Kemenag RI 2019:Kemudian, pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” Prof. Quraish Shihab:Kemudian, aku tentu akan mendatangi (menjerumuskan) mereka dari depan dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka (sebagai) orang-orang yang bersyukur.” Prof. HAMKA:Kemudian itu, aku akan mendatangi mereka dari hadapan mereka dan dari belakang mereka, dan dari kanan mereka dan dari kiri mereka, dan tidaklah akan Engkau dapati kebanyakan mereka itu berterima kasih.
Targetnya ternyata cukup unik, yaitu agar mereka kehilangan sikap bersyukur atas nikmat yang sudah Allah SWT berikan.
ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ
Kata tsumma (ثُمَّ) artinya kemudian. Ini menunjukkan langkah berikutnya, setelah sebelumnya iblis duduk menghadang di jalan yang lurus.
Kata la-aatiyanna-hum (لَآتِيَنَّهُمْ) artinya : sungguh pasti Aku akan mendatangi mereka. Kata kerja dalam bentuk fi’il mudhari’ asalnya dari (أتى - يأتي) yang berarti Aku mendatangi, maksudnya iblis akan mendatangi korbannya.
Namun kata kerja ini ketambahan dua huruf taukid. Di awal ada huruf lam dan di akhir ada huruf nun bertasydid. Sehingga dalam terjemahan, butuh kata yang menunjukkan keduanya dengan : sungguh pasti atau sungguh benar-benar.
Objeknya diwakili oleh dhamirhum (هُمْ) yang maknanya mereka, yaitu anak-anak Adam yang akan jadi sasaran ancaman Iblis.
Kata min (مِنْ) artinya : dari. Kata baini aidihim (بَيْنِ أَيْدِيهِمْ) artinya : arah depan mereka.
Secara bahasa dalam tradisi Arab, ungkapan semacam ini tidak harus berarti arah depan secara fisik. Ungkapan ini lazim dipakai untuk menunjuk sesuatu yang sedang atau akan dihadapi, sesuatu yang berada di hadapan perjalanan hidup manusia. Karena itu para mufassir memahami “depan” sebagai masa depan, orientasi, dan tujuan hidup.
Al-Mawardi dalam tafsir An-Nukat wa Al-’Uyun[1] menuliskan riwayat dari Ibnu Abbas, bahwa “datang dari depan mereka” bermakna bahwa Iblis menyusup ke wilayah akhirat manusia. Ia menanamkan keraguan tentang apa yang akan dihadapi kelak: hari kebangkitan, hisab, surga dan neraka. Manusia tetap melihat ke depan, tetapi pandangan itu menjadi kabur. Akhirat tidak lagi tampil sebagai sesuatu yang dekat dan pasti, melainkan jauh, samar, bahkan bisa diragukan. Inilah serangan dari depan: bukan mendorong manusia ke belakang, tetapi mengubah cara ia memandang apa yang ada di hadapannya.
Dalam ta’wil lain yang disebut Al-Mawardi, “dari depan mereka” dipahami sebagai sisa umur yang masih terbentang. Iblis memanfaatkan fakta bahwa manusia selalu merasa masih punya waktu. Ketaatan ditunda, taubat diulur, amal baik direncanakan tapi tidak segera dilakukan. Seakan-akan masa depan itu panjang dan aman. Padahal justru di situlah jebakannya. Maka “depan” di sini bukan sekadar waktu, tetapi harapan yang dipanjangkan secara menipu.
Al-Baghawi dalam tafsir Ma’alim At-Tanzil fi Tafsir Al-Quran[2] menuliskan bahwa Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas terkait ungkapan : “datang dari depan mereka”, maksudnya adalah yaitu dari sisi urusan akhirat, lalu aku menanamkan keraguan pada mereka terhadapnya.
Namun Ibnu Katsir meriwayatkan jalur kedua dari sumber yang sama, yaitu Ali bin Abi Thalhah yang juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud justru urusan keduniaan.
