Kemenag RI 2019:Mereka berkata, “Neraka tidak akan menyentuh kami, kecuali beberapa hari saja.” Katakanlah, “Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan mengingkari janji-Nya ataukah kamu berkata tentang Allah sesuatu yang tidak kamu ketahui?” Prof. Quraish Shihab:Dan mereka (orang-orang Yahudi) berkata: “Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api (neraka) kecuali beberapa hari yang dapat dihitung.” Katakanlah: “Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya ataukah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?” Prof. HAMKA:Dan mereka berkata, "Sekali-kali tidak kami akan disentuh oleh api kecuali berbilang hari saja. Katakanlah, "Apakah kamu telah membuat janji di sisi Allah?" (Kalau demikian) maka tidaklah Allah akan memungkiri janji-Nya, atau apakah kamu mengatakan terhadap Allah barang yang
Kalau di ayat sebelumnya sudah diceritakan bagaimana tindakan buruk Bani Israil yang memalsukan ayat hasil tulisan tangan mereka ke dalam Taurat, lalu diklaim sebagai perkataan dari Allah SWT, maka di ayat ini Allah SWT memberikan contoh langsung seperti apa ayat yang mereka palsukan itu, yaitu mereka mengklaim bahwa diri mereka tidak akan tersentuh api neraka, kecuali hanya sebentar saja.
Tentu saja apa yang mereka klaim itu sama sekali bukan perkataan dari Allah SWT, maka di ayat ini juga pernyataan itu dibantah dengan keras. Mengenai anggapan mereka bahwa mereka tidak akan dibakar oleh api neraka kecuali hanya beberapa hari saja, karena mereka menganggap diri mereka adalah putra dan kekasih Allah, sehingga merasa kebal hukum dan tidak mempan api neraka.
أَمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Lafazh am (أَمْ) secara makna aslinya adalah aw (أو) yang bermakna : atau, namun kebanyakan mufassir memaknainya dengan bal (بَلْ) yang bermakna : tetapi.
Lafazh taquluna ‘alallah (تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ) maksudnya mengatakan bahwa Allah akan menjamin bahwa Bani Israil tidak akan tersentuh api nereka, kecuali hanya sebentar saja. Hal itu mereka katakan dengan sangat meyakinkan seolah-olah mereka sudah mendapatkan kepastian langsung dari Allah SWT. Bahkan seolah-olah jaminan tidak masuk neraka itu semacam perjanjian antara mereka dengan Allah SWT, sehingga Allah SWT mereka posisikan seperti orang yang terikat dengan perjanjian itu.
Lafazh maa laa ta’lamun (مَا لَا تَعْلَمُونَ) maknanya adalah apa-apa yang tidak kamu ketahui. Maksudnya mereka tidak tahu bahwa sebenarnya Allah SWT sama sekali tidak pernah menjanjikan kepada mereka bahwa mereka dijamin tidak akan masuk neraka. Sebab awalnya leluhur mereka hanya mengarang-ngarang saja, sama sekali tidak pernah ada ayat yang turun tentang jaminan itu. Kemudian di genereasi sesudahnya pun tidak pernah jelas apakah jaminan dari Allah SWT itu benar-benar asli atau hanyalah hasil karangan tokoh-tokoh jahat dari pemuka agama mereka.
Kalau dikaitkan dengan kalimat sebelumnya akan lebih tepat dimaknai demikian, yaitu lengkapnya menjadi sebagai berikut :
Benarkah kalian telah dijanjikan tidak akan masuk neraka? Padahal Allah SWT itu kalau sudah berjanji pastinya tidak akan ingkar, tetapi yang sesungguhnya kalian itu hanya mengatakan tentang Allah hal-hal yang tidak kalian ketahui.
وَقَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ
Lafazh tamassa (تَمَسَّ) artinya menyentuh. Sebenarnya ada satu lagi istilah yang maknanya berdekatan, yaitu lamasa (لَمَسَ) dan juga dimaknai menyentuh sebagaimana tertuang dalam ayat berikut ini :
Atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci). (QS. An-Nisa : 43)
Secara fiqih perbedaannya adalah lamasa itu menyentuh dengan rasa, oleh karena itu maka dalam mazhab Maliki, sentuhan kulit dengan wanita yang bukan mahram (لمس المرأة الأجنبية) termasuk membatalkan wudhu’ apabila muncul syahwat.[1]
Lafazh an-naaru (النَّارُ) maknanya api, namun yang dimaksud adalah api yang ada di dalam neraka di akhirat nanti, bahkan neraka itu sendiri disebut sebagai an-nar. Dalam hal ini untuk ungkapan ‘disentuh api’ memang selalu digunakan lafazh massa, seperti yang tertuang dalam surat An-Nur berikut :
Lafazh ayyaman (أَيَّامًا) merupakan bentuk jamak dari hari, setidaknya di atas dari dua hari, bisa tiga hari, empat hari dan seterusnya. Sedangkan lafazh ma’dudah (مَعْدُودَةً) maknanya : bilangan yang sedikit. Asalnya dari ‘adad (عّدّد) yang artinya bilangan, namun digunakan untuk menyebutkan jumlah yang sedikit karena bisa dihitung secara sederhana. Sehingga maknanya menjadi : “beberapa hari yang sedikit”.
