Kemenag RI 2019:Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak dilanda oleh kantuk dan tidak (pula) oleh tidur. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun dari ilmu-Nya, kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya (ilmu dan kekuasaan-Nya) meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Prof. Quraish Shihab:Allah, tidakadaTuhan (YangKuasa dan berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Hidup, Maha Kekal, lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya. Dia tidak dikalahkan oleh kantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang di langit dan apa yang di bumi, tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya; Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu dari ilmu-Nya melainkan apa yang dikehendaki-Nya; Kursi (ilmu/ kekuasaan)-Nya meliputi langit dan bumi. Dia tidak lelah memelihara keduanya dan Dia Maha Tinggi, lagi Maha Agung.” Prof. HAMKA:Tuhan Allah tldak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Hidup, Yang berdiri sendiri-Nya. Dia tidak dihampiri oleh kantuk dan tidak (pula) oleh tidur. Kepunyaan-Nya apa yang ada di semua langit dan apa yang di bumi. Siapa yang akan memohonkan syafaat di sisi-Nya kalau bukan dengan izin-Nya? Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, sedang mereka tidaklah meliputi sesuatu jua pun dari ilmu-Nya, kecuali apa yang Dia kehendaki. Meliputi penge tahuan-Nya akan semua langit dan bumi, dan tidaklah memberati-Nya memeliharanya kedua nya; dan Dia adalah Mahatinggi lagi Mahaagung.
Dari Ubay bin Ka’ab ra. bahwa Nabi SAW bertanya kepadanya,”Ayat apakah dalam kitabullah yang paling agung?”. Ka’ab menjawab,”Allah dan rasul-Nya yang lebih tahu”. Pertanyaan itu diulang berkali-kali sampai Ubay menjawab,”ayat kursi”. Nabi SAW bersabda,”Berbahagialah engkau dengan ilmu, wahai Abu Mundzir. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya ayat kursi itu memiliki lisan dan dua bibir yang bertasbih kepada Raja (Allah) di bawah Arasy. (HR. Ahmad)
Al-Qurtubi menuliskan bahwa ayat ini turun di malam hari, lalu Nabi SAW memanggil Zaid untuk menuliskannya. Muhammad bin Al-Hanafiyah mengatakan ketika ayat kursi ini turun, berhala-berhala di dunia meruduk. Begitu juga para raja di dunia, mahkota mereka pun berjatuhan. Setan berlarian saling bertabrakan satu dengan yang lain.
Ayat ini adalah ayat yang diturunkan oleh Allah, yang Maha Agung dalam sifat-Nya, dan Dia menjadikan pahalanya, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat, bagi pembacanya.
Dalam kehidupan dunia, ayat ini berfungsi sebagai pelindung bagi mereka yang membacanya dari berbagai bencana. Diceritakan bahwa Nu'f bin Bakali pernah mengatakan bahwa Ayat Kursi disebut dalam Taurat sebagai "Wali Allah," yang berarti pembacanya diangkat ke dalam kerajaan langit dan bumi dengan penuh keagungan.
Abdul Rahman bin Auf, misalnya, biasa membaca Ayat Kursi di keempat sudut rumahnya ketika masuk ke dalamnya. Ini seperti ia mencari perlindungan agar rumahnya dijaga dari segala arah dan agar setan tidak dapat memasuki sudut-sudut rumahnya.
Diceritakan pula bahwa Umar bin Khattab pernah berduel dengan seorang jin, dan Umar berhasil mengalahkannya. Jin tersebut kemudian berkata bahwa mereka, jin, tidak dapat mendekati orang yang membaca Ayat Kursi.
Lepaskan Aku biar Aku beritahu kamu hal yang menyebabkan kamu bisa mengalahkan kami. Maka jin itu dilepaskan lalu berkata,”Kalian bisa mengalahkan Aku dengan ayat Kursi”.
Orang yang membaca Ayat Kursi setiap selesau shalat, tidak ada yang bisa menghalanginya masuk surga kecuali kematian itu sendiri. Tidak ada orang yang membiasakan diri membacanya kecuali orang yang berstatus shiddiq atau ahli ibadah.
