Kemenag RI 2019:Lalu, setan menggelincirkan keduanya darinya ) sehingga keduanya dikeluarkan dari segala kenikmatan ketika keduanya ada di sana (surga). Kami berfirman, “Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain serta bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan.” Prof. Quraish Shihab:Maka keduanya digelincirkan oleh setan karenanya, maka keduanya dikeluarkan dari keadaan mereka berdua semula dari Kami berfirman: "Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman (sementara) dl bumi dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan." Prof. HAMKA:Maka, digelincirkanlah keduanya oleh setan dari (larangan) itu, dikeluarkannyalah keduanya dari keadaan yang sudah ada mereka padanya. Dan berkatalah Kami, "Turunlah kamu! Dalam keadaan yang setengah kamu terhadap yang setengah bermusuh-musuhan dan untuk kamu di bumi adalah tempat ketetapan dan bekal, sehingga sampai satu masa."
Lafazh azalla (أَزَلَّ) dibaca dengan dua qiraat yang berbeda. Bacaan jumhur ulama adalah azalla tanpa alif pada huruf zai sebagaimana biasa kita membacanya, maknanya adalah terpelest atau tergelincir, sebagaimana tertuang dalam terjemahan Kemenag RI, Quraish Shihab dan Buya HAMKA. Namun maksudnya tentu saja bukan tergelincir secara fisik, melainkan tergelincir dalam arti melakukan kesalahan.
Namun Hamzah membacanya dengan menambahkan alif pada huruf zai menjadi azaala (أَزَلَ), sehingga maknanya jadi menggeser atau mengubah. Ibnu Kaisan mengatakan azaala itu dari kata zawal yang artinya mengubah mereka dari ketaatan kepada maksiat.
Sebab Adam Makan Buah Terlarang
Lalu apa yang sebenarnya terjadi pada diri Nabi Adam, kenapa dia bisa sampai memakan buah yang dilarang untuk dimakan?
Pertanyaan semacam ini memicu diskusi panjang di kalangan para mufassir, sehingga muncul beberapa perkiraan yang unik, sebagai berikut :
1. Adam Lupa
Maksudnya bahwa seorang nabi meski pun punya sifat makshhum, namun sebagai manusia biasa, dia pun bisa mengalami lupa juga. Sehingga perbuatan itu terjadi bukan disengaja tapi karena lupa. Dasarnya adalah ayat berikut :
Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat. (QS. Thaha : 115)
Memang kalau buat umat Nabi Muhammad, lupa itu dimaafkan. Misalnya orang lagi puasa, dia makan karena terlupa sedang puasa, maka puasanya tidak batal, dia tidak berdosa, pahalanya tetap dan perutnya kenyang.
Tapi buat umat nabi sebelumnya, termasuk buat Nabi Adam, lupa itu tetap dihitung sebagai kesalahan. Sehingga Nabi Adam tetap harus mendapatkan hukuman atas lupa yang dialaminya.
2. Adam Mabuk
Pendapat lain mengatakan bahwa Adam saat itu sedang dalam keadaan mabuk, sehingga akalnya sedang tidak bekerja dengan sempurna. Dan mabuknya Adam itu bisa saja terjadi karena di waktu itu belum ada larangan minum khamar. Atau di surga memang tidak ada larangan untuk minum khamar, bahwa Al-Quran menyebutkan bahwa di surga ada sungai khamar.
وَأَنْهَارٌ مِنْ خَمْرٍ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ
Dan sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya (QS. Muhammad : 15)
Said Ibnul Musayyib bersumpah bahwa tidak mungkin bagi Nabi Adam untuk melanggar larangan Allah SWT. Namun Hawa memberinya minum khamar sehingga akalnya menjadi hilang. Jadi menurut pendapat ini, karena lagi mabuk itulah makanya Adam bisa sampai memakan buah terlarang.
3. Adam Salah Paham
Sebagian ulama ada yang mengatakan bahwa Adam salah paham atas larangan makan buah. Dikiranya yang haram hanya sebatas pohon yang ditunjuk saja. Ternyata semua pohon dari jenis yang telah ditunjuk itu termasuk haram juga. Rupanya menurut pendukung pendapat ini, Adam mengalami kesalah-pahaman dalam menetapkan mana yang halal dan mana yang haram.
