Rumah Fiqih Indonesia
Ukuran Teks:
Jilid : 18 Juz : 9 | Al-A'raf : 189
Al-A'raf 7 : 189
Mushaf Kemenag RI hal. 175

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا ۖ فَلَمَّا تَغَشَّاهَا حَمَلَتْ حَمْلًا خَفِيفًا فَمَرَّتْ بِهِ ۖ فَلَمَّا أَثْقَلَتْ دَعَوَا اللَّهَ رَبَّهُمَا لَئِنْ آتَيْتَنَا صَالِحًا لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ

Kemenag RI 2019: Dialah yang menciptakan kamu dari jiwa yang satu (Adam) dan darinya Dia menjadikan pasangannya agar dia cenderung dan merasa tenteram kepadanya. Kemudian, setelah ia mencampurinya, dia (istrinya) mengandung dengan ringan. Maka, ia pun melewatinya dengan mudah. Kemudian, ketika dia merasa berat, keduanya (suami istri) memohon kepada Allah, Tuhan mereka, “Sungguh, jika Engkau memberi kami anak yang saleh, pasti kami termasuk orang-orang yang bersyukur.” )
Prof. Quraish Shihab: Dialah Yang menciptakan kamu (keturunan Nabi Adam as.) dari diri yang satu dan darinya Dia menjadikan pasangannya, supaya dia merasa tenang (dan cenderung) kepada pasangannya. Maka setelah dicampurinya, dia mengandung kandungan yang ringan, dan itu berlangsung (dalam keadaan ringan) dengannya beberapa waktu lamanya. Lalu ketika dia merasa berat, keduanya bermohon kepada Allah, Tuhan Pemelihara mereka berdua: “Demi kekuasaan dan kebesaran-Mu! Jika Engkau menganugerahi kami (anak) yang sempurna, tentulah kami benar-benar termasuk orang-orang yang bersyukur.”
Prof. HAMKA: Dialah yang telah menciptakan kamu daripada diri yang satu, dan Dia jadikan daripadanya istrinya, supaya dia merasa tenang dengan dia. Maka, tatkala dia telah mencampurinya, mengandunglah dia satu kandungan yang ringan lalu dia terus dengan dia. Maka, tatkala telah berat, berdoalah keduanya kepada Allah, “Sesungguhnya jika Engkau anugerahi kami anak laki-laki yang baik, akan jadilah kami daripada orang-orang yang bersyukur.”

TAFSIR AL-MAHFUZH

Ayat ke-189 dari surat Al-A'raf ini fokus pada penciptaan manusia dari jiwa yang satu, namun namun berpasangan merasa tenteram kepadanya. Pasangan itu lantas punya anak lewat proses kehamilan, dari yang mudah hingga yang berat. Kemudian sudah terasa berat, keduanya pasangan itu memohon kepada Allah SWT dan bersyukur jika dianuegrahi anak yang saleh.

Jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, sekilas tidak ada hubungannya, karena pokok bahasannya sudah berbeda. Namun Al-Biqa'i dalam tafsir Nuzhum Ad-Durar fi Tanasubi Al-Ayah wa As-Suwar[1] menjelaskan bahwa ayat ini merupakan jawaban atas sikap mengejek orang-orang musyrik terhadap pertanyaan tentang hari kiamat.akar dari sikap mengejek itu adalah kesyirikan mereka, yakni ketidakpercayaan terhadap keesaan dan kekuasaan mutlak Allah.

***

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ

Lafazh huwa (هُوَ) dalam bahasa Arab merupakan kata ganti orang ketiga tunggal dan umumnya digunakan untuk mudzakkar alis laki-laki. Maknanya adalah: Dia. Maksudnya tidak lain adalah Allah SWT. Namun tidak secara otomatis menegaskan jenis kelamin. Sebab dalam bahasa Arab, benda-benda mati pun sering dihukumi seolah ada jenis kelaminnya.