Orang yang membiasakan membaca ayat kursi malam sebelum tidur, Allah akan menjaga dan melindunginya, juga melindungi tetangganya, lalu tetangga dari tetangganya, juga rumah-ruamh di sekitarannya.
Dalam hadis lain, Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah SAW menugaskan dirinya untuk menjaga zakat Ramadan. Dalam konteks itu, Rasulullah SAW memberikan nasihat kepada Abu Hurairah agar membaca Ayat Kursi setiap kali berbaring untuk tidur. Rasulullah SAW menjamin bahwa dengan melakukan itu, Allah akan menjaganya dari gangguan setan dan memberinya perlindungan hingga pagi.
Hadis yang disampaikan oleh Anas bin Malik menyebutkan bahwa Allah mengwahyukan kepada Musa AS bahwa siapa pun yang rutin membaca Ayat Kursi setiap kali setelah shalat, akan mendapatkan pahala lebih besar daripada pahala orang yang bersyukur. Pahala ini bahkan melebihi pahala para nabi.
Ubay bin Ka'b juga menyampaikan bahwa Allah berfirman kepada Musa AS bahwa siapa pun yang membaca Ayat Kursi setiap kali setelah salat, akan mendapatkan pahala seperti pahala amal perbuatan para nabi. Abdullah bin Mas'ud juga menyatakan bahwa arti dari firman Allah, "Thawab al-anbiya" (pahala para nabi) adalah pahala amal perbuatan para nabi.
Ayat ini terdiri dari lima puluh kata, dan setiap kata membawa lima puluh berkah. Ayat ini setara dengan sepertiga dari seluruh Al-Qur'an. Sebuah hadis menyebutkan bahwa di dalamnya terdapat pengulangan nama Allah sebanyak delapan belas kali, yang merupakan jumlah kesempurnaan.
Semua itu menegaskan bahwa membaca Ayat Kursi membawa berkah, perlindungan, dan pahala besar bagi mereka yang melakukannya dengan ikhlas dan penuh keyakinan.
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ
Lafazh Allah (اللَّهُ) adalah sebutan untuk Allah SWT, sering diistilahkan dengan sebutan lafzhul jalalah yang posisinya dalam kalimat menjadi mubtada’ pertama, sedangkan lafazh (لَا إِلَٰهَ) yang berarti ‘tidak ada tuhan’ menjadi mubtada’ kedua. Namun yang menjadi khabarnya justu tidak tertulis alias mahdzuf dengan taqdir : (مَعْبُود) yang disembah atau (مَوْجُود) yang wujud. Sedangkan lafazh (إِلَّا هُوَ) menjadi badal dari la ilaha.
Makna kata ilah (إلَه) sering diartikan dengan tuhan, sebagaimana juga kata rabb (رَبّ) juga sering diartikan tuhan. Namun tentunya tidak sama pengertian atau sudut pandangnya. Terjemah Al-Quran versi Kementerian Agama RI menuliskan perbedaan itu ketika menerjemahkan surat An-Nas :
Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. (QS. An-Nas : 1-3)
Rabb adalah tuhan yang memelihara dan menguasai, sedangkan ilah adalah sembahan manusia.
Ibnu Taimiyah berpendapat adanya pembedaan konsep antar konsep ilah dan rab meski tetap saling berhubungan. Ilah adalah sesembahan, sedangkan rabb adalah pengatur dan pemelihara.
Ilah adalah sesuatu yang disembah dan dipuja oleh seseorang. Seseorang bisa menjadikan apa saja sebagai ilah, baik itu benda, makhluk, atau bahkan dirinya sendiri. Namun, hanya Allah yang berhak menjadi ilah yang sebenarnya.
