Kemenag RI 2019:Di antara mereka ada juga yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari azab neraka.” Prof. Quraish Shihab:Dan di antara mereka ada yang berdoa: “Tuhan Pemelihara kami, tinugerahilah kami (segala yang baik) di dunia dan di akhirat dan peliharalah kami dari azab neraka. Prof. HAMKA:Dan setengah mereka pula) ada yang berkata, "Ya, Tuhan kami! Berilah kami di dunia kebaikan dan di akhirat pun kebaikan pula). Dan, peliharalah kiranya kami dari siksaan neraka."
Ayat ke-201 ini masih sangat erat kaitannya dengan ayat ke-200 sebelumnya. Kalau di ayat sebelumnya Allah SWT memberi contoh lafazh doa yang dimintakan oleh bangsa Arab sebelum zaman keislaman, maka di ayat ke-201 ini Allah SWT memberi contoh doa yang diucapkan oleh kaum muslimin.
Perbedaannya antara keduanya sangat nyata dan sangat mencerminkan level keimanan.
Ayat ke-201 ini menyebutkan lafazh doa yang seharusnya dilantunkan oleh orang-orang beriman, yaitu doa yang bukan hanya terkait dengan maslahat duniawi saja, tetap juga terkait dengan maslahat ukhrawi.
وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ
Lafazh wa minhum (وَمِنْهُمْ) artinya : dan sebagian dari mereka, maksudnya para shahabat atau umat Nabi Muhammad SAW.
Lafazh man yaqulu (مَنْ يَقُولُ) artinya orang yang berdoa, maksudnya melafazhkan doa. Namun lafazh doanya berbeda dengan lafazh doa yang diucapkan oleh bangsa Arab sebelum masa keislaman, yaitu hanya kemaslahatan di dunia saja, tanpa meminta وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُkemaslahatan akhirat.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً
Lafazh rabbana (رَبَّنَا) merupakan sapaan dan panggilan, yang menujukkan kesantunan dan adab dalam berdoa. Artinya : “Wahai Tuhan kami”.
Sedangkan lafazh aatinaa (آتِنَا) merupakan fi’il amr yang secara umum bermakna perintah. Namun karena perintah ini datang dari pihak hamba kepada tuhannya, tidak disebut dengan perintah melainkan sebuah permohonan atau permintaan. Maknanya adalah : “berikan kepada kami”.
Lalu lafazh fid-dun-ya (فِي الدُّنْيَا) artinya di dunia. Maksudnya meminta untuk hal-hal yang terkait dengan urusan dunia. Dalam hal ini pesan yang ingin disampaikan bahwa silahkan meminta kepada Allah SWT hal-hal yang terkait dengan urusan duniawi. Jangan hanya melulu meminta masalah akhirat saja.
Memang ada kalangan yang dalam berdoa hanya mementingkan masalah akhirat semata dengan menafikan kepentingan dunia. Biasanya pandangan semacam itu lahir dari pemikiran ekstrim yang memandang dunia sebagai tempat yang buruk dan hanya bersifat sementara, sedangkan akhirat itu tempat yang sesungguhnya dan abadi.
Padahal di ayat lain Allah SWT telah menegur sikap-sikap semacam itu. Misalnya dalam ayat berikut :
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi. (QS. Al-Qashash : 77)
Lafazh hasanah (حَسَنَةً) artinya kebaikan secara umum. Dan karena kebaikannya terkait kemaslahatan duniawi, maka para mufassir banyak yang mengaitkannya dengan beragam contoh hasanah duniawiyah, antara lain :
Nikmat Rizki : Semua sepakat bahwa rizki yang berkah, banyak, dan selalu lancar mengalir tanpa ada jeda apalagi kekurangan merupakan bagian dari karunia Allah SWT. Ini termasuk salah satu hasanah yang paling banyak dimintakan orang kepada Allah SWT di dunia ini, yaitu agar diberikan kesejahteraan dan tidak mati kelaparan.
Nikmat Keamanan : Nikmat keamanan juga sangat didambakan oleh semua manusia. Aman dari bahaya yang mengancam, entah datang dari alam, hewan bahkan dari sesama manusia. Setidaknya aman dari pembunuhan dan peperangan yang berkecamuk. Tanpa ada keamanan, orang-orang tidak bisa melakukan aktifitas dengan normal. Dua kenikmatan ini tertuang dalam surat Quraisy berikut ini :
Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan. (QS. Quraisy : 4)
Nikmat Kesehatan : kesehatan yang selalu terjaga dan prima merupakan hasanah duniawiyah yang mahal sekali harganya. Memang banyak yang kurang menyadari nikmat sehat. Baru akan terasa ketika nikmat sehat itu sedikit dikurangi, barulah kita sadar bahwa kesehatan itu merupakan kenikmatan yang paling tinggi. Pepatah Arab mengatakan
الصحة تاج على رؤوس الأصحاء لا يراه إلا المرضى
Kesehatan adalah mahkota yang bertengger di kepada orang sehat, namun tidak ada yang menyadarinya kecuali orang sakit.
Termasuk dalam kesehatan adalah diberi karunia usia yang panjang, namun dengan keadaan yang masih sangat baik.
Nikmat Jodoh dan Pasangan : semua kenikmatan yang Allah SWT berikan di atas tidak akan ada artinya kalau hanya dinikmati sendirian saja. Bahkan Nabi Adam di surga pun tetap tidak bisa menikmati segala nikmat yang tersedia. Jiwanya tetap kesepian tanpa pendamping yang cantik, taat, patuh, setia, menyayangi dan memberikan sepenuh perhatian.
