فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا ۚ فَلَمَّا جَاءَهُ وَقَصَّ عَلَيْهِ الْقَصَصَ قَالَ لَا تَخَفْ ۖ نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
Lalu, datanglah kepada Musa salah seorang dari keduanya itu sambil berjalan dengan malu-malu. Dia berkata, “Sesungguhnya ayahku mengundangmu untuk memberi balasan sebagai imbalan atas (kebaikan)-mu memberi minum (ternak) kami.” Ketika (Musa) mendatanginya dan menceritakan kepadanya kisah (dirinya), dia berkata, “Janganlah engkau takut! Engkau telah selamat dari orang-orang yang zalim itu.”
TAFSIR AL-MAHFUZH
Lihat Referensi Kitab →Lafazh yastahyi adalah fi'il mudhari' dan bentuk mashdar- nya : istihya' (استحياء). Namun lafazh ini punya kata dasar yaitu : al-haya ' (الحياء).
Lafaz istihya' sendiri merupakan bentuk shighah mubalaghah untuk memperkuat lebih makna. Tambahan huruf sin (س) dan ta' (ت) itu menegaskan bukan sekedar malu tapi malu dalam arti yang sebenarnya. Sehingga kalau al-haya itu sekedar malu, sedangkan istihya maknanya lebih dalam yaitu teramat malu.
Secara ilmu sharaf, doa dari tiga hurufnya merupakan huruf 'illat yaitu ain dan lam dua-duanya huruf ya, sehingga pengucapannya menjadi agak rumit. Sehingga ada qiraat yang menulis yastahi dengan satu huruf ya' (يستحي), dimana huruf ya' diganti dengan huruf ha' . Ini adalah lughah Bani Tamim.
Maksud kalimat ini adalah bahwa Allah SWT tidak merasa malu atau rendah ketika di dalam Al-Quran membicarakan perumpaman-perumpamaan yang dikesankan sebagai rendahan dan remeh.