Penggolongan kata menjadi laki-laki atau mudzakkar dan perempuan atau muannats sering kali hanyalah sistem klasifikasi kata secara gender gramatikal, bukan penunjuk jenis kelamin biologis gender haqiqi. Sebagai contoh benda mati, matahari atau syams (شمس) dihukumi secara tata bahasa sebagai perempuan, sedangkan bulan alias qamar (قمر) dihukumi sebagai laki-laki. Pemilihan kata ganti huwa (هو) untuk Allah bekerja pada sistem tata bahasa ini, bukan pada sistem biologis.

Makna alladzii (الَّذِي) adalah: Yang atau Zat yang. Makna khalaqa-kum (خَلَقَكُمْ) adalah: menciptakan kamu. Dalam kajian linguistik Al-Qur'an dan ilmu tauhid, proses Al-Khalq (penciptaan) memang dibagi menjadi dua dimensi yang berbeda.

1. Mencipta dari Ketiadaan

Secara terminologi, ini disebut dengan al-ibda' (الإبداع) atau al-ikhtira' (الاختراع). Dalam isitlah Yunani disebut Creatio ex Nihilo. Ini adalah level penciptaan yang mutlak dan eksklusif hanya bisa dilakukan oleh Allah SWT. Allah SWT mengadakan sesuatu dari ketiadaan mutlak, tanpa adanya cetak biru, tanpa bahan baku sebelumnya, dan tanpa contoh tiruan.

Contohnya penciptaan alam semesta seperti langit, bumi, waktu, dan ruang pada mulanya. Allah menciptakan material dasar alam semesta benar-benar dari ketiadaan mutlak. Begitu pula dengan penciptaan roh manusia. Allah hanya perlu berfirman Kun (كن) yang berarti : Jadilah, maka hal yang sebelumnya tidak eksis sama sekali, seketika mewujud menjadi kenyataan.

2. Mencipta Dari Sesuatu Yang Sudah Ada

Ini adalah pemaknaan asli dari akar kata kha-la-qa (خ-ل-ق) menurut bahasa Arab klasik. Secara etimologi, kata ini pada mulanya berarti mengukur (at-taqdir) atau memotong kulit sesuai ukuran yang pas untuk dijadikan benda lain.

Prosesnya adalah mengubah, membentuk, memodifikasi, dan memberi proporsi yang presisi pada suatu bahan baku yang sudah ada, lalu merangkainya menjadi sebuah entitas baru yang sama sekali berbeda dan jauh lebih kompleks.

Contoh dalam Al-Qur'an adalah penciptaan Nabi Adam alaihissalam yang bahan bakunya sudah ada, yaitu tanah atau lumpur, lalu Allah membentuk, mengukur, dan merangkainya menjadi wujud manusia. Selain itu adalah penciptaan manusia secara umum. Bahan bakunya sudah ada, yaitu sperma dan ovum dari sari pati makanan, lalu diubah menjadi segumpal darah, segumpal daging, tulang, lalu ditiupkan roh.

 Secara lebih spesifik yang dimaksud dengan kamu disini adalah umat manusia, bukan makhluk yang lain seperti hewan, tumbuhan dan alam semesta.

***

مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ

Makna min (مِنْ) adalah: dari. Makna nafsin (نَفْسٍ) adalah: diri. Makna waahidatin (وَاحِدَةٍ) adalah: yang satu.

Kata nafs (نَفْس) dalam bahasa Arab berakar dari huruf (ن ف س) yang punya banyak sekali makna. Kata ini bisa merujuk pada Dzat Ilahi (majaz), atau individu manusia secara utuh, bisa juga bermakna ruh yang berpisah saat ajal, atau sering juga berarti dimensi psikologis-moral manusia, yaitu hawa nafsu, hingga bermakna menjadi hati nurani.

