Kemenag RI 2019:(Ingatlah) ketika Kami mengambil janjimu dan Kami angkat gunung (Sinai) di atasmu (seraya berfirman), “Pegang teguhlah apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!” Mereka menjawab, “Kami mendengarkannya, tetapi kami tidak menaatinya.” Diresapkanlah ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah patung) anak sapi karena kekufuran mereka. Katakanlah, “Sangat buruk apa yang diperintahkan oleh keimananmu kepadamu jika kamu orang-orang mukmin!” Prof. Quraish Shihab:Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu (untuk mengamalkan ajaran Taurat) dan Kami angkatkan (gunung) Thursina di atas kamu (seraya Kami berfirman): “Pegang teguhlah apa yang telah Kami anugerahkan kepada kamu dan dengarkanlah!” Mereka menjawab: “Kami mendengarkan tetapi kami tidak menaati.” Dan telah diresapkan ke dalam hati mereka (kecintaan menyembah) anak sapi karena kekafiran mereka. Katakanlah: “Betapa buruk (perbuatan) yang diperintahkan iman kamu kepada kamu jika benar kamu orang-orang mukmin (kepadaTaurat)” Prof. HAMKA:Dan (ingatlah) tatkala Kami ambil perjanjian kamu, dan Kami angkatkan gunung di atas kamu. Lalu Kami firmankan, "Ambillah apa yang Kami datangkan kepada kamu dengan sungguh-sungguh dan dengarkanlah." Mereka berkata, "Telah kami dengarkan dan kami durhakai." Dan menyelusuplah ke dalam hati mereka anak lembu itu lantaran kekafiran mereka. Katakanlah, "Alangkah buruknya apa yang disuruhkan oleh iman kamu itu, kalau memang kamu beriman."
Sebagaimana ayat 92 di atas, ayat 93 ini juga seperti mengulangi apa yang sudah termuat di ayat sebelumnya yaitu ayat 63. Kata-katanya persis sama, yaitu bicara tentang perjanjian Bani Israil kepada Allah SWT dan bagaimana Allah SWT telah mengangkat gunung ke atas mereka, serta perintah untuk berpegang teguh kepada apa yang telah Allah SWT berikan kepada mereka.
(Ingatlah) ketika Kami mengambil janjimu dan Kami angkat gunung (Sinai) di atasmu (seraya berfirman), “Pegang teguhlah apa yang telah Kami berikan kepadamu dan ingatlah apa yang ada di dalamnya agar kamu bertakwa. (QS. Al-Baqarah : 63)
Bedanya di ayat 93 ini setelah pengulangan persis seperti ayat 63, setelah itu masih ada tambahannya yaitu :
Pegang teguhlah apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!” Mereka menjawab, “Kami mendengarkannya, tetapi kami tidak menaatinya.” Diresapkanlah ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah patung) anak sapi karena kekufuran mereka. Katakanlah, “Sangat buruk apa yang diperintahkan oleh keimananmu kepadamu jika kamu orang-orang mukmin!”
وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ
Sudah dijelaskan dalam ayat-ayat sebelumnya bahwa lafazh wa idz (وإذ) bermakna : “dan ingatlah”. Maksudnya ingatlah nikmat Allah SWT yang lain selain yang sudah disebutkan pada ayat-ayat sebelumnya.
Lafazh akhadzna (أَخَذْنَا) secara bahasa berarti kami mengambil, sedangkan mitsaq (مِيْثَاق) artinya perjanjian. Maksudnya : “Ingatlah wahai Bani Israil, ketika dahulu nenek moyang kalian itu telah melakukan perjanjian dengan Allah SWT”.
Perjanjian apakah yang dimaksud? Para leluhur Bani Israil di masa lalu itu berjanji kepada Allah SWT dalam rangka apa?
