Kemenag RI 2019:Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil teman kepercayaan dari orang-orang di luar kalangan (agama)-mu (karena) mereka tidak henti-hentinya (mendatangkan) kemudaratan bagimu. Mereka menginginkan apa yang menyusahkanmu. Sungguh, telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang mereka sembunyikan dalam hati lebih besar. Sungguh, Kami telah menerangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu berpikir. Prof. Quraish Shihab:
Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengambil orangorang yang di luar kalangan kamu" menjadi teman kepercayaan kamu, (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagi kamu. Mereka menginginkan apa yang menyusahkan kamu. Sungguh, telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar. Sungguh, Kami telah menjelaskan kepada kamu tanda-tanda (yang membedakan kawan dari lawan), jika kamu berpikir.
Prof. HAMKA:
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu jadikan sebagai kawan rapat lain dari golongan kamu; tidaklah mereka henti-hentinya menarik kecelakaan untuk kamu, mereka sukanian apa-apa yang akan menyulitkan kamu. Sesungguhnya kebencian telah jelas (keluar) dari mulut mereka, tetapi apa yang disembunyikan oleh dada mereka adalah lebih besar. Sungguh telah Kami nyatakan kepada kamu tanda-tanda itu, jika kamu mau berpikir
Setelah di ayat-ayat sebelumnya Allah SWT membongkar kedok orang-orang kafir, maka di ayat ini Allah meminta agar kaum muslimin bersikap lebih tegas lagi kepada mereka. Sebab mereka telah begitu banyak memberikan madharat yang amat merugikan,
Selain juga sudah tidak bisa lagi dipungkiri omongan-omongan buruk yang mereka lontarkan. Bahkan apa yang ada di dalam hati mereka justru lebih besar lagi kebenciannya.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
Lafazh ya ayyuha (يَا أَيُّهَا) merupakan sapaan atau nida’. Fungsinya untuk menegaskan siapa yang menjadi lawan bicara, maka sebelum disampaikan apa yang menjadi isi pembicaraan, lawan bicaranya itu disapa terlebih dahulu. Untuk mudahnya penerjemahan dalam Bahasa Indonesia sering dituliskan menjadi : “wahai”.
Sedangkan lafazh alladzina(الَّذِينَ) dimaknai menjadi ‘yang’ atau lengkapnya : “orang-orang yang”. Dan lafazh aamanu(آمَنُوا) merupakan kata kerja yang bentuknya lampau alias fi’il madhi yaitu dari asal (آمَنَ - يُؤْمِنً). Makna kata kerja itu adalah : “melakukan perbuatan iman”. Namun sudah jadi kebiasaan dalam penerjemahan disederhanakan menjadi : “orang-orang yang beriman”. Padahal kalau “orang yang beriman”, secara baku dalam bahasa Arab itu disebut mu’min (مُؤْمِن) dan bukan alladzina amanu.
Sapaan yang menjadi pembuka ayat ini menunjukkan siapa yang diajak bicara atau mukhathab oleh Allah SWT, yaitu orang-orang yang beriman, yang di masa turunnya ayat itu tidak lain adalah para shahabat nabi ridhwanullahi ‘alaihim.
Di seluruh ayat Al-Quran, tidak kurang dari 89 kali Allah SWT menyapa dengan sapaan (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا). Dan para ulama mengatakan bahwa ayat-ayat yang diawali dengan sapaan (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا) umumnya merupakan ayat-ayat yang turun di Madinah. Dan memang ayat ini turun di Madinah.
لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ
Kata laa tattakhidzu (لَا تَتَّخِذُوا) merupakan fi’il nahiy yang merupakan larangan untuk melakukan sesuatu. Asalnya dari (اتخذ – يتخذ - اتخاذا) maknanya menjadikan, yaitu mengubah sesuatu dari asalnya A menjadi B.