وَمِنْ خَلْفِهِمْ
Kata wa min (وَمِنْ) artinya dan dari. Kata khalfi-him (خَلْفِهِمْ) artinya : arah belakang mereka.
Sebagaimana kata : “dari depan” yang punya makna majazi, kata “khalfi-him” juga tidak berhenti pada arah fisik, melainkan sering digunakan untuk menunjuk sesuatu yang berada di belakang manusia dalam lintasan hidupnya, baik secara waktu, perhatian, maupun orientasi.
Dalam riwayat yang dinukil dari Ibnu Abbas, “datang dari belakang mereka” dimaknai sebagai godaan terhadap urusan dunia. Iblis membuat manusia terpikat dengan dunia yang sedang mereka genggam: harta, jabatan, kenyamanan, dan kenikmatan yang telah dimiliki. Dunia itu seolah selalu “mengejar dari belakang”, menuntut untuk dipertahankan, ditumpuk, dan tidak dilepaskan. Akibatnya, manusia sibuk menjaga apa yang ada di tangannya, hingga lupa ke mana ia sedang berjalan.
Sebagian mufassir memahami “belakang” sebagai masa lalu manusia. Dari sisi ini, Iblis masuk dengan cara mengikat manusia pada dosa-dosa yang telah lampau. Ia menanamkan rasa putus asa dari taubat, atau sebaliknya, rasa aman palsu karena dosa dianggap sudah berlalu. Masa lalu dijadikan beban atau pembenaran, sehingga manusia tidak bergerak menuju perbaikan.
Dalam penjelasan yang dihimpun oleh Al-Mawardi, “belakang” juga dapat dipahami sebagai sesuatu yang tidak lagi berada di depan pandangan, tetapi tetap memengaruhi langkah. Dunia, kebiasaan lama, dan keterikatan batin sering bekerja seperti itu: tidak selalu disadari, namun mengendalikan arah hidup. Iblis memanfaatkan kondisi ini dengan memperindah keterikatan tersebut, sehingga manusia sulit melepaskannya.
Ada pula ulama yang menafsirkan “dari belakang mereka” sebagai gangguan yang datang tanpa disadari. Jika “depan” adalah wilayah rencana dan harapan, maka “belakang” adalah wilayah kelalaian. Iblis masuk melalui kebiasaan, rutinitas, dan kenyamanan yang membuat manusia berjalan otomatis tanpa muhasabah.
وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ
Ungkapan wa ‘an (وَعَنْ) artinya : dan dari. Kata aymani-him (وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ) secara bahasa berarti “arah kanan mereka”. Sebenarnya kata ini berbentuk jamak, sedangkan bentuk tunggalnya adalah yamin (يَمِين).
Dalam tradisi bahasa Arab dan Al-Qur’an, kanan atau yamin hampir selalu diasosiasikan dengan kebaikan, kemuliaan, kekuatan, dan amal saleh. Karena itu, para ulama sepakat bahwa arah “kanan” di sini bukan pintu maksiat yang kasar, melainkan pintu yang tampak baik dan benar.
Dalam riwayat yang dinukil dari Ibnu Abbas, makna “dari kanan mereka” adalah dari sisi kebaikan mereka. Maksudnya, Iblis tidak hanya menyesatkan manusia melalui dosa, tetapi juga merusak amal baik dari dalam. Ia masuk melalui niat, dengan menanamkan riya’, ujub, dan merasa diri sudah cukup baik. Amal tetap dilakukan, tetapi ruh keikhlasannya terkikis.
Sebagian mufassir menjelaskan bahwa “dari kanan” adalah wilayah ketaatan dan agama. Iblis menggoda manusia bukan dengan menolak agama secara terang-terangan, melainkan dengan membelokkan pemahaman dan sikap beragama. Kebenaran dibuat terasa berat, tuntutan syariat dianggap berlebihan, atau ibadah dipersempit maknanya menjadi rutinitas tanpa ruh.
Dalam penjelasan yang dinukil oleh As-Suddi, “dari kanan” juga dimaknai sebagai upaya Iblis menanamkan keraguan terhadap kebenaran itu sendiri, sehingga yang hak tidak lagi terasa kokoh.