Ibnu Katsir[1] menceritakan bahwa ketika Nabi Musa naik ke atas Gunung Tursina dalam rangka menerima Taurat, Beliau mengajak 70 orang terbaik dari Bani Israil untuk ikut naik bersamanya. Ketika itu terjadilah dialog antara Nabi Musa dengan Allah SWT, dimana 70 orang itu mendengar langsung percakapan antara Allah SWT dan Nabi Musa.
Lalu sebagaimana sudah dikisahkan di dalam ayat sebelumnya yaitu surat Al-Baqarah ayat 55, rupanya 70 orang Bani Israil itu meminta agar bisa melihat Allah SWT secara langsung.
Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: "Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang, karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya". (QS. Al-Baqarah : 55)
Dan rupanya mereka bukan hanya mengancam tidak mau beriman kepada Musa, tetapi juga mengancam tidak mau beriman kepada Taurat sebagai kitab suci yang telah Allah SWT turunkan bagi mereka. Lalu mereka dihukum mati oleh Allah SWT, sampai akhirnya Musa memohon agar mereka bisa dihidupkan kembali. Dan Allah SWT pun mengabulkan doa Nabi Musa, dan mereka pun hidup kembali.
Ketika mereka dihidupkan kembali itulah terjadi perjanjian bahwa mereka harus menerima Taurat sebagai hukum dan pedoman hidup bagi mereka.
Lafazh rafa’naa (رَفَعْنَا) bermakna mengangkat, maksudnya Allah SWT mengangkat gunung sehingga melayang di udara tidak menyentuh bumi. Sedangkan fauqakum (فَوْقَكُمْ) maknanya : ke atas kamu. Adapun siapakah ‘kamu’ yang dimaksud dalam ayat ini tidak lain adalah Bani Israil yang ikut bersama Nabi Musa alaihisalam di gurun Sinai.
Para ulama berbeda pendapat tentang makna ath-thuur (الطور) dalam ayat ini, sebagaimana diringkas oleh Al-Mawardi dalam An-Nukat wa Al-Uyun : [1]
§ Nama Gunung : Ibnu Juraij meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa yang dimaksud dengan Thur di ayat ini adalah nama gunung tempat Nabi Musa alaihissalam berbicara langsung kepada Allah SWT dan juga menerima kitab Taurat.
§ Gunung Yang Tumbuh : Adh-Dhahhak meriwayatkan dari Ibnu Abbas juga bahwa Thur itu maknanya adalah gunung yang tumbuh secara ajaib. Kalau ada gunung tidak tumbuh, namanya bukan thur.[2]
§ Semua Gunung : Mujahid dan Qatadah mengatakan bahwa penyebutan thur itu maksudnya adalah gunung apa saja atau semua gunung yang ada. Mujahid mengatakan bahwa setidaknya semua gunung di wiayah Suryaniyah itu disebut dengan thur.
Terbayang oleh kita bahwa Allah SWT nyaris hampir menghukum mati Bani Israil dengan tehnik pembunuhan yang teramat sadisnya, yaitu ditimpakan gunung yang dicabut dari bumi, lalu melayang di angkasa seperti awan yang beterbangan kesana kemari. Lalu gunung itu nyaris saja hampir ditimpakan kepada mereka.
Kalau sampai hal itu terjadi sungguhan, maka bisa dipastikan tak akan ada lagi yang tersisa seorang pun dari Bani Israil di muka bumi ini. Sejarah mungkin akan berubah arah dan haluan. Keberadaan etnik Yahudi hanya jadi perdebatan para ahli purbakala sebagaimana mereka memperdebatkan keberadaan dinosaurus. Bahkan bumi akan mengalami gelap malam selama beberapa tahun, akibat tertutup debu-debu yang beterbangan di udara, sebagaimana kejadian meletusnya gunung Krakatau dan Tambora.