Di dalam syariat yang turun kepada Nabi Muhammad SAW, seandainya hal itu terjadi para umatnya, maka pelakunya tidak akan dihukum atau dipersalahkan. Sebab dia sudah berijtihad namun masih ada kekeliruan dalam ijtihadnya. Dia tetap mendapatkan pahala meski pun hanya satu. Seandainya dalam berijtihad itu benar, maka dia akan dapat dua pahala.
4. Adam Dibohongi Iblis
Pendapat terakhir menyebutkan bahwa Nabi Adam jadi korban hoaks yang diseberkan oleh Iblis, sehingga dia jadi makan buah terlarang itu. Pendapat ini menyebutkan bahwa Adam memang benar-benar terkena provokasi yang dilancarkan oleh Iblis.
Setan menamakan pohon tersebut pohon keabadian, karena menurutnya, jika Adam dan istrinya memakan buah pohon itu maka mereka akan dapat kekal selama-lamanya dalam surga. Padahal yang sebenamya adalah sebaliknya, yaitu apabila ia dan istrinya memakan buah pohon itu maka mereka akan dikeluarkan dari surga, karena hal itu merupakan pelanggaran terhadap larangan Allah SWT.
Jika mereka melanggar larangan itu, maka mereka termasuk golongan orang zalim terhadap diri mereka, dan akan menerima hukuman dari Allah SWT yang akan mengakibatkan mereka kehilangan kehormatan dan kebahagiaan yang telah mereka peroleh.
الشَّيْطَانُ عَنْهَا
Menarik sekali kalau kita perhatikan ayat ini dimana-mana tiba-tiba Allah SWT mengubah sebutan Iblis menjadi Syetan. Padahal di ayat sebelumnya, yang lagi dibicarakan tidak mau sujud kepada Adam adalah Iblis. Sekarang tiba-tiba yang menggoda Adam adalah Syetan.
Lalu bagaimana hal ini bisa terjadi? Apakah Iblis dan setan itu sama saja itu-itu juga, kecuali hanya sebutannya dibedakan? Ataukah setan yang menggoda Adam bukanlah dia Iblis yang enggan untuk bersujud kepadanya?
Kata syaitiin berakar dari kata syatana yang berarti jauh. Disebut syaitiin karena jauh dari kebaikan, kebenaran dan perintah Allah. Jadi, setiap yang membangkang kepada Allah swt disebut syaitiin (setan), baik dari golongan jin atau manusia-sesuai dengan surah al-An'am/6: 112.
Ambisi setan adalah menyesatkan umat manusia sehingga jauh dari kebenaran. Atau kata tersebut terambil dari kata syiita-yasyltu artinya terbakar dalam kemarahan. Syaitiin mempunyai sifat demikian karena ia tercipta dari api (al-A'raf/7: 12).
Di dalam Al-Qur'an diterangkan bahwa di antara tingkah laku keji setan adalah mengeluarkan Adam dan Hawa dari surga, menakut-nakuti akan kefakiran dan menyuruh melakukan kejahatan, menakut-nakuti agar tidak berbuat kebenaran, menipu manusia dengan kata-kata indah, mengelabui manusia sehingga kejahatan dan maksiat terlihat baik di matanya, menimbulkan kebencian dan permusuhan sesama manusia, membuat manusia lupa dari mengingat Allah, dan lain-lain. Karena itu, kita diperintahkan mewaspadai bisikan-bisikan setan, tidak mengikuti langkah-langkahnya, dan memohon perlindungan kepada Allah dari godaan-godaannya.
Di dalam surah al-A'raf/7: 27 dijelaskan bahwa setan dari golongan jin tidak terlihat oleh kita sementara mereka melihat kita. Itulah sebabnya mengapa kita hams selalu waspada terhadap tipu daya dan godaan setan.
Bagaimana Setan Masuk ke Surga?
Dalam beberapa kitab tafsir ada riwayat-riwayat yang jadi perdebatan para ulama tentang bagaimana lblis bisa masuk ke surga. Salah satunya diriwayatkan bahwa ketika mau masuk ke surga, Iblis dicegah oleh Malaikat pengawal surga. Namun dirayunya seekor ular dan dimintanya menumpang dalam mulut ular itu.