Yang menarik kata nafs (نَفْس) ini juga bisa digunakan untuk menyebut jenis makhlu Allah yaitu kelompok manusia, atau bangsa Arab, atau lebih spesifik lagi yaitu suku Quraish. Perhatikan firman Allah SWT berikut :

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kalanganmu sendiri. (QS At-Taubah :128)

Maka banyak mufassir yang meyakini bahwa yang dimaksud dengan nafsin wahidatin (نفس واحدة) adalah satu individu tunggal yaitu Nabi Adam alaihissalam.

***

وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا

Makna wa ja'ala (وَجَعَلَ) adalah: dan Dia menjadikan. Maksudnya setelah Allah SWT menciptakan manusia, lantas Allah SWT kemudian menjadikannya begitu begitu.

Menarik untuk dicermati istilah yang Allah SWT gunakan pada penggalan ini, karena berbeda dengan yang Allah SWT gunakan pada surat An-Nisa. Perhatikan teks ayatnya :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا

Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu dan Dia menciptakan darinya pasangannya. (QS. An-Nisa : 1)

Sedangkan di ayat yang sedang kita bahas ini, ternyata untuk pasangannya digunakan kata ja’ala (جعل) bukan khalaqa (خلق).

وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا

Penjelasannya kurang lebih begini : Allah SWT menggunakan kata khalaqa (خلق) untuk momen penciptaan paling fundamental. Allah mengukur, menakar bahan baku tanah, dan mengadakan wujud dasar spesies manusia ke alam semesta. Yang dibahas adalah dari mana asal muasalnya.

Sedangkan kata  ja'ala (جعل) sendiri memberi fungsi pada sesuatu yang sudah ada agar memiliki peran tertentu. Contohnya penciptaan besi itu khalaqa, namun ketika besi itu dilebur menjadi perkakas, pedang, baju besi dan lainnya, maka proses itu disebut ja'ala (جعل), alias menjadikan.

Ketika menyebutkan pasangan, Al-Qur'an tidak lagi bicara bagaimana pasangan itu diciptakan, fokusnya bukan proses biologis penciptaan perempuan, melainkan sudah bergeser pada peranan dan fungsi.

Lafazh minhaa (مِنْهَا) berarti : darinya. Dhamir ha (ها)  disini kembali kepada nafs (نفس) yang jika kita sepakati maksudnya jenis makhluk yaitu manusia, maka akan lebih spesifik dalam memahaminya. Allah menciptakan sejenis makhluk yang disebut manusia, lalu Allah jadikan dari sesama manusia itu pasangannya.

Makna zaujahaa (زَوْجَهَا) diterjemahkan oleh Kemenag RI dan Quraish Shihab sebagai : pasangannya. Sedangkan dalam terjemahan HAMKA, teksnya tertulis : istrinya.

Sebenarnya kata zauj (زوج) itu bersifat universal, tidak spesifik unutk laki-laki atau perempuan. Sehingga makanya tidak harus selalu istri. Namun kalau mau lebih spesifik sebagai istri yang berjenis kelamin perempuan, bisa saja pakai kata jauzah (زوجة).

Namun yang Allah SWT gunakan memang bukan zaujataha (زوجتها) melainkan zaujaha (زوجها). Menurut hemat Penulis, nampaknya dalam hal ini yang lebih ditekankan bahwa jenis makhluk biologis yang namanya manusia itu diciptakan dengan berpasang-pasangan. Tidak secara spesifik terikat pembicaraannya hanya tentang Nabi Adam dan istrinya.

***

لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا

Makna li yas-kuna (لِيَسْكُنَ) terdiri dari huruf lam (ل) yang disebut lam ta'lil, fungsinya menunjukkan alasan atau tujuan, sehingga maknanya secara harfiah adalah agar atau supaya.

Kemudian diikuti oleh kata kerja  yaskuna (يسكن) yang berasal dari akar kata dasar (س-ك-ن) yang makna dasarnya adalah tenang, diam, diam di tempat, tenteram, atau hilangnya kegelisahan serta pergerakan yang melelahkan.