Rabb adalah sesuatu yang mengatur dan memelihara. Allah adalah rabb bagi seluruh alam semesta. Dialah yang menciptakan, mengatur, dan memelihara seluruh makhluk di alam semesta."[1]
Dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azim, Ibnu Taimiyah juga menuliskan bahwa rab adalah Tuhan yang mengatur dan memelihara. Allah adalah rabb bagi seluruh alam semesta. Dialah yang menciptakan, mengatur, dan memelihara seluruh makhluk di alam semesta.[2]
Prof. Quriasih Shihab menjelaskan bahwa merujuk pada sifat Zat-Nya, yaitu uluhiyah atau ketuhanan. Sifat ini menunjukkan esensi dari keberadaan Allah sebagai Tuhan yang disembah dan tidak ada hubungannya dengan interaksi-Nya dengan makhluk-Nya. Sifat ketuhanan Allah adalah mutlak dan tidak dapat menyentuh atau berdampak kepada makhluk-Nya. Sedangkan makna kata rabb mengandung makna kepemeliharaan dan kependidikan, yang mencakup segala bentuk interaksi Allah dengan makhluk-Nya, seperti pemberian rezeki, pengampunan, kasih sayang, amarah, ancaman, dan siksaan. Konsep Rabb menekankan pada peran Allah sebagai pemelihara dan pendidik yang mengarahkan makhluk-Nya tahap demi tahap menuju kesempurnaan kejadian dan fungsinya.[3]
Pembagian tauhid menjadi rububiyah dan uluhiyah merupakan ijtihad yang dilakukan oleh ulama seperti Ath-Thahawi, Ibnu Taimiyah, dan diikuti oleh murid-muridnya hingga Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab dan para ulama di Saudi Arabia. Pembagian ini tidak ditemukan secara eksplisit dalam Al-Quran dan As-Sunnah.[4]
[3] Prof. Dr. Quraish Shihab, TAFSTR AL-MISBAH Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur'an, jilid 1 hal. 67
[4] Dr. Ahmad Sarwat, Lc., MA, Tafsir Tahlili Surat Al-Fatihah, hal. 28.
الْقَيُّومُ
Makna al-hayyu (الْحَيُّ) artinya adalah yang hidup, atau lebih tepat diterjemahkan Yang Maha Hidup. Lafazh ini adalah salah satu nama dalam rangkaian Asma’ul Husna.
Sedangkan lafazh al-qayyum (الْقَيُّومُ) diartikan menjadi : “Yang terus-menerus mengurus makhluk-Nya”. Buya HAMKA menerjemahkannya menjadi : “Yang berdiri sendiri-Nya.”
Secara struktur kalimat kedua lafazh (الْحَيُّ الْقَيُّومُ) bisa dianggap sebagai badal dari lafazh huwa, bisa juga dianggap sebagai na’at bagi Allah, atau bisa juga menjadi khabar ba’dal khabar, pokoknya terserah para ahli nahwu saja mengaturnya.
Disebutkan bahwa ketika Nabi Isa alaihissalam diberi mukjizat bisa menghidupkan orang mati, beliau membaca lafaz : “ya hayyu ya qayyum” yang sejalan dengan lafazh (الْحَيُّ الْقَيُّومُ) ini.
Begitu juga Ashaf bin Barkhia ketika menjalankan perintah Nabi Sulaiman memindahkan singgasana Ratu Balqis, dia membawa lafazh ya hayyu ya qayyum ini.
لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ
Lafazh la ta’khuzu-hu (لَا تَأْخُذُهُ) artinya : tidak mengambilnya. Sedangkan makna sinatun (سِنَةٌ) adalah rasa kantuk. Selain itu di dalam Al-Quran juga ada ungkapan lain yang maknanya mengantuk juga yaitu nu’as (النُّعَاسَ), terdapat pada ayat berikut :
(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu). (QS. Al-Anfal : 11)
Ada yang mengatakan perbedaannya bahwa sinah (سِنَةٌ) itu rasa kantuk dari dalam kepala, sedangkan nu’as (نُّعَاسَ) itu rasa kantuk pada mata. Sedangkan makna naum (نَوْمٌ) adalah tidur, yaitu pada hati.
