Kemenag RI 2019:Para penghuni surga menyeru para penghuni neraka, “Sungguh, kami telah mendapati sesuatu (surga) yang dijanjikan Tuhan kepada kami itu benar. Apakah kamu telah mendapati (pula) sesuatu (azab) yang dijanjikan Tuhan kepadamu itu benar?” Mereka menjawab, “Benar.” Kemudian penyeru (malaikat) mengumumkan di antara mereka, “Laknat Allah bagi orang-orang yang zalim.” Prof. Quraish Shihab:Dan para penghuni surga menyeru kepada para penghuni neraka: “Sungguh, kami benar-benar telah mendapatkan apa (surga) yang pernah Tuhan Pemelihara kami janjikan kepada kami. Maka, apakah kamu benar-benar telah mendapatkan (pula) apa (azab) yang pernah Tuhan Pemelihara kamu janjikan?” Mereka menjawab: "Betul.” Kemudian, seorang penyeru mengumandangkan di antara mereka itu: “Laknat Allah ditimpakan atas orang-orang zalim.” Prof. HAMKA:Dan berserulah penghuni surga kepada penghuni neraka, bahwa kami telah mendapati apa yang telah dijanjikan oleh Tuhan kami dengan sebenarnya. Maka sudahlah kamu mendapati apa yang telah dijanjikan oleh Tuhan kamu kamu dengan sebenarnya? Mereka menjawab, “Ya.” Maka berserulah seorang penyeru di antara mereka bahwa laknat Allah-lah atas orang-orang yang zalim.
Ayat ke-44 dari surat Al-A’raf ini masih terkait dengan ayat-ayat sebelumnya, yaitu penggambaran kehidupan di akhirat nanti, baik mereka yang hidup di dalam surga atau pun neraka.
Uniknya ayat ini justru menceritakan dialog antara penghuni surga dan neraka, setelah ayat-ayat sebelumnya hanya bicara tentang surga saja atau hanya bicara tentang neraka saja.
Ternyata meski surga dan neraka itu berjarak cukup jauh, namun Al-Quran justru menceritakan bahwa masing-masing penghuninya bisa saling berdialog satu sama lain.
Dialog yang terjadi antara orang di dalam surga dan di luar surga ini cukup menarik dan boleh jadi bisa menjawab pertanyaan yang sejak dulu bikin banyak orang penasaran terkait Nabi Adam dan Iblis. Banyak orang bertanya, bagaimana Iblis bisa menggoda Nabi Adam, padahal dia sudah diusir keluar dari surga?
Banyak mitos yang menyebutkan Iblis berhasil lolos masuk menyelundup ke dalam surga, konon menyamar menjadi ular. Dan ada banyak lagi versi yang lain.
Padahal ayat ini justru memberikan jejak informasi yang cukup unik, yaitu bisa saja Iblis memang tidak sempat masuk ke dalam surga setelah terusir sebelumnya. Lalu kalau pun bisa menggoda Nabi Adam, itu bisa dilakukan secara jarak jauh, dialognya terjadi antara Adam yang jadi penghuni surga dan Iblis yang ada di luar surga.
Kalau ada yang bertanya, apa bisa orang di luar surga berdialog dengan orang yang ada di dalam surga, ayat inilah yang jadi jawabannya. Malah ayat ini lebih ekstrim lagi, yaitu dialog itu terjadi antara penghuni surga dengan penghuni neraka. Bandingkan dengan dialog antara Iblis dan Adam, dimana saat itu Iblis belum lagi dimasukkan ke dalam neraka. Iblis hanya dikeluarkan dari surga saja. Jika yang ada di dalam surga dan neraka saja bisa berdialog, apalagi Iblis yang hanya sekedar di luar surga.
وَنَادَىٰ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ أَصْحَابَ النَّارِ
Kata wa nada (وَنَادَىٰ) artinya : dan menyeru, atau dan berseru. Ayat ini diawali dengan huruf wawu (وَ) yang merupakan huruf a’thf yang fungsinya menyambungkan antara yang sebelum dengan yang sesudah.
