| ◀ | Jilid : 18 Juz : 9 | Al-A'raf : 185 | ▶ |
أَوَلَمْ يَنْظُرُوا فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ وَأَنْ عَسَىٰ أَنْ يَكُونَ قَدِ اقْتَرَبَ أَجَلُهُمْ ۖ فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُونَ
Kemenag RI 2019: Apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala apa yang Allah ciptakan dan kemungkinan telah makin dekatnya waktu (kebinasaan) mereka? Lalu, berita mana lagi setelah ini yang akan mereka percayai?| TAFSIR AL-MAHFUZH |
Ayat ke-185 dari surat Al-A’raf ini masih meneruskan argumen yang sudah dibangun di ayat sebelumnya terkait penolakan kaum musyrikin Mekkah atas dakwah nabi SAW. Di Ayat ini Allah SWT kembali mempertanyakan bahwa apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala apa yang Allah ciptakan.
Selain itu Allah SWT juga mengingatkan bahwa waktu menuju kepada kebinasaan boleh jadi sudah semakin dekatnya waktu.
Di bagian akhir, ayat ini ditutup dengan sebuah pertanyaan yang bernada keluhan. Jika kabar kehancuran saja tidak mereka gubris, maka dengan cara apalagi mereka bisa percayai. Seolah tidak ada lagi harapan tentang itu.
أَوَلَمْ يَنْظُرُوا فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
Makna a wa lam (أَوَلَمْ) adalah: tidakkah atau apakah mereka belum juga. Ini merupakan pertanyaan yang bernada teguran dan dorongan untuk berpikir. Makna yanzhuruu (يَنْظُرُوا) adalah: mereka memperhatikan, mengamati, atau merenungkan. Yang dimaksud bukan sekadar melihat dengan mata, sebab orang-orang Quraisy setiap hari melihat langit dan bumi. Yang dituntut di sini adalah pengamatan yang melahirkan kesadaran dan kesimpulan.
Makna fi malakuti (فِي مَلَكُوتِ) adalah: pada kerajaan yang agung, kekuasaan yang luas, atau tatanan pemerintahan yang sempurna. Sedangkan as-samawati wal-ardh (السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ) berarti: banyak langit dan bumi.
Yang paling menarik dalam ayat ini adalah penggunaan kata malakut (مَلَكُوت) dan bukan mulk (مُلْك). Walaupun keduanya berasal dari akar yang sama, yaitu (م ل ك) yang berkaitan dengan kepemilikan, kekuasaan, dan kerajaan, namun istilah malakut merupakan bentuk yang menunjukkan keluasan dan keagungan yang luar biasa. Seperti perbedaan antara kerajaan dan kemaharajaan. Karena itu para mufassir sering menjelaskan bahwa malakut menunjuk kepada seluruh sistem kekuasaan Allah SWT yang mengatur alam semesta, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.
وَمَا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ
Makna wa (وَ) adalah: dan. Makna ma (مَا) di sini adalah ma al-maushulah, yaitu: apa saja yang. Makna khalaqa (خَلَقَ) adalah: telah menciptakan. Makna Allahu (اللَّهُ) adalah: Allah SWT. Sedangkan min syai'in (مِنْ شَيْءٍ) berarti: sesuatu apa pun.
Secara harfiah frasa ini berarti: Dan segala sesuatu yang telah Allah ciptakan.atau : Dan apa saja dari segala sesuatu yang diciptakan Allah.
Yang menarik adalah penggunaan kata (مِنْ شَيْءٍ), dimana huruf min di sini berfungsi untuk menguatkan makna keumuman. Dalam bahasa Arab, ungkapan ini memberikan kesan bahwa tidak ada satu pun makhluk yang dikecualikan. Yang besar maupun yang kecil, yang terlihat maupun yang tidak terlihat, yang dekat maupun yang jauh, semuanya termasuk dalam cakupan ayat.