Dari akar kata yang persis sama, bahasa Arab melahirkan istilah sakinah (سكينة) yang berarti ketenteraman batin yang dalam, serta kata maskan (مسكن) yang berarti tempat tinggal atau rumah. Penggunaan kata ini mengisyaratkan sebuah analogi yang sangat indah, yaitu adanya kehidupan manusia berpasang-pasangan agar ada tempat bagi jiwa untuk tempat kembali, untuk beristirahat, untuk bernaung, dan melepaskan diri dari hiruk-pikuk kepenatan dunia.

Pesannya bahwa manusia itu tidak bisa merasa tenang dalam menjalani hidup kecuali ada bersamanya pasanganya.

Makna ilaihaa (إِلَيْهَا) adalah: kepadanya. Menarik juga ketika bicara tentang kebersamaan dengan pasangan ini, ternyata Allah SWT tidak menggunakan kata ma’a (مع) atau ‘inda (عند), melainkan justru menggunakan preposisi ila (إلى) yang artinya menuju kepadanya.

Pesan yang tersirat bahwa yang lebih ditekannya adalah prosesnya, yaitu menuju kepada, bukan hasil akhirnya. Baik laki-laki atau pun perempuan itu adalah pasangan, Allah SWT menanamkan pada keduanya secara fitrah kebutuhan untuk bergerak menuju kepada pasangannya. Secara kejiwaan, ada naluri untuk melangkah menuju kepada (إلى) pasangannya.

***

فَلَمَّا تَغَشَّاهَا

Makna falammaa (فَلَمَّا) adalah: maka tatkala atau setelah. Makna taghasysyaa haa (تَغَشَّاهَا) diterjemahkan menjadi : mencampurinya.

Kata taghaysysya (تغشى) ini berasal dari akar kata (غ ش ي) yang mengikuti pola (تَفَعَّلَ - يَتَفَعَّلُ: تَغَشَّى - يَتَغَشَّى). Secara harfiah kata ini berarti menutupi, menyelimuti, atau meliputi sesuatu hingga tertutup. Silahkan bandingkan dengan firman Allah SWT berikut:

وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى

Demi malam apabila menutupi (segala sesuatu). (QS. Al-Lail : 1)

Malam disebut yaghsya (يَغْشَى) karena kegelapannya menyelimuti bumi dan menutupi pandangan manusia terhadap apa yang sebelumnya tampak jelas pada siang hari.

Namun, dalam konteks ayat ini yang mengisahkan hubungan antara suami dan istri, kata taghasysya (تَغَشَّى) merupakan bentuk kinayah atau ungkapan penghalusan dan metafora dari menyetubuhi. Terjemah yang secara apa adanya adalah : "Maka ketika suami menyetubuhi istrinya”.

Al-Quran memilih ungkapan yang lembut dan penuh adab ini, bukan menyebut hubungan biologis secara vulgar. Karena itu para mufassir menjelaskan bahwa تَغَشَّاهَا di sini bermakna jima' (hubungan suami-istri), dengan tetap mempertahankan nuansa asal katanya, yaitu adanya kedekatan dan peliputan antara suami dan istri.

Kalau kita teliti di banyak ayat Al-Quran, kata jima’ seringkali diungkap dengan berbagai istilah dan kata yang saling berbeda. Penulis coba buatkan tabel yang berisi kata-kata dalam Al-Quran yang makna konotasinya adalah jima’ :

Istilah

Ayat

Kutipan Ayat

الرفث (ar-rafats)

Al-Baqarah : 187

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ

الإتيان (al-ityān)

Al-Baqarah : 223

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّىٰ شِئْتُمْ

الحرث (al-harts)

Al-Baqarah : 223

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ

المباشرة (al-mubāsyarah)

Al-Baqarah : 187

فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ

المسّ (al-mass)

Al-Baqarah : 236

Maryam : 20

لَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِن طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ مَا لَمْ تَمَسُّوهُنَّ

وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ

اللمس (al-lams)

An-Nisa' : 43

أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا

الدخول (ad-dukhūl)

An-Nisa' : 23

اللَّاتِي دَخَلْتُم بِهِنَّ

القربان (al-qurbān)

Al-Baqarah : 222

وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطْهُرْنَ

الغشيان (al-ghasyayān)

Al-A'raf : 189

فَلَمَّا تَغَشَّاهَا حَمَلَتْ حَمْلًا خَفِيفًا

الطمث (at-tamts)

Ar-Rahman : 56

لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌّ

النكاح (an-nikāh)

Al-Baqarah : 230

فَإِن طَلَّقَهَا فَلَا تَحِلُّ لَهُ مِن بَعْدُ حَتَّىٰ تَنكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ

***

حَمَلَتْ حَمْلًا خَفِيفًا فَمَرَّتْ بِهِ

Makna hamalat (حَمَلَتْ) adalah: dia mengandung. Makna hamlan (حَمْلًا) adalah: kandungan. Makna khafiifan (خَفِيفًا) adalah: yang ringan.

Disebutkan kehamilan yang ringan oleh para para ahli tafsir maksudnya adalah sifat fase awal kehamilan alis hamil muda. Dalam ilmu medis dan tafsir klasik, fase ini merujuk pada momen-momen awal pembuahan, yaitu ketika janin masih berbentuk nuthfah berupa setetes cairan, yang berkembang menjadi 'alaqah yaitu segumpal darah. Lantas berkembang lagi hingga menjadi mudhghah yaitu segumpal daging.

Namun karena semua itu ukurannya yang masih sangat kecil dan massanya belum berbobot, kehamilan ini tidak memberikan rasa sakit, lelah, ataupun beban fisik yang berarti bagi sang ibu.

Makna famarrat (فَمَرَّتْ) adalah: lalu dia terus membawa atau lalu dia berjalan dengan. Makna bihii (بِهِ) adalah: kandungan itu.

Keindahan deskripsi ini berlanjut pada kalimat fa marrat bihi. Kata marrat berasal dari akar kata marra yang berarti berjalan, terus berlangsung, atau berlalu. Para ulama bahasa dan tafsir, seperti yang dinukilkan oleh Ibnu Katsir dari kalangan sahabat dan tabi'in, menjelaskan bahwa frasa ini bermakna "dia tetap beraktivitas bersamanya".

Artinya, karena kandungannya masih sangat ringan dan belum menonjol keluar, sang ibu bisa menjalani hari-harinya dengan normal. Ia tetap bisa bangkit, duduk, berjalan, dan menyelesaikan urusan rumah tangga tanpa merasa terganggu ataupun terbebani oleh janin di dalam rahimnya.

Namun ada pula ulama yang mengartikan marrat bihi (مَرَّتْ بِهِ) dari akar kata muryah (مرية) yang berarti keraguan, yang menggambarkan sisi psikologis seorang wanita pada minggu-minggu pertama kehamilan.

***

فَلَمَّا أَثْقَلَتْ دَعَوَا اللَّهَ رَبَّهُمَا

Makna falammaa (فَلَمَّا) adalah: maka tatkala atau setelah. Makna atsqalat (أَثْقَلَتْ) adalah: dia merasa berat.

Berakar dari tiga huruf yaitu (ث-ق-ل) yang berarti berat atau berbobot. Secara biologis janin di dalam rahim mulai tumbuh membentuk struktur tulang, daging, dan juga bertambah volume air ketuban. Pertumbuhan ini membuat sang ibu mulai kepayahan untuk berdiri, duduk, atau sekadar membalikkan badan saat tidur.

Secara medis ini adalah fase di mana tubuh merespons kehamilan dengan segala dinamikanya, mulai dari keletihan fisik, perubahan hormonal yang memicu mual alias morning sickness, hingga kecemasan psikologis menjelang momen persalinan.