Kata nada (نَادَىٰ) adalah kata kerja dalam bentuk fi’il madhi, asalnya dari (نادى - ينادي) maknanya adalah : memanggil dengan suara keras, atau menyeru dari jarak yang agak jauh, atau memanggil agar didengar oleh pihak lain. Adzan yang dilakukan dengan suara yang keras memanggil orang shalat itu juga disebut dengan kata ini, sebagaimana firman Allah SWT :
Wahai orang-orang yang beriman, apabila diseru (adzan) untuk melaksanakan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kalian menuju zikir kepada Allah dan tinggalkan jual beli (QS. Al-Jumuah: 9)
Kata ashabul jannah (أَصْحَابُ الْجَنَّةِ) artinya : para penghuni surga. Sedangkan ashaban-nar (أَصْحَابَ النَّارِ) artinya : para penghuni neraka.
Yang menarik bahwa ternyata dialog antara penghuni surga dan penghuni neraka bukan hanya sekali ini saja diceritakan dalam Al-Quran. Ada ayat lain yang juga menceritakan terjadinya dialog antara mereka. Misalnya ayat berikut ini :
Di dalam surga mereka saling bertanya-tanya. Tentang orang-orang yang berdosa. “Apa yang menyebabkan kalian masuk ke dalam neraka Saqar?” Mereka menjawab, “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan shalat. Dan kami tidak memberi makan orang miskin. Kami biasa larut bersama orang-orang yang larut dalam perbuatan batil. Dan kami mendustakan hari pembalasan. Sampai datang kepada kami kepastian (kematian).” (QS. Al-Muddatstsir: 40–47).
Al-Quran dua kali menceritakan dialog penghuni surga dan neraka. Yang jadi pertanyaan disini, bukankah jarak antara surga dan neraka itu begitu jauh? Bahkan ada hadits-hadits yang menyebutkan orang yang tidak mencium bau surga, padahal bau surga tercium dari jarak 40 tahun.
Barang siapa membunuh seorang mu‘āhad (orang kafir yang memiliki perjanjian), maka ia tidak akan mencium bau surga. Padahal bau surga itu benar-benar tercium dari jarak perjalanan empat puluh tahun.” (HR. al-Bukhari)
Sesungguhnya bau surga itu benar-benar tercium dari jarak perjalanan seratus tahun.”(HR. Ahmad)
Dengan hadits-hadits ini, semakin jelas bahwa jarak surga itu sangat jauh, sehingga jika Al-Quran menggambarkan terjadinya dialog antara penghuni surga dan neraka, tentu menimbulkan pertanyaan yang bikin penasaran.
Boleh jadi ada sementara kalangan yang menyebutkan bahwa dialog ini tidak benar-benar terjadi. Istilahnya dialog imaginer, mengingat jarak antara surga dan neraka yang sedemikian jauhnya.
Namun Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsir Mafatih Al-Ghaib[1] menolak asumsi itu dan menegaskan bahwa dialog antara penghuni surga dan neraka adalah dialog yang hakiki, bukan kiasan atau perumpamaan. Tidak ada kemustahilan secara akal bahwa suara dapat terdengar dari jarak yang sangat jauh, karena Allah menciptakan sebab-sebab pendengaran itu sendiri. Redaksi ayat-ayat Al-Qur’an menunjukkan adanya tanya, jawaban, seruan, dan pengakuan, yang semuanya menunjukkan percakapan nyata.
Boleh jadi orang di masa lalu berpikir betapa mustahilnya dialog bisa sampai terjadi antara dua kelompok manusia yang dipisahkan jarak yang sebegitu jauh. Tapi orang di zaman sekarang justru malah bisa dengan mudah memahaminya, khususnya setelah kita hidup di zaman sudah ditemukannya teknologi telepon.
Sejarah mencatat bahwa umat manusia pertama kali berbicara jarak jauh pada tanggal 10 Maret 1876, yaitu melalui teknologi telepon karya Alexander Graham Bell. Lalu terjadi lagi lompatan besar berikutnya dimana manusia pertama kali dapat berdialog jarak jauh tanpa kabel sama sekali, terjadi pada 24 Desember 1906. Pada tanggal itu, Reginald Fessenden berhasil melakukan transmisi suara manusia secara nirkabel alias wireless melalui gelombang radio. Bukan kode Morse, bukan bunyi sinyal, tetapi suara manusia yang berbicara dan bernyanyi, dipancarkan tanpa kabel dan didengar oleh para operator radio di kapal-kapal yang berada jauh di laut.
