Kemenag RI 2019:(Ingatlah) ketika kamu berkata, “Wahai Musa, kami tidak tahan hanya (makan) dengan satu macam makanan. Maka, mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia memberi kami apa yang ditumbuhkan bumi, seperti sayur-mayur, mentimun, bawang putih, kacang adas, dan bawang merah.” Dia (Musa) menjawab, “Apakah kamu meminta sesuatu yang buruk sebagai ganti dari sesuatu yang baik? Pergilah ke suatu kota. Pasti kamu akan memperoleh apa yang kamu minta.” Kemudian, mereka ditimpa kenistaan dan kemiskinan, dan mereka (kembali) mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena sesungguhnya mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa hak (alasan yang benar). Yang demikian itu ditimpakan karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Prof. Quraish Shihab:Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Wahai Musa! Kami sekali-kali tidak sabar dengan satu (macam) makanan (saja). Oleh sebab itu, mohonkanlah untuk kami kepada Tuhan Pemeliharamu, supaya Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, (yaitu) sayur-mayur nya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya dan bawang merahnya.” Dia (Nabi Musa as.) berkata: “Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai (pengganti) yang lebih baik? Pergilah kamu ke kota, maka sesungguhnya kamu akan memperoleh apa yang kamu minta.” Dan ditimpakanlah atas mereka kehinaan dan kerendahan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Yang demikian itu karena mereka (selalu) mengingkari ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan) Allah dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan. Yang demikian itu karena mereka (selalu) durhaka dan melampaui batas. Prof. HAMKA:Dan (ingatlah) ketika kamu berkata, "Wahai Musa, tidaklah kami akan tahan atas makanan hanya semacam. Sebab itu, mohonkanlah untuk kami kepada Tuhan engkau, supaya dikeluarkan untuk kami dan apa yang ditumbuhkan bumi, dari sayur-sayurannya, dan mentimunnya, dan bawang putihnya, dan kacangnya, dan bawang merahnya.Berkata dia, "Adakah hendak kamu tukar yang amat hina hina dengan yang amat baik? Pergilah ke satu kota besar, maka sesungguhnya di sana akan dapatlah apa yang kamu minta itu!Dan dipukulkanlah atas mereka kehinaan dan kerendahan, dan sudah layaklah mereka ditimpa kemurkaan dari Allah. Yang demikian itu ialah karena mereka kufur kepada perintah-perintah Allah dan mereka bunuh nabinabi dengan tidak patut. Yang demikian itu ialah karena mereka telah durhaka dan mereka telah melewati batas.
Ayat ke-61 ini masih menggambarkan bagaimana sulitnya kehidupan Nabi Israil ketika disesatkan Allah di Gurun Sinai setelah diselamatkan dari kejaran Fir’aun dan bala tentaranya.
Kali ini terkait dengan keinginan mereka untuk bisa merasakan banyak jenis makanan, sebab selama ini meski mereka sudah diberi rizki berupa Manna dan Salwa, namun menu yang itu-itu saja rupanya membuat mereka bosan dan ingin memakan berbagai jenis menu lain yang bervariasi.
وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَىٰ
Seperti pada ayat-ayat sebelumnya, ayat ini diawali dengan lafazh wa idz (وإذ) yang oleh para penerjemah dimakna menjadi : “Dan ingatlah ketika”. Dalam hal ini ketika Bani Israil berkata kepada Nabi Musa alaihissalam yang intinya mereka mengadukan kondisi makanan mereka yang hanya itu-itu saja serta dan mengeluhkannya.
لَنْ نَصْبِرَ
Lafazh lan nashbira (لَنْ نَصْبِرَ) secara bahasa artinya tidak sabar. Memang begitulah bahasa orang-orang Arab ketika menyatakan komplain, mereka menggunakan istilah : tidak sabar. Makanya dalam Kemenag RI menuliskan terjemahannya : tidak tahan, sebagaimana juga ungkapan Buya HAMKA.
Secara logika memang bisa kita terima tidak tahannya mereka, karena menu itulah yang mereka makan selama 40 tahun lamanya. Itu adalah konsekuensi logis dari hidup di gurun dan bukan di tengah peradaban manusia. Walaupun Manna dan Salwa terbilang makanan yang baik, namun tentu saja di dunia ini begitu banyak variasi makanan.