Disebut pula di situ bahwa ular pada masa itu masih berkaki empat. Ular itu tidak keberatan. Maka, masuklah iblis ke dalam mulutnya dan menyelundup masuk ke surga, tidak diketahui oleh Malaikat pengawal tadi sehingga dia leluasa dapat bertemu dengan Nabi Adam. Dengan bercakap melalui mulut ular; sehingga oleh Nabi Adam dikira bahwa ular itulah yang berbicara, mulailah iblis melakukan rayu dan cumbunya agar Adam dan Hawa memakan buah yang terlarang itu.
Namun, Adam tidak mau percaya lalu iblis keluar dari persembunyiannya, lalu merayu dengan berterus terang sampai Hawa tertipu dan kemudian Adam menurut.
Buya HAMKA mengatakan bahwa riwayat semacam ini bolehlah kita masukkan juga ke dalam lsrailiyat, kisah Taurat yang didengar oleh Abdullah bin Mas'ud dan beberapa sahabat lain dari orang Yahudi, dikutipnya dari dalam Taurat, sebagaimana diingatkan oleh Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Bukhari yang telah kita salinkan di atas tadi, yang tidak boleh lekas ditelan, dibenarkan semuanya, dan tidak boleh didustakan semuanya.
Yang penting ialah bahwa di dalam Al[1]Qur'an sendiri tidak ada cerita Iblis menumpang dalam mulut ular itu, yang bagaimana kita membacanya, mestilah meninggalkan kesan bahwa Malaikat Khazanah surga telah dapat
ditipu oleh Iblis sehingga derajat Malaikat sudah sama saja dengan manusia biasa yaitu bisat dikecoh.
فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ
Lafazh akhraja (أخرج) secara bahasa bermakna mengeluarkan, asalnya dari kharaja (خَرَجَ) yang berarti keluar. Namun dalam hal ini bukan syetan yang mengeluarkan Adam dan Hawa secara langsung, melainkan menjadi faktor penyebab alias biang keladi atau biang kerok dikeluarkannya.
Sebagian ulama ada yang mengatakan bahwa keluarnya Adam dari surga ke bumi bukan disebabkan karena kesalahannya memakan buah yang terlarang. Sebab kesalahannya itu sudah diampuni. Dan buat apa diampuni kalau tetap masih dihukum juga.
Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah : 37)
Pendapat ini juga dikuatkan dengan firman Allah SWT sebelumnya bahwa sejak awal Allah SWT hendak menjadikan Nabi Adam sebagai khalifah di bumi. Kalau pun ada peristiwa pelanggaran atas larangan memakan buah di surga, itu hanya kebetulan saja, atau memang berdasarkan setingan dari Allah SWT.
Sebagian lain mengatakan bahwa keluarnya Adam dari surga memang karena merupakan hukuman atas kesalahannya melanggar larangan makan buah di surga. Adapun diterimanya taubat Adam oleh Allah SWT tidak serta merta menghapus hukuman. Karena ada dosa yang hilang hanya dengan minta ampun saja, namun ada dosa yang tidak cukup hanya dengan minta ampun, tetapi harus dilengkapi juga dengan menjalani hukuman.
Sedangkan adanya ampunan itu bisa menghilangkan hukuman, hanya berlaku pada umat Nabi Muhammad SAW saja, namun tidak berlaku pada umat terdahulu.
وَالْمَسَاكِينِ
Kata wa-al-masākīni (وَالْمَسَاكِينِ) artinya : dan orang-orang miskin. Secara bahasa, menurut Ibnul Manzdhur dalam kamus Lisanul Arab, kata miskin itu berasal dari kata al-maskanah (المـسكنة) yang artinya kerendahan, al-khudhu’ (الخضوع) yang artinya sub-ordinasi dan adz-dzull (الذل) yang bermakna juga kerendahan.[1]
Al-Fairuz Abadi dalam kamus Al-Muhith menyebutkan bahwa miskin adalah orang yang tidak punya harta apapun (من لا شيء له). Miskin juga bermakna kerendahan dan kelemahan.[2]
Sedangkan secara istilah dalam disiplin ilmu fiqih, kata miskin didefinisikan dengan beberapa ungkapan yang berbeda-beda oleh para ulama.