Ada juga yang mengatakan bahwa nu'as (نُّعَاسَ) merujuk pada keadaan mengantuk atau rasa kantuk yang bersifat sementara. Ini bisa dirasakan sebagai kelelahan ringan atau mengantuk setelah makan, saat siang hari, atau dalam situasi tertentu. Karena bersifat sementara maka bisa diatasi dengan istirahat singkat atau perubahan aktivitas.
Sedangkan sinah (سنة) merujuk pada tidur atau keadaan tertidur. Ini adalah istilah yang lebih khusus untuk menyatakan keadaan tidur atau ketiduran. Ketika seseorang berada dalam keadaan sinah, itu berarti ia sedang tertidur atau dalam keadaan tidur yang lebih dalam. Sinah merujuk pada keadaan yang lebih menetap dan lebih panjang daripada nu'as.
Dengan demikian, perbedaan utama antara kedua kata tersebut terletak pada tingkat intensitas dan lamanya keadaan. Kata nu'as merujuk pada keadaan mengantuk atau kantuk yang bersifat sementara, sementara sinah merujuk pada keadaan tidur yang lebih dalam dan lebih lama. Meskipun keduanya terkait dengan keadaan tubuh dan istirahat, mereka memiliki konteks dan penggunaan yang berbeda dalam bahasa Arab.
Di sisi lain, ungkapan (لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ) ini punya nilai balaghah yang unik dalam bahasa Arab, yaitu ungkapan bahwa rasa kantuk dan tidur itu tidak mampu mengambil-Nya. Seolah-olah rasa kantuk dan tidur itu adalah sesuatu yang bisa mengambil seseorang dari kesadarannya.
Dalam konteks biologis manusia, rasa ngantuk dan tidur melibatkan berbagai mekanisme kompleks dalam tubuh dan otak. Ini merupakan hasil interaksi antara ritme sirkadian, hormon tertentu, dan faktor-faktor lain yang memengaruhi keseimbangan antara kewaspadaan dan kelelahan.
Walaupun rasa kantuk bisa menjadi indikator yang baik bahwa tubuh siap untuk tidur, tidak selalu diperlukan. Beberapa orang bisa tidur dengan mudah tanpa perlu merasa sangat kantuk, sementara yang lain mungkin merasa kantuk tetapi mengalami kesulitan tidur.
Orang yang berada dalam keadaan mengantuk tentu hilang kesadarannya, sehingga dia tidak akan dapat melakukan pekerjaannya dengan baik, padahal Allah swt senantiasa mengurus dan memelihara makhluk-Nya dengan baik, tidak pernah kehilangan kesadaran atau pun lalai.
Karena Allah tidak pernah mengantuk, sudah tentu Dia tidak pernah tidur, karena mengantuk adalah permulaan dari proses tidur. Orang yang tidur lebih banyak kehilangan kesadaran daripada orang yang mengantuk.
لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ
Lafazh lahu (لَهُ) artinya : milik-Nya, maksudnya milik Allah SWT. Sedangkan huruf maa (مَا) artinya segala apapun. Sedangkan fi (فِي) artinya berada pada, lalu makna samawaat (السَّمَاوَاتِ) adalah bentuk jamak dari langit, sedangkan lafazh al-ardhi (الْأَرْضِ) artinya tanah atau bumi. Makna penggalan ini adalah : milik-Nya segala apa yang ada di langit dan di bumi.
Di zaman kemajuan sains modern serta lewat pendekatan ilmu astronomi, istilah ‘langit dan bumi’ menjadi kurang spesifik dan terlalu abstrak. Al-Quran menyebutkan bahwa hujan turun dari langit, padahal maksudnya adalah awan hujan yang ketinggiannya hanya seribu dua ribu meter dari permukaan tanah.
Tetapi Al-Quran juga menyebut bahwa langit dihiasai dengan bintang, padahal jarak bintang terdekat yaitu bintang Proxima Centauri sejauh 4,24 tahun cahaya dari Bumi atau 5,4 juta kilometer dari Bumi.
Oleh karena itu menurut hemat Penulis kata samawat agak sedikit bermasalah kalau diterjemahan menjadi langit, sebagaimana kata ardhi juga bisa bermasalah kalau diterjemahkan menjadi bumi.