Kata bithanah (بِطَانَةً) diterjemahkan oleh Kemenag RI dan Prof. Quraish Shihab sebagai : ‘teman kepercayaan’. Sedangkan Buya HAMKA menerjemahkannya menjadi kawan rapat.
Al-Qurtubi dalam Al-Jami’ li-Ahkam Al-Quran menuliskan bahwa kata bithanah (بِطَانَة) asalnya dari kata (بَطْن) yang artinya perutو yang merupakan kebalikan dari punggung. Sedangkan pengertiannya adalah :
خَاصَّتُهُ الَّذِينَ يَسْتَبْطِنُونَ أَمْرَهُ
Teman khusus yang mengenal seluk-beluk urusannya.
Ibnu Asyuur dalam tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir menuliskan bahwa kata bithanah itu artinya pakaian bagian dalam, bentuk jamaknya bathain, sebagaimana dalam firman Allah SWT :
Mereka bertelekan di atas permadani yang sebelah dalamnya dari sutera. (QS. Ar-Rahman : 54)
Kata min-duni-kum (مِنْ دُونِكُمْ) diterjemahkan oleh Kemenag RI sebagai : “orang-orang di luar kalangan (agama)-mu”. Sedangkan Prof. Quraish Shihab memaknainya sebagai : “orang-orang yang di luar kalangan kamu”. Lalu Buya HAMKA menerjemahkannya menjadi : “lain dari golongan kamu”.
Fakhruddin Ar-Razi menyebutkan memang di tengah ulama ada perbedaan pandangan tentang siapakah yang dimaksud dengan min-duni-kum.
Pendapat pertama mengatakan bahwa yang dimaksud tidak lain orang-orang Yahudi di Madinah. Dasarnya karena ayat ini sejak beberapa ayat sebelumnya memang sedang bicara tentang perilaku orang-orang Yahudi.
Penyebabnya karena ada sebagian shahabat dari kalangan anshar yang sejak lama jauh sebelum kedatangan Nabi SAW hijrah ke Madinah sudah punya hubungan baik dengan kalangan Yahudi.
Ketika pada akhirnya Nabi SAW benar-benar tinggal di Madinah, ternyata kebanyakan orang Yahudi malah tidak mau menerima kenabiannya, bahkan cenderung memusuhi.
Dan Allah SWT mengingatkan kepada para shahabat untuk bersikap yang lebih tegas kepada teman-teman Yahudi mereka.
Pendapat kedua mengatakan bahwa yang dimaksud adalah orang-orang munafik. Dasarnya karena ada penggalan berikut :
وإذا لَقُوكم قالُوا آمَنّا وإذا خَلَوْا عَضُّوا عَلَيْكُمُ الأنامِلَ مِنَ الغَيْظِ
Apabila mereka berjumpa denganmu, mereka berkata, “Kami beriman.” Apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari karena murka kepadamu. (QS. Ali Imran : 119)
Karakter semacam ini lebih cocok bila dikaitkan dengan perilaku orang-orang munafik dan bukan orang Yahudi.
Pendapat ketiga mengatakan bahwa lebih tepat bila dikaitkan dengan orang-orang kafir secara umum. Dasarnya karena Allah SWT menyebutkan ungkapan (من دونكم) yang artinya : orang-orang di luar agamamu.
لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا
Kata laa ya’lunakum (لَا يَأْلُونَكُمْ) artinya mereka tidak berhenti atau tidak henti-hentinya, sedangkan khabala (خَبَالًا) artinya mendatangkan kemudaratan bagimu.
Ini adalah alasan kenapa Allah SWT meminta para shahabat agar bersikap lebih tegas lagi kepada teman-teman Yahudi mereka. Sebab kalau dikalkulasi lebih dalam, tindakan kelompok Yahudi itu lebih banyak madharatnya ketimbang manfaatnya kepada kaum muslimin.
Sudah waktunya kaum muslimin untuk bersikap yang lebih tegas dan adil kepada teman-teman Yahudi mereka.
وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ
Kata waddu (وَدُّوا) merupakan kata kerja berbentuk fi’il madhi, maknanya : “mereka menginginkan”. Sedangkan Buya HAMKA menerjemahkannya menjadi : “mereka sukanian”.
Asalnya dari kata wudd (وُدّ) yang bisa dikembangkan menjadi banyak bentuk, salah satunya mawaddah (مَوَدَّة) yang bermakna kasih sayang, sebagaimana disebutkan dalam beberapa ayat firman Allah SWT.
وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً
Dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. (QS. Ar-Rum : 21)
Lafazh maa ‘anittum (مَا عَنِتُّمْ) diterjemahkan oleh Kemenag RI menjadi : hal-hal yang menyusahkanmu. Prof. Quraish Shihab menerjemahkannya menjadi : kemudharatan. Buya HAMKA menerjemahkannya menjadi : kecelakaan
Asalnya dari kata (العَنَت) yang berarti (شِدَّةُ الضَّرَرِ والمَشَقَّةُ) mudharat dan masyaqqah yang amat sangat, sebagimana firman Allah :
ولَوْ شاءَ اللَّهُ لَأعْنَتَكُمْ
Seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia mendatangkan kesulitan kepadamu. (QS. Al-Baqarah : 220)
قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ
Lafazh qad badat (قَدْ بَدَتِ) artinya : telah nyata, lafazh al-baghdha’u (الْبَغْضَاءُ) artinya kebencian. Kata ini masih ada hubungannya dengan al-bughdhu (البُغْضُ) yang juga berarti kebencian. Namun bedanya bahwa kata al-baghdha’ (الْبَغْضَاءُ) itu artinya kebencian yang berlipat ganda atau kebencian tingkat parah.
Oleh karena itu kebenciannya tidak lagi bisa ditutupi, karena amat sangat nampak jelas. Bila kebencian itu masih kecil, mungkin masih bisa ditutupi dan disamarkan. Tetapi kebencian yang sudah masuk level premium, sulit untuk ditutupi.
Makanya hanya dari tata cara bicara dan redaksional saja, sudah bisa diterka sikap kebencian mereka itu terucap dalam kata-kata yang tidak bisa dihindari.
Lafazh min afwahihim (مِنْ أَفْوَاهِهِمْ) merupakan bentuk jamak, bentuk tunggalnya adalah fam (فَم) artinya : dari mulut-mulut mereka.
Seberapa pun cara mereka mengkamuflasekan sikap, tetapi dari nada bicara, intonasi, diksi dan penuturan, jelas-jelas tertangkap rasa kebencian mereka kepada kaum muslimin.
وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ
Lafazh wa-ma tukhfi (وَمَا تُخْفِي) artinya : apa yang disembunyikan, lafazh shuduruhum (صُدُورُهُمْ) adalah bentuk jamak dari bentuk tunggalnya yaitu shadr (صدر) yang bermakna : dada, namun maksudnya isi hati. Lafazh akbar (أَكْبَرُ) artinya : lebih besar.
Rupanya mereka memang sudah mentok kebenciannya kepada Nabi SAW dan kaum muslimin. Mulutnya kotor menjelekkan, sementara isi hatinya jauh lebih busuk lagi.
Kata qad bayyanna (قَدْ بَيَّنَّا) artinya : telah kami jelaskan, lafazh lakum (لَكُمُ) artinya : kepadamu. Kata al-aayaat (الْآيَاتِ) artinya tanda-tanda. Lafazh in-kuntum (إِنْ كُنْتُمْ) artinya : jika kamu. Lafazh ta’qilun (تَعْقِلُونَ) artinya : berakal.
Penggalan yang jadi penutup ayat ini nampaknya Allah SWT ingin agar kaum muslimin membuka mata, melihat fakta, dan mengkalkulasi data. Semua fakta dan data satu per satu Allah SWT perlihatkan kepada kaum muslimin. Seharusnya kaum muslimin bisa menyimpulkan sendiri serta mampu mengambil sikap yang tegas kepada mereka.