Prof. Quraish Shihab mengutipkan dari Perjanjian Lama, bahwa Bani Israil mengeluhkan ini pada bulan kedua dari tahun kedua eksodus rnereka dalam perjalanan mereka menuju Hebron. Mereka berkata, 'Kami teringat makanan yang kami makan di Mesir dan kami telah bosan dengan Manna dan Salwa.[1]
Al-Fakhrurrazi mengatakan boleh jadi ada kemungkinan tujuan utama mereka adalah kejenuhan mereka hidup di gurun dan besar sekali keinginan mereka masuk ke tengah peradaban manusia. Namun cara mereka mengungkapkannya lewat pernyataan bosan dengan menu yang mereka makan sehari-hari. [2]
Lafazh tha’am wahid (طَعَام وَاحِد) secara harfiyah makanan yang satu, namun maksudnya bukan makanannya yang satu, melainkan satu menu saja. Kalau makanannya setidaknya da dua, yaitu Manna dan Salwa yang sudah dijelaskan pada pembahasan di ayat sebelumnya. Jadi makna dari makanan yang satu maksudnya menunya hanya itu saja itu dan itu saja atau tidak bergonta-ganti menu.
فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ
Lafazh ud’uu (أُدْعُ) berasal dari kata (دعا - يدعو) yang bisa punya banyak makna dan penggunaan, diantaranya bisa bermakna perintah untuk berdakwah atau mengajak seperti yang terdapat di dalam surat An-Nahl ayat 125
Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu. (QS. Al-Araf : 180)
Namun yang dimaksud dalam ayat ini bukan keduanya, melainkan permintaan Bani Israil kepada Nabi Musa untuk berdoa dan memintakan kepada Allah SWT, agar mereka bisa diberi menu makanan yang lebih variatif dan beraneka ragam.
Yang menarik untuk dibahas adalah kenapa mereka tidak langsung meminta dan berdoa langsung kepada Allah SWT, tetapi malah meminta kepada Nabi Musa agar berdoa. Boleh jadi karena mereka merasa bahwa Nabi Musa adalah utusan Allah SWT yang pastinya punya kedekatan khusus, ketimbang mereka yang bukan nabi.
Namun bisa saja karena mereka merasa bahwa permintaan mereka itu mustahil bisa terlaksana, mengingat mereka hidup di gurun pasir tandus tanpa hujan dan tanaman. Hanya mukjizat saja yang bisa mengubah gurun pasir tandu menumbuhkan berbacam-macam hasil bumi.
وَقَتْلَهُمُ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ
Lafazh wa qatlahum ( وَقَتْلَهُمُ ) artinya : dan pembunuhan mereka, maksudnya pembunuhan yang mereka lakukan. Sedangkan yang dibunuh adalah al-anbiya'a ( الْأَنْبِيَاءَ ) yaitu para nabi yang hidup sebelum masa kenabian Muhammad SAW.
Sebenarnya orang-orang Yahudi yang hidup di masa kenabian Muhammad SAW tidak pernah membunuh para nabi. Sebab para nabi di masa itu sudah wafat semua. Yang melakukannya adalah para leluhur mereka di masa lalu. Namun dalam hal ini tidak mengapa bila anak cucu dan keturunan mereka disebut juga sebagai pembunuh para nabi. Dasarnya karena mereka tidak pernah menyesali hal itu alias mereka juga ikut meridhai apa yang dilakukan oleh para leluhur mereka di masa lalu. Padahal meridhai sebuah pembunuhan, sama saja dengan pembunuhan itu sendiri.
Lafazh bi ghairi haqqin ( بِغَيْرِ حَقٍّ ). artinya : tanpa hak. Maksudnya ada pembunuhan yang memang dalam syariah, seperti membunuh orang kafir yang statusnya kafir harbi dalam pertempuran fisik, dimana Allah SWT memang memerintahkan untuk membunuh.