Kejadiannya lebih detailnya bisa kita baca di ayat lainnya yaitu surat Al-A’raf ayat 171 :
Dan (ingatlah), ketika Kami mengangkat bukit ke atas mereka seakan-akan bukit itu naungan awan dan mereka yakin bahwa bukit itu akan jatuh menimpa mereka. (Dan Kami katakan kepada mereka): "Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami berikan kepadamu, serta ingatlah selalu (amalkanlah) apa yang tersebut di dalamnya supaya kamu menjadi orang-orang yang bertakwa". (QS. Al-Araf : 171)
Abu Ubaidah mengatakan bahwa gunung itu awalnya digoncangkan dengan kuat sehingga tercerabut dari akarnya di dalam tanah, lalu gunung itu melayang di angkasa bagai awan, siap untuk ditimpakan kepada Bani Israil di gurun Sinai.
Konon, mereka bersujud sambil mengarahkan pandangan ke arah gunung di atas mereka, takut jangan sampai gunung itu jatuh di atas mereka. Itu sebabnya sebagaimana dituturkan oleh asy-Sya'rawi, hingga kini cara sujud orang Yahudi adalah dengan mengarahkan sebelah wajah ke bawah dan sebelahnya yang lain memandang menuju ke atas.[3]
Thahir Ibn 'Asyur mengemukakan pendapat lain tentang makna Kami angkat gunung. Menurutnya, ketika Allah ber-tajalli atau menampakkan cahaya-Nya melalui gunung dengan satu cara yang tidak kita ketahui, gunung tersebut bergerak bahkan hancur, asap berterbangan, guntur bersahut-sahutan dan kilat menyambar. [4]
Ketika itu boleh jadi mereka bagaikan melihat gunung seperti awan yang berada di atas mereka. Karena itu pula dalam QS. al-A'raf dinyatakan:
Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman". (QS. Al-Araf : 143)
Quraish Shihab dalam Al-Misbah nampak cenderung pada pendapat Ibnu Asyur, karena menurutnya pendapat ini lebih logis daripada pendapat asy-Sya'rawi dan banyak ulama selainnya yang menyatakan bahwa gunung Thursina diangkat oleh Allah di atas kepala mereka. Memang ada riwayat-riwayat yang kandungan demikian, tetapi nilainya sangat lemah.[5]
Lafazh sami’na (سَمِعْنَا) artinya : “Kami mendengar”, dan lafazh ‘ashaina (عَصَيْنَا) artinya : “Kami maksiat, membangkang dan durhaka”. Kata ‘ashaa (عَصَى) ini juga Allah SWT gunakan untuk menceritakan Nabi Adam alahissalam yang melanggar larangan makan buah di surga.
وَعَصَىٰ آدَمُ رَبَّهُ فَغَوَىٰ
Dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. (QS. Thaha : 121)
Lafazh ‘ashaa (عَصَى) juga digunakan ketika menceritakan Fir’aun yang tidak mau beriman :
Lafazh usyribu (وَأُشْرِبُوا) berasal dari (شَرِبَ - يَشْرَبُ) yang berarti minum, ketika ditambahkan huruf alif menjadi ruba’i empat huruf (أَشْرَبَ - يُشْرِبُ), maknanya bergeser sedikit menjadi : meminumkan. Dan ketika sedikit lagi diubah menjadi usyribu, itu adalah bentuk fi’il madhi mabni majhul atau bentuk pasif yang artinya : diminumkan.
Lafazh fi qulubihim (فِي قُلُوبِهِمُ) maknanya : ke dalam hati mereka. Dan tentu saja ungkapan ini sebuah metafora alias majaz, karena hati itu bukan lambung atau perut dan tidak menjadi tempat kantong air minum. Kalau ada ungkapan ; hati mereka diminumkan, tentu maksudnya bukan hati mereka diisi air tetapi diisi dengan rasa cinta. Maksudnya bahwa mereka telah jatuh cinta mabuk kepayang kepada patung anak sapi dan membuat mereka jadi tidak objektif lagi.
