Kemenag RI 2019:Siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril, dan Mikail, sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir. Prof. Quraish Shihab:Barang siapa menjadi musuh bagi Allah, para malaikat-Nya, para rasul-Nya, Jibril dan Mjka`il, maka (ketahuilah) sesungguhnya Allah adalah musuh bagi orang-orang kafir.” Prof. HAMKA:Katakanlah, "Barangsiapa yang jadi musuh dari Allah dan Malaikat-Malaikat-Nya, dan rasul-rasul-Nya, dan Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh dari orang-orang yang kafir.
Urusan bermusuhan dengan Malaikat Jibril yang sebelumnya dibicarakan dalam ayat ke-97 lalu, di ayat ke-98 ini ternyata masih diteruskan, bahkan yang jadi musuh dari Bani Israil semakin meluas, sampai ke level Allah SWT.
Maka Bani Israil memang benar-benar sudah keterlaluan dan melampaui batas, karena sekarang meraka malah secara langsung head-to-head berhadapan dengan Al-Khaliq Allah SWT Sang Maha Pencipta.
(مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِلَّهِ)
Lafazh man (مَنْ) di masa lalu sering diterjemahkan menjadi : “barang siapa”, namun sebagian kalangan ada yang menegaskan bahwa lebih baik bila diterjemahkan menjadi : “orang yang”.
Sedangkan lafazh aduwwan (عَدُوًّا) artinya musuh. Dalam hal ini yang dijadikan musuh sudah bukan lagi Nabi Muhammad SAW atau pun para shahabat, bahkan juga bukan lagi Malaikat Jibril, tetapi kali ini mereka langsung menjadikan Allah SWT sebagai musuh.
وَمَلَائِكَتِهِ
Para malaikat-Nya Allah SWT itu ada banyak, jumlahnya tidak terhingga. Yang kita disuruh menghafalkan hanya 10 nama saja, yaitu Jibril, Mikail, Israfil, Izrail, Munkar, Nakir, Raqib, Atid, Malik dan Ridwan. Selain Malaikat Jibril, yang namanya tercantum di dalam Al-Quran adalah Mikail, Raqib dan Atid serta Malik.
Mereka berseru: "Hai Malik biarlah Tuhanmu membunuh kami saja". Dia menjawab: "Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)". (QS. Az-Zukhruf : 77)
Sedangkan yang bertugas mencabut nyawa itu Malaikat Izrail tidak disebutkan namanya dalam Al-Quran, tetapi yang tercantum justru pekerjaannya sebagai mencabut nyawa :
Katakanlah: "Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikanmu, kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan". (QS. As-sajdah : 11)
Israfil adalah Malaikat yang meniup sangkakala, namanya tidak tercantum dalam Al-Quran, namun peristiwa ditiupnya sendiri beberapa kali disebutkan.
Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya. (QS. Al-Mukminun : 101)
Sebenarnya jumlah malaikat itu banyak sekali, sebagi bukti di dalam Al-Quran kita juga menemukan ayat yang menyebutkan bahwa Allah SWT menurunkan banyak malaikat dengan hitungan seribu, tiga ribu dan lima ribu personal. Umumnya terjadi pada saat peperangan.
(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut". (QS. Al-Anfal : 9)
(Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang mukmin: "Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?" (QS. Ali Imran : 124)
Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda. (QS. Ali Imran : 125)
Malaikat itu diciptakan dari cahaya sebagai makhluk ghaib, namun menjelma menjadi manusia dengan penampakan yang sempurna, sebagaimana yang terjadi ketika Jibril menemui ibunda Maryam
Tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At-Tahrim : 6)
وَرُسُلِهِ
Lafazh rusul (رُسُل) merupakan bentuk jamak dari rasul (رَسُول) yang maknanya secara umum adalah utusan. Dalam hal ini meski pun yang disebut adalah rasul, namun maksudnya termasuk juga para nabi.
Jumlah nabi secara keseluruhan yang namanya secara eksplisit disebut di dalam Al-Quran ada 25 orang. Sebanyak18 orang di antara mereka statusnya sebagai rasul, yang nama-nama mereka disebutkan secara utuh dalam surat Al-An’am mulai dari ayat 83 hingga ayat 86.
Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim [1] untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Dan Kami telah menganugerahkan Ishak [2] dan Ya´qub [3] kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh [4] sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya, yaitu Daud [5], Sulaiman [6], Ayyub [7], Yusuf [8], Musa [9] dan Harun [10]. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan Zakaria [11], Yahya [12], Isa [13] dan Ilyas [14]. Semuanya termasuk orang-orang yang shaleh. Dan Ismail [15], Alyasa´[16], Yunus [17] dan Luth [18]. Masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat (QS. Al-An’am : 83-86)
Namun kalau berdasarkan hadits nabawi, jumlah total nabi dan rasul mencapai angka 120.000 personal.
Dari Abu Dzar dia berkata,”Ya Rasulallah, berapa jumlah nabi?”. Nabi SAW menjawab,”Seratus ribu”. Dan Aku berkata duapuluh.
وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ
Yang menjadi pertanyaan kenapa sudah disebutkan para malaikat secara umum, tetapi masih juga disebutkan Malaikat Jibril dan Mikail?
Sebagian mufassir mengatakan bahwa yang menjadi penyebab turunnya ayat ini adalah kedua malaikat itu. Yang lain mengatakan bahwa pada dasarnya Yahudi benci dengan semua para malaikat, namun kebenciaan kepada kedua malaikat itu melebihi semua malaikat yang lain.
Hal itu karena keduanya bisa dibilang sosok yang paling senior dan paling mulia. Oleh karena itu wajar bila kedua nama malaikat itu disebutkan secara khusus dalam ayat ini.
Lafazh mikala (مِيكَالَ) maksudnya tidak lain adalah Malaikat Mikail yang diberi tugas oleh Allah SWT untuk mengatur urusan makhluk Allah SWT seperti, mengatur rezeki, mengatur air, menurunkan hujan atau petir, membagikan rezeki kepada manusia termasuk hewan dan tumbuh-tumbuhan. Rezeki tidak hanya berupa materi bagi manusia, namun bisa berupa hujan, angin, dan tanaman.
Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wan-Nihayah menyebutkan bahwa malaikat Mikail memiliki tugas untuk mengurusi hujan, rezeki, dan menumbuhkan pepohonan, serta mengatur pergerakan angin dan awan. Ibnu Katsir menuliskan bahwa tidak ada setetes air pun yang turun dari langit melainkan disertai oleh Malaikat yang mengantarkannya ke tempatnya di bumi.
فَإِنَّ اللَّهَ عَدُوٌّ لِلْكَافِرِينَ
Maka sesungguhnya Allah SWT menjadi musuh bagi orang-orang yang kafir.
Setidaknya ada dua point dari uangkapan ini. Pertama, pernyataan bahwa mereka yang membenci malaikat Jibril berarti juga otomatis bermusuhan dengan Allah SWT. Kedua, bahwa menyatakan permusuhan dengan Allah SWT berarti juga memposisikan diri sebagai orang kafir.
Permusuhan antara sesama manusia biasanya ditandai dengan peperangan dan saling berbunuhan, saling melukai bahkan saling merampas harta. Kalau pun lagi ada gencetan senjata dan perangnya lagi break, yang jelas tidak saling bela dan tidak saling menolong. Namun yang bikin penasaran dan bertanya-nya, seperti apakah bentuk permusuhan antara manusia dengan Tuhannya? Apakah Tuhan juga berperang seperti layaknya manusia?
Jawabannya tentu tidak, karena hidup manusia itu sepenuhnya bergantung kepada tuhan. Cukup dicabut saja nyawa manusia kapan pun Tuhan mau, maka manusia pun mati semuanya. Atau cukup ditahan saja turunnya hujan dari langit sehingga terjadilah kekeringan dimana-mana, tumbuhan mati, ternak mati, maka manusia pun ikut mati pula.
Namun menurut para ulama, bentuk permusuhan dari Allah kepada hamba selain dengan cara diturunkan adzab di dunia, bisa saja dengan cara yang amat sederhana, yaitu tidak diberikan ampunan di akhirat. Maka masuklah manusia itu ke dalam api neraka, dibakar untuk selama-lamanya.
Sementara kita yang tidak bermusuhan dengan Allah, pastinya akan diampuni dari semua dosa dan kesalahan, serta akan dibebaskan dari panasnya api neraka.