Mazhab Al-Hanafiyah dan Al-Malikiyah menyebutkan bahwa makna istilah miskin maksudnya adalah orang yang tidak punya harta apa pun (من لا يملك شيئا).[3]
Sedangkan Mazhab Asy-Syafi’iyah mengungkapkan istilah miskin sebagai orang yang memiliki sekadar harta atau penghasilan, yang bisa menutup kebutuhan tertentu tetapi belum mencukupi.[4]
Lalu Mahzab Al-Hanabilah mengungkapkan istilah miskin sebagai orang dengan kategori sudah punya harta dan hartanya itu bisa mencukupi banyak hal dari kebutuhannya meski belum semua, setidaknya di atas 50 persen dari kebutuhan.[5]
Orang yang tidak punya harta yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya, namun masih ada sedikit kemampuan untuk mendapatkannya. Dia punya sesuatu yang bisa menghasilkan kebutuhan dasarnya, namun dalam jumlah yang teramat kecil dan jauh dari cukup untuk sekedar menyambung hidup dan bertahan.
Dari sini bisa kita komparasikan ada sedikit perbedaan antara faqir dan miskin, yaitu bahwa keadaan orang faqir itu lebih buruk dari orang miskin. Sebab orang miskin masih punya kemungkinan pemasukan meski sangat kecil dan tidak mencukupi. Sedangkan orang faqir memang sudah tidak punya apa-apa dan tidak punya kemampuan apapun untuk mendapatkan hajat dasar hidupnya. Pembagian kedua istilah ini bukan sekedar mengada-ada, namun didasari oleh firman Allah SWT berikut ini :
Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut. (QS. Al-Kahfi : 79)
Di ayat ini disebutkan bahwa orang-orang miskin itu masih punya pekerjaan yaitu mencari ikan di laut. Artinya meski mereka miskin, namun mereka masih punya hal yang bisa dikerjakan, masih punya penghasilan dan pemasukan, meski tidak mencukupi apa yang menjadi hajat kebutuhan pokoknya.
Namun Al-Hanafiyah dan Al-Malikiyah menyatakan sebaliknya, bahwa orang miskin itu lebih buruk keadaannya dari orang faqir. Hal ini didasarkan kepada makna secara bahasa dan juga nukilan dari ayat Al-Quran juga.
أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ
atau kepada orang miskin yang sangat fakir.(QS. Al-Balad : 16)
[1] Lisanul Arab oleh Ibnul Mandzhur, jilid 3 hal. 216
Lafazh ihbithu (اهبطوا) adalah fi'il amr yaitu perintah untuk turun. Asal katanya dari (هَبَطَ - يَهْبِطُ) yang maknanya turun atau mendarat. Dalam bahasa Arab, turunnya pesawat terbang ke landasan disebut dengan al-hubuth (الهبوط). Maksudnya Allah SWT memerintahkan Adam dan istrinya untuk keluar dari surga dan turun ke bumi.
Namun menarik untuk dikaji disini bahwa fi'il amr ini dhamirnya bukan huma untuk dua orang, tapi dhamirnya jamak atau tiga orang ke atas. Padahal seharusnya bunyi perintahnya adalah (اهبطا) yaitu keluarlah kamu berdua. Namun kenapa perintahnya kepada banyak atau minimal lebih dari dua?
Kalau kita perintah dalam beberapa kitab tafsir, kita akan temukan beberapa pendapat yang berbeda dari para mufassir, rinciannya sebagai berikut :
Ibnu Abbas : yang diperintahkan keluar itu bukan hanya Adam dan Hawa saja, tetapi juga Iblis dan juga ular. Ular ini yang membantu Iblis menyusup ke dalam.
Mujahid : yang diperintahkan keluar dari Adam dan keturunannya serta Ibli dan keturunannya juga.
Sebagian ulama : yang diperintah keluar adalah Adam, Hawa dan penggodanya
Dimanakah Turunnya Adam dan Hawa?
Para mufassir berbeda-beda pendapat ketika mengatakan dimanakah tempat di bumi ini yang jadi tempat turunnya Adam, menjadi beberapa versi yang berbeda-beda :
Menurut satu riwayat dari lbnu Abi Hatim, yang katanya diterimanya dari Abdullah bin Umar bahwa Adam turun ke dunia di Bukit Shafa, sedangkan Hawa turun di bukit Marwah.
Dan riwayat lain dari Ibnu Abi Hatim juga, katanya diterimanya dari lbnu Umar juga, Adam turun di bumi di antara negeri Mekah dan Thaif.