Selain itu pembunuhan yang hak itu adalah pembunuhan berupa vonis dari seorang hakim kepada pihak yang telah melakukan perbuatan jarimah, entah itu karena qishash, atau karena kasus zina muhshan, ataupun juga dalam kasus murtadnya seseorang dari agama Islam. Dasarnya sebagaimana sabda Nabi SAW :
لَا يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ، يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ رَسُولُ اللهِ، إِلَّا بِإِحْدَى ثَلَاثٍ: Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan الدِّينِ التَّارِكُ الْجَمَاعَةَ
Tidak halal darah seorang muslim yang bersyahadat tidak Tuhan selain Allah dan bahwa Aku adalah rasulullah, kecuali lewat salah satu dari tiga perkara : [1] Jiwa dibalas dengan jiwa, [2] Janda yang berzina, [3] orang yang murtad dari agamanya dan meninggalkan jamaah. (HR.Bukhari)
Yang dilakukan oleh yahudi dalam debut mereka justru sangat makar, yaitu sampai hati dan tega mereka mem bunuh nabi -nabi yang diutus oleh Allah SWT. Dalam cacatan kita menemukan beberapa nama nabi yang telah mereka bunuh antara lain :
1. Nabi Zakharia
Nabi Zakharia adalah nabi terakhir dalam Perjanjian Lama yang dianggap dibunuh oleh bangsa Yahudi. Menurut catatan dalam Kitab 2 Tawarikh 24:20-21, nabi Zakharia dibunuh di dalam Bait Allah oleh bangsa Yahudi karena menyampaikan pesan dari Allah yang dianggap mengganggu kepentingan politik dan agama mereka.
2. Nabi Yesaya
Nabi Yesaya merupakan nabi besar yang hidup pada abad ke-8 SM. Menurut tradisi Yahudi, nabi Yesaya dibunuh oleh raja Manasye, putra Hizkia, karena menentang praktik-praktik agama pagan dan korupsi politik pada saat itu.
3. Nabi Yeremia
Nabi Yeremia hidup pada abad ke-6 SM dan dikenal sebagai nabi penghibur dan penyampai pesan damai. Namun, ia juga mengalami perlakuan yang tidak adil dari bangsa Yahudi pada saat itu.
Menurut Kitab Yeremia 26:8-11, nabi Yeremia hampir dibunuh oleh bangsa Yahudi karena menyampaikan pesan yang tidak populer tentang mengungkapkan Bait Allah dan kota Yerusalem.
4. Nabi Amos:
Nabi Amos hidup pada abad ke-8 SM dan juga dianggap dibunuh oleh bangsa Yahudi karena menyampaikan pesan tentang ketidakadilan sosial dan praktik agama yang salah pada saat itu.
5. Nabi Hosea:
Nabi Hosea hidup pada abad ke-8 SM dan juga dianggap dibunuh oleh bangsa Yahudi karena menyampaikan pesan tentang keberdosaan dan pembersihan melalui kematian.
Reputasi buruk Bani Israil yang suka membunuh para nabi terungkap di beberapa tempat dalam Al-Quran. Salah satunya pada ayat berikut ini :
أَفَكُلَّمَا جَاءَكُمْ رَسُولٌ بِمَا لَا تَهْوَىٰ أَنْفُسُكُمُ Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan
Mengapa setiap kali rasul datang kepadamu (membawa) sesuatu (pelajaran) yang tidak kamu inginkan, kamu menyombongkan diri? Lalu, sebagian(-nya) kamu dustakan dan sebagian (yang lain) kamu bunuh diri? (QS. Al-Baqarah : 87)
Selain itu juga disebutkan dalam ayat berikut ini :
Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memamg tak dibenarkan dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka gembirakanlah mereka bahwa mereka akan menerima siksa yg pedih. (QS. Ali Imran : 21)
Ibnul Qayyim menuliskan dalam kitab Hidayah al-Hayara fi Ajwibati Al-Yahud wa An-Nashara bahwa Bani Israil pernah membunuh 70 nabi dalam sehari. Berikut petikannya :
Apa yang Harus Dilakukan Saat Ini? Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan كأنهم لم يصنعوا شيئا
Sementara generasi yang datang setelah Musa, mereka adalah pembunuh para nabi. Mereka membunuh Zakariya dan memasukkan nabi Yahya dan banyak nabi-nabi lainnya. Hingga dalam waktu sehari mereka membunuh 70 nabi, lalu mereka mengadakan pasar di sore hari, seolah-olah mereka tidak melakukan kesalahan apapun. [1]
[1] Ibnul Qayyim, Hidayah al-Hayara fi Ajwibati Al-Yahud wa An-Nashara, hlm. 1,9
♥️
يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنْبِتُ الْأَرْضُ
Dan memang itu permintaan yang di luar logika manusia, yaitu minta agar Allah SWT menumbuhkan buat mereka tanaman-tanaman yang tumbuh di atas tanah. Padahal posisi mereka saat itu benar-benar berada di gurun pasir yang gersang, tandus, terik mematikan, ditambah bahwa curah hujan di gurun itu sangat minim serta tanahnya kering kerontang.
