Kata wa fariqan (وَفَرِيقًا) artinya : dan sebagian yang lainnya. Kata haqqa ‘alaihim (حَقَّ عَلَيْهِمُ) adalah sebuah ungkapan yang juga menjadi satu idiom yang tidak bisa dimaknai secara terpisah. Maknanya adalah : telah ditetapkan, ditentukan, atau dengan gaya bahasa kita : telah ditakdirkan atas mereka.
Adapun kata adh-dhalalah (الضَّلَالَةُ) artinya kesesatan, yaitu keadaan keluar dari jalan yang benar, kehilangan arah, dan menetap dalam penyimpangan, sebagai lawan dari kata hidayah alias petunjuk. Bisa juga dipahami dengan ungkapan : ”dan sebagian yang lain telah ditetapkan atas mereka keadaan tersesat”.
Dalam perspektif ulama akidah Ahlus Sunnah, ayat ini menjadi dalil keseimbangan antara kehendak Allah dan usaha manusia. Hidayah adalah murni karunia Allah, tetapi Allah memberikannya kepada orang yang membuka diri terhadap kebenaran. Sebaliknya, kesesatan juga berada dalam kehendak Allah, namun terjadi setelah manusia memilih jalan penolakan, sehingga Allah mencabut taufik-Nya. Dengan demikian, ayat ini menolak dua ekstrem sekaligus: pandangan bahwa manusia sepenuhnya dipaksa, dan pandangan bahwa Allah tidak berperan sama sekali.
Kesimpulannya, menurut para ulama, ayat ini bukan pernyataan bahwa Allah membagi manusia menjadi baik dan sesat tanpa sebab, melainkan penegasan bahwa manusia terbagi berdasarkan respons mereka terhadap petunjuk. Ada yang menerima lalu diberi hidayah, dan ada yang menolak hingga kesesatan itu menjadi ketetapan atas dirinya sendiri.
Kata innahum (إِنَّهُمُ) artinya : sesungguhnya mereka, yaitu kaum musyrikin jahiliyah. Kata ittakhadzu (اتَّخَذُوا) artinya : telah mengambil, dalam arti telah menjadikan. Kata asy-syayathin (الشَّيَاطِينَ) yaitu para setan. Kata auliya’ (أَوْلِيَاءَ) artinya : menjadi wali. Kata min dunillah (مِنْ دُونِ اللَّهِ) artinya : dari selain Allah SWT.
Memang buat kita agak aneh saja rasanya, bagaimana Al-Quran menyebut orang-orang musyrikin jahiiyah di masa itu telah menjadikan setan sebagai pemimpin. Sulit bagi kita membayangkan teknis setan memimpin suatu masyarakat.
Bukan apa-apa, sebab dalam bayangan kita, setiap kita menyebut setan, yang terbayang dalam pikiran kita adalah hantu dengan segala bentuk penampakannya yang bikin bulu kuduk berdiri. Setan bagi kita adalah hantu yang gentayangan, menampakkan wajah seram, menghuni bangunan kosong, makhluk astral, atau setidaknya mengganggu manusia dengan berbagai hal-hal yang horor dan menyeramkan.
Namun kalau kita baca Al-Quran, sosok yang disebut ’setan’ itu amat jauh dari kesan horor. Dalam konsep Al-Qur’an, setan memang ada tapi bukan makhluk yang menakut-nakuti. Setan dalam Al-Quran tidak datang dengan teror, tidak membuat manusia lari. Intinya setan dengan versi yang amat sangat jauh berbeda dengan yang ada di benak kita pada umumnya.
Dengan santainya Al-Quran menyebut bahwa kaum musyrikin telah menjadikan setan sebagai wali alias pemimpin, tapi sama sekali tidak ada hubungannya dengan dunia ghaib atau alam lain.
Dalam Al-Qur’an, tidak pernah ada konsep hantu, sebagaimana yang hidup dalam cerita rakyat: arwah gentayangan, roh penasaran, penunggu bangunan kosong, atau sosok seram yang menampakkan diri. Semua itu tidak punya dasar dalam Al-Qur’an.
Setelah manusia wafat, Al-Qur’an menyebut ia langsung masuk alam barzakh, terputus dari dunia, tidak kembali, tidak berinteraksi, dan tidak bergentayangan. Titik.
Yang ada dalam Al-Qur’an hanyalah jin dan setan, dan itupun bukan dalam bentuk horor visual. Al-Qur’an sama sekali tidak mendeskripsikan setan sebagai sosok berwajah seram, bentuk yang menakutkan, suara-suara yang bikin jantung mau copot, atau lokasi yang angker dan misterius. Sosok setan dalam Al-Quran itu antara lain :
1. Membisikkan (وَسْوَسَ / وَسْوَسَة)
فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ
Lalu setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya. (QS. Al-A‘raf : 20)
الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ
Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. (QS. An-Nas : 5)
2. Menghias (زَيَّنَ)
وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ
Dan setan menghias (membuat indah) perbuatan-perbuatan mereka. (QS. Al-Anfal : 48)
زَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Setan menjadikan indah bagi mereka apa yang selama ini mereka kerjakan. (QS. Al-An‘am : 43)
3. Menjanjikan (يَعِدُكُمْ)
الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ
Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kalian dengan kemiskinan. (QS. Al-Baqarah : 268)
4. Menghalangi (يَصُدُّ)
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَصُدُّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ
Sesungguhnya setan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan (Allah). (QS. Al-Ankabut : 38)
5. Membuat Lupa (أَنْسَى / أَنْسَاهُمْ)
فَأَنْسَاهُمُ الشَّيْطَانُ ذِكْرَ اللَّهِ
Lalu setan menjadikan mereka lupa mengingat Allah. (QS. Al-Mujadilah : 19)
وَمَا أَنْسَانِيهُ إِلَّا الشَّيْطَانُ
Dan tidak ada yang membuatku lupa kecuali setan. (QS. Al-Kahfi : 63)
6. Menyesatkan dengan Nama Agama (أَوْلِيَاء / يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ)
إِنَّهُمُ اتَّخَذُوا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ
Sesungguhnya mereka menjadikan setan-setan sebagai pelindung selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-A‘raf : 30)
Kata wa yahsabuna (وَيَحْسَبُونَ) artinya : dan mereka mengira. Kat annahum (أَنَّهُمْ) artinya : bahwa mereka. Kata muhtadun (مُهْتَدُونَ) artinya : orang-orang yang mendapat petunjuk.
Para mufassir seperti al-Qurṭubi dan Ibn Katsir menegaskan bahwa frasa ini menjelaskan mengapa kesesatan mereka menjadi mengikat. Karena mereka merasa benar, maka pintu hidayah tertutup dari dalam. Mereka tidak mencari kebenaran, tidak merasa butuh petunjuk, dan tidak membuka ruang untuk ditegur. Kesesatan seperti ini lebih berbahaya daripada kesesatan orang yang sadar bahwa dirinya salah.
Kesesatan paling berat bukanlah tidak tahu, melainkan merasa sudah tahu dan sudah benar. Orang seperti ini bisa mengikuti setan, hawa nafsu, dan tradisi yang rusak, tetapi tetap merasa dirinya berada di atas petunjuk. Dan justru karena itulah Al-Qur’an menegaskan keadaan mereka dengan nada yang sangat serius: mereka mengira diri mereka mendapat petunjuk, padahal mereka telah salah arah.