Ada pula ulama yang memaknai “dari kanan mereka” sebagai penyesatan melalui jalan yang tampak aman dan benar. Manusia merasa berada di jalur kebaikan, sehingga lengah terhadap penyimpangan kecil. Padahal justru penyimpangan yang lahir dari kebaikan inilah yang paling sulit disadari dan paling lama diperbaiki.
Dalam kerangka tafsir Al-Mawardi, arah kanan menunjukkan bahwa Iblis tidak anti terhadap amal saleh, selama amal itu bisa dirusak nilainya. Ia rela manusia shalat, berdakwah, menulis, dan berbuat baik, asalkan semua itu berujung pada kebanggaan diri, fanatisme, atau merasa paling benar. Dengan cara ini, manusia tersesat tanpa merasa sedang tersesat.
Maka makna wa ‘an aymanihim adalah serangan terhadap wilayah terbaik manusia: iman, amal saleh, dan kebenaran. Jika sisi kiri adalah maksiat, maka sisi kanan adalah kebaikan yang dibelokkan. Dan justru serangan dari kanan inilah yang paling berbahaya, karena ia menyamar sebagai ketaatan.
وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ
Huruf wa ‘an (وَعَنْ) artinya : dan dari. Kata syamaili-him (شَمَائِلِهِمْ) artinya : arah kiri mereka.
Istilah ’kiri’ kerap diasosiasikan dengan keburukan, kelemahan, kesialan, dan penyimpangan. Karena itu, para mufassir memahami bahwa arah kiri adalah pintu maksiat yang paling jelas dan paling kasar. Dalam penjelasan yang dinukil dari Ibnu Abbas, makna “dari kiri mereka” adalah dari sisi keburukan dan dosa-dosa mereka.
Iblis menggoda manusia untuk melakukan perbuatan terlarang, memperindah maksiat, dan meremehkan dosa. Dosa ditampilkan seolah ringan, wajar, atau bahkan dianggap sebagai kebutuhan manusiawi yang tidak perlu disesali.
Sebagian ulama menjelaskan bahwa “dari kiri” adalah jalur kebatilan yang terang-terangan. Jika dari kanan Iblis merusak kebaikan, maka dari kiri ia mendorong keburukan secara langsung. Nafsu dilepas tanpa kendali, syahwat diperturutkan, dan larangan syariat ditabrak dengan berbagai pembenaran.
Dalam penafsiran yang dinukil dari As-Suddi, arah kiri dikaitkan dengan kebatilan yang dihias, sehingga manusia tertarik kepadanya meskipun tahu itu salah.
Sebagian mufassir juga memaknai “dari kiri mereka” sebagai godaan melalui kondisi lemah manusia, seperti kemiskinan, ketakutan, atau keterdesakan. Dalam keadaan sempit, manusia lebih mudah melanggar batas, dan Iblis masuk dengan bisikan bahwa melanggar larangan adalah jalan keluar.
Inilah mengapa dalam sebagian ta’wil disebutkan bahwa “kiri” berkaitan dengan dosa yang lahir dari kebutuhan dan keterpaksaan yang dibenarkan secara palsu.
Dalam kerangka tafsir Al-Mawardi, arah kiri melengkapi gambaran bahwa Iblis menguasai wilayah keburukan secara penuh. Ia mengajak, mendorong, dan menormalisasi maksiat. Tidak ada penyamaran yang rumit seperti dari kanan; justru keburukan dibuat terasa akrab dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, makna wa ‘an syama’ili-him adalah serangan melalui pintu dosa dan keburukan yang nyata. Jika dari kanan manusia bisa tersesat sambil merasa taat, maka dari kiri manusia tersesat sambil mengikuti hawa nafsu.
Dan dengan menyebut arah kiri ini, Al-Qur’an menegaskan bahwa tidak ada sisi kehidupan manusia yang luput dari godaan, baik melalui kebaikan yang dibelokkan maupun keburukan yang diperindah.