Nyaris tidak ada tumbuhan yang bisa bertahan hidup di gurun pasir, kecuali terbatas pada kaktus, kurma atau zaitun. Sayuran tidak dapat tumbuh dengan mudah di gurun pasir karena lingkungan gurun pasir memiliki karakteristik yang sangat ekstrem dan sulit untuk diatasi oleh tanaman. Beberapa faktor yang menyebabkan sulitnya pertumbuhan sayuran di gurun pasir antara lain:
§ Kurangnya air: Kebutuhan air bagi tanaman sangat penting, namun air di gurun pasir sangat langka. Curah hujan sangat rendah, sehingga menyebabkan tanah di gurun pasir sangat kering. Tanaman sayuran membutuhkan air yang cukup untuk tumbuh dengan baik, tetapi tanah gurun pasir tidak dapat menyimpan air dengan baik dan cepat menguap karena suhu yang sangat panas.
§ Kurangnya nutrisi: Tanah di gurun pasir seringkali memiliki kandungan nutrisi yang sangat rendah. Tanaman sayuran membutuhkan nutrisi yang cukup untuk tumbuh dan berkembang dengan baik. Tanah gurun pasir kurang subur dan seringkali kering, sehingga sulit bagi tanaman untuk mendapatkan nutrisi yang cukup.
§ Suhu yang sangat ekstrem: Suhu di gurun pasir dapat sangat panas pada siang hari dan sangat dingin pada malam hari. Tanaman sayuran membutuhkan suhu yang stabil dan cocok untuk tumbuh dan berkembang dengan baik. Suhu ekstrem di gurun pasir dapat merusak dan membunuh tanaman.
§ Kelembaban yang rendah: Kelembaban di udara di gurun pasir sangat rendah. Tanaman sayuran membutuhkan kelembaban yang cukup untuk mengatur suhu tubuh dan proses fotosintesis. Kelembaban rendah di udara dapat membuat tanaman cepat menguapkan air, mengeringkan daun dan akar tanaman.
مِنْ بَقْلِهَا
Lafazh baql (بقل) diterjemahkan menjadi sayur mayur. Tempat yang menjual sayur mayur dan kebutuhan sehari-hari di Saudi Arabia modern hari ini disebut dengan bagalah (بقالة). Dr. Wahbah Az-Zuhaili menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan baql adalah segala tanaman yang menghijaukan tanah baik berupa kacang-kacangan maupuna sayuran. [1] Sedangkan Syeikh Al-Maraghi mengatakan bahwa baql (بقل) itu tanaman basah seperti seledri dan daun mint.[2]
Sebenarnya memang agak musykil juga untuk menerjemahkan istilah baql (ini) dengan sayur mayur, mengingat kita mengetahui bahwa sayur-mayur dalam bahasa Arab itu disebut khudhrawat (خضروات). Lalu apa perbedaan antara keduanya?
Istilah baql (بقل) dalam bahasa Arab juga merujuk pada jenis-jenis kacang-kacangan, seperti kacang hijau, kacang polong, kacang merah, kacang hitam, dan sebagainya. Sementara itu, istilah khudhurāt (خضروات) dalam bahasa Arab merujuk pada berbagai jenis sayuran, seperti bayam, wortel, tomat, kubis, mentimun, dan sebagainya.
Perbedaan antara kacang-kacangan (بقل) dan sayuran (خضروات) adalah bahwa kacang-kacangan biasanya termasuk dalam kelompok biji-bijian, yang mengandung lebih banyak protein, lemak sehat, serat, dan zat gizi lainnya. Sementara itu, sayuran biasanya mengandung lebih sedikit protein dan lemak, tetapi kaya akan vitamin, mineral, dan serat.
Meskipun keduanya merupakan sumber nutrisi penting bagi tubuh, namun ada perbedaan dalam manfaat yang mereka berikan. Kacang-kacangan dikenal sebagai sumber protein nabati dan sumber energi yang baik, sementara sayuran kaya akan vitamin dan mineral yang penting untuk fungsi tubuh yang optimal dan membantu mencegah berbagai penyakit.
