Kemenag RI 2019:Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Sabiin, ) siapa saja (di antara mereka) yang beriman kepada Allah dan hari Akhir serta melakukan kebajikan (pasti) mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut yang menimpa mereka dan mereka pun tidak bersedih hati. ) Prof. Quraish Shihab:Sesungguhnya orang-orang yang beriman (kepada Nabi Muhammad saw.), orang-orang Yahudi (yang mengaku beriman kepada Nabi Musa as.), orang-orang Nasrani (yang mengaku beriman kepada Nabi ‘Isa as.) dan orang-orang Shabi’in (kaum musyrik atau penganut agama dan kepercayaan lain), siapa saja di antara mereka yang (benar-benar) beriman kepada Allah dan Hari Kemudian serta mengerjakan amal saleh, maka bagi mereka ganjaran mereka di sisi Tuhan Pemelihara mereka, tidak ada rasa takut menimpa mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Prof. HAMKA:Sesungguhnya, orang-orang yang beriman dan orang-orang yang jadi Yahudi dan Nasrani dan Shabi`in, barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hart Kemudian dan beramal yang, saleh, maka untuk mereka adalah ganjaran di sisi Tuhan mereka, dan tidak ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka akan berduka cita.
Munasabah atau keterkaitan antara ayat ke-62 ini dengan ayat-ayat sebelumnya sangat erat. Kalau pada ayat-ayat sebelumnya Allah membeberkan berbagai macam bentuk keingkaran dan kesalahan-kesalahan Bani Israil, maka pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa semua golongan agama lain pada masanya, jika mereka beriman dan bertobat, tentulah mereka mendapat pahala di dunia dan akhirat, seperti yang diperoleh orang-orang mukmin lainnya.
Ayat ini secara tegas menyebutkan empat agama yang berbeda, dimana semuanya bisa saja mendapatkan kebaikan dari Allah SWT, yaitu :
1. Orang-orang yang beriman
2. Orang-orang yang menjadi Yahudi
3. Orang-orang Nasrani
4. Orang-orang Shabi'in
Dan kalau kita tadabburi seluruh ayat Al-Quran, ternyata kita menemukan dua ayat lain yang menjadi kembaran ayat ini meski tidak identik, yaitu surat Al-Maidah ayat 69 dan Surat Al-Hajj ayat 17 :
Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (diantara mereka) yang benar-benar saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Al-Maidah : 69)
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shaabi-iin orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu. (QS. Al-Hajj : 17)
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا
Yang disebut pertama adalah orang-orang beriman, yaitu para shahabat Nabi SAW yang telah menyatakan diri masuk Islam. Asy-Syaukani dalam Fathul Qadir[1] mengatakan bahwa yang dimaksud dengan beriman adalah mengakui rukun iman yang enam sebagaimana termuat dalam hadits Jibril alaihissalam yang terkenal itu.
Iman itu adalah beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para utusan-Nya, hari akhir dan kepada ketentuan baik dan buruk-Nya.
Namun Al-Qurtubi dalam Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran[2] menjelaskan bahwa ada pendapat mengatakan bahwa yang dimaksud dengan orang beriman dalam konteks ayat ini justru sebatas mereka yang munafik saja. Maksudnya mereka yang secara lisan menyatakan diri beriman, sedangkan hati mereka siapa yang tahu. Alasannya karena kedudukannya disamakan dan sederajat dengan orang Yahudi, Nasrani dan juga Shabi’in. Padahal seharusnya orang yang beriman tidak bisa disejajarkan dengan mereka yang kafir.
Namun pendapat yang lebih tepat adalah bahwa mereka memang orang-orang beriman dalam arti yang sesungguhnya. Dalam hal ini maksudnya tidak lain adalah para shahabat Nabi yang mulia ridhwanullahi a’laihim. Sedangkan masalah bagaimana mereka bisa disejajarkan dengan tiga kelompok kafir, penjelasannya bahwa agama yang Allah SWT turunkan kepada masing-masing mereka adalah agama yang benar datangnya dari Allah SWT.
Kepada kalangan Yahudi sudah Allah SWT turunkan begitu banyak nabi dan rasul, diantaranya ada Nabi Musa, Nabi Harun, Nabi Daud, Nabi Sulaiman dan banyak lagi. Demikian juga kepada kalangan Nashara pun sama juga, bahwa Allah SWT telah mengutus kepada mereka seorang Nabi Isa alaihissalam. Termasuk juga orang-orang Shabi’in pun sama juga, kepada mereka sebelumnya telah diutus para nabi dan rasul.