Bahkan dengan teknologi 5-G saat ini, kita bisa melakukan video conference jarak jauh yang bukan hanya melibatkan dua suara, tetapi banyak suara plus videonya juga.
Penulis tidak terburu-buru untuk mengatakan bahwa semua teknologi komunikasi modern ini sudah dibahas oleh Al-Quran. Namun Penulis hanya mengatakan bahwa kita yang hidup di zaman modern ini justru tidak terlalu asing dengan dialog jarak jauh dari dua tempat yang terpisah. Sedangkan generasi yang hidup di masa lalu, pastinya harus menelan mentah-mentah informasi yang amat sangat jauh dari apa yang bisa mereka pahami. Kita malah lebih mudah bisa menerima konsep dialog jarak jauh, tidak harus membawanya kepada dialog ’imaginer’.
Begitu juga dengan perjalanan Isra’ dan Mi’raj Nabi SAW. Betapa sulitnya generasi terdahulu memahami bisa terjadi perjalanan antara Masjid Al-Haram ke Masjid Al-Aqsha hanya dalam durasi satu malam sudah kembali lagi.
Tapi buat kita yang hidup di zaman teknologi sudah semakin maju hari ini, memahami konsep perjalanan semacam itu tidak terlalu butuh penjelasan. Toh, pesawat terbang hari ini bisa melakukannya. Bukan berarti kita tidak percaya mukjizat lalu membelokkannya lewat asumsi-asumsi aneh bahwa Nabi SAW punya teknologi modern. Bukan begitu maksudnya.
Tapi pada saat umat terdahulu masih terlalu sulit membayangkannya, kita justru mudah sekali menerimanya. Tetap sebagai mukjizat dan bukan kita klaim ada teknologi modern di dalamnya. Tapi dengan kita hidup di zaman modern, semua mukjizat tadi jadi mudah untuk dipahami.
Demikian juga dialog antara penghuni surga dan penghuni neraka, bisa dengan mudah kita terima. Toh, sudah biasa kita berdialog jarak jauh secara online, seperti lewat zoom meeting.
أَنْ قَدْ وَجَدْنَا مَا وَعَدَنَا رَبُّنَا حَقًّا
Penggalan ini diawali dengan huruf an (أَنْ) yang berfungsi sebagai huruf mashdariyyah yang mengubah kalimat sesudahnya menjadi makna masdar. Dalam konteks ini huruf an (أَنْ) dapat dipahami dengan makna bahwa, atau sesungguhnya, sebagai penghubung penjelasan dari seruan yang disampaikan sebelumnya.
Kata wajadna (وَجَدْنَا) merupakan kata kerja dalam bentuk fi‘il madhi, asalnya dari asal kata (وجد – يجد) yang makna dasarnya adalah mendapatkan, menjumpai, atau mendapati secara nyata. Pelakunya orang pertama jamak, sehingga maknanya adalah : kami telah mendapati atau kami telah benar-benar memperoleh.
Setelah itu terdapat huruf maa (مَا) yang berfungsi sebagai isim maushul, bermakna apa yang, yaitu menunjuk kepada sesuatu yang akan dijelaskan setelahnya.
Kata wa’adana (وَعَدَنَا) adalah kata kerja dalam bentuk fi’il madhi yang berasal dari asal kata (وعد – يعد) yang berarti menjanjikan. Bentuk ini menunjukkan bahwa janji tersebut datang langsung dari Allah, dan janji itu ditujukan secara khusus kepada mereka.
Kemudian disebut kata rabbuna (رَبُّنَا) yang berarti Tuhan kami. Kata haqqan (حَقًّا) berfungsi sebagai maf‘ul muthlaq untuk penegasan, bermakna : benar, nyata, pasti, tanpa keraguan sedikit pun. Kata ini menegaskan bahwa janji Allah itu tidak sekadar terbukti, tetapi terbukti dengan kebenaran yang mutlak dan sempurna.