Lafazh qitstsa’ (قِثَّاء) dimaknai sebagai mentimun.
وَفُومِهَا
Ketika menjelaskan apakah fuum (فُوْم) itu, rupanya para ulama berbeda-beda pandangan. Sebagian ulama mengatakan makna tsaum (ثَوْم) adalah mentimun juga. Pendapat ini didasari dari qiraat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahuanhu yang membacanya bukan dengan huruf fa’ melainkan dengan huruf tsa’. Diantara yang berpandangan seperti ini di level para mufassir adalah Mujahid.
Sebagian ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan fuum (فُوْم) adalah hintah yaitu gandum. Namun sebagai lagi mengatakan bahwa maknanya adalah timun.
وَعَدَسِهَا
Lafazh wa ‘adasiha (و عدسها) disepakati sebagai kacang adas. Kacang adas atau dalam bahasa Ibrani disebut "Adas" merupakan salah satu makanan yang populer di kalangan bangsa Yahudi. Kacang adas juga sering disebut sebagai lentil dalam bahasa Inggris.
Kacang adas telah menjadi bagian dari masakan tradisional bangsa Yahudi selama ribuan tahun. Bahkan, dalam Alkitab Ibrani, kacang adas disebutkan sebagai salah satu bahan makanan yang digunakan oleh Yakub untuk memberikan makanan kepada Esau.
Kacang adas dianggap sebagai makanan yang kaya akan protein dan serat. Selain itu, kacang adas juga mengandung karbohidrat kompleks yang dapat memberikan energi yang tahan lama. Oleh karena itu, kacang adas sering kali dijadikan sebagai salah satu bahan makanan yang penting dalam masakan tradisional Yahudi.
Kacang adas dapat diolah menjadi berbagai macam hidangan, mulai dari sup, sosis kacang adas, hingga hidangan vegetarian seperti kacang adas panggang. Selain itu, kacang adas juga sering dijadikan sebagai pengganti daging pada saat perayaan-perayaan agama Yahudi seperti Yom Kippur.
Dalam beberapa kepercayaan agama Yahudi, kacang adas juga dianggap sebagai makanan yang membawa keberuntungan dan keberhasilan. Oleh karena itu, kacang adas sering kali dijadikan sebagai hidangan yang wajib pada saat perayaan-perayaan agama Yahudi.
Secara keseluruhan, kacang adas merupakan makanan yang sangat penting bagi bangsa Yahudi. Selain sebagai sumber nutrisi, kacang adas juga memiliki nilai budaya dan keagamaan yang penting bagi masyarakat Yahudi.
وَبَصَلِهَا
Sedangkan bashal (بصل) diterjemahkan menjadi bawang merah. Bawang merah atau dalam bahasa Ibrani disebut "Basal" juga merupakan salah satu bahan makanan yang sering digunakan dalam masakan tradisional bangsa Yahudi. Bawang merah biasanya digunakan sebagai bahan penyedap dalam berbagai jenis hidangan, seperti sup, saus, dan masakan berkuah lainnya.
Selain sebagai bahan penyedap, bawang merah juga memiliki nilai nutrisi yang penting bagi kesehatan. Bawang merah mengandung antioksidan yang dapat membantu melawan radikal bebas, serta senyawa-senyawa antiinflamasi yang dapat membantu mengurangi peradangan dalam tubuh.
Dalam beberapa kepercayaan agama Yahudi, bawang merah juga memiliki makna dan simbolisme yang penting. Dalam Talmud, salah satu kitab suci agama Yahudi, bawang merah disebut sebagai salah satu bahan makanan yang dapat meningkatkan gairah dan semangat manusia.
Selain itu, dalam tradisi Yahudi, bawang merah juga sering dijadikan sebagai hidangan penting pada saat perayaan-perayaan agama, seperti Paskah dan Hanukkah. Bawang merah sering dihidangkan bersama hidangan seperti matzo ball soup dan brisket, yang merupakan hidangan khas dalam perayaan-perayaan tersebut.
Dalam beberapa kepercayaan agama Yahudi, bawang merah juga dianggap sebagai salah satu bahan makanan yang dapat membawa keberuntungan dan keberhasilan. Oleh karena itu, bawang merah sering kali dijadikan sebagai salah satu bahan makanan penting dalam masakan tradisional Yahudi.