Mungkin samawat itu akan terasa lebih pas kalau diartikan dengan angkasa atau jagad raya, sedangkan ardh akan lebih mengena bila diterjemahkan menjadi daratan saja. Namun semua itu masalah rasa bahasa saja.
Lafazh man (مَنْ) artinya siapa, lafaz dzallahi (ذَا الَّذِي) artinya yang, yasyfa’u (يَشْفَعُ) artinya memberi syafaat, lafazh indahu (عِنْدَهُ) artinya : di sisi-Nya, dan lafazh illa bi-idzinihi (إِلَّا بِإِذْنِهِ) artinya : kecuali dengan atas idzin-Nya. Secara umum makna penggalan ini bisa diringkas dalam Al-Quran dan Terjemahnya versi Kemenag RI menjadi : “Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya”.
Rekomendasi kepada orang lain untuk memberikan manfaat yang diizinkan secara syar’i, atau menghilangkan kesusahan darinya.”
Namun dalam pengertian ilmu aqidah, istilah syafa’at amat terkait dengan keadaan di akhirat nanti, dimana seseorang bisa menerima syafa’at atau manfaat dari orang lain, meskipun dia sendiri tidak beramal sendiri.
Dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa Dirinya memberi izin bagi siapa yang Dia kehendaki untuk memberi syafa'at, yaitu para nabi, ulama, para mujahidin pejuang di jalan Allah, para malaikat, dan lainnya selain mereka yang Allah muliakan dan agungkan.
Namun ditegaskan bahwa mereka itu tidak dapat memberikan syafa’at kecuali telah Allah ridhai. Dan ini sejalan dengan firman-Nya yang lain yaitu :
وَلا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضى
Dan mereka tidak memberi syafa'at kecuali untuk orang yang telah Dia ridhai" (QS. Al-Anbiya : 28).
يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ
Makna ya’lamu (يَعْلَمُ) artinya : Dia Allah Maha Mengetahui, sedangkan makna maa baina aidihim (مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ) artinya : apa-apa yang ada di depan mereka. Lafazh wamaa khalfahum (وَمَا خَلْفَهُمْ) artinya : apa-apa yang ada di belakang mereka.
Mujahid, ahli tafsir murid Ibnu Abbas di Mekkah dan dari kalangan tabi’in menyebutkan bahwa apa-apa yang ada di depan mereka itu maksudnya adalah kehidupan di dunia ini, sedangkan apa-apa yang ada di belakang mereka maksudnya adalah kehidupan di akhirat.
Lafazh wala yuhithuna (وَلَا يُحِيطُونَ) artinya : mereka tidak mampu meliputi, sedangkan makna bi-syai-in min ‘ilmihi (بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ) artinya dengan sesuatu dari ilmu-Nya. Sedangkan makna illa bima syaa’ (إِلَّا بِمَا شَاءَ) artinya : kecuali atas kehendak-Nya.
Penggalam ini bisa dipaham bahwa mereka tidak akan mampu utnuk mengetahui sesuatu apa pun dari ilmu-Nya, kecuali apa yang Dia kehendaki.
Dan ini adalah isyarat kepada ketidakmampuan manusia utnuk memiliki pengetahuan tentang semua informasi. Kemudian, ketika keutamaan penguasaan dan hukum-Nya telah dijelaskan dalam langit dan di bumi, dijelaskan pula bahwa penguasaan-Nya di luar langit dan bumi lebih besar dan lebih agung, dan bahwa itu adalah sesuatu yang tidak dapat dicapai oleh khayalan orang-orang yang bermimpi dan terputus tanpa mencapai paling sedikit dari tingkatan imajinasi para pembayang.
وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ
Lafazh wasi’a (وَسِعَ) artinya : luasnya, lafazh kursiyyu-hu (كُرْسِيُّهُ) adalah : kursi-Nya, sedangkan lafazh as-samawati wal ardhi (السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ) artinya : langit dan bumi.