Menarik untuk ditelaan lebih lanjut, ketia Al-Quran menyebut kata “depan” (مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ) dan “belakang” (وَمِنْ خَلْفِهِمْ) tidak berbentuk jamak, sedangkan ketika menyebut “kanan” (وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ) dan “kiri” (وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ) justru berbentuk jamak. Jelas ini bukan kebetulan gramatikal, tetapi pilihan balaghah yang sangat halus.
Pertama, depan dan belakang adalah arah tunggal secara orientasi. Setiap manusia, kapan pun, hanya memiliki satu arah depan dan satu arah belakang. Ia hanya bisa melangkah ke satu masa depan dan meninggalkan satu masa lalu. Karena itu Al-Qur’an mengekspresikannya dalam bentuk tunggal, karena objeknya memang satu: satu orientasi hidup ke depan dan satu keterikatan ke belakang.
Kedua, kanan dan kiri bersifat jamak karena pintunya banyak. Arah kanan (kebaikan) dan kiri (keburukan) tidak hanya satu jalur. Amal baik memiliki banyak cabang: ibadah, akhlak, muamalah, ilmu, dakwah, dan seterusnya. Demikian pula maksiat: syahwat, harta, kekuasaan, lisan, pandangan, dan lain-lain. Maka Al-Qur’an menggunakan bentuk jamak aymān dan shamā’il untuk menunjukkan banyaknya celah dan variasi dari sisi kanan dan kiri.
Ketiga, dari sisi balaghah, bentuk jamak menunjukkan intensitas dan keluasan serangan. Iblis tidak masuk dari satu pintu kebaikan atau satu pintu keburukan saja, tetapi dari banyak pintu sekaligus. Kebaikan bisa dirusak dengan banyak cara, dan keburukan bisa diperindah dengan banyak wajah. Bentuk jamak mengisyaratkan bahwa serangan dari kanan dan kiri lebih kompleks dan berlapis dibandingkan depan dan belakang.
وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ
Jika kita renungkan apa yang jadi ancaman Iblis terhadap anak keturunan Adam, rasanya kok ada yang kurang nyambung. Bukankah seharusnya Iblis mengatakan bahwa : mereka tidak taat, atau tidak beriman? Tapi kenapa justru malah membuat anak-anak Adam tidak bersyukur? Bukan kah kan jauh sekali dan tidak relate dengan latar belakangnya?
Rasa kurang nyambung ini wajar dan perlu dijelaskan. Jadi iblis itu kan sudah terlanjur dilaknat akibat dia sombong tidak mau sujud kepada Adam. Hal itu kalau direnungkan justru karena dirinya kurang bersyukur dengan semua nikmat yang Allah berikan kepadanya. Ini adalah penyakit yang jadi asal muasal sikap sombongnya.
Maka untuk itu dia akan jerumuskan Adam dan keturunannya lewat jalur yang sama, yaitu tidak mensyukuri apa yang sudah ada.
Iblis tidak jatuh karena kurang ilmu, juga bukan karena tidak mengenal Allah, bahkan bukan karena tidak tahu perintah. Iblis jatuh karena tidak mensyukuri posisi, asal-usul, dan nikmat yang telah Allah berikan kepadanya. Iblis membandingkan nikmatnya dengan nikmat orang lain, lalu merasa dizalimi. Di situlah rasa bersyukurnya mati, dan kesombongan lahir sebagai akibat langsungnya.
Ketika Iblis berkata “aku lebih baik darinya”, itu sejatinya bukan klaim keunggulan semata, tetapi protes terhadap pembagian nikmat Allah. Dan protes terhadap nikmat itulah hakikat kufur nikmat.
Maka sangat masuk akal, bahkan sangat konsisten, jika target terakhir Iblis bukan iman Adam, bukan ketaatan Adam, tetapi syukur Adam. Karena jalan jatuhnya Iblis adalah jalan yang ia tahu paling efektif. Iblis tidak akan berkata: “Aku akan membuat mereka kafir”, tapi : “Aku akan membuat mereka tidak bersyukur.”