Ath-Tabari menekankan bahwa ungkapan ini bukan hanya syukur, tetapi juga kesaksian. Seolah penghuni surga berkata: dulu di dunia kami beriman pada janji Allah, sekarang kami melihatnya menjadi kenyataan.
Lalu pertanyaan yang diarahkan kepada penghuni neraka, yaitu “apakah kalian mendapati janji Tuhan kalian benar?”
Pertanyaan para penghuni surga ini dipahami oleh banyak mufassir sebagai pertanyaan penegasan yang tujuannya menampakkan kebenaran dengan pengakuan dari pihak lawan sendiri. Karena kalau penghuni neraka sendiri sudah menjawab “ya”, maka runtuhlah seluruh dalih yang dulu mereka bangun di dunia.
فَهَلْ وَجَدْتُمْ مَا وَعَدَ رَبُّكُمْ حَقًّا
Penggalan ini diawali dengan huruf fa (فَ) sebagai huruf penghubung yang menunjukkan kesinambungan pembicaraan, atau lanjutan langsung dari pernyataan sebelumnya, seolah mengatakan: kalau demikian, maka sekarang….
Kata hal (هَلْ) adalah huruf istifham yaitu huruf tanya. Namun dalam konteks ayat ini, pertanyaan tersebut bukan untuk mencari informasi, melainkan untuk menegaskan dan menundukkan, karena penanyanya sudah mengetahui jawabannya. Ini adalah pertanyaan yang bersifat konfirmasi dan penguatan makna.
Kata wajadtum (وَجَدْتُمْ) merupakan fi’il madhi yang berasal dari asal kata (وجد – يجد), sama seperti kata wajadna sebelumnya. Bentuk wajadtum ini menunjukkan pelaku jamak orang kedua, sehingga maknanya adalah : apakah kalian telah mendapati. Penggunaan fi’il madhi kembali menegaskan bahwa yang ditanyakan bukan sesuatu yang akan terjadi, tetapi sesuatu yang telah dialami dan dirasakan langsung.
Huruf ma (مَا) berfungsi sebagai isim maushul yang bermakna : apa yang, menunjuk kepada sesuatu yang akan dijelaskan sesudahnya.
Kata wa’ada (وَعَدَ) artinya : menjanjikan. Pelakunya adalah rabbukum (رَبُّكُمْ) yang berarti Tuhan kalian yaitu Allah SWT. Kata haqqan (حَقًّا) kembali berfungsi sebagai penegas, bermakna benar-benar nyata, pasti, dan tidak diragukan sedikit pun.
قَالُوا نَعَمْ
Setelah pertanyaan itu disampaikan, datanglah jawaban singkat namun sangat padat makna, yaitu qalu naam (قَالُوا نَعَمْ). Kata qalu (قَالُوا) adalah fi’il madhi jamak yang berarti mereka menjawab, sedangkan kata na’am (نَعَمْ) berarti ya.
Jawaban ini tidak panjang, tidak bertele-tele, karena kenyataan yang mereka hadapi tidak membutuhkan penjelasan. Satu kata ya sudah cukup untuk mengakui bahwa janji Allah itu benar adanya, dan penyesalan mereka pun menjadi sempurna.
Fakhruddin Ar-Razi memberi penekanan pada sisi retorika ilahiah: Allah menampilkan bentuk pertanyaan-jawaban seperti ini agar kebenaran tidak hanya dinyatakan oleh “pihak yang menang” (penghuni surga), tetapi juga diakui oleh pihak yang kalah (penghuni neraka). Itu membuat hujjah menjadi sempurna.
Maka “topik” dialognya adalah satu: verifikasi janji Allah; janji rahmat untuk orang beriman dan janji ancaman untuk orang durhaka. Dua-duanya terbukti, dan dua-duanya diakui.
فَأَذَّنَ مُؤَذِّنٌ بَيْنَهُمْ
Kata fa adzzana (فَأَذَّنَ) terdiri dari huruf fa’ (ف) yang berfungsi sebagai huruf penghubung sekaligus penunjuk konsekuensi. Huruf ini memberi makna maka, yaitu bahwa peristiwa yang disebutkan setelahnya adalah akibat langsung dari pengakuan penghuni neraka sebelumnya.