Lafazh ‘kursi Allah’ ini pernah menjadi titik perdebatan dua kalangan, yaitu mereka yang tidak mau melakukan takwil dan mereka yang mengharuskan takwil.
Di kalangan yang anti takwil, lafahz kursi Allah dipahami secara literal percaya bahwa kursi tersebut adalah sebuah singgasana fisik yang terletak di atas langit. Keyakinan ini didasarkan pada arti literal dari kata Arab "kursi" (singgasana), yang mengacu pada kursi atau kursi fisik. Mereka juga menunjuk pada ayat-ayat Al-Qur'an yang tampaknya menggambarkan kursi tersebut dalam istilah fisik, seperti:
ذُو الْعَرْشِ الْمَجِيدُ
"Dan di atas mereka terdapat singgasana kemuliaan" (QS. 85:15)
الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ
"Yang Maha Pemurah telah bersemayam di atas Arsy" (QS. 20:5)
Fakhruddin Ar-Razi menuliskan dalam Mafatih Al-Ghaib perbedaan pendapat ulama tentang apa yang dimaksud dengan kursi Allah sebagai berikut :
1. Pendapat Pertama
Pendapa pertama bahwa Al-Kursi adalah sesuatu yang besar yang mencakup langit dan bumi. Ada perbedaan pendapat mengenainya, beberapa mengatakan bahwa Al-Kursi adalah sama dengan Arsy (singgasana), karena tempat tidur dapat dijelaskan sebagai singgasana atau kursi, karena keduanya dapat menjadi tempat kekuasaan.
Ada juga yang mengatakan bahwa Al-Kursi adalah sesuatu yang berbeda dari Arsy. Beberapa dari mereka berpendapat bahwa Al-Kursi berada di bawah Arsy dan di atas langit ketujuh. Ada juga yang mengatakan bahwa Al-Kursi berada di bawah bumi, dan ini diriwayatkan dari As-Suddi.
2. Pendapat Kedua
Pendapat kedua adalah pandangan bahwa Al-Kursi merujuk pada sultanat, kekuasaan, dan pemerintahan. Terkadang dikatakan bahwa kedivinitasan hanya dapat dicapai melalui kekuasaan, penciptaan, dan penemuan, dan orang Arab menyebut akar dari segala sesuatu sebagai "Al-Kursi". Kadang-kadang pula pemerintahan disebut sebagai Al-Kursi, karena seorang raja duduk di atas kursi, dan raja dinamai berdasarkan tempat pemerintahan.
3. Pendapat Ketiga
Pendapat ketiga mengatakan bahwa Al-Kursi diartikan sebagai pengetahuan, karena pengetahuan adalah tempat bagi orang berilmu, dan Al-Kursi disebut demikian secara metafora karena pengetahuan adalah dasar yang digunakan.
4. Pendapat Keempat
Pendapat keempat diambil oleh Al-Qaffal, bahwa maksud dari pernyataan ini adalah untuk menggambarkan kebesaran dan keagungan Allah, dan menyatakan bahwa Allah berbicara kepada makhluk-Nya dengan cara yang mereka pahami dari raja dan orang besar mereka.
Sebagai contoh, Allah membuat Ka'bah menjadi rumah-Nya, tempat yang dikunjungi oleh manusia seperti rumah para raja mereka. Hal ini juga disebutkan dalam peristiwa Hasyr (perhitungan amal perbuatan) di Hari Kiamat dengan kehadiran para malaikat, nabi, syuhada (martir), dan pengaturan timbangan amal perbuatan. Dengan pemahaman ini, Al-Kursi dianggap sebagai lambang keagungan diri Allah.
Ayat ini menegaskan bahwa Kursi Allah mencakup segala sesuatu di langit dan di bumi, dan pengetahuan serta kekuasaan-Nya tidak terbatas. Oleh karena itu, Allah adalah Yang Maha Tinggi dan Maha Besar, dan tidak ada yang dapat memberi syafaat tanpa izin-Nya. Ayat Kursi menciptakan pemahaman mendalam tentang keagungan dan kekuasaan Allah dalam konteks ke-Esaan dan kepemeliharaan-Nya terhadap alam semesta.
