Lafazh bal (بَلْ) maknanya adalah tidak atau bukan, dalam arti ini merupakan bentuk penolakan dan penentangan atas apa yang telah disampaikan sebelumnya. Dalam hal ini Allah SWT menolak klaim Bani Israil bahwa hati mereka telah tertutup atau telah penuh.
Lafazh la’anahumullah (لَعَنَهُمُ اللَّه) maknanya Allah SWT melaknat mereka, yaitu orang-orang yahudi. Asal kata laknat itu adalah dijauhi (الإِبْعَاد) dan terbuang (الطَّرْد). Maka orang yang dilaknat Allah SWT itu dijauhkan dari rahmat-Nya, juga dijauhkan dari taufik dan nikmat-Nya, bahkan dijauhkan dari segala macam kebaikan.
Sedangkan lafazh bi-kufrihim (بِكُفْرِهِمْ) maksudnya bahwa mereka dilaknat oleh sebab kekafiran mereka. Yang nampak nyata kekufuran mereka adalah mengingkari kenabian Muhammad SAW, padahal sebelumnya mereka telah banyak berkampanye kepada penduduk Madinah akan datangnya seorang nabi di tengah mereka. Bahkan dibuktikan dengan pindahnya mereka ke Madinah, padahal kampung halaman asli mereka dari Palestina nun juah sana.
Selain itu juga mereka kufur dalam arti menolak ayat-ayat Al-Quran sebagai wahyu samawi yang turun kepada Nabi Muhammad SAW. Mereka hanya mau percaya kepada Taurat dan tidak mau percaya kepada Al-Quran yang turun kepada Nabi Muhammad SAW.
Lafazh fa-qalilan (فَقَلِيلًا) dimaknai : maka sedikit, sedangkan lafazh ma yu’minun (مَا يُؤْمِنُونَ) secara bahasa kalau diartikan menjadi : apa yang mereka imani. Namun sebenarnya ketika menafsirkan bagian ini, penjelasan para ulama terbelah menjadi tiga pandangan yang berbeda.
Pendapat Pertama
Bahwa yang mereka imani hanya sedikit sekali, maksudnya meskipun Bani Israil itu termasuk pemeluk agama samawi yang secara dasar beriman kepada Allah SWT, malaikat, para nabi, kitab suci, dan juga hari akhirat, namun dalam hal ini Allah SWT menyatakan secara faktanya yang mereka imani itu sedikit sekali.
Hal itu bisa dibuktikan bahwa meski ada banyak nabi yang Allah SWT utus kepada mereka, ternyata banyak yang mereka ingkari sendiri. Malahan tidak sedikit dari para nabi yang mereka bunuh. Ini jelas menunjukkan keimanan mereka itu sedikit sekali.
Bukti lain ketika Allah SWT menurunkan kitab Taurat yang mereka bangga-banggakan itu, ternyata secara fakta banyak sekali isi Taurat yang justru mereka ingkari bahwa mereka injak-injak seenaknya. Kalau Taurat yang merupakan kitab suci mereka saja sudah mereka ingkari, apatah lagi dengan Al-Quran yang turunnya tidak kepada mereka. Pastilah lebih mereka ingkari lagi.
Pendapat Kedua
Namun menurut ulama yang lain seperti Qatadah, Al-Asham dan Abu Muslim mengatakan bahwa yang sedikit itu bukan masalah yang mereka imani, tetapi yang sedikit itu maksudnya adalah jumlah orang-orang yang beriman itu sedikit dari kalangan Bani Israil.
Pendapat Ketiga
Sebagian ulama mengatakan bahwa maksud ungkapan ini bahwa Bani Israil itu tidak beriman, baik dalam arti yang banyak atau pun dalam arti yang sedikit. Intinya mereka itu tidak beriman.