Ada pula riwayat Ibnu Asakir yang katanya diceritakan dari Ibnu Abbas bahwa Nabi Adam turun di Hindustan, sedangkan Hawa turun di Jeddah. Kata orang, itulah sebabnya Jiddah bernama Jeddah (Jiddah) karena arti "Jiddah" ialah nenek perempuan.
Ada pula satu riwayat yang mengatakan bahwa tempat turunnya Nabi Adam bukan di Mekah, bukan di Hindustan, tetapi di Pulau Serendib. Syekh Yusuf Tajul Khalwati dalam surat-suratnya yang dikirimkan dari Sailan (Ceylon) kepada murid-muridnya di Makassar dan Banten pada akhir abad ketujuh belas, sebelum beliau dipindahkan ke Afrika Selatan, selalu menyebutkan bahwa beliau bersyukur karena di pulau pengasingan ini, Pulau Serendib, tempat turunnya nenek kita Nabi Adam, dan beliau masih dapat beribadah kepada Tuhan. Maka, Syekh Yusuf dengan demikian memegang pendapat yang umum pada waktu itu bahwa Pulau Serendib ialah Pulau Ceylon (sekarang Sri Lanka). Akan tetapi, dalam penyelidikan ahli-ahli terakhir menunjukkan bukti-bukti pula bahwa Pulau Serendib bukanlah Ceylon, melainkan Pulau Sumatra sebab nama Serendib adalah bahasa Sanskerta yang ditulis dengan huruf Arab. Aslinya ialah Pulau Swarnadwipa, yaitu nama Sumatra di zaman dahulu, sebagai juga Jawadwipa nama dari Pulau Jawa.
بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ
Sebagian ulama diantaranya Al-Hasan Al-Bashri mengatakan bahwa permusuhan itu antara anak keturunan Adam dengan anak keturunan Iblis. Pendapat ini didasarkan pada ayat lain yaitu :
Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala (QS. Fathir : 6)
Namun sebagian ulama lainnya mengatakan bahwa permusuhan itu tidak hanya sebatas umat manusia dengan setan, tetapi juga antara sesama mereka yang diperintahkan turun, termasuk juga antara sesama umat manusia sendiri. Pendapat ini pun juga didukung dengan ayat Al-Quran juga, salah satunya terkait pembunuhan sesama anak Nabi Adam sendiri.
Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang diantara orang-orang yang merugi. (QS. Al-Maidah : 30)
وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ
Lafazh walakum fi al-ardhi (ولكم في الأرض) maknanya : dan bagi kalian di muka bumi. Sedangkan mustaqar oleh kebanyakan ulama dimaknai sebagai tempat tinggal. Sebenarnya para ulama berbeda pendapat tentang apa yang dimaksud dengan mustaqar (مستقر). Sebagian mengatakan bahwa mustaqar itu tempat tinggal untuk seterusnya, namun sebagian yang lain memaknainya sebagai tempat dikuburkannya.
Apabila kita menggunakan pendapat yang utama yaitu bahwa bumi adalah tempat tinggal manusia, maka konsekuensinya menjadi sangat besar serta menjadi pembenaran dari fakta ilmiyah hingga kini.
Maksudnya dari seluruh planet di jagad raya ini, hanya bumi saja satu-satunya yang layak untuk dihuni oleh manusia, bahkan oleh makhluk hidup sekalipun. Dari delapan planet yang mengelilingi matahari, ternyata hanya satu saja yang bisa didiami oleh manusia dan makhluk hidup. Bahkan meski pun di luar sana terdapat bermilyar planet, namun tak satu pun yang bisa dihuni manusia.
Mungkin kita bertanya-tanya, kenapa planet-planet tetangga kita di tata surya tidak bisa dihuni manusia?
Ada beberapa alasan mengapa planet-planet di tata surya kita tidak mungkin dihuni oleh manusia:
Suhu: Keempat planet terdekat dari Matahari (Mercury, Venus, Mars, dan Jupiter) memiliki suhu yang sangat tidak cocok untuk kehidupan manusia. Mercury dan Venus sangat panas, sedangkan Mars dan Jupiter sangat dingin.
Atmosfer: Atmosfer Venus sangat tebal dan beracun, sementara Mars sangat tipis dan tidak dapat menyediakan cukup oksigen untuk manusia.
