Ayat ke-202 ini masih ada kaitan yang sangat erat dengan ayat ke-201 sebelumnya. Hubungannya bahwa orang yang berdoa untuk dunia dan akhirat itu adalah orang-orang yang beruntung, karena mereka mendapatkan dua kebaikan (hasanah) sekaligus, yaitu kebaikan di dunia dan di akhirat. Lalu di ayat ini disebutkan bahwa dua kebaikan itu bukan semata didapat hanya lewat doa dan permintaan, melainkan juga dibarengi dengan amal yang nyata yaitu yang disebut dengan kasab.
Lafazh nashib (نَصِيبٌ) bermakna bagian atau pemberian dari Allah SWT. Pemberian yang amat menguntungkan, karena bukan hanya janji pemberian di akhirat, tetapi juga pemberian yang bisa dinikmati di dunia ini, selagi masih hidup.
Lafazh min-ma kasabu (مِمَّا كَسَبُوا) maknanya : dari apa yang telah mereka usahakan atau mereka upayakan. Pesannya bahwa pemberian dari Allah SWT itu bukan semata-mata pemberian yang berdasarkan sesuatu yang random dan acak, namun semua berkat usaha dan jerih payah yang telah dilakukan selama masih di dunia.
Lafahz kasab (كَسَب) itu biasanya digunakan untuk menyebutkan pekerjaan, sebagaimana tertuang dalam ayat berikut :
لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُمْ مَا كَسَبْتُمْ
Baginya apa yang telah mereka usahakan dan bagimu apa yang telah kamu usahakan. (QS. Al-Baqarah : 134)
Lafazh sarii’ (سَرِيعُ) artinya sangat cepat, sedangkan lafazh al-hisab (الْحِسَابِ) artinya adalah perhitungan. Maksudnya bahwa Allah SWT itu akan menghisab seluruh amal manusia, setidaknya sejak terhitung masuk usia baligh hingga detik-detik akhir dari kehidupannya di dunia ini. Dan untuk itu, hisab Allah SWT sangat cepat.
Lalu timbul sebuah pertanyaan yang sedikit menggelitik : apakah yang dimaksud dengan Allah SWT itu amat cepat hisabnya? Apakah berarti Allah SWT terburu-buru dalam perhitungannya?
Ada beberapa penafsiran para ulama yang berbeda-beda. Sebagian mengatakan yang dimaksud sangat cepat hisabnya adalah Allah SWT tidak butuh waktu untuk menerima amalan hamba-Nya. Segala amal baik yang dilakukan hamba itu tidak akan disia-siakan barang sedetik pun. Segera saja apa yang dimintakan itu dikabulkan oleh Allah SWT.
Penafsiran semacam ini tentu menimbulkan tanda tanya, bukankah banyak permintaan hamba yang tidak dikabulkan oleh Allah SWT? Bahkan banyak doa para nabi utusan Allah yang lama sekali tidak dikabulkan.
Jawabannya sederhana saja, bahwa yang cepat itu bukan dikabulkannya, melainkan hisabnya. Dan hisab itu bukan pengabulan doa melainkan proses diterimanya amalan-amalan hamba yang banyak dan bervariasi antara yang besar dan yang kecil.
Fakhruddin Ar-Razi menjelaskan bahwa kecepatan dalam perhitungan hisab hamba-Nya itu menunjukkan bahwa kemampuan yang luar biasa dalam menghitung amalan hamba-hamba Allah SWT namun juga perhitungannya sangat akurat.
Apa yang dijelaskan oleh penyusun kitab tafsir Mafatih Al-Ghaib ini barangkali bisa kita jelaskan dengan perumpamaan di zaman modern, yaitu cara bekerjanya mega komputer yang mampu melakukan kalkulasi dengan cepat dan singkat atas sekian juta yang berserakan dan tidak pernah berhenti mendapatkan suplai data terbaru.
Pastinya super komputer dengan kapasitas yang amat besar dan biasanya dikategorikan sebagai komputer super cepat dalam melakukan processing atau pengolahan dana. Komputer seperti itu dijuluki komputer super cepat. Sangat tepat dalam menggambarkan bahwa Allah SWT menghitung dengan sangat cepat, ibarat komputer super cepat.