Kemenag RI 2019:(Ketika Syu?aib yakin azab akan menimpa kaum kafir,) ia meninggalkan mereka seraya berkata, “Wahai kaumku, sungguh aku benar-benar telah menyampaikan risalah Tuhanku kepadamu dan aku telah menasihatimu. Maka, bagaimana aku akan bersedih terhadap kaum kafir?” Prof. Quraish Shihab:(Akibat kebinasaan yang menimpa kaumnya), maka dia (Nabi Syuaib as.) meninggalkan mereka (seraya) berkata: “Hai kaumku, demi (Allah)! Sungguh, aku telah menyampaikan kepada kamu risalah-risalah (pesan dan amanah) Tuhan Pemeliharaku dan aku telah menasihati kamu, maka bagaimana aku bersedih terhadap kaum kafir?” Prof. HAMKA:Lalu berpalinglah dia dari mereka dan berkata, “Wahai kaumku! Sesungguhnya telah aku sampaikan kepada kamu segala risalah dari Tuhanku dan telah aku nasihati kamu maka betapalah aku akan bersedih atas kaum yang kafir.”
Ayat ke-93 dari surat Al-A’raf ini menggambarkan sikap Nabi Syu’aib setelah azab menimpa kaumnya. Beliau berpaling dari mereka, bukan karena tidak peduli, tetapi karena tugas beliau sebagai rasul telah selesai. Semua risalah telah disampaikan dan nasihat telah diberikan dengan penuh kesungguhan, sehingga tidak ada lagi yang tersisa untuk dilakukan setelah keputusan Allah turun.
Ucapan beliau menegaskan bahwa dakwah para nabi tidak pernah setengah-setengah. Frasa “telah aku sampaikan risalah Tuhanku” menunjukkan bahwa amanah itu telah ditunaikan secara sempurna, sementara “aku telah menasihati kalian” menunjukkan adanya kepedulian dan keinginan tulus agar mereka selamat. Ini menggabungkan dua sisi penting dakwah: penyampaian kebenaran dan kasih sayang terhadap objek dakwah.
Adapun kalimat “bagaimana aku akan bersedih terhadap kaum kafir” bukan berarti hilangnya rasa belas kasihan, tetapi penegasan bahwa kesedihan tidak lagi pada tempatnya setelah kebenaran ditolak secara sadar dan azab telah datang. Pada titik ini, yang tersisa hanyalah keadilan Allah yang berlaku, dan tidak ada lagi ruang untuk penyesalan yang dapat mengubah keadaan.
Ayat ini sekaligus menjadi pelajaran bahwa seorang dai atau pembawa kebenaran tidak dibebani dengan hasil akhir, melainkan dengan penyampaian yang jelas dan nasihat yang tulus. Ketika itu telah dilakukan, maka urusan berikutnya diserahkan sepenuhnya kepada Allah, tanpa perlu tenggelam dalam kesedihan atas mereka yang memilih jalan kekafiran.
فَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ
Kata fa-tawalla anhum (فَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ) terdiri dari beberapa unsur. Pertama, huruf fa (ف) menunjukkan kelanjutan dari peristiwa sebelumnya, yaitu setelah azab menimpa mereka. Kedua, kata tawalla (تولى) berasal dari akar kata (و ل ي) yang berarti berpaling atau meninggalkan.
Kata ‘anhum (عنهم) berarti dari mereka, yaitu kaum Nabi Syu’aib. Beliau bukan sekadar pergi, tetapi telah selesai urusannya dengan mereka. Penggalan ini memberi kesan berpaling dengan sikap tegas, bukan sekadar menjauh secara fisik, tetapi juga memutus keterkaitan.
Kalau diperhatikan pada ayat ini, misalnya Kemenag menambahkan: (Ketika Syu’aib yakin azab akan menimpa kaum kafir), dan Quraish Shihab menulis: (Akibat kebinasaan yang menimpa kaumnya). Padahal di teks Arab tidak ada kalimat sepanjang itu. Nampaknya mereka sedang menjelaskan situasi kejadian yang menjadi latar ayat, bukan sekadar menerjemahkan kata per kata.
Teknik ini punya tujuan yang jelas: supaya pembaca langsung memahami alur tanpa harus membuka tafsir terpisah. Jadi satu kalimat Arab yang singkat : (فتولى عنهم وقال) oleh mereka diperluas menjadi gambaran peristiwa: kapan itu terjadi, dalam kondisi apa, dan setelah apa. Ini sangat membantu pembaca awam, tapi konsekuensinya adalah terjemahan menjadi lebih panjang dan terasa seperti penafsiran.
Di sisi lain, kalau dibandingkan dengan gaya Hamka, beliau lebih dekat ke terjemahan yang “mengalir” tapi tidak terlalu menyisipkan penjelasan eksplisit dalam tanda kurung. Penjelasan biasanya beliau letakkan di bagian tafsir, bukan di dalam kalimat terjemahan itu sendiri.
وَقَالَ يَا قَوْمِ
Kata qala (قال) menunjukkan bahwa beliau masih berbicara, meski kaumnya telah binasa. Kata ya qawmi (يا قوم) adalah panggilan yang sangat lembut: “wahai kaumku”. Ini menunjukkan kedekatan emosional dan kasih sayang seorang nabi kepada kaumnya.