Sedangkan kata addzana (أَذَّنَ) merupakan fi’il madhi yang berasal dari asal kata (أذن – يؤذن). Makna dasarnya adalah mengumumkan dengan suara keras dan terbuka, bukan sekadar memberitahu secara terbatas. Kata ini satu akar dengan kata adzan dalam syariat shalat, yang juga bermakna seruan resmi yang diperdengarkan secara luas. Bentuk fi’il madhi menunjukkan bahwa pengumuman itu benar-benar telah terjadi.
Kata muadzdzinun (مُؤَذِّنٌ) adalah isim fa’il, yaitu pelaku dari perbuatan adzdzana. Maknanya adalah seorang penyeru atau pengumum. Kata bainahum (بَيْنَهُمْ) berarti di antara mereka, yaitu antara penghuni surga dan penghuni neraka. Ini menunjukkan bahwa pengumuman tersebut diperdengarkan kepada kedua belah pihak sekaligus, sehingga menjadi deklarasi publik di hadapan semua yang terlibat.
Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsir Mafatih Al-Ghaib[2] mengutip pendapat Ibnu Abbas yang menyebutkan si penyeru itu tidak lain adalah malaikat pemilik sangkakala.
Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Quran Al-Azhim[3] memandang kalimat ini sebagai deklarasi pemisah. Pada momen itu, bukan lagi dialog pribadi, tetapi pengumuman yang didengar kedua pihak yaitu bahwa laknat Allah atas orang-orang zalim.
Disini pembahasan mulai bergeser dari sekadar janji itu benar menjadi mengapa mereka pantas mendapatkannya.
أَنْ لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ
Huruf an (أَنْ) di sini berfungsi sebagai huruf penjelas isi seruan, bermakna bahwa atau sesungguhnya. Ia memperkenalkan kalimat inti yang diumumkan.
Kata la’natullahi (لَعْنَةُ اللَّهِ) berarti laknat atau kutukan Allah, yaitu dijauhkan dari rahmat dan kasih sayang Allah. Makna ini jauh lebih berat daripada sekadar celaan, karena menunjukkan pemutusan total dari rahmat ilahi.
Mungkin ada yang bertanya, kenapa setelah an (أَنْ) kata berikutnya tidak manshub? Bukankah seharusnya berbunyi laknata dan bukan laknatu? Mengapa huruf an di sini tidak mengubah i‘rab kata لَعْنَةُ?
Jawabannya bahwa dalam bahasa Arab huruf an (أن) tidak selalu berfungsi sebagai huruf yang me-nashab-kan. Ini adalah huruf an (أن) mufassirah, yaitu huruf yang berfungsi menjelaskan isi ucapan atau seruan sebelumnya, bukan untuk mengamalkan i‘rab. Dalam konteks ayat, struktur kalimatnya adalah bahwa seorang penyeru menyerukan sesuatu di antara penghuni surga dan neraka, yaitu bahwa laknat Allah atas orang-orang zalim. Jadi an di sini bermakna bahwa atau yakni, sebagai penghubung penjelasan isi seruan, bukan sebagai huruf yang menuntut manshub.
Huruf ‘ala (عَلَى) artinya ditimpakan dan ditetapkan kepada. Kata azh-zhalimin (الظَّالِمِينَ) adalah bentuk jamak dari zalim, yang maknanya adalah orang-orang yang berbuat zalim.
Al-Qur’an memakai kata “zalim” sebagai label utama, karena dalam bahasa Al-Qur’an, puncak kezaliman adalah kezaliman terhadap kebenaran dan tauhid, bukan sekadar zalim sosial.
Maka ketika penyeru mengumumkan laknat atas “orang-orang zalim”, itu bukan umpatan emosional, tetapi vonis teologis: mereka diputus dari rahmat Allah sebagai akibat dari pilihan hidup mereka sendiri. Di sinilah Al-Qurthubi biasanya menegaskan sisi keadilan: keputusan itu tidak jatuh sembarangan, melainkan tepat pada sifat yang memang menjadi akar kerusakan mereka.
Dialog di ayat ini membuktikan bahwa janji Allah SWT telah menjadi kenyataan, lalu disusul pengumuman resmi yang menegaskan bahwa yang terlaknat adalah pihak yang menzalimi kebenaran.