Sehingga semuanya punya prinsip ajaran yang sama karena berasal dari satu seumber yang intinya adalah beriman kepada Allah, beriman kepada hari akhir serta beramal shalih. Tidak ada perbedaan dari masing-masing agama samawi yang sama-sama datang dari Allah SWT.
Oleh karena itu seandainya mereka semua, termasuk para pengikut Nabi Muhammad SAW juga, beriman kepada Allah, hari akhir dan beramal shalih, pastilah mereka mendapatkan surga di akhirat.
Lafazh walladzina hadu (والذين هادوا) artinya secara bahasa adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Namun kebanyaka ulama menerangkan bahwa maksudnya tidak lain adalah orang-orang yahudi.
Menarik untuk dibahas kenapa dalam ayat ini Allah tidak menyebut mereka dengan kata yahudi. Menurut Quraish Shihab, sudah menjadi ‘urf atau kebiasaan Al-Quran kmenyebut mereka dengan yahudi biasanya dalam konotasi yang jelek-jelek, sementara ayat ini sedang menyebut mereka dalam konotasi yang positif, sehingga tidak menyebut mereka dengan sebutan : yahudi.
Tentang asal muasal kenapa mereka dinamakan Yahudi ini, ada dua pandangan yang berbeda :
Pertama, Ibnu Abbas dan beberapa ulama lainnya mengatakan bahwa kata Yahudi itu berasal dari bahasa Arab, yang berarti kembali yakni bertaubat. Mereka dinamai demikian karena mereka bertaubat dari penyembahan anak sapi, sebagaimana firman Allah SWT :
Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. (QS. Al-Araf : 156)
Kedua, menurut sebagian mufassir, nama Yahudi itu diambil dari nama anak pertama atau kedua dari Nabi Ya’qub alaihissalam yaitu Yahudza (يهوذا). Dia dan sebelas orang saudaranya itulah yang disebut dengan Bani lsrail, yang tidak lain adalah Nabi Ya’qub alaihissalam. Beliau punya nama lain yaitu : Israil dan merupakan cucu dari Nabi Ibrahim dari jalur anaknya Nabi Ishak alaihimussalam.
Dalam bahasa Arab, lafazh yahudza (يهوذا) ini ditulis hanya dengan sedikit sekali perbedaan yaitu meletakkan titik di atas huruf dal. Bahasa Arab sering kali mengubah pengucapan satu kata asing yang diserapnya.
Ketiga, Al-Fakhrurrazi dalam Mafatihul ghaib[1]menuliskan bahwa Abu Amr Al-‘Ala mengatakan kata yahudi itu berasal dari bahasa Arab yaitu yatahawwadu (يَتَهَوَّدُ) yang maknanya menggerak-gerakkan. Maksudnya ketika mereka membaca Taurat atau beribadah, mereka menggerak-gerakkan kepala mereka.
Lafazh an-nashara(النصارى) merupakan bentuk jama’, bentuk tunggalnya adalah nashrani (نصراني). Yang dimaksud adalah pemeluk agama Nasrani, atau bisa juga disebut agama Kristiani, atau setidaknya mereka adalah pengikut risalah dan ajaran Nabi Isa alahissalam.
Tentang bagaimana bisa disebut nashara, ada beberapa pendapat yang berbeda.
Pertama, menurut sebagian kalangan ada yang bilang bahwa mereka disebut nashara karena mereka itu menolong atau membela Nabi Isa alaihissalam, sebagai tertuang dalam firman Allah SWT :
Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: "Kamilah penolong-penolong agama Allah". (QS. Ash-Shaf : 14)
Kedua, menurut pendapat Ibnu Abbas, Qatadah dan Ibnu Jarir, mengatakan bahwa kata nashara itu dinisbahkan pada tempat dimana dahulu Nabi Isa alaihissalam pernah menetap, yaitu sebuah tempat di Palestina bernama Nazaret dalam bahasa Ibrani.
Lalu nama tempat itu diserap dalam Al-Quran dan dalam ejaan Arab ditulis menjadi naashirah (ناصرة). Dan orang-orang yang memeluk agama yang dibawa oleh Nabi Isa lantas disebut dengan orang-orang nasrani.