Menariknya, panggilan ini tetap digunakan, meskipun mereka telah mendustakan dan bahkan dibinasakan. Ini menunjukkan bahwa hubungan itu bukan sekadar sosial, tetapi juga penuh kepedulian.
لَقَدْ أَبْلَغْتُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي
Huruf laqad (لقد) adalah gabungan lam taukid dan qad, yang memberikan penegasan kuat: sungguh benar-benar. Kata ablaghtukum (أبلغتكم) berasal dari akar kata (ب ل غ) yang berarti menyampaikan hingga sampai. Ini menunjukkan bahwa risalah telah disampaikan secara sempurna, tidak ada yang disembunyikan.
Kata risalat (رسالات) berbentuk jamak, menunjukkan bahwa yang disampaikan bukan satu pesan, tetapi banyak ajaran dan peringatan. Kata rabbi (ربي) berarti Tuhanku, menunjukkan bahwa risalah itu berasal dari Allah, bukan dari diri Nabi Syu’aib sendiri.
Quraish Shihab dan HAMKA menampakkan bentuk jamak, yaitu risalah-risalah atau segala risalah, sedangkan Kemenag menyederhanakannya dalam bentuk tunggal. Padahal bentuk jamak ini penting, karena menunjukkan kelengkapan syariat dan hukum yang Allah SWT turunkan.
وَنَصَحْتُ لَكُمْ
Kata nashahtu (نصحت) berasal dari akar kata (ن ص ح) yang berarti memberi nasihat dengan tulus. Ini berbeda dengan sekadar menyampaikan, nasihat mengandung makna keinginan agar pihak lain mendapatkan kebaikan. Kata lakum (لكم) berarti untuk kalian, menunjukkan bahwa nasihat itu diberikan demi kepentingan mereka sendiri.
Ibn Ashur [1]punya pendekatan yang sangat halus ketika menjelaskan dua lafazh ini, yaitu :
الجمع بين أداء الواجب والإحسان في الأداء
menggabungkan antara menunaikan kewajiban dan memperindah cara menunaikannya
Tabligh itu menunaikan kewajiban (أداء الواجب) sedangkan nasihat itu melakukan dengan kualitas terbaik alias ihsan (الإحسان). Ini dalam sekali, bbukan hanya apa yang disampaikan, tapi bagaimana menyampaikannya.
Muhammad Metwalli al-Sha'rawi [2]menjelaskan dengan gaya sederhana tapi tajam. Beliau membedakan antara tabligh yang sekedar memberi tahu alias i’lam (إعلام) dengan nasehat yaitu mencintai kebaikan bagi orang lain (حب الخير للغير). Ungkapkan beliau adalah :
قد تُبلّغ من لا تحبه لكن لا تنصح إلا من تحب
kamu bisa menyampaikan kepada orang yang tidak kamu cintai, tapi kamu tidak akan menasihati kecuali orang yang kamu pedulikan.
فَكَيْفَ آسَىٰ عَلَىٰ قَوْمٍ كَافِرِينَ
Huruf fa (ف) menunjukkan konsekuensi dari semua yang telah disebutkan. Kata kaifa (كيف) adalah kata tanya, tetapi di sini bermakna pengingkaran: bagaimana mungkin?
Kata asa (آسى) berasal dari akar kata (أ س ي) yang berarti bersedih atau berduka. Kata ‘ala qawmin kafirin (على قوم كافرين) berarti atas kaum yang kafir.
Jika dirangkai dalam terjemahan, Kemenag RI: “bagaimana aku akan bersedih terhadap kaum kafir?”. Sedangkan terjemahan Quraish Shihab: “maka bagaimana aku bersedih terhadap kaum kafir?”. Adapun HAMKA menerjemahkannya menjadi : “betapalah aku akan bersedih atas kaum yang kafir”
Perbedaannya tipis, tetapi semuanya menunjukkan satu hal: tidak ada lagi alasan untuk bersedih. Namun ini bukan berarti Nabi Syu’aib tidak memiliki rasa kasih, tetapi karena tugas telah selesai dan keputusan Allah telah datang.
Ayat ini menggambarkan penutup yang sangat menyentuh dari dakwah Nabi Syu’aib. Setelah kaumnya dibinasakan, beliau tidak menunjukkan kegembiraan, tetapi juga tidak larut dalam kesedihan. Sikap beliau sangat seimbang.
Beliau menegaskan dua hal. Pertama, bahwa tugas telah ditunaikan dengan sempurna. Kedua, bahwa tidak ada lagi alasan untuk bersedih. Karena yang terjadi adalah konsekuensi dari pilihan mereka sendiri.
Perbedaan terjemahan juga memperkaya makna. Ada yang menekankan “meninggalkan”, ada yang menekankan “berpaling”, ada juga yang menonjolkan “segala risalah”, selain itu juga ada yang menegaskan sisi emosional “bersedih”.
Jika disatukan, gambaran utuhnya adalah bahwa seorang nabi yang telah menunaikan tugasnya dengan penuh amanah dan kasih sayang, lalu berpaling dengan tenang ketika kaumnya menolak, tanpa menyisakan penyesalan terhadap keputusan yang telah ditetapkan Allah.
Di sinilah pelajaran besarnya. Seorang dai tidak dibebani hasil, tetapi dibebani penyampaian. Ketika tugas itu telah selesai, maka urusan selanjutnya sepenuhnya milik Allah.