Secara keseluruhan, bawang merah merupakan salah satu bahan makanan yang penting bagi bangsa Yahudi. Selain sebagai sumber nutrisi, bawang merah juga memiliki nilai budaya dan keagamaan yang penting bagi masyarakat Yahudi.
Dia (Musa) menjawab, “Apakah kamu meminta sesuatu yang buruk sebagai ganti dari sesuatu yang baik?
Sebagian mufassir mengatakan bahwa makanan dalam bentuk Manna dan Salwa itu lebih baik bagi Bani Israil dari pada semua makanan yang mereka sebukan.
Namun sebagian yang lain mengatakan bahwa Manna dan Salwa bukan lebih baik, tetapi ungkapan ini mencakup konsekuensi yang menyertainya, seolah-olah Nabi Musa berkata,”Lebih baik disini meski hanya makan Manna dan Salwa, ketimbang masuk kota makan berbagai jenis menu, tetapi kalian akan kembali dijajah, ditindas dan diperbudak kembali”.
اهْبِطُوا مِصْرًا فَإِنَّ لَكُمْ مَا سَأَلْتُمْ
Lafazh ihbithu (اِهْبِطُوا) asal katanya dari (هَبَطَ - يَهْبِطُ), secara makna aslinya adalah turun atau mendarat, sebagaimana perintah Allah SWT kepada Nabi Adam untuk keluar dari surga dan turun ke bumi. Dalam bahasa Arab, turunnya pesawat terbang ke landasan disebut dengan al-hubuth (الهبوط). Maksudnya Allah SWT memerintahkan Adam dan istrinya untuk keluar dari surga dan turun ke bumi. Namun dalam ayat ini tidak diartikan turun atau mendarat tetapi diartika menjadi : “pergilah kamu ke”.
Lafazh mishran (مِصْرًا) oleh sebagian kalangan disebut sebagai negeri Mesir, tempat dimana dahulu Bani Israil pernah tinggal selama berabad-abad, terhitung sejak zaman Nabi Yusuf alahissalam.
Kalau dimaknai sebagai negeri Mesir, tentu saja perkataan Nabi Musa alaihissalam ini menjadi tidak biasanya. Sebab yang mereka lakukan selama ini justru berjuang agar terbebas dari kekejaman bangsa Mesir, khususnya Fir’aun yang dengan kejam melakukan pembersihan etnik pada Bani Israil.
Kalau sampai Nabi Musa memerintahkan mereka kembali ke Mesir, maka dipahami maksudnya bukan perintah yang sesungguhnya tetapi merupakan gaya bahasa satire level tinggi. Seakan-akan Nabi Musa berkata, “Kalau kalian hanya memikirkan makan enak dan tidak sabar dengan cobaan berat ini, ya sudah pulang saja sana kembali ke Mesir, biar sekalian langsung dihukum mati oleh Firaun”.
Namun sebagian kalangan menolak untuk mengatakan bahwa lafazh mishran di ayat ini maksudnya adalah negeri Mesir dimana mereka justru lari dari sana.
وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَالْمَسْكَنَةُ
Lafazh dzillah (ظِلَّة) dimaknai sebagai nista atau kenisataan, yaitu rasa rendah diri karena penindasan dan yang merupakan akibat dari kejauhan jiwa dari kebenaran, dan ketamakan meraih kegemerlapan duniawi. Nista berkaitan dengan jiwa, sedang kehinaan adalah kerendahan yang berkaitan dengan bentuk dan penampilan. Orang-orang kaya ketika itu berkewajiban membayar upeti. Sebagian besar-karena keengganan membayar-menampilkan diri sebagai orang-orang miskin dengan memakai pakaian-pakaian kotor dan lusuh.
Ada juga yang memahami kata dzillah (ذِلَّة) yang diterjemahkan di atas dengan nista dalam arti kehinaan sedang maskanah (مَسْكَنَة) al-maskanah dalam arti kehinaan akibat keinginan meraih sesuatu yang menyenangkan tetapi tidak dapat diraih sehingga melahirkan kesedihan.
وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ
Atas semua yang telah mereka lakukan itu maka Bani Israil lagi-lagi panen kemarahan dan murka dari Allah SWT. Dan ungkapan bahwa mereka mendapat murka Allah SWT ini sangat erat kaitannya dengan ayat terakhir surat Al-Fatihah, dimana kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW berdoa meminta kepada Allah agar terhindar dari sifat orang-orang yang dimurkai.