Nikmat Punya Anak Keturunan : berapa banyak pasangan kaya rasa dan setia, namun hidup terasa hampa ketika Allah SWT belum lagi memberi amanah punya anak buah cinta berdua. Apalagi bila mereka tumbuh menjadi generasi yang shalih dan shalihah, maka semakin sempurna lah kehidupan duniawi yang penuh dengan kenikmatan.
Nikmat Kehormatan : Salah satu nikmat yang amat sangat dibutuhkan oleh setiap insan adalah perasaan dihormati oleh sesama. Punya nama baik, status sosial yang tinggi, mendapatkan pengakuan dan penghormatan dari mana-mana, baik keluarga, teman, rekan, tetangga, masyarakat secara umum adalah bentuk kenikmatan yang selalu dicari.
Bentuk penghormatan bisa bermacam-macam, misalnya mendapatkan pangkat dan jabatan yang tinggi dan penting. Atau pun juga mendapatkan gelar kehormatan, kebangsawanan, penghargaan serta ucapan dan pujian dari masyarakat.
Nikmat Ilmu Pengetahuan : diberi karunia otak yang cerdas dan kesempatan belajar yang luas dan mendalam merupakan bentuk anugerah dan kenikmatan memang tidak semua merasa membutuhkan. Padahal di balik tingginya ilmu pengetahuan itulah kenapa Nabi Adam alaihissalam dijadikan khalifah dan malaikat diperintahkan untuk bersujud kepadanya.
Dan masih banyak lagi contoh dari hasanah yang sifatnya duniawiyah. Salah satunya sebagaimana yang digambarkan dalam hadits berikut :
“Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.(HR. Tirmidzi)
Di sisi lain juga ada kebahagiaan yang dirumuskan oleh Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahuanhu, dimana Beliau mengurutkannya mulai dari [1] istri yang shalihah, [2] rumah tempat tinggal yang luas, [3] tetangga yang shalih, dan [4] kendaraan yang nyaman.
“Empat hal dari kebahagiaan; Istri yang shalihah (baik), tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman. (HR. Ibnu Hibban)
وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً
Adapun hasanah di akhirat itu sudah disepakati seluruh ulama bahwa itu surga, maksudnya diperkenankannya seorang hamba masuk ke dalam surga yang telah Allah SWT janjikan. Para ulama sepakat berijma’ bahwa hasanah di akhirat tidak lain maksudnya adalah surga dengan segala kenikmatannya.
Meskipun tidak mungkin menjabarkan satu per satu apa saja yang termasuk kenikmatan surga, namun setidaknya salah satu yang jadi kenikmatan di surga adalah keabadian hidup yang tiada akhir. Kenikmatan yang satu ini yang dahulu Nabi Adam alaihissalam belum bisa mendapatkannya, meski pun sudah ada di dalam surga. Oleh karena itulah Adam terbujuk rayu Iblis yang menipunya dengan modus makan buah yang terlarang agar bisa hidup abadi di surga.
Selain bisa hidup abadi, kenikmatan di surga adalah bisa melihat wajah Allah SWT secara langsung.
Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat. (QS. Al-Qiyamah : 22-23)
Dan tentu saja surga itu di dalamnya berlimpah kenikmatan, baik berupa makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, bahkan termasuk juga pendamping dan pasangan-pasangan hidup.
Intinya bahwa permohonan atas hasanah di akhirat adalah masuknya seorang hamba Allah ke dalam surga.
وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Lafazh wa qina (وَقِنَا) maknanya : “dan jagalah kami”. Penggalan akhir ayat ini menyebut tentang dijaganya dari adzab neraka. Barangkali muncul pertanyaan, bukankah sudah berdoa agar mendapatkan kebaikan di akhirat, lalu kenapa masih juga meminta agar dijaga dari api neraka?
Jawabannya bahwa orang yang mendapatkan hasanah di akhirat itu memang dijamin masuk surga. Namun demikian, sekedar dijamin masuk surga itu bukan hal yang terlalu khusus. Toh semua muslim yang matinya dalam keadaan memeluk Islam, dijamin oleh Nabi SAW pada akhirnya akan masuk surga juga. Nabi SAW bersabda :
Penghuni surga akan masuk surga dan penghuni neraka akan masuk neraka, kemudian Allah ta’ala memerintahkan: Keluarkan dari neraka orang-orang yang dalam hatinya ada iman seberat biji sawi. Maka dikeluarkanlah mereka dari neraka yang warna (badannya) benar-benar hitam, lalu dimasukkan kedalam sungai hidup atau sungai kehidupan. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Yang dijamin itu masuk surganya, sedangkan apakah sebelumnya akan masuk neraka terlebih dahulu, tentu tidak ada jaminan. Oleh karena itulah ketika penutup akhir doa diselipkan sebuah permintaan agar dijaga dari api neraka, boleh jadi maksudnya agar jangan sampai masuk neraka dulu baru terakhit masuk surga.
Maka selain meminta hasanah di akhirat, secara khusus meminta yang agar jangan sampai harus mencicipi neraka, meskipun hanya sebentar saja. Kalau pun masuk surganya harus sedikit tertunda, mungkin karena masih ada banyak urusan yang belum diselesaikan, namun dimintakan dengan sangat untuk tidak perlu masuk neraka, meskipun hanya sebentaran saja.
Maka lafazh doa ini banyak yang menjulukinya sebagai ‘doa sapu jagat’, karena sudah mencakup semua kepentingan dunia dan akhirat.