkapan ini menunjukkan bahwa setelah memohon ampunan, Nabi Musa juga memohon agar dirinya dan saudaranya selalu berada dalam limpahan rahmat Allah SWT. Sebab rahmat Allah bukan hanya berarti kasih sayang, tetapi juga mencakup perlindungan, petunjuk, dan keselamatan dari berbagai kesalahan dan keburukan.
Sebenarnya ini ungkapan kiasan yang sangat indah. Maksudnya bukan sekadar mendapatkan rahmat sesaat, tetapi agar rahmat Allah meliputi keduanya dalam seluruh keadaan hidup mereka. Seakan-akan rahmat itu digambarkan seperti sebuah rumah atau tempat perlindungan yang menaungi dan mengelilingi mereka dari segala arah.
وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
Makna wa anta (أَنْتَ) adalah : dan Engkau, yaitu Allah SWT. Kata ini digunakan untuk memberikan penegasan bahwa hanya kepada Allah semata tempat bergantung dan berharap.
Makna arhamur raahimiin (أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ) adalah : Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang. Kata arham (أَرْحَمُ) merupakan bentuk superlatif yang menunjukkan tingkat kasih sayang paling sempurna dan paling tinggi. Sedangkan ar-raahimiin (الرَّاحِمِينَ) berarti orang-orang yang memiliki kasih sayang.
Ungkapan ini menunjukkan pengakuan Nabi Musa bahwa sebesar apa pun kasih sayang makhluk, kasih sayang Allah SWT tetap jauh lebih besar, lebih luas, dan lebih sempurna. Karena itu hanya kepada Allah lah seseorang berharap mendapatkan ampunan, rahmat, dan kelembutan.
[1] Ibnu Asyur (w. 1393 H), At-Tahrir wa At-Tanwir, (Tunis, Darut-Tunisiyah li An-Nasyr, Cet-1, 1984)