Kemenag RI 2019:“Ya (cukup).” Jika kamu bersabar dan bertakwa, lalu mereka datang menyerang kamu dengan tiba-tiba, niscaya Allah menolongmu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda. Prof. Quraish Shihab:
Ya (cukup), jika kamti bersabar dan bertakwa dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika iru juga, pasti Allah menolong kamu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda.
Prof. HAMKA:
Sungguh! Jika kamu bersabar dan bertakwa, walaupun mereka itu datang kepada kamu segera sekarang ini juga, Tuhan kamu akan membantu kamu dengan lima ribu malaikat dalam keadaan menyerbu
Janji Allah SWT untuk memenangkan pasukan muslimin itu sudah merupakan kepastian. Yang belum pasti justru kualitas kaum musliminnya sendiri. Kalau mereka punya mental baja, sabar dalam menahan gempuran, dan mereka terpojok karena misalnya diserang secara mendadak oleh musuh, sangat-sangat mungkin Allah SWT segera menurunkan 5000 malaikat.
Namun dalam Uhud nampaknya para malaikat yang dijanjikan akan turun itu ternyata tidak ada sama sekali. Penyebabnya karena faktor-faktor yang menyebabkan turunnya mereka tidak mereka penuhi.
بَلَىٰ
Lafazh bala (بَلَىٰ) diterjemahkan oleh Kemenag RI dan Prof. Quraish Shihab menjadi : ya (cukup). Sedangkan Buya HAMKA menerjemahkannya menjadi : Sungguh!.
Kata bala (بَلَىٰ) ini sebenarnya adalah jawaban untuk membenarkan atau mengiayakan pertanyaan dalam bentuk negatif. Pertanyaan itu adalah apa yang sudah disebutkan di ayat 124 sebelumnya :
Tidakkah cukup bagi kamu bahwa Tuhan kamu akan membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan? (QS. Ali Imran : 124)
Maka jawabannya ketika membenarkan atau menyetujui adalah : “iya, cukup”. Begitulah sebagaimana tertulis dalam terjemahan Kemenag RI dan Prof. Quraish Shihab.
Mungkin buat kita yang berbahasa Indonesia terasa agak sedikit aneh dengan konsep pertanyaan negatif dan jawabannya. Namun begitulah gaya bahasa Arab. Pertanyaan itu ada dua, yaitu yang bersifat positif dan bersifat negatif.
Contoh pertayaan positif misalnya ada seseorang bernama Ahmad dan ditanya oleh orang lain,”Benarkah Anda bernama Ahmad?”. Kalau memang benar dia bernama Ahmad, maka jawabannya iya dan kalau tidak benar maka jawabannya tidak.
Sedangkan pertanyaannya yang bersifat negatif seperti begini,”Bukankah Anda bernama Ahmad?”. Kalau benar dia bernama Ahmad, maka jawabannya dalam bahasa Arab menjadi : bala (بلى). Dan kalau dia bukan Ahmad, jawabannya justru : na’am (نعم). Sebab bala itu artinya tidak, sedangkan na’am itu artinya iya. Ternyata dalam menjawab pertanyaan negatif, keduanya bertukar tempat.
Intinya perlu sedikit loading untuk memahami hal-hal semacam ini, sampai terbiasa.
إِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا
Kata in tashbiru (إِنْ تَصْبِرُوا) artinya : bila kamu bersabar. Kata wa-tattaqu (وَتَتَّقُوا) dan kamu bertaqwa.
Maksudnya para shahabat yang ikut dalam Perang Uhud itu memang sungguh amat berat ujiannya. Disamping mereka harus menghadapi musuh yang lebih kuat dan lebih besar, mereka pun juga harus menghadapi musuh dalam selimut.
Perang Uhud ini boleh dikatakan puncak dari ujian Allah SWT kepada kaum muslimin. Ada begitu banyak korban jiwa dari pihak kaum muslimin, dan lebih banyak lagi yang gugur sebagai syuhada.
Oleh karena itu kaum muslimin diminta untuk bisa meneguhkan hati, mengokohkan pendirian dan memantapkan langkah dalam menghadapi beratnya perang, tidak membelot kepada lawan, tidak desersi kembali pulang ke Madinah. Semua itu diungkap dengan satu kata, yaitu sabar.
Lafazh wa-tattaqu (وَتَتَّقُوا) artinya : dan bertaqwa. Maksudnya Allah SWT memerintahkan kepada kaum muslimin di Perang Uhud untuk bertaqwa kepada Allah, selain juga perintah sebelumnya yaitu bersabar.