Ibnu Asakir menyebutkan dalam kitab sejarahnya, dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
"Al-Kursi adalah mutiara, dan pena (al-Qalam) juga mutiara. Panjang pena itu tujuh ratus tahun, dan panjang Al-Kursi sampai pada suatu tempat yang hanya Allah yang mengetahuinya."
Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu menjelaskan bahwa antara setiap dua langit adalah perjalanan lima ratus tahun, lalu antara langit ketujuh dan Al-Kursi berjarak lima ratus tahun. Sedangkan antara Al-Kursi dan 'Arasy adalah perjalanan lima ratus tahun. 'Arasy berada di atas air, dan Allah berada di atas 'Arasy, Dia mengetahui apa yang kalian lakukan dan apa yang ada padanya.
Ibnu Abbas mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Kursi Allah adalah ilmu Allah. Ibnu Jarir At-Thabari kemudian menguatkan pendapat ini dan mengatakan bahwa kursi adalah tempat untuk meletakkan ilmu.
Al-Hasan Al-Basri yang berkata bahwa Kursi adalah tempat meletakkan kedua kaki, dan memiliki tumpuan seperti tumpuan kursi.
Al-Baihaqi meriwayatkan dari Abu Idris Al-Khawlani dari Abu Dzar, dia berkata, "Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, ayat mana yang paling agung?' Beliau bersabda, 'Ayat Kursi.' Kemudian beliau berkata, 'Wahai Abu Dzar, dari mana langit-langit ini dibangun?' Aku berkata, 'Dari Allah.' Beliau bersabda, 'Bagaimana langit-langit yang agung ini dibangun dan Al-Kursi-Nya tidak dapat memuatinya?' Aku berkata, 'Dari Allah.'" (Al-Baihaqi dalam kitab Syu'ab Al-Iman)
وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا
Makna lafazh la ya'uduhu ḥifẓuhuma (وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا) bahwa tidak berat bagi Allah untuk memelihara dan melindungi keduanya. Frasa ini menunjukkan bahwa Allah memiliki kekuasaan mutlak dan tidak ada keterbatasan dalam pemeliharaan dan perlindungan-Nya.
وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
Lafazh wa huwa (وَهُوَ) artinya : Dan Dia, maksudnya adalah Allah SWT. Sedangkan lafazh al-‘aliyyu (الْعَلِيُّ) artinya : Maha Tinggi. Lalu lafazh al-azhim (الْعَظِيمُ) artinya : Maha Agung.
Penutup ayat Kursi ini merupakan inti sari dari ayat yang cukup panjang, yaitu intinya bahwa Allah SWT itu Maha Tinggi sekaligus juga Maha Agung.
SOAL LATIHAN
Jelaskan pemahaman beberapa ulama terkait dengan makna Ayat Kursi, termasuk pengertian tentang keutamaan dan keberkahan yang terkandung dalam ayat tersebut.
Bagaimana Ayat Kursi dihubungkan dengan perlindungan dari berbagai bencana dalam kehidupan dunia? Berikan contoh konkret dari riwayat yang menyebutkan pengalaman seseorang yang mendapatkan perlindungan melalui membaca Ayat Kursi.
Apa yang dapat dipahami dari hadis yang menyebutkan bahwa membaca Ayat Kursi setiap selesai shalat dapat meningkatkan derajat seseorang hingga seperti mati syahid? Jelaskan makna dan implikasinya.
Bagaimana pemahaman tentang konsep tauhid rububiyah dan uluhiyah berkaitan dengan pengertian lafazh "اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ" dalam Ayat Kursi? Jelaskan pandangan beberapa ulama tentang perbedaan antara konsep ilah dan rabb.
Apakah pengertian dan penggunaan istilah "السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ" (langit dan bumi) dalam Ayat Kursi sesuai dengan pemahaman sains modern atau memiliki makna lebih mendalam dari perspektif agama? Jelaskan pendapat yang berbeda-beda mengenai interpretasi kata-kata ini.