وَالصَّابِئِينَ
Para mufassir punya pendapat yang berbeda-beda ketika mendiskripsikan siapakah yang dimaksud dengan shabi’in dalam ayat ini :
Pertama, Mujahid dan Al-Hasan mengatakan bahwa mereka adalah satu sekte yang mengambil beberapa ajaran dari agama Majusi dan bercampur dengan agama Yahudi. Statusnya dianggap bukan ahli kitab, sehingga sembelihan mereka tidak halal dimakan, demikian juga wanita mereka tidak halal dinikahi.
Kedua, Qatadah mengatakan bahwa ajaran agama shabi’in itu mengajarkan pemeluknya untuk menyembah malaikat, serta shalat lika kali sehari tetapi bukan kepada Allah SWT melainkan kepada matahari.
Ketiga, pendapat lain mengatakan bahwa ajaran agama shabi’in ini meski meyakini Allah SWT adalah Tuhan yang menciptakan alam semesta, namun memerintahkan pemeluknya untuk menyembah bintang-bintang di langit, serta mengagungkan bahkan shalatnya pun menghadap ke bintang. Mereka mengarang mitos bahwa penyembahan kepada bintang-bintang itu merupakan perintah dari Allah SWT juga. Sebab bintang-bintang itu dianggap punya pengaruh besar dalam menentukan nasib seseorang.
Ada tiga kriteria yang Allah SWT sebutkan agama para pemeluk agama itu bisa diterima Allah SWT serta mendapatkan pahala, yaitu selain beriman kepada Allah SWT sebagai dasar pijakan, mereka juga harus beriman kepada adanya hari akhir, baik itu alam kubur, hari kiamat, hari kebangkitan, hisab hingga akhirnya surga dan neraka.
Sampai disini dalam tataran konsep, yahudi dan nasrani tidak jadi masalah, sebab mereka memang mengakui semua konsep tentang iman kepada hari akhir. Namun kalau shabi’in belum pasti mengakui konsep iman kepada Allah dan hari akhir, apalagi bangsa Arab musyrikin penyembah berhala, termasuk juga agama Majusi yang menyembah api, jelas-jelas mereka tidak masuk dalam kriteria ini.
Namun ketika Allah SWT menyebutkan tentang ‘amal shalih’, maka baik yahudi, nasrani ataupun shabi’in jelas-jelas bermasalah dalam bab ini. Sebab masuk surga itu tidak cukup hanya dengan bekal iman secara konsepsi, tetapi juga harus disertai dengan amal shalih, baik yang sifatnya ritual peribadatan atau pun yang sifatnya sosial kemasyarakatan.
فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ
Pertanyaan Allah SWT bahwa mereka mendapatkan ganjaran atas amal mereka menunjukkan bahwa apabila memenuhi syarat yang Allah SWT tetapkan, maka mereka mendapatkan pengakuan dari Allah SWT. Sebab kalau tidak diakui, maka amal-amal mereka pastinya tidak akan dianggap sebagai ibadah dan tidak diterima. Sebagaimana firman Allah SWT :
Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. (QS. An-Nur : 39)
Selain itu juga ada firman Allah SWT lain yang senada :
Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan. (QS. Al-Furqan : 23)
وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Tanda bahwa mereka itu diterima amalnya bahwa mereka tidak akan takut dan bersedih dengan hasil di akhirat nanti. Sebab mereka sudah mendapatkan keridhaan dari Allah SWT.
Paham Semua Agama Sama : Islam Liberal?
Kemudian muncul pertanyaan yang cukup menggelitik, apakah ayat ini mengajarkan kepada kita tentang Islam liberal dimana dalam pandangan kelompok ini bahwa semua agama itu sama saja di mata Tuhan? Apa benar Tuhan itu menciptakan banyak agama, lalu kita disuruh piih yang mana saja, toh semua pemeluk agama apapun pasti akan masuk surga? Benarkah kita dipersilahkan untuk memilih mau masuk surga lewat agama yang mana saja?
Jawabannya tentu antara iya dan tidak.
Dikatakan iya benar ketika Allah SWT mengutus banyak nabi dan rasul kepada umat manusia, mulai dari Nabi Adam alahissalam hingga Nabi Muhammad SAW. Dan semua agama yang dibawa oleh para nabi itu benar, tidak ada yang salah dan pasti membawa pemeluknya masuk ke surga. Sampai disini pemahaman seperti ini masih aman.