Karena itu Allah SWT tidak hanya mengajak mereka memperhatikan yang bersifat kosmik dan sangat besar, tetapi juga mengajak mereka memperhatikan seluruh makhluk ciptaan Allah SWT tanpa kecuali. Jika sebelumnya perhatian diarahkan kepada kerajaan langit dan bumi secara keseluruhan, sekarang perhatian dipersempit kepada setiap makhluk yang ada di dalam kerajaan itu.
Seakan-akan Allah SWT berkata: Jika kalian tidak mampu memahami keseluruhan alam semesta, maka lihatlah satu makhluk saja dari ciptaan Allah. Lihatlah gunung, laut, pohon, hujan, hewan, burung, atau bahkan diri kalian sendiri. Semuanya mengandung tanda-tanda yang menunjukkan adanya Sang Pencipta.
وَأَنْ عَسَىٰ أَنْ يَكُونَ
Makna wa (وَ) adalah: dan. Makna an (أَنْ) di sini adalah: bahwa. Makna ‘asaa (عَسَىٰ) adalah: boleh jadi, barangkali, atau mungkin saja. Makna an yakuna (أَنْ يَكُونَ) adalah: bahwa telah terjadi atau bahwa akan terjadi. Makna qad iqtaraba (قَدِ اقْتَرَبَ) adalah: sungguh telah dekat atau benar-benar telah mendekat. Sedangkan ajaluhum (أَجَلُهُمْ) berarti: ajal mereka, batas waktu mereka, atau akhir masa yang telah ditentukan bagi mereka.
Secara keseluruhan, ayat ini berarti: "Dan (tidakkah mereka memperhatikan) bahwa boleh jadi ajal mereka telah dekat."
Menariknya, setelah Allah SWT mengajak mereka merenungkan kerajaan langit dan bumi serta seluruh ciptaan-Nya, perhatian tiba-tiba dialihkan kepada sesuatu yang sangat pribadi: umur mereka sendiri. Seolah-olah Allah SWT berkata:
"Kalau kalian tidak mau mengambil pelajaran dari luasnya alam semesta, setidaknya pikirkanlah diri kalian sendiri. Bagaimana jika waktu kalian ternyata sudah hampir habis?"
Kata asa (عسى) biasanya menunjukkan kemungkinan. Namun jika kata ini datang dari Allah SWT, para ulama menjelaskan bahwa maknanya bukan keraguan sebagaimana pada manusia. Allah SWT tentu mengetahui secara pasti kapan ajal seseorang tiba. Yang dimaksud adalah menggugah perasaan manusia yang tidak mengetahui kapan ajalnya datang. Dari sudut pandang manusia, kematian selalu merupakan kemungkinan yang bisa terjadi kapan saja.
Karena itu ayat ini tidak mengatakan: "Ajal mereka pasti sudah dekat." Tetapi: "Bagaimana jika ajal mereka ternyata sudah dekat?"
Ungkapan semacam ini justru lebih mengguncang hati. Sebab manusia sering menunda taubat karena merasa masih punya banyak waktu. Padahal tidak ada seorang pun yang mengetahui berapa lama lagi sisa umurnya.
قَدِ اقْتَرَبَ أَجَلُهُمْ
Kata iqtaraba berasal dari akar (ق ر ب) berarti dekat. Bentuk ifta'ala pada kata ini memberi kesan proses mendekat yang semakin nyata. Seakan-akan kematian sedang berjalan menuju mereka sedikit demi sedikit, sementara mereka tidak menyadarinya.
Susunan ayat ini juga sangat indah. Mula-mula Allah SWT mengajak mereka melihat alam raya yang sangat besar. Lalu mengajak mereka memperhatikan seluruh makhluk. Kemudian Allah SWT membawa mereka kembali kepada diri mereka sendiri.