Asal kata wattaqu (واتقوا) dari kata (اتقى - يتقى) yang maknanya bisa bertaqwa, namun juga bisa bermakna takut atau memelihara diri dari sesuatu.
Umumnya para ulama menyebutkan bahwa taqwa itu sebuah derajat yang tinggi yang diawali dengan derajat iman. Hal itu berdasarkan ayat yang memanggil orang beriman untuk melakukan ini dan itu, lalu di akhir disebutkan semoga menjadi orang yang bertaqwa. Atau juga karena taqwa disebutkan setelah iman seperti yang disebutkan dalam ayat berikut :
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. (QS. Al-Araf : 96)
وَيَأْتُوكُمْ مِنْ فَوْرِهِمْ هَٰذَا
Lafazh wa ya’tukum min faurikum hadza (وَيَأْتُوكُمْ مِنْ فَوْرِهِمْ هَٰذَا) dimaknai secara berbeda oleh masing-masing penerjemah. Kemenang RI menuliskan, “mereka datang menyerang kamu dengan tiba-tiba”. Prof. Quraish Shihab menuliskan, “mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga”. Buya HAMKA menuliskan,”mereka itu datang kepada kamu segera sekarang ini juga”.
Ungkapan wa ya’tukum min faurikum hadza (وَيَأْتُوكُمْ مِنْ فَوْرِهِمْ هَٰذَا) ini berupa serangkaian kata yang tersusun sedemikian rupa dan memiliki makna tersendiri, yang berbeda maknanya bila masing-masing kata itu dipisah. Setidaknya kita jadi kurang paham apa maksud dari rangkaian kata-kata berikut : dan mendatangimu (وَيَأْتُوكُم), dari (مِنْ), kesegeraan kamu (فَوْرِهِمْ), ini (هَٰذَا).
Kata-kata seperti ini kita sebut sebagai ideom, dalam bahasa Inggris disebut dengan ‘ideomatic expression’. Contohnya ideom ‘bites the dust’ yang bermakna "meninggal" atau "gagal."
Frasa ini sering digunakan untuk menyatakan bahwa seseorang atau sesuatu telah mengalami kegagalan atau kehancuran. Misalnya, jika seseorang mengatakan bahwa "The project finally bit the dust," itu berarti bahwa proyek tersebut akhirnya gagal atau berakhir dengan tidak berhasil.
Awalnya, frasa ini berasal dari ungkapan "bite the dust" yang bermakna "meninggal dalam pertempuran" dan mengacu pada debu yang terangkat ketika seseorang jatuh ke tanah setelah terluka atau tewas dalam pertempuran. Namun, seiring waktu, frasa ini berkembang menjadi penggunaan yang lebih umum untuk merujuk pada kegagalan atau kehancuran dalam konteks yang lebih luas.
Penggalan ini dan penggalan sebelumnya merupakan syarat atau semacam janji Allah SWT kepada Nabi SAW dan para shahabat. Maksudnya, jika mereka sabar, taqwa dan diserang tiba-tiba oleh musuh, maka bisa saja Allah mengirimkan tiga ribu malaikat.
Dan kalau perlu Allah SWT menambahkan lagi dengan lima ribu malaikat, sebagaimana penggalan berikut :
يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُمْ بِخَمْسَةِ آلَافٍ
Nabi disuruh memperingatkan kembali bahwa beliau pada waktu Peperangan Uhud itu telah pernah menyampaikan kepada mereka, bahwa meskipun mereka hanya 700 orang dan musuh lebih dari 3.000 orang, Allah akan mendatangkan 3.000 malaikat sebagai pembantu.
Kemudian jika bertambah sabar dan bertakwa, bahkan bisa aja sampai 5.000 malaikat akan datang menyerbu musuh bersama mereka.
Namun ternyata semua itu tidak terjadi dalam perang Uhud. Para ulama umumnya mengatakan bahwa peristiwa dimana para malaikat ikut turun berperang hanya terjadi di Perang Badar.
Sedangkan dalam perang Uhud, ternyata tidak ada malaikat yang turun. Faktanya, Allah SWT sekedar menguatkan hati kaum muslimin dengan memberikan harapan, nanti akan diturunkan malaikat.
مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُسَوِّمِينَ
Makna musawwimin (مُسَوِّمِينَ) dimaknai secara berbeda. Kemenag RI dan Prof. Quraish Shihab memaknainya menjadi : “yang memakai tanda”. Sedangkan Buya HAMKA menuliskannya : “dalam keadaan menyerbu”.