Klaim Bani Israil bahwa diri mereka tidak tersentuh api neraka kecuali beberapa hari saja muncul pula di ayat lain, yaitu surat Ali Imran :
Hal itu adalah karena mereka mengaku: "Kami tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari yang dapat dihitung". (QS. Ali Imran : 24)
Kalau kita perhatikan dengan seksama, ada sedikit perbedaan yaitu lafazh ma’dudaat (مَعْدُودَاتٍ) di dalam surat Ali Imran menggunakan bentuk jama’, sedangkan di ayat ini hanya menggunakan bentuk mufrad yaitu (مَعْدُودَةً).
Para ulama berbeda pendapat tentang jumlah hari yang disebut dengan sedikit atau ma’dudah itu. Ada yang bilang jumlahnya 7 hari dan ada yang bilang 40 hari. Rinciannya sebagai berikut :
Mereka yang mengatakan lamanya 7 hari diantaranya Mujahid dan satu riwayat lewat Said bin Jubair dari Ibnu Abbas radhiyallahuanhu. Dasarnya karena menurut mereka usia alam semesta ini tujuh ribu tahun dan manusia akan diadzab selama satu hari untuk setiap hitungan seribu tahun, sehingga paling lama diadzab dalam neraka hanya 7 hari saja.
Sedangkan mereka yang mengatakan lamanya 40 hari mendasarkan pendapatnya sebagaimana disebutkan oleh Muqatil, yaitu bahwa leluhur Bani Israil di masa kenabian Musa selama 40 hari sempat menyembah patung anak sapi yang terbuat dari emas. Oleh karena itu mereka pun disiksa selama 40 hari itu saja.
Ibnu Abbas menambahkan bahwa di tengah Bani Israil berkembang mitos bahwa luas bentangan neraka Jahannam itu sejauh perjalanan 40 tahun, namun mereka mengaku bahwa perjalanan satu tahun bisa mereka tempuh dalam sehari. Sehingga hanya dalam waktu 40 hari mereka sudah keluar dari neraka Jahannam.
Al-Hasan dan Abu Al-‘Aliyah menyebutkan bahwa Bani Israil mengklaim bahwa Allah SWT berjanji kepada mereka tidak lebih dari 40 hari dibakar di neraka, setelah itu pasti akan dikeluarkan. Klaim yang terakhir inilah yang nampaknya dibantah langsung dalam lafazh selanjutnya.
قُلْ أَتَّخَذْتُمْ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدًا
Lafazh qul (قُلْ) artinya katakanlah, maksudnya wahai Muhammad, katakan kepada mereka yaitu kaum Yahudi yang telah mengklaim diri tidak akan masuk neraka kecuali hanya beberapa hari saja.
Lafazh attakhaztum (أَتَّخَذْتُمْ) menurut Al-Imam At-Thabari maknanya adalah a-akhadztum (أَ - أَخَذْتُمْ) sehingga maknanya jadi sebuah pertanyaan : “Apakah kalian telah mengambil dari Allah sebuah perjanjian, yang mana Allah SWT tidak akan mengingkari janjinya?”.[1]
Sedangkan Asy-Syaukani dalam Fathul Qadir menuliskan bahwa maknanya adalah in-akhadztum (إِنْ أخَذْتُم) sehingga maknanya menjadi : “Kalau memang benar kamu telah dijanjikan tidak akan dibakar neraka, pastilah Allah SWT tidak akan memungkiri janji-Nya”.
[1] Ath-Thabari, Al-Jami Al-Bayan fi Ta’wil Al-Quran
فَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ عَهْدَهُ
Lafazh fa-lan (فَلَنْ) maknanya : maka tidak akan. Lafazh yukhilfu (يُخْلِفَ) maknanya mengingkari, menyelisihi, memungkiri, mencederai. Sedangkan lafazh ‘ahdahu (عَهْدَهُ) artinya janji atau perjanjian-Nya. Dalam hal ini yang dimaksud dengan janji adalah jaminan yang Allah SWT berikan kepada Bani Israil bahwa mereka tidak akan masuk neraka kecuali hanya sebentar saja.
Maksud kalimat ini bahwa Allah SWT itu kalau sudah berjanji atau menjanjikan sesuatu kepada hamba-Nya, maka tidak mungkin bagi Allah SWT untuk mencederai apa yang telah dijanjikannya.
Namun yang sesungguhnya terjadi bahwa Allah SWT tidak pernah memberikan jaminan ataupun perjanjian dalam bentuk apapun.