Seakan-akan setelah melihat seluruh tanda kebesaran Allah SWT di luar diri mereka, kini mereka diminta melihat kenyataan yang paling dekat dengan mereka, yaitu bahwa umur mereka terbatas dan kematian bisa datang kapan saja. Maka apa gunanya terus mendustakan kebenaran jika ternyata kesempatan untuk beriman dan bertaubat sudah hampir berakhir?
فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُونَ
Makna fa (فَ) adalah: maka. Huruf ini menunjukkan kesimpulan dari seluruh argumentasi yang telah disebutkan sebelumnya. Makna bi ayyi (بِأَيِّ) adalah: dengan perkataan yang mana, atau kepada berita yang mana. Makna haditsin (حَدِيثٍ) adalah: perkataan, berita, ucapan, atau pesan yang disampaikan. Makna ba'dahu (بَعْدَهُ) adalah: sesudahnya, yakni sesudah Al-Qur'an dan seluruh bukti yang telah dipaparkan. Sedangkan yu'minun (يُؤْمِنُونَ) berarti: mereka beriman.
Secara keseluruhan ayat ini berarti: "Maka kepada perkataan apa lagi sesudah ini mereka akan beriman?"
Ayat ini merupakan penutup yang sangat kuat bagi rangkaian argumentasi sebelumnya. Allah SWT telah mengajak mereka merenungkan pribadi Nabi SAW yang selama puluhan tahun mereka kenal. Allah SWT mengajak mereka melihat kerajaan langit dan bumi, memperhatikan seluruh ciptaan-Nya, serta mengingatkan bahwa ajal mereka mungkin sudah dekat. Setelah semua dalil itu dipaparkan, Allah SWT mengajukan pertanyaan yang mengguncang:
"Kalau setelah semua ini mereka masih tidak beriman, lalu perkataan apa lagi yang akan membuat mereka beriman?"
Kata hadits (حديث) di sini menarik untuk diperhatikan. Akar katanya adalah (ح د ث) yang pada asalnya berarti sesuatu yang baru terjadi atau kabar yang baru datang. Karena itu dalam bahasa Arab, hadits berarti berita, kisah, pembicaraan, atau perkataan yang disampaikan kepada orang lain. Dalam ayat ini yang dimaksud tentu bukan hadits Nabi SAW dalam pengertian istilah ilmu hadits yang kita kenal sekarang, sebab istilah tersebut baru berkembang kemudian. Yang dimaksud adalah segala bentuk pesan, berita, dan perkataan yang dapat menjadi sarana petunjuk.
Maka makna ayat ini bukan sekadar: "Kalau tidak beriman kepada Al-Qur'an, mereka akan beriman kepada apa?" Tetapi lebih dalam:
"Jika perkataan Allah SWT yang penuh hujjah, tanda-tanda alam yang begitu jelas, dan kenyataan hidup yang mereka saksikan setiap hari masih tidak mampu membuka hati mereka, maka sumber kebenaran apa lagi yang mereka tunggu?"
Ini adalah pertanyaan yang sebenarnya tidak menunggu jawaban. Dalam ilmu balaghah disebut istifham inkari, yaitu pertanyaan yang bertujuan meniadakan kemungkinan adanya jawaban lain. Seakan-akan Allah SWT menegaskan:
"Tidak ada lagi perkataan yang lebih benar daripada Al-Qur'an. Tidak ada lagi hujjah yang lebih kuat daripada yang telah disampaikan. Jika mereka tetap menolak, maka masalahnya bukan kurangnya bukti, melainkan kerasnya hati mereka."
Karena itu ayat ini menjadi penutup yang sangat logis dan sangat menyentuh. Setelah seluruh pintu pemikiran dibuka, seluruh bukti dipaparkan, dan seluruh peringatan disampaikan, Allah SWT menyerahkan persoalannya kepada hati manusia itu sendiri. Jika Al-Qur'an yang demikian jelas masih ditolak, maka hampir tidak ada lagi sarana yang tersisa untuk membuat mereka beriman.