Kemenag RI 2019:Apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari siksa Kami yang datang pada malam hari ketika mereka sedang tidur? Prof. Quraish Shihab:Apakah penduduk negeri-negeri (itu) merasa aman dari kedatangan siksa Kami kepada mereka di waktu malam saat mereka sedang tidur? Prof. HAMKA:Maka merasa amankah penduduk negeri-negeri itu bahwa datang kepada mereka siksaan Kami di waktu malam padahal mereka sedang tidur.
Ayat kepada 97 dari surat Al-A’raf ini masihi melanjutkan peringatan dari ayat sebelumnya dengan nada yang lebih tegas dan menggugah. Jika sebelumnya dijelaskan bahwa keberkahan akan turun bagi mereka yang beriman dan bertakwa, serta azab datang akibat pendustaan, maka kini muncul pertanyaan yang menusuk: apakah setelah semua itu mereka masih merasa aman?
Pertanyaan ini bukan sekadar untuk dijawab, tetapi untuk menyadarkan. Manusia sering merasa aman karena melihat hidup berjalan biasa-biasa saja, padahal ancaman azab bisa datang kapan saja. Ayat ini secara khusus menyebut malam hari, yaitu waktu ketika manusia berada dalam kondisi paling lengah, yaitu ketika mereka tidur, pada kondisi mereka tidak waspada dan tidak siap menghadapi apa pun yang datang secara tiba-tiba.
Penyebutan waktu malam juga memberi gambaran bahwa azab Allah tidak selalu datang dengan tanda-tanda yang bisa diperkirakan. Ia bisa hadir dalam keadaan sunyi, tanpa peringatan yang disadari, sehingga manusia yang merasa aman justru berada dalam posisi paling rentan.
أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَىٰ
Huruf hamzah (أَ) di awal adalah hamzah istifham, yaitu huruf yang berfungsi untuk bertanya. Namun tujuannya bukan meminta jawaban melainkan bersifat inkari, yaitu pertanyaan yang mengandung penolakan atau teguran. Seakan-akan maknanya: apakah pantas mereka merasa aman?
Huruf fa (فَ) berarti : maka yang berfungsi sebagai penghubung dengan ayat sebelumnya. Kata amina (أَمِنَ) berasal dari akar kata (أ م ن) yang berarti aman atau merasa tenteram. Dalam bentuk ini, amina menunjukkan perasaan aman dalam diri seseorang, yaitu merasa tidak akan tertimpa bahaya. Namun dalam konteks ayat ini, rasa aman tersebut justru dipertanyakan, bahkan disindir, karena tidak pada tempatnya.
Kata ahlul-qura (أَهْلُ القرى) berarti penduduk atau penghuni negeri-negeri atau perkampungan. Merujuk kepada kata yang sama di ayat sebelumnya, yaitu penduduk negeri-negeri yang sudah Allah SWT sebutkan di ayat-ayat sebelumnya.
أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا
Huruf an (أَنْ) adalah huruf yang berfungsi menghubungkan kata kerja setelahnya, sering diartikan dengan bahwa atau untuk. Kata ya’tiyahum (يَأْتِيَهُمْ) berasal dari akar kata (أ ت ي) yang berarti datang. Menariknya kata yang digunakan adalah datang, bukan diturunkan atau dikirim. Ini memberi kesan bahwa azab itu bisa hadir dengan sendirinya, mendatangi mereka secara tiba-tiba, tanpa mereka sadari sebelumnya.
Kata ba’suna (بَأْسُنَا) berasal dari akar kata (ب أ س) yang mengandung makna kekuatan, kesulitan, atau hukuman yang keras. Dalam Al-Qur’an, ba’s sering digunakan untuk menggambarkan azab atau siksaan Allah yang berat dan tidak bisa dihindari. Tambahan dhamir na (kami) menunjukkan bahwa azab itu berasal dari Allah, sehingga tidak ada kekuatan yang mampu menolaknya.
بَيَاتًاوَهُمْ نَائِمُونَ
Kata bayatan (بَيَاتًا) berasal dari akar kata (ب ي ت) yang berkaitan dengan malam atau bermalam. Dalam bentuk ini, bayatan berarti pada waktu malam hari, khususnya di saat manusia sedang tidak waspada. Malam sering menjadi simbol kelengahan, karena manusia beristirahat dan merasa aman.
Penggunaan kata ini memberi gambaran bahwa azab bisa datang di saat manusia paling lengah, ketika mereka tidak siap, tidak berjaga, dan tidak menyangka apa-apa.
Dalam terjemahan Kemenag RI digunakan ungkapan “yang datang pada malam hari”, yang menekankan waktu terjadinya. Quraish Shihab juga menggunakan “di waktu malam”, dengan susunan yang lebih halus dalam kalimatnya. HAMKA menggunakan “di waktu malam padahal mereka sedang tidur”, yang langsung mengaitkan dengan kondisi manusia saat itu.
Kata wa-hum (وَهُمْ) artinya : dan mereka, atau bisa juga : sedangkan mereka. Kata na’imun (نَائِمُونَ) berasal dari akar kata (ن و م) yang berarti tidur. Penggabungan antara bayatan :waktu malam dan na’imun :dalam keadaan tidur, memberikan penegasan yang sangat kuat tentang kondisi paling lemah manusia.
Bencana yang datang saat malam ketika manusia sedang tidur dalam catatan sejarah bencana adalah jenis bencana dengan korban maksimal. Ternyata masalah utamanya bukan hanya jenis bencananya, tetapi keterlambatan respons manusia, yaitu ketika orang tidak sadar, tidak siap, dan kehilangan waktu emas untuk menyelamatkan diri.
Dalam ilmu mitigasi bencana, jumlah korban bisa jauh berkurang jika suatu bencana sudah diantisipasi terlebih dahulu, misalnya dengan sistem peringatan dini alias early warning system. Sistem dirancang agar tetap aktif 24 jam dan mampu “membangunkan” manusia secara paksa. Dalam banyak kasus, selisih beberapa menit saja di malam hari bisa menjadi pembeda antara selamat dan tidak.