Dosa-dosa Bani Israil sekali lagi ditegaskan yaitu mengingkari ayat-ayat suci yang turun kepada mereka, meski dengan cara yang unik. Di satu sisi mereka membangga-banggakan diri sebagai ahli kitab, namun dalam prakteknya mereka malah menentang isinya dan melanggar perintah-perintah yang termuat di dalamnya.
وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ الْحَقِّ
Dan Allah SWT kemudian membongkar reputasi buruk Bani Israil sebelumnya yaitu mereka sampai membunuh para nabi yang telah Allah SWT utus kepada mereka. Diriwayatkan bahwa tidak kurang dari 70 orang nabi telah mereka bunuh. Di antara mereka yang terbunuh oleh Bani Israil adalah Nabi Zakaria dan Nabi Yahya, serta Nabi Sya’ya. [1]
Kalau kita konfirmasi ke literatur Yahudi sendiri, juga kita dapatkan beberapa nama nabi yang mereka bunuh:
1. Nabi Zakharia: Nabi Zakharia adalah nabi terakhir dalam Perjanjian Lama yang dianggap dibunuh oleh bangsa Yahudi. Menurut catatan dalam Kitab 2 Tawarikh 24:20-21, nabi Zakharia dibunuh di dalam Bait Allah oleh bangsa Yahudi karena menyampaikan pesan dari Allah yang dianggap mengganggu kepentingan politik dan agama mereka.
2. Nabi Yesaya: Nabi Yesaya merupakan nabi besar yang hidup pada abad ke-8 SM. Menurut tradisi Yahudi, nabi Yesaya dibunuh oleh raja Manasye, putra Hizkia, karena menentang praktek-praktek agama pagan dan korupsi politik pada saat itu.
3. Nabi Yeremia: Nabi Yeremia hidup pada abad ke-6 SM dan dikenal sebagai nabi penghibur dan penyampai pesan damai. Namun, ia juga mengalami perlakuan yang tidak adil dari bangsa Yahudi pada saat itu. Menurut Kitab Yeremia 26:8-11, nabi Yeremia hampir dibunuh oleh bangsa Yahudi karena menyampaikan pesan yang tidak populer tentang penghancuran Bait Allah dan kota Yerusalem.
4. Nabi Amos: Nabi Amos hidup pada abad ke-8 SM dan juga dianggap dibunuh oleh bangsa Yahudi karena menyampaikan pesan tentang ketidakadilan sosial dan praktek agama yang salah pada saat itu.
5. Nabi Hosea: Nabi Hosea hidup pada abad ke-8 SM dan juga dianggap dibunuh oleh bangsa Yahudi karena menyampaikan pesan tentang keberdosaan dan pemurnian melalui kesengsaraan.
Reputasi buruk Bani Israil yang suka membunuh para nabi diungkap di beberapa tempat dalam Al-Quran. Salah satunya di ayat berikut ini :
Mengapa setiap kali rasul datang kepadamu (membawa) sesuatu (pelajaran) yang tidak kamu inginkan, kamu menyombongkan diri? Lalu, sebagian(-nya) kamu dustakan dan sebagian (yang lain) kamu bunuh? (QS. Al-Baqarah : 87)
Selain itu juga disebutkan dalam ayat berikut ini :
Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memamg tak dibenarkan dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka gembirakanlah mereka bahwa mereka akan menerima siksa yg pedih. (QS. Ali Imran : 21)
Lafazh ‘ashau (عصوا) bermakna maksiat atau durhaka. Maksudnya semua kasus pembunuhan atas para nabi itu disebabkan karena kemasiatan dan kedurhakaan yang sangat parah yang telah menimpa mereka.
Sedangkan lafazh ya’tadun (يعتدون) dimaknai sebagai melampaui batas, baik batas kewajaran atau pun batas prikemanusiaan. Kalau pun tidak terima dengan ajakan dakwah para nabi, silahkan saja ingkari, kalau perlu usir saja para nabi itu. Bahkan Firaun pun tidak sampai membunuh Musa, dia hanya memerintahkan agar Musa pergi saja meninggalkan negeri Mesir. Setidaknya di awal Firaun tidak ingin membunuh Musa. Bahwa setelah itu dia mengejar Musa, itu karena ada pemikiran yang berbeda.