Gravitasi: Gravitasi planet-planet lain dari Matahari jauh lebih rendah dari gravitasi Bumi, yang dapat menyebabkan masalah kesehatan bagi manusia.
Lingkungan: Banyak planet di tata surya kita tidak memiliki air cair atau lingkungan yang cocok untuk kehidupan manusia.
Jarak: Jarak dari planet lain ke Bumi sangat jauh, sehingga sangat sulit dan mahal untuk mengirim satelit atau manusia ke planet lain.
Memang menurut hitung-hitungan kasar, ada beberapa planet jauh di luar tata surya yang diprediksi kondisinya sedikit mirip dengan bumi, sehingga ada semacam asumsi jangan-jangan dimungkinkan terdapatnya kehidupan. Diantara yang dicurigai itu adalah:
Kepler-186f : Planet ini ditemukan pada tahun 2014 dan berjarak sekitar 500 tahun cahaya dari Bumi. Planet ini berada di zona habitable dari matahari mereka dan diperkirakan memiliki ukuran dan massa yang sama dengan Bumi.
TRAPPIST-1e: Planet ini ditemukan pada tahun 2016 dan berjarak sekitar 40 tahun cahaya dari Bumi. Planet ini berada di zona habitable dari matahari mereka dan diperkirakan memiliki ukuran yang hampir sama dengan Bumi.
Kepler-438b: Planet ini ditemukan pada tahun 2015 dan berjarak sekitar 640 tahun cahaya dari Bumi. Planet ini berada di zona habitable dari matahari mereka dan diperkirakan memiliki ukuran yang hampir sama dengan Bumi.
Kepler-438c : Planet ini ditemukan pada tahun 2015 dan berjarak sekitar 640 tahun cahaya dari Bumi. Planet ini berada di zona habitable dari matahari mereka dan diperkirakan memiliki ukuran yang hampir sama dengan Bumi.
Kepler-438d: Planet ini ditemukan pada tahun 2015 dan berjarak sekitar 640 tahun cahaya dari Bumi. Planet ini berada di zona habitable dari matahari mereka dan diperkirakan memiliki ukuran yang hampir sama dengan Bumi.
Meski pun demikian tetap perlu diingat bahwa hingga saat ini belum ada bukti pasti bahwa planet-planet tersebut memiliki kehidupan seperti yang kita ketahui. Namun, ini adalah beberapa planet yang dianggap paling mungkin memiliki kondisi yang cocok untuk kehidupan
وَمَتَاعٌ
Lafazh mata' (متاع) punya banyak makna, di antaranya
Kesenangan : seperti yang tertuang dalam surat Ali Imran ayat 14 (ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ)
Pemberian suami kepada istri, seperti tertuang dalam surat Al-Baqarah 236
Barang-barang Yusuf 17 dan 65
Makanan Al-Maidah 96
Perhiasan An-Nahl 80
Kebutuhan An-Nur 29
Dalam terjemahan Al-Quran versi Kementerian Agama RI edisi revisi 2019, mata' diterjemakan menjadi kesenangan, begitu juga terjemahan Quraish Shihab. Namun Buya HAMKA menerjemahkannya menjadi bekal.
Secara saintifik, nampaknya mata' akan jadi lebih tepat manakala kita maknai sebagai segala kebutuhan hidup bagi manusia baik berupa makanan, minuman, udara, air, suhu, tekanan, hewan, tumbuhan dan ekosistem. Sebab semua itu hanya ada di bumi, seluruh alam semesta yang luasnya tak terbatas ini tidak bisa dihuni manusia, karena tidak ada mata' buat manusia.
إِلَىٰ حِينٍ
Lafazh ilaa hiiin (إلى حين) dimaknai oleh para mufassir dengan berbeda :
Ibnu Abbas dan As-Suddi mengatakan maknanya hingga mati. Sebab sifat mustaqar manusia di bumi secara otomatis akan berakhir dan berhenti begitu dia berhenti bernafas alias mati.
Sedangnya Mujahid mengatakan maknanya hingga terjadinya hari kiamat, dengan dasar bahwa mustaqar itu adalah alam kubur.
Sedangkan Ar-Rabi' mengatakan maknanya hingga waktu yang ditentukan. Dengan dengan dasar firman Allah SWT bahwa makna hin (حين) adalah hari kiamat.