Namun ada beberapa catatan penting yang harus diketahui bagi setiap muslim terkait dengan konsep ini :
1. Satu Sumber Beda Syariat
Walaupun semua nabi itu membawa agama dari Allah SWT yang sudah pasti kebenarannya, namun agama yang mereka bawa itu boleh jadi tidak seragam dalam ketentuan syariat dan ritual-ritual ibadahnya. Dalam hal ini ketentuan syariat yang dibawa oleh seorang nabi bisa saja tidak sama dengan yang dibawa oleh nabi yang lain.
Titik samanya hanya pada wilayah prinsipil seperti keyakinan pada rukun Islam yang enam, yaitu percaya kepada Allah, Malaikat, Kitab suci, Para Nabi dan Rasul, hari akhir atau kiamat, serta ketentuan baik dan buruk.
Dalam hal ini penting untuk diketahui bahwa masing-masing agama itu hanya berlaku bagi nabi dan umat tertentu. Tiap umat hanya terikat kepada nabi yang khusus diturunkan untuk mereka, namun tidak boleh menyeberang ke nabi yang lain di luar umatnya.
2. Kebenaran Yang Subjektif
Pernyataan bahwa semua agama itu benar, maksudnya bisa diterima dan bisa ditolak. Bahwa semua agama itu benar, asalkan yang dimaksud adalah agama yang dibawa oleh para nabi buat masing-masing umatnya saja.
Dengan konsep dasar ini maka kita sebagai muslim meyakini bahwa para pengikut agama yang dibawa nabi Musa yang taat pastilah masuk surga, sebagaimana para pengikut agama yang dibawa Nabi Isa juga pasti masuk surga.
Namun meksi pun mereka kita anggap benar, tetapi kebenaran mereka itu hanya khusus buat mereka. Sedangkan buat kita agama-agama itu tidak berlaku. Kita tidak terikat dengan agama-agama yang dibawa para nabi. Kita hanya membenarkan tetapi bukan berarti kita boleh pindah kesana. Kalau sampai kita malah pindah ke agama mereka, tidak bisa diterima.
3. Allah SWT Mengubah Konsep Agama
Konsep multiple kenabian dan agama yang sudah berlangsung berabad-abad itu kemudian berhenti total tepat setelah diangkatnya Nabi Isa alahissalam di permulaan hitungan kalender Masehi. Karena setelah berlalunya Nabi Isa alaihissalam, pengiriman para nabi, rasul dan kitab suci samawi seperti berhenti total dalam kurun waktu sangat lama.
Bahkan kalau diukur dengan tanah Arab, mereka mengalami kekosongan nabi itu jauh lebih lama lagi, yaitu sejak ditinggal oleh Nabi Ibrahim dan puteranya Nabi Ismail alaihimassalam. Manusia seperti dibiarkan hidup tanpa ada bimbingan para nabi dan rasul serta kitab suci samawi.
Setelah masa kosong selama 6 abad lamanya, dan kehidupan keagaan benar-benar rusak, hancur dan berantakan semua, barulah kemudian Allah SWT utus Nabi Muhammad SAW. Kedatangan Nabi Muhammad ini sangat unik, karena menyendiri terpisah jauh dari masa-masa kenabian lainnya. Dari segi konsep pun ternyata sama sekali baru yang terbalik 180 derajat dari konsep lama.
Umat manusia sedunia kemudian disatukan dengan hanya satu nabi dengan satu agama tunggal. Konsep lama dimana Allah SWT mengirim banyak nabi kepada banyak umat kemudian dibubarkan, lalu diganti dengan single nabi saja dan berlaku untuk semua umat manusia sampai kiamat nanti terjadi.
Kedatangan Nabi Muhammad SAW menandakan berakhirnya sunnatullah keberlakuan risalah para nabi sebelumnya. Allah SWT mengubah total konsep agama dari yang awalnya dipecah-pecah lewat ratusan ribu nabi menjadi hanya satu nabi tunggal yaitu Nab Muhammad SAW saja.
Dengan demikian maka semua agama yang pernah diturunkan dan dibawa oleh ratusan ribu para nabi dan rasul itu sudah kehabisan masa berlaku. Lalu kita masuk ke abad dimana agama yang diakui dan dibenarkan untuk dijalankan hanyalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW saja. Sedangkan agama dan ajaran yang dibawa oleh para nabi dan rasul sebelumnya, bisa dikatakan sudah tidak lagi up to date.