Lafazh al-‘ijla (الْعِجْلَ) maknanya patung anak sapi yang terbuat dari emas yang mereka sembah sebagai tuhan selain Allah. Biar lebih terkesan punya kekuatan ghaib, dibuatlah patung ini bisa berbunyi, padahal memang para desainernya sengaja menyelipkan terompet yang bila angin bertiup, akan berbunyi. Hal itu sebagaimana dijelaskan dalam ayat berikut ini :
Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gunung Thur membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka? Mereka menjadikannya (sebagai sembahan) dan mereka adalah orang-orang yang zalim. (QS. Al-Araf : 148)
Al-Qurthubi dalam Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran[1] menuliskan bahwa As-Suddi dan Ibnu Juraij meriwayatkan versi yang agak sedikit berbeda dari versi yang diatas. Disebutkan bahwa ketika turun dari gunung, Musa marah besar dan merampas patung anak sapi itu dan membuangnya ke air. Musa pun berkata, “Minumlah air itu”. Ternyata kaumnya yang sudah sedemikian mabuk kepayang dan kecintaan mereka kepada patung itu sudah sampai mentok, rebutan meminum air yang sudah terkena lunturan logam emas, sehingga ada bekas emas di mulut mereka yang minum airnya.
Al-Qusyairi meriwayatkan bahwa semua yang ikut meminum air rendaman patung anak sapi dari emas itu kemudian mendadak menjadi orang gila.
[1] Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran, jilid hal.
Setelah menceritakan bagaimana kebodohan Bani Israil yang telah mabuk kepayang mencintai patung anak sapi, maka Allah SWT berfirman kepada Nabi Musa untuk membuat pernyataan betapa buruknya kualitas iman kalian : “Katakanlah betapa buruknya iman kalian telah memerintahkan kalian”
Lafazh in-kuntum mu’minin (إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ) bermakna : “apabila kalian beriman”, Maksud sebenarnya Allah SWT ingin mengatakan bahwa konsep keimanan yang mereka gunakan itu keliru dan sama sekali tidak benar”.
Sebagian mufassir mengatakan bahwa khitab atas perintah itu bukan ditujukan kepada Nabi Musa, melainkan justru ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW. Maksudnya Nabi Muhammad SAW diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyatakan keburukan perbuatan para leluhur Bani Israil di masa Nabi Musa alaihissalam di hadapan anak keturunan mereka.
Dalam hal ini posisi Nabi Muhammad SAW mulai sedikit bergeser dari yang awalnya masih diperintah untuk mengikuti sebagian syariat peninggalan nenek moyang bangsa Yahudi, seperti shalat masih menghadap Baitul Maqdis, ikut puasa tanggal 10 Muharram sebagai peringatan diselamatkannya Nabi Musa dari kejaran Firaun. Sedikit demi sedikit posisi Nabi Muhammad SAW semakin dibedakan arahnya, tidak lagi menjadi pengikut dan pengekor syariat umat sebelumnya.
Dan seiring dengan pergeseran syariat itu, satu per satu keburukan demi keburukan leluhur Bani Israil mulai dibongkar di dalam ayat-ayat Al-Quran yang turun.
Boleh jadi orang-orang Yahudi semakin marah besar kepada Nabi Muhammad SAW, karena isi kitab suci yang turun kepadanya yaitu Al-Quran Al-Karim justru semakin rajin membongkar aib-aib para leluhur mereka di masa lalu.
Lalu apa kira-kira hikmah di balik ayat-ayat yang menjelekkan aib Bani Israil di masa lalu? Bukankah seharusnya semua kesalahan umat terdahulu itu tidak usah dibeber-beberkan di dalam kitab suci? Bukankah agama Islam itu sangat berakhlaq, sehingga cenderung menutupi aib orang yang sudah wafat?
Jawabannya memang benar sekali ajaran Islam memerintahkan kita menutupi aib orang, apalagi aib orang tua sendiri. Dan memang ada perintah khusus tentang hal itu.
Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, karena sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan dan aib orang lain dan janganlah kamu menggunjing (ghibah) sebagian yang lain. Apakah seseorang dari kamu suka memakan daging saudaranya yang telah mati? Maka sudah tentu kamu jijik kepadanya. (Oleh karena itu, jauhilah larangan-larangan yang tersebut) dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang." (QS Al-Hujurat: Ayat 12)
Di dalam hadits ada disebutkan larangan untuk mencari-cari aib orang lain, misalnya hadits Bukhari berikut ini :
Jauhilah oleh kalian prasangka, sebab prasangka itu adalah ungkapan yang paling dusta. Dan janganlah kalian mencari-cari aib orang lain, jangan pula saling menebar kebencian dan jadilah kalian orang-orang yang bersaudara. (HR al-Bukhari).
Lalu kenapa justru ayat-ayat Al-Quran malah seolah mengumbar aib-aib leluhur orang Yahudi Madinah? Bukankah mereka jadi sakit hati dan semakin menampakkan ketidak-sukaan kepada Nabi Muhammad SAW? Jawaban atas pertanyaan ini ada beberapa poin penting, antara lain sebagai berikut :
Pertama, yang mengumbar aib leluhur orang yahudi atau Bani Israil bukan Nabi Muhammad SAW, melainkan Allah SWT langsung. Maka dalam hal ini Allah SWT sebagai tuhan tidak bisa disalahkan. Justru teramat wajar kalau Allah SWT membeberkan air nenek moyang mereka sebagai salah satu bentuk hukuman buat mereka.
Dan asal tahu saja bahwa umat di masa lalu memang diperlakukan dengan cara-cara yang unik, salah satunya bila melakukan kesalahan, maka akan dipermalukan di depan khalayak dan kesalahannya memang akan diumbar sedemikian rupa. Dan Bani Israil itu juga sudah tahu resiko dari melakukan kemaksiatan adalah akan dipermalukan dan dijatuhkan nama baiknya di depan umum. Kalau di masa kita sekarang, istilahnya adalah “pembunuhan karakter”.
Kedua, yang dilarang untuk saling mengumbar air sesama itu adalah sesama umat Islam. Perhatikan perumpamaan yang Allah SWT buatkan, yaitu janganlah memakan daging saudara sendiri. Penekanannya pada saudara sendiri yaitu sesama muslim. Maka kalau kita perhatikan hadits-hadits nabawi, perintah untuk menutupi aib orang lain itu pastinya terkait dengan sesama orang beriman saja.
Siapa menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. (HR Muslim).
Sedangkan aib orang yang menjadi musuh Islam serta tidak pernah berhenti memerangi kaum muslimin, tidak mengapa kalau diumbar dan dibeberkan. Jangankan menyebarkan aibnya, bahkan harta dan nyawa orang kafir harbi memang halal.
Ketiga, khusus dalam syariat yang turun kepada Nabi Muhammad SAW, bab mengumbar aib sendiri juga ikut jadi faktor penentu, apakah dosa yang pernah dilakukan bisa diampuni atau tidak oleh Allah SWT.
Setiap umatku akan dimaafkan kecuali mereka yang mengungkap aibnya. Misalnya seorang laki-laki melakukan sesuatu di malam hari, dan Allah menutupi aibnya ketika terbangun. Lalu ia berkata, “Wahai Fulan, semalam aku telah melakukan ini dan itu.” Padahal malam harinya Allah telah menutupinya, lalu keesokan harinya ia malah membuka penutup dari Allah itu (HR. Bukhari)
Kewajiban menutup aib sendiri ini berlakunya hanya di syariat yang turun kepada Nabi Muhammad SAW, sedangkan kepada umat terdahulu tidak berlaku. Oleh karena itu kepada kita banyak sekali dipertontonkan keburukan-keburukan umat terdahulu. Maka doa Nabi SAW kepada kita salah satunya berbunyi :