Makna da'awaa (دَعَوَا) adalah: keduanya berdoa kepada. Makna allaaha (اللَّهَ) adalah: Allah. Makna rabbahumaa (رَبَّهُمَا) adalah: Tuhan mereka berdua.

Kata da'awaa (دَعَوَا) menggunakan bentuk kata kerja untuk dua orang pelaku, maka doa ini tidak hanya dipanjatkan oleh sang ibu sendirian tetapi juga oleh suaminya. Ketika kandungan menjadi berat dan risiko semakin nyata, sang suami ikut ambil bagian secara total dalam getaran spiritual tersebut. Mereka berdua, sebagai satu kesatuan pasangan, melarikan kecemasan mereka kepada Allah SWT.

***

لَئِنْ آتَيْتَنَا صَالِحًا لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ

Makna la-in (لَئِنْ) adalah: sesungguhnya jika. Makna aataitanaa (آتَيْتَنَا) adalah: Engkau memberikan kepada kami. Makna shaalihan (صَالِحًا) adalah: seorang anak yang saleh atau yang sempurna. Makna lanakuunanna (لَنَكُونَنَّ) adalah: niscaya kami benar-benar akan termasuk. Makna mina asy-syaakiriina (مِنَ الشَّاكِرِينَ) adalah: orang-orang yang bersyukur.

Ada satu kejanggalan yang membuat sebagian mufassir meragukan bahwa ayat ini sedang berbicara tentang Nabi Adam dan istrinya. Kata shaalihan (صَالِحًا) itu berarti seorang anak yang saleh. Ungkapan ini seolah menggambarkan sepasang suami-istri yang sedang menantikan kelahiran seorang anak. Padahal riwayat-riwayat yang masyhur menyebutkan bahwa anak-anak Nabi Adam lahir secara kembar, terdiri dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dalam setiap kelahiran.

Jika riwayat ini diterima, maka muncul pertanyaan: mengapa doa mereka berbunyi "berilah kami seorang anak yang baik" dan bukan menantikan sepasang anak sebagaimana yang selama ini menjadi pola kelahiran mereka?

Kejanggalan ini membuat sebagian ulama memandang bahwa ayat ini bukan kisah khusus Adam dan Hawa, tapi lebih tepatnya sebagai gambaran umum tentang pengalaman manusia. Al-Quran sedang melukiskan keadaan yang sangat manusiawi dan selalu berulang sepanjang zaman. Ketika seorang wanita mengandung, lalu kandungannya semakin besar dan semakin berat, ia dan suaminya mulai diliputi harapan sekaligus kecemasan.

Mereka memohon kepada Allah SWT agar bayi yang dikandung lahir dengan selamat, sehat, sempurna, dan menjadi anak yang baik. Dalam keadaan seperti itu, hampir semua orang merasa dekat kepada Allah SWT dan berjanji akan menjadi hamba yang bersyukur apabila harapan mereka dikabulkan.

Pemahaman ini menjadi semakin kuat ketika ayat berikutnya menyebutkan bahwa setelah Allah SWT mengaruniakan anak yang mereka harapkan, mereka justru menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya.

Sulit membayangkan bahwa yang dimaksud adalah Nabi Adam dan istrinya, sebab para nabi dijaga Allah SWT dari perbuatan syirik. Karena itu banyak mufassir berpendapat bahwa ayat ini sejak awal memang berbicara tentang manusia secara umum, yaitu keturunan Adam yang berulang kali menunjukkan pola yang sama: berdoa dengan penuh ketulusan ketika berada dalam kesulitan, tetapi sebagian di antara mereka lupa bersyukur ketika nikmat itu benar-benar telah datang.

***

 


[1] Al-Biqa’i (w. 885 H), Nuzhum Ad-Durar fi Tanasubi Al-Ayah wa As-Suwar, (Cairo, Darul-kutub Al-Islamiyah, Cet. 1)

***

REFERENSI KITAB TAFSIR
🔐